Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 163


__ADS_3

Deon, Isna dan Robby hanya saling melirik. Bingung tentu saja, mereka merasa cuaca tidaklah mendung, dan terik matahari sangat menyengat ke kulit. Tapi angin segar dan dingin berhembus di hadapan mereka.


"Bibir Lo Rob, gw lakban baru tau rasa. Jangan ngomong sembarangan deh. Lo aja udah pucat begitu," geram Isna.


"Eh, gw cuma asal ngomong doang kok. Mana gw tau bakalan beneran ada demit disini. Lagian nih jaman modern, masa siang bolong begini ada demitnya," ledek Robby yang tetap ngomong sembarangan.


"Isssh Lo ini ya, semoga tuh demit dengerin Lo dan nampar bibir lambe Lo biar dower terkewer-kewer," ketus Isna.


Saat itu Isna dan Deon pergi meninggalkan Robby. Namun saat itu juga sebuah pukulan menampar bibir Robby sangat keras.


"Awwwwwww sakiiit, s--se--setaaaaan......!" Robby lari terbirit-birit ke arah ruangan kelas mereka sambil memegang bibirnya yang sakit.


Deon dan Isna terkejut dan menoleh ke arah Robby, lalu mereka saling memandang dan ikut bergidik ngeri, keduanya mempercepat jalannya.


"Ada apa dengan dia De?" tanya Isna yang bingung melihat keadaan temannya itu.


"Aku gak tau Na, apa dia beneran lihat demit ya. Tapi demitnya siapa ya?" Deon malah balik bertanya.


"Atau jangan-jangan itu....," Isna menggantung ucapannya.


Deon yang mengerti kemana arah ucapan Isna langsung memperlihatkan wajah pucatnya.


"Na, jangan bilang kalau itu ulah Bu Arin, ihhhhh serem...," Deon bergidik ngeri dan langsung menggandeng tangan Isna.


"Deon ngapain gandeng tangan aku. Kamu ini penakut banget sih," hardik Isna yang kesal dengan sikap Deon.


"Na, kamu kan tau, kekasihmu ini emang penakut. Masa kamu gak bisa nerima aku apa adanya. Masa nerima aku ada apanya, hehehe," balas Deon dengan cengengesan.


Isna tak menanggapinya, dia memanyunkan bibirnya dan terus berjalan.


Akhirnya mereka sampai di depan kelas, dan melihat Robby yang ketakutan dan gemetaran. Deon dan Isna masuk ke dalam dan melirik ke arah Robby.


Robby pun melirik ke Deon, sambil melihat keluar pintu dia berkata.


"Ta--ta--tadi gw lihat s--se--setan mirip Bu Arin," ucap Robby pelan karena takut di dengar yang lainnya.


Deon dan Isna melotot mendengar ucapan Robby yang sedang ketakutan. Mereka pun menghampirinya.


"Lo bilang apa? Mirip Bu Arin...?" tanya Deon tak percaya.


"Lo gak sedang ngigau kan Rob? Itu tak mungkin," protes Isna yang tak percaya juga.


"Gw serius, dia mirip Bu Arin. Dan nih bibir gw, gara-gara Lo ngatain gw, jadi beneran gw di tampar demitnya Bu Arin," balas Robby sambil mengusap bibirnya.


"Coba gw lihat tuh bibir," pinta Isna.


"Oh....ya ampuuun Rob...., beneran sedikit dower ya. Dahsyat bener Bu Arin nampar Lo," ucap Isna yang sedikit prihatin.


"Mending Lo obatin tuh bibir, biar gak tambah dower. Lagian sembarangan ngomong. Lain kali hati-hati kalau berbicara Rob, kita gak tau di tempat kita berdiri ada mahluk halusnya atau gak," nasehat Deon.


"Iya gw salah, terlalu sombong untuk tidak mengakuinya," ucap Robby yang merasa menyesal atas ucapannya tadi.


Saat mereka ngobrol, Dosen pun masuk ke dalam ruangan mereka.


"Selamat siang semua....!" sapa Dosen itu.


"Siang Pak....!" sahut semuanya.


