Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 228


__ADS_3

Meka seketika menoleh mendongakkan kepalanya ke arah perempuan itu. Dia menatap bingung melihat perempuan itu, karena setau Meka tidak ada perempuan muda yang menjadi pembantu di rumah itu.


Namanya Zain yang melihat Meka mengerti akan keterdiamannya.


"Dia pembantu yang di titipkan Mamanya Mona kemaren ketika berkunjung ke sini," ucap Mamanya Zain.


Zain pun langsung terdiam dan melihat ke arah perempuan itu.


"Buat apa Tante memberikan pembantunya di sini Ma?" tanya Zain yang curiga.


"Kemaren kan Tante kamu datang ke sini Zain. Karena Mama ngundang keluarga buat acara syukuran Meka nanti. Ternyata Tante kamu langsung mengunjungi Mama dan memberikan tenaga bantuan untuk persiapan acara Meka nanti. Ya Mama gak bisa nolak Zain," jelas Mamanya.


"Seharusnya Mama menolaknya. Kita gak memerlukan tenaga tambahan. Toh semua sudah diatasi oleh EO nantinya," sambung Papanya Zain yang ternyata memperhatikannya.


Perempuan suruhan itu melihat ke arah Papanya Zain dengan takut. Dia juga khawatir jika kedoknya terbongkar nantinya. Tapi jika dia tidak melakukannya, maka keluarganya akan dalam bahaya. Perempuan itu menjadi serba salah.


"Terus Mama harus gimana dong Pa?" tanya istrinya.


"Lebih baik, kamu kembalikan dia ke Mamanya Mona. Kita gak tau apa niatnya. Kamu masa gak ngerti dengan sifatnya," tegur suaminya.


"Besok Mama akan menghubunginya dan membawa perempuan itu kembali. Mama jadi kepikiran Pa," sesal Mamanya Zian.


Obrolan pun berlanjut, Meka dan Zain hanya diam sambil melirik satu sama lain. Meka curiga dengan perempuan itu.


"Apakah dia yang tadi menguping pembicaraan kami?" bathin Meka yang terus menatap punggung perempuan itu.


"Sayang kamu udah selesai?" tanya Zain yang melihat makanan di piring Meka udah habis.


"Ah iya Mas, aku udah selesai kok."


"Zain kamu jangan lupa memberikan Meka susu ya sebelum tidur," pesan Mamanya.


"Iya Ma, Zain pasti membuatnya," balas Zain.


"Kalau gitu kami duluan ya Ma ke kamar. Biar Meka istirahat di dalam kamar aja," pamit Zain yang ingin beranjak duluan dari Mama dan Papanya.


"Oh iya bawalah istri kamu beristirahat Zain," balas Papanya yang mengerti dengan keadaan Meka.


"Iya Zain, pergilah duluan, bawa Meka beristirahat," sambung Mamanya.

__ADS_1


Zain dan Meka beranjak dari meja makan itu. Mereka berjalan memasuki kamar Zain.


"Mas, kamu tadi melihat gak gelagat aneh dari perempuan itu?" tanya Meka langsung yang tak mau menunggu lama untuk bertanya.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Zain menyatukan alisnya melihat ke Meka yang sedang duduk di atas tempat tidur.


"Iya Mas, aku melihat dia terus memandang ke arah kamu dan setelah itu beralih ke aku," jelas Meka.


"Kita gak bisa membuktikannya sayang. Akan lebih baik kita berhati-hati ya," pinta Zain.


"Kalau begitu Mas, nanti kamu aja ya yang buat susuku. Tapi aku harus menemani Mas ya," Meka memohon dengan wajah merengek.


"Iya sayang, kamu mau di buatkan kapan?" tanya Zain lagi.


"Nanti aja Mas, aku belum ngantuk. Emang kamu sudah mau tidur ya Mas?" tanya Meka balik.


"Belum sayang," jawab Zain. "Mas mau menemui Papa membicarakan tentang kita yang akan tinggal di Medan," jelas Zain.


"Ya udah, Mas pergilah. Aku akan menunggu di sini."


Meka tak ingin menahan suaminya untuk menemui Papanya. Baginya, lebih cepat itu lebih baik.


Meka pun mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya. Dia berharap jika Papa mertuanya tidak menghalangi langkah mereka ke Medan.


