Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 109


__ADS_3

Meka menatap Isna yang menunggu jawabannya.


"Gw ikut Mek," balas Isna.


"Baik kalau gitu, kita tidak keluar berbarengan. Gw dan Pak Zain akan keluar duluan dan menunggu kalian di pintu gapura Desa ini. Dan kalian berdua bilang aja pengen jalan-jalan. Selanjutnya biar Pak Zain yang ngurus," ucap Meka memberitahukan mereka.


"Terus gimana dengan Asih Mek?" tanya Isna sambil melirik ke luar.


"Oh iya gw lupa. Dia tidak tau kalau gw punya kelebihan. Hanya Lo berdua aja yang tau, ok. Jadi jangan pernah cerita ke dia. Karena dia mantan dari adiknya Bu Arin. Laki-laki yang dibawa Bu Arin."


"What....! Dunia ini emang sempit banget ya Deon. Hahaha, saling sambung menyambung dan berkaitan. Benar-benar lingkaran yang rumit," celetuk Isna.


"Gw nyamperin Asih dulu ya. Mau ngomong sama dia. Kalian tunggu aja kode dari gw ya."


"Baiklah Mek," ucap Isna.


Lalu Meka menghampiri Asih yang sedang duduk bareng Dewi dan Ani, Puspita dan Rido.


"Asih, bantu gw yuk ngapain barang-barang gw dikamar?" Meka berpura-pura meminta bantuan Asih agar dia keluar dari kumpulan itu.


"Loh, emang pakaian Lo belom beres Mek?" tanya Asih yang langsung berdiri dari bangkunya.


"Belom, yuk temani gw ke kamar," ajak Meka.


Lalu mereka berdua berjalan meninggalkan kumpulan itu.


"Sih, gw mau ngomong nih. Gw tau Lo ngerti keadaan Desa ini. Dan gw gak mau bermalam disini. Apa Lo mau ikut bareng gw ke kota?" tanya Meka tanpa membuang waktu.


"Loh, disini kan asyik Mek. Banyak teman-teman juga. Dan lagian ada Eko disini. Apa yang ditakutkan?" tanya Asih.


"Gw dan yang lain merasa gak nyaman kalau harus bermalam disini. Jadi kalau Lo mau ikut, ayo bareng gw ke kota," Meka mengajaknya sekali lagi.


"Nggak deh Mek. Gw mau bernostalgia sama Eko mantan gw. Hehehe gw kan kangen sama dia, mumpung orangnya disini, gw mau berduaan," ucap Asih tanpa malu.


"Sih, Lo udah pikirin baik-baik tinggal disini?" tanya Meka lagi.


Asih pun mengangguk mantep dengan keputusannya.


"Gw disini aja bareng Eko. Kalau Lo dan teman Lo yang berdua itu mau ke kota silahkan. Gw gak ikut," ucapnya mantap.


"Hah, baiklah. Tapi jangan bilang sama yang lain ataupun Eko kalau gw dan yang lainnya ke kota bermalam. Lo harus pura-pura gak tau ya," pinta Meka agar Asih tutup mulut.


"Baiklah, tapi sebagai tutup mulutnya, belikan gw jajanan ya disupermarket. Gw pengen susu kotak sama bolu buat stock disini," pinta Asih.

__ADS_1


"Siiip deh," ucap Meka.


Meka menatap dalam wajah Asih. Ntah kenapa dia tak rela meninggalkan Asih disini sendirian. Tapi Meka gak bisa memaksanya karena Asih sendiri yang memutuskannya.


"Ya udah, kalau gitu gw mau siap-siap dulu ya Sih. Lo boleh lanjutin kumpul sama mereka."


Asih pun pergi meninggalkan Meka menuju kumpulan teman-teman barunya.


Meka menatap sedih kearah Asih. Dia ingin memaksa Asih ikut bersamanya, namun itu tidaklah mungkin, karena akan ketahuan sama yang lainnya. Lalu Meka berjalan ke arah Pak Zain dan Pak Anton.


"Pak Zain, temani saya ke kota yuk. Saya pengen beli sesuatu di kota. Tadi lupa membelinya karena harus buru-buru," ajak Meka dengan skenario yang sudah dipikirkannya.


"Loh Meka, kenapa tidak dari tadi sebelum masuk ke Desa ini. Kan Bus bisa berhenti kalau memang ada perlunya," ucap Pak Anton menyela ucapan Meka.


"Iya Pak maaf. Tapi saya harus membelinya," ucap Meka lagi.


"Ya sudah, ayo kita ke Kota sekarang, biar bisa sampai disini sebelum malam," balas Zain yang mengikuti drama Meka.


"Loh Kak Zain, kalian mau naik apa ke kota? Disini tidak ada Bus angkutan. Dan kendaraan lainnya juga tidak ada," ucap Pak Anton.


"Kami jalan kaki aja Pak, nanti pulangnya baru nyari tumpangan kemari," balas Zain.


"Hah, ya sudahlah. Kalian hati-hati ya saat melewati hutan itu. Walaupun tidak terlalu panjang jaraknya, tapi sepertinya menyeramkan," ucap Pak Anton lagi.


