Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 88


__ADS_3

Zain mengetahuinya hanya dengan melihat raut wajah istrinya yang menyembunyikan sesuatu, namun dia tidak akan mencampuri obrolan istrinya dengan sahabatnya.


"Tidak ada yang Lo sembunyikan?" tanya Isna curiga.


"Iya, Lo gak menyembunyikan sesuatu dari kami berdua kan Mek?" Deon ikut bertanya juga.


Meka tersenyum melihat sahabatnya yang terlihat pemberani, tetapi ketika dihadapkan dengan hal ghaib mereka akan ketakutan.


"Menurut kalian mau yang mana? Apa gw jujur atau gw bohong. Semua kalian yang menentukannya. Berani mendengarnya, maka gw akan jujur, tapi kalau gak berani, ya gw bohong, gimana?" tanya Meka dengan menaik-naikkan alis matanya.


"Ah jawaban macam apa itu! Kita harus disuruh milih. Udah cerita aja, gw sanggup kok dengerin," celetuk Isna.


"Gimana dengan Lo Deon?" tanya Meka menoleh ke Deon.


"Ya, gw sih rada takut Mek! Tapi gw juga penasaran. Kalau penasaran kan gak enak Mek, bisa kepikiran terus dengan apa yang terjadi."


"Jadi Lo maunya gimana Deon?" Meka kesal melihatnya.


"Ya udah deh diceritain aja. Gw bakalan dengarkan," balas Deon.


"Ok, sebenarnya kalian itu di datangi sama mahluk halus wanita yang sempat nemui gw. Mungkin dia pikir gw di dalam, makanya dia masuk ke dalam," ungkap Meka.


"Jajajadi yang masuk itu benaran mahluk halus Mek?" tanya Deon yang sudah memperlihatkan ekspresi takutnya.


"Tuh kan, apa gw bilang. Udah ah gw males lanjutin ceritanya," Meka senyum-senyum melihat tingkah Deon.


"Jangannnn, lanjutin dong Mek...! Gw takut kan wajar, tapi ada pacar gw kok disini, jadi gw gak terlalu takut mendengarnya," Deon mencoba membuat dirinya berani mendengar cerita serem Meka.


"Wanita itu minta tolong sama gw. Agar jasadnya ditemukan dan dikembalikan ke keluarganya di kampung. Karena saat ini Ibunya selalu menantikan kepulangannya. Dan dia bilang, walaupun yang pulang hanya jasad tanpa nyawa, tapi Ibunya bisa melihatnya dan mengunjungi makamnya nanti," Meka meneruskan ceritanya.


"Terus Lo mau nyari jasadnya dimana Mek?" tanya Deon.


"Jasadnya dikubur ditembok kamar pembantu rumah majikannya," ucap Meka yang membuat keduanya terkejut.


"Whaaaaat, ah Lo serius Mek...!" Deon menutup mulutnya tak percaya.


"Sungguh mengerikan Mek! Ini benar-benar serem. Kenapa mayatnya bisa dirumah majikannya?" Jangan bilang majikannya yang bunuh," tebak Isna.


"Yup, Lo bener banget. Gw kayak detektif aja ya, nyelidiki kasus kematian orang yang sudah meninggal. Tapi gw gak mau melakukannya. Karena sangat berbahaya," ucap Meka menggelengkan kepalanya.


"Bahaya kenapa Mek? Emang dia meninggal dibunuh majikannya karena apa?" Deon semakin penasaran.


"Kalian mau tau?!"


"Iya kami mau tau, buruan ceritanya," sebel Isna.


"Dia meninggal karena diperkosa sama majikannya. Dan dia dijadikan tumbal pesugihan oleh kedua majikannya."

__ADS_1


"Whaaaaat," Deon dan Isna tercengang mendengar nya.


"Ihhhh, kalian ini. Tutup tuh mulutnya, jangan kelamaan terbuka. Nanti lalat masuk dan iler kalian jatuh," ledek Meka.


"Yeeee, eh ngomong-ngomong, Lo tau dari mana Mek?" Deon memelankan suaranya saat bertanya. Dia takut mahluk itu akan datang kembali.


"Saat dia menggenggam tangan gw, dia membawa gw masuk ke dalam pikirannya dan melihat semua kejadian yang dialaminya. Bagaimana dia diperkosa sampai meninggal karena darah gadis perawan sangat lezat bagi iblis. Sehingga dia mati mengenaskan. Dan yang parahnya, mayatnya dikubur di dinding dikamar itu dan dilapisi dengan wallpaper," jelas Meka.


"Oh ya ampuuuun Mek...! Ngeri banget gw mendengarnya. Kayaknya tuh majikan sakit jiwa ya Mek. Hanya karena kekayaan, menumbalkan gadis perawan, dan mayatnya tidak dikubur dengan layak. Sungguh mengerikan," sambung Isna.


Isna tak menyadari raut wajah Deon yang berubah.


"Ternyata banyak yang sudah terjerat pesugihan iblis ya. Gw jadi takut kalau berurusan dengan hal begituan," tiba-tiba Deon berbicara dengan wajah sendunya.


"Begitulah Deon, tidak hanya karena harta mereka terjerat iblis. Tapi juga karena cinta dan dendam," semua bisa terjadi jika kita tidak berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT," ucap Meka dengan sedikit nasehat.


"Hah, ini seperti kisah Mama gw ya Mek. Terus rencana Lo apa?" tanya Deon.


"Ya gw gak ada rencana Deon! Gw gak mau terlalu berurusan sama mahluk halus. Cukup kalian sahabat gw aja yang diperhitungkan," ucap Meka tersenyum.


