Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 142


__ADS_3

Meka kembali ke kamarnya dan melihat Zain masih berkutat di depan leptopnya menggunakan kaca matanya.


"Kamu cakep banget Mas kalau pakai kaca mata gitu. Buat aku takut kehilanganmu aja," puji Meka dengan senyum-senyum.


"Duduk sini," perintah Zain.


Meka berjalan menghampiri Zain di meja kerjanya. Dia duduk diatas pangkuan Zain dan memeluk leher Zain.


"Apa yang kamu bicarakan dengan mereka sayang?" tanya Zain sambil memeluk pinggang Meka.


"Aku hanya bertanya, apakah mereka sudah mendapatkan kostannya? Dan Alhamdulillah, mereka sudah mendapatkannya," jawab Meka tersenyum.


"Tapi kenapa kamu lama sekali di luar sana. Apakah kamu tidak memikirkan Mas yang sudah menunggu disini?" tanya Zain cemburu.


"Maaf Mas, aku tidak sengaja melakukannya," jawab Meka menunduk.


"Hei kenapa menunduk begitu," balas Zain dengan mendongakkan dagunya Meka.


"Aku merasa bersalah Mas sudah membuatmu menunggu," ucap Meka sedih.


"Oh ya ampun sayang..., jangan berkata seperti itu. Mas hanya penasaran apa yang kalian gosipkan," balas Zain tersenyum.


"Oh....itu toh Mas. Tadi Isna ngelihat wajahku yang sedikit pucat, lalu dia bertanya dan memaksaku untuk berbicara. Awalnya sih aku gak mau Mas menceritakannya, tapi, dia memaksa ingin mendengarnya," ucap Meka menerangkan.


"Terus kamu jadi menceritakan kejadian tadi?"


"Iya Mas, karena bagaimanapun, besok mereka akan mendengar khabar tentang Bu Arin kan," jawab Meka.


"Ya, kamu benar sayang. Lalu bagaimana tanggapan mereka?" tanya Zain.


"Isna ya kagetlah Mas, apalagi si Deon. Malah ketakutan mendengarnya," jawab Meka.


"Hahaha, si Deon emang gak berubah ya. Tapi kedua sahabat kamu itu emang pasangan yang serasi kok," ucap Zain tak terduga.


"Tumben Mas menanggapi hubungan mereka?" tanya Meka bingung.


"Kita sudah lama tinggal bersama mereka sayang, tentu Mas melihat mereka berdua," jawab Zain.


"Hehehe. Mas kita jadi liburannya kan?" tanya Meka mengalihkan topik pembicaraan.


"Jadi sayang, Lusa pagi kita berangkat ya, Mas udah ngurus semuanya," jawab Zain.


"Asyiiik, aku bisa melepas sejenak permasalahan yang terjadi," ungkap Meka.


"Tapi ada hadiahnya buat Mas," ucap zain dengan menyeringai nakal.

__ADS_1


"Hadiah apa Mas yang kamu inginkan?" tanya Meka penasaran.


"Malam ini kamu harus memuaskan Mas, gimana?" tanya Zain balik.


"Ihhhh Mas, kenapa harus meminta hadiah seperti itu. Hal begitu sudah kewajibanku Mas membuatmu senang," jawab Meka malu-malu.


Lalu dengan segera Zain mengangkat tubuh Meka ke atas tempat tidur. Mereka melakukan penyatuan yang dahsyat hingga membuat ruangan itu berisik dan gaduh. Suasana di dalam kamar mereka semakin panas hingga membuat kedua pasangan itu enggan untuk menghentikan aktifitas mereka. Namun semua harus diakhiri. Zain dan Meka melakukan pelepasan secara bersamaan hingga membuat keduanya terkulai lemas di tempat tidur.


Zain memeluk Meka dan mengecup pucuk keningnya dengan rasa sayang. Lalu mereka berdua tertidur lelap.


Meka tidak tau apa yang akan terjadi dengannya saat mereka liburan. Semua tak seindah yang dipikirkan Meka. Akan ada hal yang menanti mereka berdua, hingga membuat Meka dan Zain sangat ketakutan luar biasa.


Pagi pun hampir tiba, matahari juga hampir tersenyum cerah menyinari bumi. Meka terbangun dari tidurnya karena ketakutan. Wajahnya terlihat kelelahan. Meka bermimpi melihat banyaknya genangan darah dan mendengar jeritan orang minta tolong di sebuah ruangan yang gelap dan pengap. Meka juga melihat banyaknya daging-daging yang bergantungan di ruangan itu dengan bau anyir. Meka ketakutan hingga dia berlari kencang, dan sayup-sayup mendengar suara seseorang memanggilnya. Meka mencari suara itu hingga dia terbangun tersentak.


