Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 160


__ADS_3

Deon dan Isna akhirnya menyudahi menyantap makanan mereka.


"Deon, aku kenyang banget. Makanannya sungguh lezat sekali," puji Isna sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.


"Sama Na, aku juga sangat kenyang. Oh ya kayaknya aku mau mesen makanan ini buat Ustadz dan yang lainnya di rumah. Supaya kita bisa menikmatinya bersama," Deon ingin membalas kebaikan Ustadz itu.


"Boleh juga tuh Deon. Habis ini kita kembali ke rumah Ustadz itu. Besok Meka datang, baru kita ke kost-kostan," balas Isna.


Akhirnya Deon memanggil pelayan itu dan memesan makanan yang mereka makan lagi. Pelayan itu pun mengangguk.


"Baik Mbak, Mas. Ditunggu sebentar ya," pelayan itu pergi ke arah kasir memberikan tambahan pesanan dan billnya.


Setalah menunggu beberapa menit, pelayan itu datang membawakan pesanan beserta billnya.


"Ini Mas, pesanannya. Dan ini billnya," pelayan itu menyerahkan kotak pesanan dan bill di atas meja.


Deon memberikan beberapa lembaran merah ke pelayan tersebut. Setelah selesai dengan urusan pembayaran, mereka meninggalkan cafe itu. Saat Isna dan Deon melewati depan kasir, bulu kuduknya seketika berdiri. Isna sempat memegang tengkuk belakangnya. Begitu juga dengan Deon yang mengerutkan keningnya penuh tanda tanya tentang apa yang di rasakannya.


Setelah keluar dari cafe itu, Deon dan Isna mulai berjalan lagi menuruni escalator. Deon masih bertahan menemani Isna yang mencari sesuatu yang ingin di belinya.


Setelah selesai dengan belanjaan, mereka kembali ke rumah Ustadz itu. Sepanjang jalan, Isna dan Deon masih memikirkan hal tadi yang di rasakan mereka. Lalu...


"Kamu merinding gak..mm?" mereka berdua tak sengaja melemparkan pertanyaan yang sama.


"Udah kamu aja duluan Na yang ngomong. Kamu mau bilang apa?" tanya Deon kikuk.


"De, kamu tadi merinding gak saat melewati kasir tadi?" tanya Isna yang tak mau menunggu lama.


"Iya Na, aku merinding tadi. Aku pikir itu hanya ilusi aku aja anggota merinding. Apa kamu juga merasakannya?" tanya Deon balik.


"Iya De, gak tau sih penyebabnya apa."


"Duh kok serem juga ya. Kita sama-sama merinding gitu. Atau jangan-jangan cafe itu ada penunggunya" tanya Deon yang membuat Isna ketakutan.


"Ihhhhh, apaan sih Deon. Jangan buat takut napa!" ketus Isna tak suka.


"Lah, kamu merinding, dan aku juga merinding. Berarti ada sesuatu kan Na?" tanya Deon kesal karena Isna memungkirinya.


Isna diam sesaat, dia masih tak mau menerima kenyataan kalau itu memang terjadi. Dia mencoba berpikir secara logika, dan tidak menyangkut pautkan dengan hal ghaib.


"Mungkin itu karena angin yang kencang Deon. Kasir itu kan dekat jendela, wajar aja anginnya kencang dan buat kita merinding," jelas Isna yang masuk akal bagi pemikirannya.


Deon menoleh ke arah Isna dan mengerutkan keningnya tak suka dengan pendapat Isna.


"Terserah kamu aja deh Na."


Deon terus menatap ke depan. Dia fokus menyetir mobil.


Sedangkan Isna masih kesal karena Deon tak mau mendengarkannya. Isna lebih memilih memandang luar jendela mobil. Itu lebih baik baginya dari pada melihat Deon yang cuek.


"Kenapa dia tak percaya. Bisa aja kan itu benaran karena angin yang kencang. Bukan karena adanya mahluk ghaib di dekat mereka?" bathin Isna yang merasa kesal.


Isna dan Deon tak ada yang membuka suara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga mereka tiba di rumah Ustadz Ahmad.


Deon memarkirkan mobilnya di perkarangan rumah Ustadz itu. Setelah itu mereka berjalan masuk ke rumah itu.


