
Meka keluar dari dalam kamarnya. Lalu dia berjalan menuju ruang makan dimana terdapat tempat untuk memasak. Meka menyiapkan makan siang mereka dan merapikan hasil belanjanya tadi. Saat Meka serius memasak, tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Meka terkejut dan terlonjak membalikkan badannya.
"Mas, kamu ngagetin aku aja. Buat aku takut kamunya Mas," ucap Meka yang langsung tersenyum melihat Zain di hadapannya.
"Kamu serius banget sih sayang. Sekarang katakan sama Mas, apa salah Mas hingga sikap kamu seperti ini," balas Zain yang langsung to the point sambil memegang ke dua pundak Meka. Mereka saling bertatapan.
Meka menaikkan alisnya menatap suaminya yang ada di hadapannya.
"Kenapa Mas Zain ngomong seperti itu? Apa dia merasa bersalah atau dia justru tidak tau kesalahannya?" bathin Meka yang terus menatap Zain.
"Sayang, kamu kenapa malah bengong gitu!" Zain melambaikan tangannya di hadapan wajah Meka.
"Ah, anu Mas, aku tidak apa-apa. Kamu udah laper belum? Bentar lagi masakanku selesai kok. Mas duduk manis aja di meja situ ya," ucap Meka yang menyuruh Zain menunggunya di meja makan.
"Tidak, aku tau kamu menyimpan sesuatu. Katakan sama Mas, karena Mas ngerasa kamu berbeda," balas Zain yang tidak menyetujui ucapan Meka.
"Aku tidak mau berbicara sembarangan Mas, kalau tidak ada bukti. Jadi aku tidak ingin membahasnya. Tapi suatu saat nanti kamu akan mempercayainya," jelas Meka yang mencoba membalikkan badannya untuk melanjutkan memasak.
Zain hanya diam mematung di belakang Meka. Dia tua kalau Meka marah karena ucapannya yang tadi. Zain pun sadar kalau dia sudah tidak mempercayai istrinya secara tidak langsung. Padahal selama ini apa yang di rasakan Meka, akan terjadi. Tapi ntah kenapa saat ini Zain tidak mau mempercayai Meka.
Zain pun berlalu dari belakang Meka. Dia menunggu Meka di meja makan. Zain terus memperhatikan Meka dari belakang yang asyik memasak. Hatinya menjadi risau karena sikapnya.
"Sayang, jangan terlalu capek. Inget, kamu sedang mengandung. Kasihan kamunya nanti," ucap Zain dengan suara yang agak kencang.
"Iya Mas, ini gak terlalu banyak kok masaknya," jawab Meka. "Mas, nanti jadi kita ke rumah Mama? Apa kamu sudah memberitahukan sama mereka tentang kedatangan kita?" tanya Meka tanpa menoleh ke arah Zain.
"Iya jadi sayang, nanti Mas akan menghubungi Mama setelah makan siang. Mereka pasti sangat senang mendengar kamu hamil sayang," jawab Zain sambil memandang Meka dari meja makan.
Meka diam saja tak menanggapi ucapan suaminya. Dia terus menyibukkan dirinya memasak. Tak berapa lama, Meka selesai memasak, kemudian dia menghidangkan ke meja makan.
__ADS_1
"Wah harum banget sayang masakan kamu. Mas pengen mencobanya, ini," Zain menyerahkan piring kosong ke Meka.
"Kamu bisa aja Mas, kan emang masakan ku, kamu selalu suka," balas Meka sambil mengisi piring Zain dengan nasi dan lauk pauknya.
"Ya, mungkin karena beberapa hari ini kita menghadapi masalah yang rumit ya. Sehingga Mas merindukan masakan kamu sayang," ucap Zain merayu.
"Hah," Meka menghela nafasnya dengan berat. "Iya Mas, kamu benar. Beberapa hari ini kita mengalami masalah yang rumit. Tapi syukurnya semua sudah selesai. Tapi kita gak tau masalah apa lagi yang akan kita hadapi nanti Mas," balas Meka yang duduk di sebelah Zain.