"Saya akan absen terlebih dahulu ya," ucap Dosen itu yang kemudian memanggil nama Mahasiswanya.

__ADS_1


Setelah itu pelajaran pun dimulai. Deon dan Isna mengikuti kuliahnya dengan pikiran yang tak nyaman. Mereka masih memikirkan kejadian yang dialami Robby teman mereka.


Sejam telah berlalu, Dosen pun keluar dari ruangan mereka. Deon dan Isna bersiap-siap untuk pergi ke Apartemen Meka. Namun sebelum mereka keluar dari ruangan itu, mereka melihat Robby yang masih diam melamun. Deon pun menghampiri nya.


"Eh Rob, ngapain Li diam disini? Tuh Dosen udah kelar, ayo pulang," ucap Deon yang mengajak Robby pulang.


"Hah, Dosen dah keluar ya," balas Robby yang membingungkan.


Deon dan Isna menatap Robby dengan lekat. Robby yang ada di hadapan mereka semakin bertingkah aneh dan wajahnya semakin pucat.


"Rob, mau gw anter pulang Lo?" tanya Deon.


"Gak usah De, gw bisa pulang sendirian kok," jawab Robby sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi wajah Lo pucat Rob, kelihatannya ada yang gak beres nih sama Lo," ucap Isna menatap tajam ke Robby.


"Gak beres apanya Na? Gw sehat-sehat aja kok," balas Robby yang berusaha menyembunyikan keadaannya.


"Ya sudah kalau gitu. Kami duluan keluar ya. Lo hati-hati di jalan. Lebih baik banyak berdo'a ya," ucap Deon memberi peringatan.


"Makasih De, Na. Gw minta maaf ya karena tadi mengolok-olok hal yang tak nampak. Gw juga mau pergi dulu. Selamat tinggal," balas Robby yang membingungkan.


Robby pergi meninggalkan Deon dan Isna yang diam berdiri terpaku mendengar ucapan Robby. Mereka berdua bingung dan tatapannya kosong dengan kata selamat tinggal dari Robby.


"Na, maksud dia ngomong gitu apa ya?"


"Aku gak tau De, kok dia ngomong gitu ya?" Isna malah bertanya balik.


"Aneh Na, apa dia lagi kesambet ya Na?" Deon juga malah bertanya balik.


Mereka saling bertanya tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan dari keduanya.


Deon dan Isna masih setia memandang kepergian Robby yang gak tau akan kemana. Hingga deringan suara ponsel Isna berbunyi. Mereka berdua tersadar dari bengongnya.


Isna pun melihat ponselnya dari dalam tas, dan melihat nama Meka di layar ponselnya. Dia pun mengangkat tlp nya.


"Assalamu'alaikum Mek!" ucap Isna.


"Wa'alaikumussalam Na. Kalian jadi ke tempat gw kan?" tanya Meka gak sabaran.


"Jadi Mek. Gw mau banyak cerita sama Lo, tunggu aja. Nih kami baru aja selesai kuliahnya," balas Isna sambil melirik Deon.


"Ok, gw tunggu ya. Kita makan siang di tempat gw aja. Gw udah mesan makanan nih," ucap Meka.


"Mantep tuh, makan siang sambil ngobrol ngegosip. Jadi laper gw Mek," Isna sangat tak sabaran ketika mendengar makanan.


"Meka, Lo mesan makanan apa? Gw bisa request gak?" tanya Deon tanpa malu.


"Lo mau request apa De?" tanya Meka yang merasa lucu.


"Pesanin gw steak dong Mek....! Gw lagi ngidam steak nih...," rengek Deon.


Sontak saja Isna mendelik menatap Deon yang mengatakan ngidam.


"Yang cocok ngidam tuh, aku De, kamu kan laki-laki. Jangan aneh-aneh deh," ketus Isna.


"Itu kan hanya bercanda sayang. Kamu tuh serius banget sih Isna ku yang cantik menawan. Aku emang pengen steak kok," balas Deon tersenyum sambil mencubit gemas pipi Isna.