Saat itu, rumah dalam keadaan terbuka. Ternyata Ustadz dan Umi sedang berbincang-bincang di ruang tengah bersama Kakek tua.Tidak tau apa yang di bahas mereka.


"Assalamualaikum," ucap Deon dan Isna bersamaan.

__ADS_1


Mereka yang berada di dalam menoleh ke arah pintu dan menjawab salam Deon dan Isna.


"Wa'alaikumussalam, ucap mereka secara bersamaan.


"Ini dia yang di ceritakan," ucap Ustadz itu.


"Masuk dulu nak Deon dan Isna. Sini duduk dekat Ini," Umi meminta mereka duduk sebentar dengan mereka.


Lalu Isna dan Deon berjalan menghampiri mereka. Isna mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan Umi. Sedangkan Deon duduk sendiri seperti orang yang hendak di sidang aparat hukum.


"Umi, ini kami bawakan makanan. Kebetulan tadi kami makan di luar, teringat Umi dan Ustadz serta Kakek dan Nenek di rumah ini ,jadi kami membawakan makanan ini untuk di makan bersama," ucap Isna.


"Walah, nak Isna jangan repot-repot. Umi jadi gak enak," balas istri Ustadz Ahmad.


"Tidak apa-apa Umi, ini ucapan terima kasih kami sama Ustadz karena menolong kami," jelas Deon.


"Saya ikhlas nak Deon membantunya. Tidak perlu sungkan ya," ucap Ustadz itu langsung.


"Ya udah, kita makan bersama ya. Biar bareng-barneg makan malamnya. Kalau rame-rame pasti lebih enak makannya," sambung istri Ustadz itu.


"Kalau gitu saya bersih-bersih dulu ya Umi," ucap Isna yang berpamitan untuk ke kamar.


"Oh iya nak Isna silahkan," balas istri Ustadz itu.


"Saya juga Ustadz, mau bersih-bersih dulu. Biar segar dan tidak bau," ucap Deon yang mengikuti ucapan Isna.


"Oh iya, silahkan nak Deon," balas Ustadz itu.


Isna dan Deon melangkah ke kamar masing-masing. Mereka mulai membersihkan tubuh mereka di dalam kamar mandi. Isna meletakkan beberapa tas belanjaannya Dia tersenyum akhirnya bisa jalan-jalan bareng Deon.


Sementara Deon sudah kembali berkumpul dengan Ustadz dan Kakek tua di ruang tengah. Setelah menunaikan sholat Maghrib, mereka menunggu makan malam di siapkan.


"Udah ndak usah repot nak Isna. Biar Umi yang menyiapkannya," ucap Umi itu.


"Tidak apa-apa Umi. Saya tidak enak kalau hanya berdiam diri menunggu tanpa membantu," balas Isna tersenyum.


"Ya sudah kalau nak Isna mau membantu. Nak Isna bisa menyiapkan piringnya dan peralatan lainnya," suruh Umi itu.


Sementara Deon dan Ustadz serta Kakek tua sedang berbincang-bincang.


"Nak Deon, saya lupa memberitahukan sama nak Deon tentang kost-kostan kalian."


"Maksud Ustadz tentang kost kami gimana ya?" tanya Deon bingung dengan mengerutkan keningnya.


"Begini nak Deon, kemaren ketika saya dan Kakek membantu jiwa nak Deon kembali ke raga, saat melihat bahwa iblis yang membuat jiwa kamu keluar dari raga itu bersumber dari kostan kalian," ungkap Ustadz itu.


"Apa Ustadz!" Deon terkejut hingga mengeluarkan suara yang agak keras.


Isna dan yang lainnya berada di ruang makan kaget mendengar suara Deon. Mereka berhenti sejenak dari aktivitas guna melihat apa yang terjadi.


"Iya, sepertinya di kost kalian itu ada yang bersekutu dengan iblis dan menumbalkan, maaf perjaka dan perawan," jelas Ustadz itu.


Deon dan Isna yang mendengarnya, mengerutkan kening mereka. Otak mereka berputar mengingat orang-orang yang berada disana. Tapi mereka tak menemukan seseorang yang bisa di curigai.


"Tapi siapa Ustadz," tanya Deon tiba-tiba.