"Jujur sayang, Mas jenuh banget dengan masalah yang kita hadapi. Mas pengen tenang sayang," ucap Zain.
Meka langsung menoleh ke arah Zain dan menatap dengan serius.
"Apa itu artinya kamu menyesal Mas hidup bersamaku?' tanya Meka dengan nada sendu.
Zain memberhentikan kunyahan di mulutnya, dia langsung menoleh ke arah Meka.
"Kenapa kamu ngomongnya seperti itu sayang?" tanya Zain mendadak.
Ntah kenapa Meka merasa emosinya cepat sekali meluap. Dia lebih sensitif dan selalu mempermasalahkan sesuatu yang salah untuk di ucapkan oleh Zain.
Tanpa sadar dia menitikkan air matanya, merasa sedih yang berlebihan. Meka beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Zain yang terbengong melihat sikap Meka.
Setelah Meka masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras, Zain pun tersadar dari keterbengongannya karena suara pintu yang tertutup dengan keras.
Zain pun bergegas menghampiri Meka di dalam kamarnya. Lalu dia membuka pintu kamar dan melihat Meka tidur dengan membelakangi pintu. Zain mendengar suara Islam tangis yang pelan dari Meka. Zain pun menghampiri Meka dan ikut berbaring sambil memeluknya dari belakang.
"Sayang, Mas minta maaf kalau perkataan Mas menyinggung hati kamu. Jujur, Mas tidak ada maksud seperti itu. Mas sangat mencintai kamu sayang. Jangan berpikir yang jelek tentang Mas," bujuk Zain sambil mengecup rambut Meka.
Lalu Meka membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Maaf Mas, aku tau Mas sangat mencintaiku, tapi dengan perkataan Mas tadi, membuatku sedih. Karena aku, Mas menghadapi banyak masalah juga," ucap Meka dengan terisak.
Zain berulang kali mengecup kening Meka dan mengusap rambutnya.
"Jangan berkata seperti itu sayang. Mas tidak pernah merasa seperti itu. Mungkin Mas salah berbicara. Mas hanya ingin hidup tenang bersama kamu dan anak-anak kita sayang," balas Zain sambil meletakkan kepala Meka di dadanya dan memeluknya.
"Maaf Mas," hanya itu yang Meka ucapkan.
"Sekarang kita lanjut makan yuk. Kasihan anak kita, dia pasti sudah laper. Nanti Mas buatkan kamu susu ya," hibur Zain.
"Iya Mas, makasih. Aku mencintaimu Mas," balas Meka.
Lalu keduanya beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar menuju meja makan. Zain dan Meka kembali menikmati makan siang mereka. Sesekali Zain mengusap perut Meka yang mulai kelihatan membesar.
"Mas, aku gak sabar pengen menggendongnya," ucap Meka sambil mengunyah makanannya.
"Iya sayang. Mas juga udah gak sabar pengen menggendongnya juga. Semoga kamu dan bayi kita sehat selalu ya sayang," harap Zain.
"Iya sayang, kita harus melindunginya dari hal buruk ya Mas," balas Meka.
"Aamiin sayang."
Keduanya kembali normal, suasana pun menjadi damai. Meka yang merasa sensitif, tidak bisa menerima ucapan Zain jika salah sedikit. Tapi Zain sangat sabar menghadapi Meka.
Setelah mereka selesai menikmati makan siangnya, Zain dan Meka bersiap-siap ke rumah orang tuanya Zain.
"Ayo sayang, kita siap-siap. Mas udah khabari mereka kalau kita mau berkunjung ke sana."
"Iya Mas, aku akan siap-siap. Aku siapkan dulu ya baju buat Mas, bentar," ucapnya.
__ADS_1
Setelah menyiapkan pakaian buat Zian, Meka pun bersiap-siap berdandan. Meka menggunakan pakaian yang sederhana dan sedikit longgar.
Kemudian Zain dan Meka pergi ke rumah orang tuanya dengan hati yang bahagia. Zain mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati.