
Pertarungan sengit pun terjadi antara mahluk genduruwo itu dengan Harimau putih besar.
"Arrrrgggg, jaangaan haalaangii akuuu!" teriak genduruwo itu dengan gigi taring tajamnya serta air liur yang terus menerus keluar.
"Jangan mengganggu leluhurku, atau kau akan kumusnahkan!" bentak Harimau itu.
"Meereekaa suudaah meemaasukii kaawaasan penguasaa diisiinii! Arrrrgggg!" geram genduruwo itu.
"Enyahlah dari hadapanku! Jangan mengganggunya!"
Harimau itu melesatkan cahaya biru ketubuh genduruwo itu hingga membuat genduruwo itu merasakan kesakitan, seperti terikat oleh sesuatu benang hingga membuat tubuhnya melepuh hingga mengeluarkan bau anyir dan busuk lalu hilang menjadi asap hitam pekat.
Lalu Harimau itu melesat menghilang dan menghampiri Meka dan yang lainnya.
Meka dan yang lainnya akhirnya sampai di depan jalan raya. Mereka berhasil keluar dari hutan itu. Deon menjatuhkan tubuhnya melorot ke jalan aspal.
"Mek, kayaknya kita pulang aja deh Mek! Gw gak sanggup kalau harus lewati hutan itu lagi," ucap Deon putus asa.
"Kalau Lo udah gak mau ngelanjutin tour ini, kita akan pulang. Tapi kita harus kembali ke rombongan besok pagi. Gak mungkin kita pergi begitu saja tanpa berpamitan sama Dosen dan ketua panitia rombongan. Dan kita memang harus kembali Deon, kita harus tau apa yang terjadi malam ini di Desa itu," jelas Meka yang juga ketakutan.
Saat Meka duduk disamping suaminya yang juga kelelahan karena berjalan melewati hutan yang angker, Meka mendengar suara Khodamnya.
"Meka, pergilah dari sini. Rombongan yang datang malam ini ke Desa itu akan mengalami hal yang mengerikan termasuk sahabatmu itu," ucap Khodamnya yang berdiri di hadapan Meka.
Meka merasa bersalah karena sudah mengajak sahabatnya untuk mengikuti tour kegiatan ini. Dan hasilnya dia harus kehilangan sahabatnya itu.
Lalu Meka menangis tersedu-sedu dihadapan mereka semua. Zain kebingungan melihat istrinya yang menangis seperti itu.
"Sayang kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Zain yang menatap ke Meka.
"Mas...mas..mereka..mereka akan di bantai malam ini!" teriak Meka ketakutan.
"Apa!" Zain kaget mendengarnya.
"Kamu ngomong apa Meka!" teriak Isna yang ikut memegang bahu Meka.
"Apa maksud kamu Mek...?!" tanya Deon melotot.
"Malam ini, aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi aku diberitahu bahwa Asih malam ini tidak akan selamat," ucap Meka menundukkan kepalanya.
"Mending sekarang kita kearah kota menginap disana. Ayo, jangan berhenti disini. Saya tidak mau akan terjadi sesuatu nantinya," ucap Zain yang kemudian berdiri menyetop Bus atau apapun yang lewat yang bisa mengantar mereka menjauh dari hutan ini.
__ADS_1
Sejam kemudian akhirnya mereka sampai di sebuah penginapan yang sederhana. Namun sebelum itu mereka memesan makanan lewat online.
"Ayo, kalian bersihkan badan dulu di kamar. Setelah itu datanglah kemari, biar kita makan bersama," suruh Dosga mereka.
"Baik Pak," balas Deon.
Isna pun ikut dengan menganggukkan kepalanya.
Lalu Zain meninggalkan mereka berdua di depan kamar Deon dan Isna. Zain pun masuk ke dalam kamar menemui Meka.
"Sayang, ayo bersihkan dulu tubuhmu biar segar. Setelah itu kita berkumpul disini untuk makan bersama Deon dan Isna.
"Iya Mas, aku akan mandi duluan," balas Meka.
Meka masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang lengket karena berkeringat akibat perjalanan melewati hutan angker itu. Meka tak mau berlama-lama di dalam kamar mandi, akhirnya dia menyelesaikan acara mandinya.
"Mas, buruan kamu mandi gih. Biar kita makan malam. Keburu mereka datang," ucap Meka.
"Iya sayang, Mas juga sudah gerah banget. Mas mandi dulu ya."
Meka menunggu Zain dan kedua sahabatnya di sofa depan TV. Meka tampak gelisah karena teringat akan sahabatnya Asih. Dia penasaran dengan apa yang terjadi, hingga dia mencoba menghubungi Asih. Meka menekan no ponsel Asih hingga suara sambungan berbunyi.
Meka menarik nafas kasar dan mencoba menghubungi Asih kembali. Hingga akhirnya tlp itu diangkat.
"Assalamu'alaikum Asih...! panggil Meka.
"Wa'alaikumussalam Meka. Kamu dimana?" tanya Asih yang terdengar suaranya tak nyaman.
"Gw di kota Sih. Nih lagi nyari makan disini. Gimana disana sudah pada makan malam belom?" tanya Meka yang sengaja memancing Asih bercerita.
"Meka, gw takut Mek," ucap Asih pelan.
"Takut? Takut kenapa Sih?" tanya Meka yang langsung berdiri dari sofanya.
"Mek, Dewi dan Ani menghilang! Mereka melanggar aturan," Asih memberitahukan kepada Meka tentang keadaan disana.
"Maksud Lo melanggar aturan apa Sih?" tanya Meka yang merasa cemas. Dia pun mondar-mandir di depan TV.
"Rido bilang, dia melihat Dewi dan Ani keluar dari rumah sore saat menjelang malam. Dia melihat mereka berdua menghampiri cowok cakep di depan pagar. Rido sudah memanggil keduanya, tapi mereka tidak menyahut dan terus berjalan. Rido panik dan memanggil Pak Anton. Saat dia kembali ke teras, Dewi dan Ani sudah tidak kelihatan Mek! Hiks hiks hiks....," ungkap Asih sambil terisak.
"Ya Allah Sih...terus gimana? Apa mereka mencarinya?" tanya Meka khawatir.
__ADS_1
"Karena sudah malam, tidak ada yang berani keluar Meka. Dosen tidak berani keluar dari rumah. Bu Arin juga tidak memperdulikan keadaan mereka. Dia malah menyalahkan keduanya."
"Apa tidak ada niat untuk menghubungi Kepala Desa? Kalau gitu mereka tidak akan selamat Sih!" ucap Meka yang sudah merasa takut.
"Meka..gw nyesel gak ikut sama kalian. Gw takut Mek disini!" balas Asih menyesal.
"Terus gimana dong Sih! Gw gak bisa kesana, karena hari sudah malam. Bagaimana dengan Eko?" tanya Meka penasaran.
"Dia nyuwekin gw, Mek. Dia sekarsng sedang mendekati Puspita."
"Kan itu wajar Sih, karena dia saat ini bebas," balas Meka.
"Ya Lo benar. Terus apa Lo tau Mek!"
"Belom tau, karena Lo belom cerita," canda Meka sedikit menghilangkan ketakutan Asih.
"Ah Lo, masih sempatnya bercanda."
"Lah, habis Lo ngomongnya gitu. Gw mana tau kalau Lo belom cerita, ya kan? Terus Lo mau bilang apa?"
"Mek, tadi beberapa Mahasiswa laki-laki bertingkah aneh diluar tepatnya di ruangan tamu," Asih me ceritakan kejadian yang janggal dilihatnya.
"Emang kejadian apa Sih?" Meka mengerutkan keningnya.
"Mek, beberapa teman laki-laki kita kesurupan tidak jelas saat mereka makan tadi. Ada yang makan dengan rakusnya, ada juga yang melempar makanan ke lantai, setelah itu mereka saling menyerang satu sama lain, mereka mencakar wajah dan tubuh lawannya hingga Pak Robby memisahkan mereka dengan melafalkan ayat-ayat Alqur'an, Mek! Mereka mengerikan seperti zombie Meka!" cerita Asih dengan suara gemetarnya.
"Terus Lo sekarang tidur sama siapa nantinya?" tanya Meka.
"Malam ini kami gabung tidurnya yang perempuan. Oh ya Bu Arin marah banget saat Lo pergi ke kota bareng Pak Zain. Dia terlihat sangat menakutkan dan matanya seperti ingin keluar lepas dari sarangnya Meka," jawab Asih.
"Lo harus hati-hati Sih, jangan sampai lengah disana. Lo harus bisa melewati malam yang mengerikan sampai esok tiba."
"Iya Mek, gw tutup dulu ya, jangan lupa titipan gw besok ya!" Asih tersenyum getir.
"Iya pasti gw bawain," balas Meka.
"Mek, gw sayang banget sama Lo, titip salam buat yang lainnya ya. Lo juga harus hati-hati disana. Gw kesepian Meka! Gw nyesel, sangat menyesal Mek...!" raung Asih yang meratapi keadaannya yang penuh ketakutan.
Asih tidak bercerita ke Meka kalau teman mereka yang tadi saling menyerang membabi buta, meregang nyawa karena kengerian yang dilakukan mereka. Masing-masing saling mencabik tubuh yang lainnya, menarik tangan dan kaki yang lain sampai putus, dan ada yang mencongkel mata yang lainnya dengan tangan sendiri lalu memakannya. Semua kengerian itu di tonton mereka yang berada disitu. Mereka yang perempuan langsung berlari masuk ke dalam kamar dan yang laki-lakinya juga ikut satu kamar dengan yang perempuan. Begitupun dengan Dosen mereka kecuali Bu Arin dan Eko. Asih tidak tau kemana mereka.
Saat ini di rumah itu suasana sangat mencekam. Tidak ada yang berani keluar dari dalam kamar hingga menunggu esok pagi. Semua ketakutan karena menyaksikan pembantaian di ruang tamu. Banyak darah yang berceceran dilantai itu serta sobekan-sobekan daging yang berserakan.
__ADS_1