"Sepertinya dia bersekutu dengan iblis karena menginginkan suatu hal. Apakah itu harta atau kecantikan dan ketampanan," jawab Ustadz itu.


Deon dan Isna saling melemparkan pandangan. Mereka jelas tidak mengetahuinya.

__ADS_1


"Tapi kami tidak melihat seseorang yang aneh disana Ustadz," balas Isna.


Isna menghampiri Ustadz dan yang lainnya. Dia ikut nimbrung bersama mereka.


"Kalian mungkin tidak menyadarinya. Karena hal semacam ini tidaklah mungkin terlihat oleh kalian yang tidak memiliki apa-apa," sambung Kakek tua itu yang mengerti pikiran Deon.


"Apa Meka tau tentang hal ini?" tanya Ustadz itu tiba-tiba menanyakan tentang Meka.


"Tidak Ustadz, dia tidak ada mengatakan apa-apa saat kami sudah pindah kesana," jawab Isna.


"Kakek rasa, Meka tak mungkin gak mengetahuinya. Secara dia memiliki ilmu bathin dan kelebihan lainnya. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya enggan mengatakan kebenarannya," ucap Kakek tua itu.


Isna dan Deon lagi-lagi saling berpandangan. Terutama Isna, dia memikirkan sesuatu hal yang salah. Isna memutar otaknya mengingat apa ada kata-kata dia yang salah terhadap Meka sehingga dia tak mengatakan kebenarannya.


"Jadi kami harus bagaimana Ustadz?" tanya Deon.


"Lebih baik kian menunggu Meka kembali. Karena dialah yang bisa menemani kalian ke sana," jawab Ustadz itu.


Isna menghela napasnya berat. Dia menyadari sesuatu yang salah terhadap sikapnya kemaren dengan Meka.


Ketiak mereka asyik membahas kost-kostan Isna dan Deon. Umi datang menghampiri mereka semua.


"Ayo kita makan malam dulu. Makanannya sudah di hidangkan," ajak Umi.


"Ayo nak Deon, Isna makan dulu. Nanti ngobrolnya dilanjut setelah makan," ajak Ustadz itu.


Lalu mereka berjalan menuju meja makan. Namun Ustadz segera mengendus bau yang tak sedap di hidungnya. Dia mengernyitkan keningnya melihat makanan yang di hidangkan.


Ustadz itu mendekat ke meja makan dan melihat sesuatu yang ganjil di meja makan.


"Astaghfirullahal'adzim," ucap Ustadz itu.


Dan Kakek tua itu juga mengucapkan hal yang sama ketika melihat hidangan yang ada di atas meja makan.


Mereka yang tidak mengerti bingung atas sikap keduanya.


"Ada apa Pak?" tanya istri Ustadz itu.


"Kenapa toh Pak?" tanya si Nenek.


"Bu, buang makanan itu sekarang!" seru Ustadz itu.


"Loh itu kan makanan yang di bawa sama nak Deon dan Isna, Pak!" balas istrinya bingung.


"Itu makanan setan Bu. Buang sekarang," perintah Ustadz itu.


Sontak saja Deon dan Isna melotot gak percaya dengan apa yang di ucapkan Ustadz itu.


"Maksud Ustadz apa? Kenapa Ustadz mengatakan hal seperti itu?" tanya Deon tak terima jika makanan yang di bawanya di bilang makanan setan.


"Nak Deon, kamu tau apa yang kamu bawa tadi?" tanya Ustadz itu.


"Tidak Pak," jawab Deon dengan geleng-geleng kepala.


"Nak Deon, makanan itu sudah di lidahku sama mahluk halus di tempat kalian membeli makanan itu," terang Ustadz itu.


Sontak keduanya mual-mual mendengar ucapan Ustadz itu. Isna dan Deon langsung lari ke kamar mandi untuk membuang isi perut mereka karena dengan rakusnya telah menyantap makanan itu.


Sedangkan Umi sudah membuang makanan tadi ke tong sampah luar. Dia tak mengira bahwa makanan itu sudah di ludahi mahluk halus. Betapa jijiknya dia jika membayangkannya dan menyantapnya dengan lahap. Itulah yang di pikirkan Umi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2