
Zain memberikan beberapa macam lauk buat Meka makan. Lalu dia meletakkan di hadapan Meka.
"Ayo sayang, kamu makan duluan. Kasihan kamu dan calon anak kita sudah kelaparan," suruh Zain.
Meka yang memang sudah merasakan laper luar biasa, menatap ke arah piringnya yang penuh dengan lauk hingga membuatnya meneteskan air liurnya.
Meka buru-buru mengusap sudut bibirnya karena takut Zain menyadarinya dan menertawakannya.
"Ayo sayang di makan, kok malah bengong ngelihatin terus. Nanti keburu Mas habisin," goda Zain yang menyadarkan Meka dari keterbengongannya.
"Ah iya Mas, hehehe," balas Meka hanya dengan cengengesan.
Meka pun makan dengan lahap tanpa memperdulikan keberadaan Zain di sampingnya. Dia benar-benar menikmati makanan itu. Sampai sesekali dia keselek karena buru-buru mengunyahnya.
Lalu dari arah kamar, Mama dan Papanya Zain datang menuju meja makan. Mereka menghampiri Zain dan Meka.
"Loh Zain kenapa belum makan?" tanya Mamanya yang sudah duduk di sebelah suaminya.
"Gak apa Ma. Zain nungguin Papa dan Mama datang biar makan bareng," jawab Zain santai.
"Oh, ya sudah ayo kita makan. Papa kamu juga udah laper katanya," balas Mamanya.
Lalu Mamanya Zain mengambilkan nasi dan lauk buat suaminya. Begitu juga dengan Zain, nasi dan lauknya diambilkan sama Meka. Mereka pun makan menikmati hidangan yang penuh di atas meja.
"Zain, kapan rencana kamu mau ke Perushaan? Papa akan mengumpulkan beberapa atasan untuk memperkenalkan kamu sebagai CEO baru di Perusahaan kita."
"Kemungkinan lusa Pa, Zain bisa bergabung di Perusahaan. Zain mau mengurus kuliah Meka dulu di kampus," jawab Zain.
"Loh kenapa ngurus kuliah Meka? Emang Meka mau ambil cuti Zain?" tanya Mamanya.
"Nggak Ma, Zain mau membantu Meka agar dia tidak terlalu banyak beraktifitas kuliahnya," jawab Zain yang terpaksa berbohong.
Zain tidak mungkin menceritakan sama kedua orang tuanya tentang keadaan Meka yang memiliki kemampuan melihat mahluk ghaib. Jika Zain menceritakan tentang kelebihan Meka, itu akan semakin membahayakan Meka.
__ADS_1
"Oh..., Mama pikir Meka mau ambil cuti. Kalau seperti itu, Mama mendukungnya. Lakukanlah yang terbaik untuk Istri dan anak kamu sayang," dukung Mamanya yang tersenyum melihat ke arah Meka.
"Pasti Ma, Zain akan melakukan yang terbaik buat Istri dan anak Zain," ulang Zain.
Akhirnya makan malam pun selesai. Zain dan Meka kembali ke dalma kamarnya. Meka naik ke atas tempat tidur dan meluruskan kakinya. Zain datang menghampiri Meka dan naik ke atas tempat tidur. Zain duduk di sebelah Meka sambil memijit kaki Meka dengan lembut.
"Kenapa, kaki kamu pegal sayang?" tanya Zain yang memijit kaki Meka.
"Iya Mas, sedikit pegal. Nanti juga hilang sendiri kok Mas," jawab Meka tersenyum.
"Besok kita akan kembali ke Apartement. Mas akan ke kampus mengurus kuliah kamu dan mengurus yang lainnya."
"Berarti ke Perushaan Papa benaran lusa ya Mas?" tanya Meka.
"Iya sayang, kenapa? Apa kamu keberatan kalau lusa Mas sudah mulai aktif?" tanya Zain balik.
"Heum," Meka mengangguk membenarkan ucapan suaminya.
"Iya Mas. Aku kan akan balik ke kampung bersama Papa. Jadi aku pengennya mengabiskan waktu berdua sampai hari Senin nanti Mas," jawab Meka.
"Kamu gak keberatan kan Mas?" tanya Meka lagi.
"Tidak sayang, Mas akan menemani kamu di sini sampai selesai acara, dan Papa membawa kamu ke kampung," jawab Zain dengan wajah sendu.
Zain membelai wajah Meka dengan lembut, dia tersenyum menatap ke Meka.
