Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 32


__ADS_3

Saat Mamanya menghubungi Abangnya yang disana, Pak Zain datang membawa bungkusan sarapan.


"Assalamu'alaikum!" panggil Dosganya, karena posisi pintu sedang terbuka.


Meka yang saat itu hendak kekamar Asih, mendengar suara orang mengucap salam. Lalu Meka berjalan kearah depan rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Wa'alaikumussalam..!" sahut Meka ketika melihat Dosganya yang datang ke kostannya.


"Nih aku bawakan sarapan pagi buat kita yanx," ucap Dosganya saat masuk kedalam kostan.


"Ya udah Pak Zain tunggu bentar ya biar aku panggilkan Mama," Meka masuk kedalam kamarnya dan melihat Mamanya masih ngobrol sama abangnya.


Meka memberi kode kepada Mamanya, bahwa Dosganya sudah datang dan sedang menunggu diruang tamu. Meka pun kembali keluar kamar menemani Dosganya diruang tamu.


"Loh mana Mama kamu sayang?" tanya Dosganya saat melihat Meka berjalan kearahnya.


"Lagi ngobrol ditlp sama abangnya, bentar lagi kemari," jawab Meka sambil tersenyum.


"Oh ya sayang, ada yang ingin aku obrolin sama kamu. Tapi sepertinya setelah kita mengantar Mama kamu kebandara baru aku cerita ya," Dosganya ingin menceritakan tentang perjodohannya dengan anak rekan kerja Papanya.


"Emang mau cerita apa Pak?" tanya Meka penasaran.


"Gak pas kalau saat ini aku cerita. Tunggu aja nanti. Habis nganter Mama kamu kita ke Apartement aku ya!" pinta Dosganya.


"Kayaknya penting banget ya yang mau diceritakan nanti, sampai harus nunggu Mama berangkat," protes Meka.


"Iya sayang, udah ya sekarang kita sarapan dulu. Aku udah laper nih," Dosganya mencoba mengalihkan pembahasannya.


"Kan nunggu Mama dulu, masa kita sarapan duluan sih," Meka mulai kesal menjawabnya karena penasaran dengan apa yang akan disampaikan Dosganya.


Lalu Mamanya Meka datang menghampiri mereka.


"Eh nak Zain sudah datang!" ucap Mamanya Meka sambil berjalan kearah Meka.


"Iya Tante, baru aja sampai," jawab Zain dengan sopan.


Mamanya Meka duduk disamping Meka. Dan sebelum sarapan, Mamanya Meka memberikan wejangan kepada keduanya.


"Nak Zain, Tante hari ini mau kembali ke Sumatera, jadi Tante nitip Meka disini. Karena yang Tante tau, kalian saat ini sedang dekat. Tante harap nak Zain tidak mengecewakan Meka. Dan kalau memang nak Zain tidak bisa bertanggung jawab sampai tahap selanjutnya, lebih baik jangan dilanjutkan. Karena Meka juga masih sangat muda. Perjalanannya masih panjang," ucap Mamanya Meka yang penuh dengan kata-kata kiasan.


"Iya Tante, saya tidak akan mengecewakan Meka. Saya sangat menyayangi Meka. Apapun yang terjadi, saya tidak akan melepaskan Meka, Tante. Asal Om dan Tante memberikan kami jalannya," jawab Zain dengan sopan.


"Tentu Tante dan Om akan mendukung kalian!" sahut Mamanya Meka.


"Dan Meka, Mama harap jangan sampai melampaui batas dan jangan mengecewakan Mama ya!" ucap Mamanya dengan tatapan lembut.


"Maaf Ma, Meka sudah melampaui batasannya," bathin Meka merasa sedih.


Meka hanya menundukkan wajahnya, gak berani menatap Mamanya.

__ADS_1


"Loh kamu kenapa nak?" tanya Mamanya bingung.


Meka langsung memeluk Mamanya karena merasa sedih sudah mengecewakan Mamanya.


"Maafin Meka Ma...! Maaf..!" teriak Meka dalam hati. Dia pun meneteskan air matanya.


Zain melihat Meka menangis. Lalu dia memberikan kode, bahwa dia akan bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan.


"Sayang, kamu kenapa?" Mamanya Meka semakin bingung.


"Mungkin Meka merasa terharu Tante karena menitipkannya dengan saya. Dan dia mungkin sedih karena ditinggal Tante," Zain menjawab kebingungan Mamanya Meka.


Lalu Mamanya Meka melepas pelukannya dan menatap mata anaknya.


"Benarkah begitu sayang?" tanya Mamanya curiga.


Meka hanya mengangguk dan masih meneteskan air matanya.


"Ma, Meka sedih karena harus jatuhan dari Mama. Karena selama beberapa hari Mama disini, Meka merasa terlindungi. Tapi...!" Meka memutus ucapannya.


"Tapi kenapa nak?" tanya Mamanya.


"Tapi sekarang Meka harus menjalani semuanya sendiri disini. Biasanya kalau Meka pulang kuliah selalu ada Mama, nanti saat pulang kuliah, Mama sudah tidak ada dikost Meka lagi," ucap Meka sedikit berbohong.


