
Ki Baron tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Dia tidak menyangka kalau Meka memiliki kekuatan linotin itu. Ki Baron terus menatap Meka dengan curiga.
"Kenapa bisa dia memiliki liontin itu? Dari mana dia mendapatkannya? Apa Kakek tua ini yang memberikannya? Beruntung sekali perempuan ini bisa memiliki kalung liontin itu," bathin Ki Baron.
"Kek, ayo kita keluar dari Desa ini, dan kembali ke rumah Ustadz," ajak Meka setelah melihat tugas mereka selesai.
Meka dan Kakek tua serta Ki Baron bangkit berdiri. Mahluk berbulu itu mencakar-cakar pagar ghaib yang menghalangi mereka. Namun kekuatan pagar ghaib itu tidak bisa di sepelekan.
"Ki Baron, terima kasih atas bantuannya. Kami akan kembali ke kota dan menyelesaikan sisanya saat bulan purnama nanti malam tiba," ucap Kakek tua itu.
"Semoga setelah ini, Desa ini kembali seperti dulu kek. Saya sudah capek berhadapan dengan mahluk ghaib. Saya juga sangat berterima kasih jika kalian bisa menghancurkan ibilis itu," harap Ki Baron.
"Ya, kalau semua sudah selesai, saya akan kembali ke Desa ini untuk memulai kehidupan baru yang damai tanpa tekanan dari mahluk ghaib," balas Kakek tua.
"Sampai ketemu kek. Saya tunggu kedatangan Kakek disini," ucap Ki Baron.
"Pasti saya akan kembali ke tempat kelahiran saya," balas Kakek tua dengan anggukan.
Kemudian mereka mengantar Ki Baron kembali ke rumahnya.
"Baiklah Ki, kami berangkat dulu, jaga diri Ki Baron," ucap Kakek tua itu berpamitan.
"Iya Kek, sampai ketemu nanti," balas Kakek tua.
__ADS_1
Meka dan Kakek tua pergi meninggalkan Ki Baron di rumahnya. Mereka segera keluar dari Desa tua dan memasuki hutan angker. Tepat saat mobil memasuki kawasan hutan angker, mobil itu kembali di hadang dengan kabut asap.
Kabut itu mulai mengelilingi mobil yang di kendarai mereka. Namun ntah kenapa tiba-tiba kabut itu hilang lenyap. Pandangan Meka kembali jelas ke depan. Dia segera menancap gas mobil itu dengan kencang.
Tak berapa lama mereka mencapai depan hutan angker itu. Meka dan Kakek tua itu merasa tenang dalam sesaat. Mereka kembali ke kota menuju rumah Ustadz Ahmad.
Sementara di rumah Ustadz Ahmad, Zain sedang menunggu kedatangan Meka dengan rasa cemas.
"Pak Zain, lebih baik kita banyak berdo'a saja, semoga mereka segera sampai secepatnya," ucap Ustadz Ahmad.
"Iya Ustadz, saya khawatir dengan istri saya. Sampai sekarang mereka belum kembali. Gimana ini Ustadz?" tanya Zain yang gak bisa tenang.
Zain jalan mondar mandir di ruangan tamu depan. Dia terus menatap ke arah pintu rumah yang tertutup.
Zain menoleh ke arah Ustadz Ahmad dengan ekspresi khawatir.
"Maaf Ustadz, kalau saya terlalu mengkhawatirkannya," balas Zain.
"Tidak apa-apa Pak Zain. Ayo sini di minum dulu teh manis anget ini, biar Pak Zain tenang."
"Iya Ustadz."
Zain pun duduk di depan Ustadz Ahmad. Namun sesekali matanya tetap melirik ke arah pintu itu.
__ADS_1
"Kenapa lama banget kamu sayang...? Mas khawatir banget, semoga kamu cepat kembali," bathin Zain sambil matanya memandang ke arah pintu.
Sementara di perjalanan, Meka masih belum sepenuhnya tenang. Dia memikirkan tentang persiapan mereka untuk menyambut malam bulan purnama nanti.
"Nak Meka, Kakek sarankan, ketika kita sampai di rumah Ustadz Ahmad, lebih baik kita memulihkan tenaga dengan beristirahat. Semoga tidak ada mahluk kiriman lagi di rumah itu," ucap Kakek tua yang memberi sarannya.
"Iya kek, saya juga sudah sangat letih. Sepertinya saya harus segera beristirahat. Tiba-tiba Meka batuk.
"Uhuk uhuk uhuk," Meka batuk yang ternyata mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Kakek tua itu menoleh ke Meka dan terkejut melihat ada darah yang keluar dari sudut bibir Meka.
"Nak Meka, kamu berdarah?!" teriak Kakek tua itu terkejut.
"Berdarah? Dimana kek?" tanya Meka yang bingung.
Meka segera menepikan mobilnya ke samping jalan. Lalu dia melihat ke arah Kakek tua itu.
"Itu nak Meka di sudut bibir kamu. Apa gak sebaiknya kita menyuruh Zain kemari dan membawa mobil ini?" tanya Kakek tua itu.
"Tidak usah kek, saya coba melanjutkannya saja. Rumah Ustadz juga sudah dekat di depan sana," balas Meka.
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanan."
__ADS_1
Meka pun menganggukkan kepalanya. Dia melanjutkan perjalanan ke rumah Ustadz Ahmad.