"Mas pasti sangat merindukanmu nanti sayang. Mas juga akan sering-sering ke kampung menemani kamu dan bayi dalam perut ini," ucap Zain sambil mengusap perut Meka. Lalu Zain menundukkan kepalanya dan mengecup lembut perut Meka.
"Hai sayang, ini Papa. Kamu sehat-sehat ya sayang di dalam perut Mama. Dan harus kuat seperti Papa. Bantu Mama ya untuk menjadi anak yang baik bumi di dalam sini," pesan Zain kepada bayi di dalam kandungan Meka.
Meka terharu mendengar kata-kata Zain yang sangat menyentuh perasaannya. Meka pun membelai lembut kepala Zain dan tak sengaja air matanya meluncur dari sudut mata.
Lalu Zain menegakkan badannya dan menatap ke arah Meka.
__ADS_1
"Kamu menangis sayang?" tanya Zain yang mengusap air mata Meka.
"Iya Mas, aku terharu mendengarnya. Rasanya aku gak kepengen berpisah dari kamu Mas. Ntah kenapa hatiku tidak menginginkannya," jawab Meka dengan wajah sedihnya.
Zain menangkup wajah Meka dengan kedua telapak tangannya.
"Mas akan baik-baik aja kok sayang. Justru Mas mengkhawatirkan keadaan kamu. Apalagi kejadian yang kemaren kita alami. Ternyata saat itu kamu sedang mengandung usia muda. Jadi Mas tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa. Percayalah sama Mas ya," pinta Zain dengan menyatukan keningnya dengan kening Meka.
Air mata Meka keluar lagi, dia pun mulai menangis tersedu-sedu. Rasa sedih bercampur khawatir berkecamuk di benak Meka. Meka merasakan hal yang tidak nyaman jika meninggalkan suaminya di Jogja sendirian.
"Udah jangan menangis, nanti Mas tidak bisa melepaskan kamu sayang. Beri Mas semangat dan kekuatan ya agar bisa menjalani kehidupan di sini. Kamu juga harus kuat dan semangat ya," ucap Zain dengan menampilkan senyumnya.
"Iya Mas, akan aku coba," balas Meka.
"Ya sudah sekarang kita tidur yuk. Besok kita akan kembali ke Apartement kita."
"Iya Mas."
"Oh ya, Mas lupa menanyakan sesuatu. Bagaimana dengan kedua sahabat kamu yang pergi meninggalkan kamu di saat dalam masalah?" tanya Zain yang mulai tidak menyukai Deon dan Isna.
"Tidak ada khabar Mas. Sampai detik ini mereka tidak pernah menghubungi aku. Biarkanlah Mas, aku tidak ingin menanyakan keadaan mereka. Aku hanya ingin fokus dengan kandunganku saja," jawab Meka yang males membahas Deon dan Isna.
"Syukurlah kalau kamu bisa melihat kejelekan sahabat kamu. Mas pikir kamu akan tetap perduli dengan mereka yang sudah meninggalkan kamu saat dalam masalah," balas Zain.
"Ya sudah yuk kita istirahat Mas. Jangan bahas mereka lagi. Biarlah mereka menajalankan kehidupannya sendiri. Nanti juga balik kalau sudah ketimpa masalah," ucap Meka yang mengajak Zain berbaring.
"Iya sayang, tidurlah."
Zain dan Meka membaringkan tubuhnya. Zain memeluk Meka dan mengusap-usap perut Meka. Keduanya pun memejamkan mata dan tertidur dengan lelap.
Malam pun semakin larut, Meka bermimpi yang sangat aneh. Dalam mimpinya Meka melihat Mona berjalan bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang hanya terlihat dari belakang. Namun Meka seperti mengenali punggung dan bentuk tubuh laki-laki yang berjalan bersama Mona. Meka mengernyitkan keningnya. Karena penasaran Meka berlari menghampiri keduanya. Tapi tiba-tiba ada angin kencang berhembus menghalangi langkah Meka. Meka menutup matanya dengan lengannya karena angin tersebut membawa pasir ke arah Meka.
Setelah angin kencang berhenti, Meka mengusap wajahnya dan melihat ke depan. Meka mencari keberadaan Mona dan sosok laki-laki yang sangat familiar di lihatnya. Namun dia tidak menemukannya. Hingga tiba-tiba pundaknya di tepuk dari belakang membuat Meka kaget dan menoleh ke belakang.
__ADS_1