
Meka masih merasakan mual yang tak juga reda hingga mengeluarkan air mata.
"Ya sudah lebih baik sekarang kita ke Dokter aja ya sayang. Mas khawatir sama kamu," ucap Zain yang panik.
Lalu dari belakang datang sosok yang tidak di sukai Zain . Dan dia menyodorkan air putih agar di minum Meka.
"Ini berikan istri kamu air putih hangat, supaya enakan perutnya," Rudy memberikan segelas air putih ke tangan Zain.
Sontak ke duanya menatap ke arah Rudy yang tiba-tiba datang. Meka gak menyangka yang memberinya air putih hangat adalah Rudy.
"Tidak perlu, saya bisa mengambilnya sendiri. Kamu tidak usah memberikan perhatian kepada istri saya ngerti!" ucap Zain dengan intonasi membentak.
"Saya hanya perduli saja. Bukan hal yang di karang kan kalau kita perduli sesama manusia?" tanya Rudy tanpa senyum.
"Pergilah, saya tidak ingin melihat kamu," sarkas Zain.
"It's ok. Nih pegang air putihnya. Sapa tau kamu berubah pikiran," balas Rudy dengan mengedikkan bahunya dan bersikap dingin.
Lalu Rudy pun meninggalkan Meka dan Zain. Tapi sebelum meninggalkan mereka, Rudy sempat bersitatapan dengan Meka dan dia tersenyum menawan terhadap Meka. Lalu dia pergi meninggalkan keduanya.
"Oh ya ampuuun, kenapa aku malah menatapnya. Ada apa ini?" Meka menggeleng-gelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran aneh dalam otaknya.
Zain yang merasa jika Meka bertingkah aneh, langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa sayang? Apa pusing, mau mual lagi?" tanya Zain semakin cemas.
"Ah tidak Mas, aku hanya ingin menghilangkan rasa mualku saja," jawab Meka. "Ayo Mas kita kembali ke sana," ajak Meka.
Rudy yang masih belum jauh dari tempat mereka berdua, hanya menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Meka. Dia senang membuat Meka gelagapan saat berbicara sama suaminya.
"Seandainya kamu menjadi milikku, saat ini aku yang berada di samping kamu Meka," bathin Rudy sambil berjalan.
"Ya sudah kalau kamu udah mendingan. Lebih baik kita berpamitan saja sama Ustadz dan yang lainnya ya," ucap Zain.
"Iya Mas, ayo kita kesana," balas Meka.
Keduanya kembali ke ruang tengah dan berkumpul dengan yang lainnya.
"Nak Meka, apa yang terjadi?" tanya Ummi ketika melihat Meka datang bersama Zain.
"Iya Meka, kamu baik-baik saja kan?" tanya Nenek tua.
__ADS_1
"Meka kenapa ya Pak Zain. Apa tidak sebaiknya di bawa ke rumah sakit aja. Sapa tau kesehatannya kurang baik," usul Ustadz Ahmad.
"Iya Ustadz, rencananya juga begitu. Setelah ini habis sarapan, kami akan kembali ke Apartement. Tapi saya akan membawa Meka ke rumah sakit dulu Ustadz," balas Zain.
"Ya sudah kalau gitu, habiskanlah makan kalian. Biar cepat ke rumah sakitnya," suruh Kakek tua.
"Iya kek," balas Zain.
Keduanya kembali menikmati sarapannya. Tapi Meka justru tak bisa memakan masakan yang di masak Ummi dan Nenek. Meka berusaha menahan mualnya sampai wajahnya memucat menahan gejolak di perutnya.
Rudy melihat tingkah Meka yang menahan sesuatu. Setelah mengetahui bahwa Meka memiliki Khodam itu, Rudy merasa senang. Tapi senangnya hilang sekejap ketika melihat Meka berdampingan dengan laki-laki lain yaitu suaminya.
"Pak Zain, lebih baik segera bawa Meka ke rumah sakit. Saya lihat Meka sudah tidak nyaman," ucap Rudy tiba-tiba.
Zain terkejut mendengar ucapan Rudy. Lalu dia menoleh ke arah Meka dan mendapati Meka dengan wajah memucat menahan sesuatu.
"Ustadz, Kakek sepertinya kami harus segera berangkat. Maaf kalau tidak bisa berlama-lama disini. Saya khawatir dengan Meka," ucap Zain yang berpamitan.
"Iya Pak Zain silahkan. Mudah-mudahan nak Meka tidak kenapa-napa ya," balas Ustadz Ahamd.
"Pergilah Pak Zain, hati-hati di jalan kalian ya," sambung Kakek tua.
"Iya Ustadz, iya kek," balas Zain.
Rudy tersenyum tersembunyi di balik sudut bibirnya. Dia pun melanjutkan sarapannya.
Meka dan Zain meninggalkan rumah Ustadz Ahmad. Keduanya kembali ke Apartement. Tapi sebelumnya, Zain membawa Meka ke rumah sakit.