"Kalau gitu Mas ke ruang kerja Papa dulu ya sayang. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi Mas ya," pinta Zain.


"Iya Mas pasti."


Lalu Zain keluar dari dalam kamar mereka dan berjalan ke arah ruang kerja Papanya. Namun ketika dia hendak masuk ke dalam ruangan itu, dia merasa ada yang sedang memantaunya. Zain langsung membalikkan tubuhnya menatap sekita area ruangan itu.


"Tidak apa siapa-siapa kok," gumamnya.


Lalu dia berjalan dan ketika hendak membuka handle pegangan pintu, tiba-tiba bahunya di tepuk dari belakang. Zian terkejut dan menegang di tempatnya berdiri. Nafasnya pun tercekat, tubuhnya menahan rasa takut. Tapi dia berusaha memberanikan dirinya dan menoleh ke belakang.


"Papa," ucap Zain yang merasa legah dan mengusap dadanya yang sempat sesak.


"Kamu kenapa? Emang kamu pikir siapa?" tanya Papanya dengan mata sedikit menyipit.


"Ah nggak Pa, Zain terkejut aja. Karena tadi tidak ada orang, tiba-tiba di kejutkan begini, ya jadi ikut terkejut," jelas Zain.

__ADS_1


"Kamu ini Zain. Ayo masuk, kamu mau ngobrol apa sama Papa?" tanya Papanya.


"Kita di ruangan aja Pak membahasnya," jawab Zain yang tidak ingin berbicara di luar.


Zain masuk ke dalam ruangan kerja Papanya dan di susul oleh Papanya juga. Namun Zain tidak langsung ke dalam, dia justru menunggu di depan pintu ruangan yang terbuka. Zain masih penasaran dengan apa yang tadi di rasakannya. Dia menunggu di dekat pintu sambil melihat ke sana kemari, memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.


"Zain, ayo masuk," tegur Papanya.


Zain pun segera menutup pintu ruangan itu. Dia berjalan ke arah sofa yang ada di depan meja kerja Papanya.


"Kamu mau membahas apa Zain?" tanya Papanya ketika sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Ada yang mau Zain sampaikan ke Papa. Mungkin ini akan membuat Papa terkejut dan marah," ucap Zain.


"Marah?" tanya Papanya mengulangi ucapan Zain.


"Ya Pa, karena Zain memutuskan untuk ikut bersama Meka tinggal di Medan selama kehamilannya. Zain ingin menjaganya sepenuhnya. Karena ini anak pertama kami Pa. Zain tidak ingin terjadi hal buruk terhadap istri dan anak Zain," jelas Zain dengan tegas.


"Bagaimana dengan Perusahaan Zain? Apa kamu tega membiarkan semuanya hancur?" tanya Papanya.


"Maaf Pa, kali ini Zain akan bersikap egois. Dan Zain sudah memutuskan untuk menemani Meka di Medan," jawab Zain.


"Apa kamu sudah bicarakan ini dengan Mama kamu?" tanya Papanya dengan menatap Zain serius.


"Belum Pa. Mungkin setelah acara selesai. Karena Zain yakin kalau Mama tidak akan setuju. Dan Zain tidak ingin merusak kebahagiaan Mama sebelum acara selesai," jawab Zain.


"Papa harap kamu dan Meka mau memikirkannya kembali. Karena bagaimanapun kamu adalah pewaris tunggal Perushaan Papa. Jika bukan kamu, lantas siapa yang menjalankannya Zain?"


"Nanti setelah Meka melahirkan, Zain akan menjalankan Perusahaan Papa," hibur Zain.


"Baiklah Zain, Papa sangat berharap kamu bisa mempertimbangkan kembali keputusan kalian berdua ya. Dan jangan terlalu lama menyampaikannya terhadap Mama kamu," pinta Papanya.


"Iya Pa, terima kasih karena Papa mau mengerti Zain. Dan Zain akan secepatnya menyampaikan berita ini ke Mama."


"Ya sudah, Papa balik ke kamar lagi ya," ucap Papanya.


"Iya Pa, Zain juga mau kembali ke kamar. Meka sudah menunggu Zain."


Lalu keduanya keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamar masing-masing. Tepat saat Zain mendekati kamarnya, dia melihat perempuan itu sedang mengantarkan susu ke kamarnya.

__ADS_1


"Berhenti...!" tegur Zain.


__ADS_2