"Ya ampuuun sayang.., kamu sudah besar loh. Sudah harus mandiri. Jangan cengeng gitu ah. Malu sama Pak Zain," ledek Mamanya.


"Ya udah sekarang kita sarapan dulu. Kalian mau berangkat kekampus kan!" Mamanya mengajak mereka sarapan.


"Iya Ma," balas Meka.


Akhirnya mereka sarapan bareng. Tapi ntah kenapa Meka merasa sangat sedih dan gelisah saat akan ditinggal Mamanya. Rasanya dia tidak ingin jauh dari Mamanya.


"Mama gak bisa pulang beberapa hari lagi Ma!" pinta Meka sambil makan.


"Gak bisa sayang! Papa kamu hari ini juga sampai ke Sumatera. Dan adik kamu juga kasihan ditinggal lama-lama disana," balas Mamanya dengan senyum yang teduh.


Di Sumatera, adiknya Meka ditemani sama kakaknya Mama yang belum menikah. Adik Meka masih berusia 8 tahun, dan duduk di bangku SD. Namanya Abiyu Prayoga. Saat Mamanya ke Jogja mengunjungi Meka, Abiyu tidak mau ikut. Dia mau terus sekolah dan tidak mau bolos. Sehingga Mama harus sendirian ke Jogja. Sedangkan Papanya, dinas keluar Kota beberapa seminggu di dua Kota. Dan hari ini kembali ke Sumatera.


Meka terus memandang wajah Mamanya, ntah kenapa dia melihat wajah yang berbeda dari Mamanya. Meka melihat dari mata Mamanya yang memandang Meka dengan pandangan yang tak menyala atau menantang. Meka merasakan sikap yang berbeda dari Mamanya.


"Kenapa aku merasakan seperti ini? Ada apa dengan Mamaku? Perasaan apa ini?" pikir Meka sambil terus menatap wajah Mamanya.


"Meka, kamu udah selesai makannya? Kalau sudah, kita bisa berangkat sekarang?" tanya Dosganya.


"Iya Pak, sudah selesai. Ayo berangkat, saya juga takut terlambat," jawab Meka.


Mama Meka hanya tersenyum melihat kearah Meka.


"Tante, kami berangkat dulu ya, nanti kami khabari kalau mau jemput Tante," Zain berpamitan sama Mamanya Meka sambil menyalami tangan Mamanya Meka.

__ADS_1


"Iya nak Zain. Tante titip Meka ya!" Mamanya terus mengucapkan kalimat itu.


"Pasti Tante saya akan menjaganya dan melindunginya," balas Zain sambil tersenyum.


"Ma, Meka berangkat kuliah dulu ya," Meka mencium tangan Mamanya dan mengucapkan salam.


"Iya sayang, hati-hati dijalan ya nak," ucap Mamanya.


Mereka pergi meninggalkan kostan meka setelah berpamitan dengan Mamanya, mereka keluar dan masuk kedalam mobil. Lalu Dosganya melajukan mobilnya kearah kampus.


Sepanjang perjalanan menuju kampus, Meka hanya diam saja. Dia masih memikirkan Mamanya.


"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang mengganjal di hati kamu?" tanya Zain yang bingung melihat sikap Meka diam saja.


"Gak ada yang, aku lagi mikirin Mama aja," kilah Meka tanpa menatap kearah Zain.


"Apa karena ucapan Mama yang tadi?" tebak Zain.


"Bukan, aku hanya merasa kesepian aja nanti kalau Mama tidak ada dikamar menungguku pulang kuliah," ucap Meka.


"Kan ada aku sayang. Gimana kalau kita tinggal di Apartemen saja?" ucap Zain dengan entengnya.


"Nikahin aku dulu, baru satu rumah!" sahut Meka cuek.


"Ayo kita nikah sekarang, biar aku lamar kamu saat ini juga sebelum Mama kamu ke Sumatera," tantang Zain sambil tersenyum.


"Ihhhh, aku mau kuliah dulu, habis tuh kerja baru mikirin nikah," ketus Meka.


Zain senyum-senyum mendengar pengakuan Meka tentang keinginannya.


"Emang gak mau nikah cepat sama aku? Kan kalau kita nikah, kamu ada temannya terus tiap malam," ucap Zain cengengesan.


"Hmmmm, bilang aja kalau kita nikah, kamu ada yang dikeloni, iya kan?" hardik Meka.


"Hahahaha," Zain tertawa terbahak-bahak.


Akhirnya mereka sampai juga dikampus. Meka keluar dari mobil Zain berbarengan. Mereka jalan bersama memasuki area kampus. Hingga banyak mata yang memandang kearah mereka.


"Tuh lihat si Meka sukses deketin Pak Zain!"


"Iya, pakai pelet apa dia?"


"Dasar cewek ganjen, tau aja mana yang tajir!"


"Iya cewek gatel emang dia. Maunya sama yang cakep-cakep!" ketus salah satu mahasiswa.


Meka tak menghiraukan cuitan jelek tentangnya. Dia terus berjalan bersama Dosganya. Dan Dosganya mengantar Meka sampai kedalam kelasnya.


"Nanti setelah selesai jam kuliah, kamu segera keruangan ku ya sayang!" pinta Zain.

__ADS_1


__ADS_2