Meka melihat Zain yang sudah duduk disampingnya dengan raut wajah yang bingung.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu berkeringatan gitu? Ada apa?" tanya Zain heran.


"Mas, a--aku mimpi serem Mas," jawab Meka dengan wajah menunduk.


"Kamu mimpi apa sayang? Cerita ke Mas," tanya Zain.


"A--aku mimpi melihat banyak genangan darah Mas. Aku juga melihat banyak daging yang bergantungan di dalam ruangan dengan bau anyir yang menyengat. Dan aku juga mendengar banyak suara minta tolong. Aku takut Mas," ungkap Meka ketakutan.


"Hust hust hust, udah sayang, jangan takut ya. Ada Mas disini," Zain memeluk Meka sambil mengusap-usap punggung Meka untuk menenangkannya.


"Ayo kita mandi bareng, Mas akan membantumu mandi dan menemanimu," ajak Zain.


Meka hanya mengangguk mengiyakan ajakan suaminya.


Lalu mereka berdua mandi bersama. Zain senantiasa selalu menemani Meka dalam keadaan apapun. Dia berharap dengan menemani Meka mandi, itu bisa menghilangkan sedikit rasa ketakutannya.


Setelah Zain menemani Meka mandi, dia pun membantu Meka untuk menggunakan pakaian. Zain benar-benar memanjakan Meka dengan perhatiannya.


"Ayo kita cari sarapan dulu sayang, setelah itu kita ke Kampus," ajak Zain.


"Iya Mas, aku ingin sarapan soto aja Mas yang dekat Kampus juga gak apa-apa biar dekat dengan Kampus," ucap Meka.


"Ayo, Mas ngikuti kemauan kamu aja sayang," balas Zain.


"Tapi Deon dan Isna gimana Mas?" tanya Meka.


"Kamu samperin mereka. Tanyakan apakah mau sarapan bareng atau tidak?" suruh Zain.


"Kalau gitu, aku keluar dulu ya Mas nemui mereka."

__ADS_1


"Iya sayang, pergilah."


Lalu Meka keluar dari dalam kamarnya dan menghampiri Isna yang ada di dalam kamarnya.


"Na, kalian mau sarapan bareng atau nggak nih?" tanya Meka yang main nyelonong aja.


"Ah Lo Mek, ngagetin gw aja." sebel Isna yang sedang bersiap-siap.


"Sorry, gw mau nanya, kalian mau sarapan bareng atau nggak nih?" tanya Meka lagi.


"Emang mau sarapan dimana Mek?" tanya Isna.


"Tadi sih, aku mintanya sama Pak Zain, sarapan soto dekat Kampus kita, kalau kalian mau ikut, ayo bareng," jawab Meka yang kembali mengajak mereka.


"Bolehlah Meka. Tapi gw sama Deon naik mobilnya. Karena rencananya mau pindahin barang-barang nanti setelah kuliah."


"Oh ya udah, kalau mau ikut ayo buruan. Nanti kalau kalian udah selesai panggil aja kami, ya," pinta Meka.


"Siap Mek," balas Isna.


Isna kembali merias wajahnya dan merapikan pakaiannya.


Sedangkan Meka kembali ke dalam kamarnya menemui suaminya.


"Gimana sayang, mereka mau ikut sarapan bareng?" tanya Zain saateka masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu dulu.


"Iya Mas, mereka mau bareng. Tapi Deon bawa mobil sendiri. Karena rencananya nanti habis pulang kuliah, mereka mau pindahin barang milik mereka," jelas Meka.


"Oh hari ini pindahannya?" tanya Zian.


"Iya Mas. Oh ya Mas, nanti aku boleh bantuin mereka buat pindahan?" tanya Meka berharap dikasih izin sama Zain.


"Kalau kamu senang membantunya, Mas gak akan melarang kamu sayang," ucap Zain yang memberi izin.


"Makasih ya Mas. Kamu sangat pengertian banget sama aku," puji Meka sambil mengecup pipi suaminya.


"Apapun kalau kamu bahagia, aku akan menurutinya kok," balas Zain.


Lalu dari luar terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka.


"Mek, ayo, kami udah siap nih!" panggil Isna.


"Iya Na, nih kami juga dah mau keluar kok," sahut Meka dari dalam kamarnya.


Lalu Meka dan Zain keluar dari dalam dan melihat Deon dan Isna sudah menunggu di sofa.

__ADS_1


"Ayo Na, De, kita berangkat," ajak Meka.


Lalu Isna dan Deon pun bangkit dari sofa. Mereka mengikuti Meka dan Dosganya menuju parkiran. Kemudian mereka naik mobil masing-masing ke arah Kampus.


__ADS_2