
Meka masih memikirkan perempuan itu yang menjadi pembantu di rumah ini. Meka duduk di meja makan sambil menikmati cemilan dan susunya. Perut yang awalnya sangat laper, sekarang sudah merasa kenyang.
Setelah selesai menikmati cemilan dan susunya, dia kembali ke kamarnya. Meka berjalan ke arah kamarnya, namun dia terkejut melihat perempuan itu berada di depan pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tegur Meka yang mengagetkan perempuan itu.
Perempuan itu jelas saja terkejut. Dia tidak langsung membalikkan badannya, dia diam sesaat mencoba mengatur nafasnya yang tercekat akibat kepergok. Lalu dia membalikkan badannya dan memasang wajah senyum manipalusinya
"Loh, Mbak Meka kok di luar?" tanya nya bingung.
"Saya nanya kamu, kok malah kamu yang bertanya. Bukannya menjawab," ketus Meka yang memang tidak menyukai perempuan itu.
"Ah iya, saya ke sini mau menanyakan sama Mbak Meka, apakah mau di buatkan susu atau tidak?" perempuan itu beralasan seperti itu.
"Tidak perlu kamu memperhatikan saya. Sudah ada suami saya yang membantu saya menyiapkannya. Atau saya sendiri bisa membuatnya," celetuk Meka dengan tatapan menajam.
"Oh ya sudah kalau gitu, saya pamit dulu ya Mbak Meka," ucapnya yang ingin kabur dari hadapan Meka.
Meka diam saja tidak menjawab ucapan perempuan itu. Namun ketika perempuan itu melangkah dari tempatnya, tiba-tiba Meka mencekal tangannya.
"Tunggu!" ucap Meka tanpa menoleh ke arah perempuan itu.
Perempuan itu terkejut dan tubuhnya gemetaran. Dia sudah kepergok dengan Meka sehingga dia pasrah akan apa yang dilakukan Meka.
"Jangan melakukan hal buruk hanya karena segepok kertas berwarna merah. Kalau kau tidak menghentikan tindakanmu dengan membantu kejahatan orang lain, maka kau akan menerima akibatnya," tegur Meka dnlengan nada dingin. Lalu Meka melepaskan genggaman tangannya dan melangkah masuk ke dalam kamarnya meninggalkan perempuan itu yang masih terpaku terdiam.
"Apa katanya? Apa itu artinya dia sudah tau tentang aku yang memata-matainya?" gumam perempuan itu dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.
Dia pun menoleh ke samping ke arah pintu kamarnya Meka. Lalu dia melangkah meninggalkan kamar itu.
Sementara Meka yang sudah masuk ke dalam kamar, melihat Zain yang masih tertidur di atas tempat tidur. Meka tidak tau apa yang terjadi dengan Zain. Sikap Zain sedikit agak berubah, tidak lagi mendukung ucapannya.
__ADS_1
Hari ini Papanya Meka akan tiba dari Kota Medan. Meka sangat senang karena memang dia sudah sangat merindukan kehadiran Papanya. Meka ingin meluapkan segala keaadaan yang dilaluinya kepada Papanya.
"Mas, jam berapa ya pesawat Papa mendarat" tanya Meka saat mereka sudah menyelesaikan sarapan paginya.
"Tadi Mas udah cek, kemungkinan, sore Papa sudah tiba di bandara Jogja," jawab Zain. "Apa kamu mau ikut menjemput Papa, sayang?" tanyanya.
Meka pun mengangguk, "Iya Mas, aku pengen ikut. Boleh ya Mas," pinta Meka dengan memohon.
"Baiklah, nanti siang kita siap-siap ke bandara buat jemput Papa."
"Makasih ya Mas," balas Meka sambil memeluk Zain.
"Iya sayang, apa kamu mau Mas kupasin buah-buahan?" tanya Zain penuh perhatian.
"Mmmm, sepertinya bolehlah Mas. Tapi aku mau ikut sama kamu ke ruang makan ya," pinta Meka
"Kalau begitu kita kelaut sekarang. Mas akan memberikan pelayanan yang terbaik buat istriku dan anakku tersayang," ucap Zain.
Keduanya keluar dari kamar. Mereka berjalan menuju ruang makan. Meka duduk santai di meja makan menunggu Zain yang sedang mengupas buah untuknya.
"Mas, itu terlihat sangat lezat. Apa aku bisa mencicipinya?" tanya Meka penuh harap.
"Nih, makanlah sayang. Kamu bisa menghabiskan semuanya ini. Kalau kurang Mas bisa mengupasnya lagi," jawab Zain sambil menyodorkan piring buahnya.