"Makasih Mek, Lo mau memperhatikan gw dan Isna," Deon hendak memeluk Meka tapi Isna memberikan tatapan mautnya dengan melototin matanya.


"Hehehe, kelupaan sayang. Kebiasaan dulu seneng ngelendot sama Meka," ucap Deon yang merasa gak enak.


"Eh Mek, gimana kalau dia terus meneror Lo? Kan dia minta tolong sama Lo."


"Kasihan ya tuh perempuan, harus mengalami hal tragis begitu," ucap Isna prihatin.


"Gw kasihan sama orang tuanya yang menunggu kepulangannya selalu. Tapi yang ditunggu gak pernah datang."


"Biarkanlah, itu masalah dia. Setiap orang kan punya masalah sendiri. Tapi gw jadi penasaran bagaimana nasib Ibunya dikampung," ucap Meka yang penasaran.


"Apa Lo punya keinginan untuk mengunjungi Ibunya?" tanya Isna.


"Menurut kalian bagaimana? Apa kita menemui Ibunya?" tanya Meka balik.


"Buat apa kita menemuinya?" Deon ikut bertanya.


"Ya gw sih kasihan aja mendengar tentang Ibunya yang sendirian. Pasti Ibunya sangat merindukannya," jawab Meka.


"Mending Lo tanya dulu sama Pak Zain, apakah dia memperbolehkan Lo mengunjungi Ibu mahluk halus yang menemui Lo?" suruh Isna untuk izin sama Pak Zain.


Meka menoleh kearah suaminya yang ternyata sudah melihatnya dari tadi. Semua pembicaraan mereka di dengar oleh Dosga mereka.


Meka melangkah menghampiri suaminya. Dia menatap penuh harap kesuaminya.


"Gimana Mas, apa boleh aku menemui Ibunya?" tanya Meka penuh harap.

__ADS_1


"Kamu sudah pikirkan baik-baik, apa yang akan terjadi nantinya? Ingat sayang, jangan terlalu membahayakan dirimu. Kamu juga punya kehidupan yang harus dijalani," nasehat suaminya.


"Baiklah Mas, aku gak akan melakukannya. Apapun yang kamu ucapkan akan aku dengerin," Meka tersenyum melihat suaminya.


"Jadi hari ini menemui Mamanya Deon?" tanya suaminya.


"Iya Mas, nanti siang aku sama yang lain akan menemuinya. Apakah kamu akan ikut Mas?" tanya Meka.


"Mana mungkin Mas membiarkan kamu sendirian. Tentu Mas ikut. Tapi Mas harus mengurus pelajaran kuliah untuk Mas serahkan ke dosen pengganti Mas hari ini," jelas Zain.


"Apa kita bisa keluar sekarang dari rumah sakit? Biar aku urus semuanya."


"Mas aja yang urus sayang. Mas sudah membaik kok. Atau kamu mau menemani Mas?"


"Ya udah aku temani kamu deh Mas."


"Mek, mau ngurus administrasi ya? Berarti kita kembali ya sekarang ke tempat Lo?" tanya Isna.


"Iya Na.Pak Zain mau mengerjakan urusan kampus. Sekalian juga hari ini gw mau minta izin gak kuliah hari ini sama teman kuliah kita," ucap Meka yang memberitahukan sama kedua sahabatnya.


"Oh iya ya, kita harus izin gak masuk kuliah hari ini. Gw kirim pesan sendiri aja, biar gak ketahuan kalau kita kecelakaan bareng," jelas Isna.


"Kamu benar Na, aku juga mau kirim pesan sama teman kuliah kita sekarang buat izin gak masuk hari ini" Deon ikut menimpali.


"Ya udah, gw ke depan dulu ya buat ngurus semuanya, biar kita bisa istirahat kembali ke Apartemen sekarang juga sebelum ketemu sama Mamanya Deon" ucap Meka.


"Makasih ya Mek, udah bantuin kami," ucap Isna


"Ahhh lo Na, kayak sama siapa aja. Kalian tunggu disini dan bersiap-siap ya."


Meka dan Pak Zain pergi keluar dari kamar rawat mereka bertiga. Sesampainya diluar pintu, Meka melihat wanita itu menatapnya dengan sendu. Meka gak tega melihat kesedihan diwajah mahluk halus itu.


Mahluk itu terus menatap Meka dari kejauhan. Dia berharap Meka mau membantunya. Karena hanya Meka yang bisa membantunya bertemu dengan Ibunya.


Meka mencoba tak memperdulikan tatapan mahluk halus itu yang mengiba terhadapnya. Dia terus berjalan disamping suaminya.


"Mas, mahluk halus itu kasihan sekali. Dia terus menatapku Mas," Meka berbisik ditelinga suaminya.


"Jangan hiraukan sayang. Ingat, kamu tidak harus berkutat dengan hal ghaib. Mas gak mau kamu kenapa-napa," ucap Zain yang terus berjalan.


"Iya Mas, maaf. Aku hanya tidak tega aja Mas dengar ceritanya," balas Meka.


"Jangan terperdaya dengan mereka sayang. Mereka banyak tipu muslihatnya. Jadi please dengerin Mas. Jangan pernah membantu mahluk ghaib, hanya sahabat kamu yang bisa Mas toleransi untuk dibantu ya," Zain menatap Meka dengan memegang kedua bahunya.


"Iya Mas, aku akan dengerin apa kata kamu. Sekarang ayo kita urus administrasi nya," ajak Meka.


Mereka sampai di bagian meja rekam medis dan administrasi. Zain mengurus semuanya hingga selesai.

__ADS_1


__ADS_2