Tak berapa lama, karena jarak rumah sakit dengan tempat tinggal Ustadz Ahmad tidak memakan waktu yang lama, akhirnya mereka sampai di Rumah sakit yang pernah mereka datangi.
Zain pun mendaftarkan Meka ke Poly Umum. Sedangkan Meka menunggu di kursi pasien yang berada di dalam rumah sakti. Ketika Meka duduk sendiri menunggu Zain, dia mendengar cerita dari Ibu-ibu di dekatnya.
"Eh Bu, tau gak, kemaren tetangga saya menghilang sudah dua hari yang lalu. Kasihannya dia sedang hamil muda. Suaminya sudah mencari kemana-mana tapi gak ketemu," ucap Ibu A menyampaikan berita hilangnya Ibu hamil.
"Kok ora lapor polisi wae, ben gampang golekane. Nuwun sewu keluargane," balas Ibu yang di sampingnya.
"(Loh kenapa gak melaporkannya ke polisi aja, biar gampang nyarinya. Kasihan kan keluarganya)."
"Apa bisa diculik dening roh? Wingi, wanita ngandhut enom asring ilang," tiba-tiba Ibu depan nyeletuk ikut nimbrung.
"(Apa jangan-jangan di culik mahluk halus ya. Kan kemaren sering juga Ibu hamil muda hilang)."
__ADS_1
"Wah, sapa sing nggunakake pesugihan ing tlatah kita? Aku wedi banget yen anakku meteng terus ilang kaya liyane," balas Ibu A.
"(Wah siapa ya yang menggunakan pesugihan di wilayah kita ya. Saya jadi takut kalau anak saya hamil terus menghilang seperti yang lainnya)."
"Nggih Bu, kula ugi ngira. Wis tak goleki nang endi-endi ora ketemu. Mesthi roh sing nyulik dheweke," sahut Ini yang duduk di depan.
"(Iya Bu, saya juga sempat mikir gitu. Masa sudah di cari kemana-mana gak ketemu juga. Pasti mahluk halus yang nyuliknya)."
"Lajeng kedah ngati-ati bu. Aja nganti para sedulur ngalami. Elek tenan mateni wong meteng," balas Ibu A yang memperingati Ibu-ibu yang mendengarnya bergosip.
"(Kalau begitu kita harus berhati-hati Bu. Jangan sampai saudara kita mengalamainya. Jahat banget yang menumbalkan wanita hamil ya)."
"Dadi aku wedi Bu krungu tembung kurban. Mungkin arwah njaluk bocah wadon sing isih prawan," ucap Ibu yang duduk di samping Ibu A.
"(Jadi takut saya Bu mendengar kata tumbal. Jangan-jangan mahluk halusnya minta anak gadis yang masih oerawan juga).
Meka yang berada dekat dengan mereka, bisa mendengar gosip yang mereka bicarakan. Meka berpikir, apakah wanita yang di temuinya di rumah dukun itu adalah wanita yang di maksud Ibu-ibu itu. Meka terus mendengar beritanya. Hingga dia terkejut mendapatkan tepukan di bahunya.
"Sayang, ayo kita ke dalam. Sudah di panggil," Zain menegur Meka dengan menepuk pundaknya.
"Ah iya Mas, ayo," Meka pun berdiri dari kursinya. Mereka berjalan ke arah ruang Poly Umum untuk memeriksakan Meka.
Sesampainya di ruangan itu, Meka langsung di periksa. Namun tidak ada tanda sakit masuk angin atau yang lainnya. Dokter itu menyarankan Meka untuk ke Dokter kandungan.
Setelah selesai dari ruangan itu, Zain kembali mendaftarkan Meka ke Dokter kandungan. Meka pun kembali duduk di kursi yang tadi. Hanya beda satu barisan dari tempatnya tadi.
Meka melihat sudah tidak ada Ibu yang pertama membuka cerita gosip. Kemungkinan Ibu itu sudah masuk ke dalam ruangan Poly Umum. Tapi Ibu yang lainnya masih berada di sana. Ketika Meka duduk, Ibu yang berada di samping Meka menegurnya.
"Mbak mau konsultasi ya?" tanya Ibu itu.
"Ah iya Bu," jawab Meka.
"Sudah berapa bulan Bu?" tanya Ibu itu yang kepengen tau.
"Saya belum tau Bu. Nih baru mau periksa," jawab Meka yang berusaha tersenyum.
"Oh...Eh Mbak harus hati-hati. Sekarang lagi musim penculikan wanita hamil muda. Dengar-dengar dari Ibu-ibu yang menggosip tadi. Banyak wanita hamil muda menjadi tumbal," ucap Ibu itu memberitahu.
"Oh iya Bu, makasih atas infonya," balas Meka yang lagi malas-malasan.
Lalu nama Meka di panggil oleh perawat Dokter kandungan.
__ADS_1
"Bu Meka, ayo masuk," suruh perawatnya.
Meka dan Zain berjalan memasuki ruangan Dokter kandungan. Jantung Meka serasa deg-degan karena melihat alat-alat Dokter kandungan.