"Makasih Mas." Tanpa membuang waktu, Meka langsung melahap buah itu dengan cepat. Hingga membuat Zain menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Meka yang tidak sepertinya.
"Bagaimana sayang? Apa kamu mau nambah lagi buahnya?" tanya Zain lagi.
"Apa boleh Mas?" tanya Meka balik.
"Tentu boleh sayang. Mas kupas dulu ya buahnya," Zain pun mengambil buah yang lain untuk dikupas.
__ADS_1
Sementara jauh di Kota lain, Deon berduka cita atas kepergian Mamanya. Dia tidak menyangka karena Mamanya harus meregang nyawa akibat membantu dirinya yang hampir menjadi tumbal. Ternyata kepulangan Deon ke Semarang menjadi akhir hidup Mamanya. Deon tidak sengaja bertemu dengan seorang dukun yang mencari tumbal perjaka. Dan Deon menjadi sasarannya.
Saat itu jiwa Deon sudah diambil iblis itu, tapi dengan pengorbanan Mamanya yang menginginkan Deon kembali dan hidup dengan tenang, Mamanya pun meminta seorang Ustadz untuk membantunya mencari jiwanya Deon di alam ghaib agar kembali keraganya. Namun yang terjadi justru Mamanya yang terjebak di dunia lain. Sehingga mengakibatkan nyawanya meregang.
Deon menangis merasakan sakit yang sangat menusuknya. Ada terbesit di benak Deon, bahwa ini merupakan akibat perbuatannya yang egois tidak membantu Meka sahabat terbaiknya. Suasana hati Deon sangat menyedihkan. Dia tidak ada lagi tempat bersandar, orang yang sangat dicintainya sudah pergi meninggalkannya.
"De, ayo kita pulang," ajak Isna kekasihnya.
Deon menoleh kearah Isna yang juga menangis merasakan kesedihan Deon.
"Aku gak tau ini bisa terjadi Na. Aku menyesal sudah datang ke sini. Kalau kemaren kita tidak meninggalkan Meka dalam keadaan menghadapi masalah, mungkin ini tidak akan terjadi," sesal Deon yang tak habis-habisnya.
Isna pun ikut merasa bersalah karena dialah yang mengajak Deon untuk pergi meninggalkan Meka pada saat dalam masalah.
"De, ini sudah takdir. Kita gak bisa prediksi kalau ini akan terjadi. Dan ini juga salahku karena mengajak kamu ke sini," Isna mengaku kesalahannya terhadap Deon.
"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi Na. Kita berdua salah. Mungkin Meka sudah tidak mau bersahabat lagi dengan kita. Karena kemaren aku wa dia meminta bantuan, tapi dia tidak merespon. Itu artinya dia sudah membenci kita Na," ungkap Deon.
"Ayo kita pulang De. Dirumah akan diadakan pengajian. Kita do'akan semoga Almarhum Mama diampuni segala kekhilafannya," hibur Isna.
Deon masih tidak bisa menerima kepergian Mamanya.
"Ini terlalu cepat Na. Rasanya baru kemaren Mama bercanda denganku. Tapi sekarang dia pergi selamanya, hiks hiks hiks," Deon menangis di pundak Isna.
"De, sudah ya. Jangan bersedih karena itu tidak baik untuk Mama. Dia tidak akan tenang di sana melihat kamu yang belum bisa mengikhlaskannya," Isna mengusap puncak Deon memberikan kekuatan untuknya.
"Gimana aku bisa menahan kesedihan ini Na. Aku penyebab Mama pergi. Mama belum sempat melihat kita menikah dan memiliki cucu. Padahal aku ingin kita segera menikah membuat Mama bahagia," ucapnya dengan suara serak karena kebanyskan menangis.
"Jangan menyalahkan dirimu Deon. Ini kejadian yang tidak kita duga. Semua sudah takdir. Kita harus bisa menerimanya. Ayo sekarang kita jalani kehidupan kita tanpa Mama. Dan kita meminta maaf terhadap Meka."
Isna ingin segera menemui Meka dan meminta maaf karena mereka menjauh ketika Meka dalam menghadapi masalah.
__ADS_1
"Iya Na. Setelah selesai semuanya, kita akan kembali ke Jogja menemui Meka dan meminta maaf kepadanya," Deon setuju dengan ucapan Isna.
Keduanya pergi meninggalkan area pemakaman dengan kesedihan yang tak habis. Deon berjalan dengan lunglai, lututnya terasa lemas ketika hendak meninggalkan Mamanya yang sendiri di dalam tanah. Air mata masih mengalir bebas tanpa bisa dihentikan saat ini.