Lalu Meka masuk ke dalam mengambil Dompetnya di lantai atas, dan langsung turun ke bawah serta memberi kode kepada Isna dan Ghani.


Meka dan Zain akhirnya keluar dari rumah besar yang menyeramkan itu.


"Meka jalanlah lurus dan jangan menoleh ke samping. Karena tepat disamping pagar rumah ini, batas Desa ghaibnya. Kalian akan saya beri pagar ghaib selama melewati hutan," ucap Khodamnya tiba-tiba.


"Lalu bagaimana dengan dua sahabat saya?" tanya Meka melalui bathinnya.


"Tunggulah mereka di depan gapura Desa ini. Aku akan memantau mereka, pergilah," perintah Khodamnya.


Meka dan Zain berjalan santai, mereka berusaha normal dan biasa saja. Sesekali mereka bertemu dengan penduduk Desa yang rata-rata sudah tua. Tidak ada terlihat gadis-gadis muda atau anak kecil berlarian disini. Desa ini seperti Desa jompo.


Akhirnya Meka dan Zain tiba di gapura dan mereka menunggu Deon dan Isna. Tak berapa lama, akhirnya Deon dan Isna muncul.


"Mek, kalian udah lama?"tanya Deon yang tergopoh-gopoh.


"Kalian kenapa lama banget?" tanya Pak Zain.


"Maaf Pak, tadi saat kami mau keluar rumah. Tiba-tiba Bu Arin datang. Terus kami pamit sama dia mau berjalan-jalan di Desa ini sebentar. Namun Bu Arin tidak memperbolehkan kami keluar. Tapi kami berusaha mengendap-endap keluar rumah itu, dan akhirnya kami bisa keluar. Teman-teman tidak ada yang curiga dengan sikap Bu Arin. Tapi menurut gw, dia aneh Mek!" jelas Deon.

__ADS_1


"Ya gw juga lihat seperti itu Deon. Ya udah ayok kita jalan sekarang. Ini sudah hampir sore banget. Keburu malam di jalan," ucap Meka yang mengajak mereka bergegas keluar Desa ini.


Zain dan Meka berjalan di depan, sedangkan Isna dan Deon mengikuti mereka dibelakang. Mereka mulai memasuki kawasan hutan dimana hutan itu sangatlah angker. Jarang orang mau melewatinya jika sudah menjelang sore.


"Mek, gw kok merinding ya Mek?" ucap Deon ketakutan.


"Iya Mek, bulu kuduk gw berdiri nih Mek!" sambung Isna yang menggenggam erat tangan Deon.


"Jangan menoleh kesamping, kita harus jalan terus," ucap Meka.


Lalu mereka mendengar suara cekikikan dan minta tolong dari dalam hutan itu.


"Kikikikikiki,hihihihihihi.... Tooolooongin saaayaaa.....!" suara samar-samar terdengar dari dalam hutan.


Lalu Meka melihat kumpulan mahluk tinggi besar dengan mata yang menyala sedang duduk di dekat batu nisan. Mereka sedang mengunyah sesuatu. Meka mencoba memperjelas penglihatannya, dan Meka terkejut serta ketakutan.


"Ma...mas, i...itu di...sa...na," ucap Meka terbata-bata sambil matanya mengarahkan ke tempat yang dimaksud.


Zain menoleh kesamping, namun tak melihat apapun.


"Cepat Meka pergi dari sini.....! Sebelum mereka mengetahui kalian disini. Karena auramu yang berbeda bisa membuat mereka menciumnya. Cepat!" sentak Khodamnya.


"Ayo percepat jalan kalian, kita udah hampir sampai di jalan depan," ucap Meka dengan sedikit berlari.


Deon dan Isna mengikuti langkah Meka. Mereka mempercepat jalannya.


Hari sudah hampir gelap, mereka tidak ada yang berani menoleh kebelakang. Deon merasakan buku kuduknya meremang. Dia mempererat pegangan tangannya ke Isna.


"Na, gw takut banget nih...Sepertinya banyak mata yang melihat ke arah kita ya," ucap Deon sedikit berbisik.


"Udah diem aja. Ikutin Meka, kita sudah hampir sampai di depan.


Tiba-tiba muncullah sosok tinggi besar dengan bulu lebatnya dan taring yang panjang, sedang mengunyah daging manusia menghadang perjalanan mereka.


"Arrrrgggg," mahluk ghaib itu memuntahkan kunyahan daging manusia dihadapan mereka.


Meka dan yang lainnya muntah-muntah melihat daging-daging bekas kunyahan mahluk ghaib itu.


"Pergi Meka, biar aku yang menghadapinya. Dan jangan melihat kearah matanya," ucap Khodam Meka yang tiba-tiba muncul dalam wujud Harimaunya.


"Ayo Mas, Isna, Deon. Cepat jalannya, kita sudah hampir sampai...!" ajak Meka berlari melewati hutan itu.


Sedangkan Harimau putih itu menghadang Mahluk tinggi besar yang bernama genduruwo.

__ADS_1


__ADS_2