"Hah, ya udah Mek, pesan dua ya. Gw juga mau," ucap Isna yang tanpa sungkan.

__ADS_1


"Yeeee, ngikut aja nih sayangku," ledek Deon.


"Kan kita sehati Deon sayang..!"


Meka yang mendengar di seberang sana malah tertawa terbahak-bahak.


"Kalian berdua ini lucu banget sih. Udah tenang aja, gw pesanin apa mau kalian ya, buruan kemari," suruh Meka.


"Baik Mek, kami akan segera meluncur ke TKP, hahahaha," canda Deon.


"Somplak Lo De," balas Meka.


Akhirnya tlp pun di matikan. Deon dan Isna terus berjalan ke tempat parkiran. Sesampainya di parkiran, mereka masuk ke mobil. Lalu Deon melajukan mobilnya ke Apartment Meka.


"Eh De, Lo lihat Robby gak?" tanya Isna.


"Iya ya, kok gak kelihatan. Cepat banget menghilangnya. Apa dia naik bus atau mobil sendiri ya?" tanya Deon balik.


"Ya sudahlah, gak usah kita pikirkan De, sekarang kamu fokus aja bawa mobilnya. Kelihatannya jalanan saat ini gak macet ya," ucap Isna yang melihat jalanan.


"Itu artinya kita di izinkan untuk cepat sampai ke tempat Meka. Gw udah laper banget nih Na," balas Deon.


"Hehehe sama De, asyik nih nyantai di tempat Meka. Kayaknya bakalan banyak nih yang bakalan di obrolin."


"Pasti Na, aku juga pengen dengar cerita tentang Meka disana."


"Jadi pengen ke Paris ya De."


"Kamu mau kesana? Nanti kalau aku udah sukses, akan aku bawa kamu ke Paris," ucap Deon yang menghibur Isna.


"Aamiin De, aku akan selalu mendukung kamu kok," balas Isna.


Mereka asyik ngobrol sepanjang jalan. Siang yang terik, jalanan yang tak begitu ramai. Seolah memberi mereka berkah untuk secepatnya sampai dan menikmati makan siang di Apartement Meka.


Tak berapa lama, mereka sampai di Apartement Meka. Deon dan Isna keluar dari mobil. Mereka masuk ke dalam lift menuju ruangan Apartement Meka.


Ternyata kode untuk membuka pintu sudah diganti oleh Zain. Sehingga Deon dan Isna tak bisa lagi leluasa masuk ke dalam. Lalu Isna menghubungi Meka supaya membukakan pintu Apartementnya.


"Mek, gw dan Deon udah di depan pintunya nih," ucap Isna memberitahu.


"Oh kalian sudah sampai toh. Tunggu bentar ya. Gw bukain," balas Meka dari dalam.


Lalu Meka berjalan ke arah pintu depan dan membual pintunya.


"Meka......!" seru Isna yang langsung memeluk sahabatnya itu.


Meka pun membalas pelukan Isna yang memang sangat ditunggunya.


"Hai Mek...senang bisa ketemu Lo lagi," ucap Deon saat melihat Meka.


"Gw juga senang banget bisa ketemu kalian lagi. Kangen tau..!" balas Meka yang merasa senang atas kehadiran sahabatnya ini.


"Iya Mek, gw dan Deon udah nungguin Lo pulang ke Indonesia," Isna sangat senang bisa melihat sahabatnya lagi.


"Udah, ayo masuk. Jangan berdiri disini," ajak Meka.


Mereka pun masuk ke dalam Apartement. Meka mengajak mereka langsung ke meja makan untuk segera makan siang.


Meka sudah memesan makanan yang di inginkan Deon dan Isna. Dia sangat gembira akan kedatangan sahabatnya itu. Sehingga Meka memesan banyak makanan.

__ADS_1


Seperti saat ini, begitu banyak makanan yang sudah terhidang di atas meja makan. Tentu saja itu akan membuat Deon dan Isna akan semangat menghabiskan makanan itu.


Meka menyuruh Deon dan Isna untuk langsung duduk di meja makan. Sementara dirinya memanggil Zain ke dalam kamar.


__ADS_2