Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 171


__ADS_3

Meka bisa merasakan ketidaksukaan Mona terhadap dirinya. Sekilas Meka melirik ke Mona. Tatapan mereka bertemu, Mona memberikan tatapan tajam.


Meka mengalihkan pandangannya kembali ke Mama mertuanya.


"Ma, kayaknya kami harus kembali malam ini. Karena besok Zain ada masuk jam kuliah. Zain janji ketika libur, kami pasti menginap," Zain tiba-tiba membatalkan acara menginap.


"Ya....Mama sudah berharap banget kalian mau nginep disini nemani Mama," ucap Mamanya sedih.


"Mas Zain jangan buat sedih Mamanya dong! Kasihan kan Mamanya Mas jadi sedih. Mendingan Mbak Meka aja yang tinggal disini nemani mertuanya. Mas Zain nya kembali ke Apartment. Kan Mbak Meka gak ngerjain tugas kuliah. Jadi bisa temani mertuanya kan disini," Mona memberikan usulan yang membuat Meka geram.


Zain berpikir dan menatap ke arah Meka. Lalu dia beralih ke Mamanya. Sebelum Zain menjawab, Meka langsung mengambil alih.


"Maaf Ma, bukannya Meka tidak mau nginep disini, tapi Meka juga besok baru masuk kuliah untuk pertama kali setelah pulang dari Paris. Jadi, seperti yang di sampaikan Mas Zain, ketika libur, kami akan kesini lagi untuk menginap," ucap Meka memberi penjelasan.


"Ya udah sayang gak apa-apa. Mama ngerti kok. Tapi kalian jangan buru-buru ya pulangnya. Mama masih kangen sama kalian berdua," balas Mamanya.


"Iya Ma, makasih ya Ma," Meka merasa bersyukur karena mertuanya mau mengerti.


"Iya sayang," balas Mamanya Zain sambil mengusap lembut pipi Meka.


"Ma, sekarang kita makan dulu. Papa udah terlalu lama memenunggu, nih Papa sudah kelaparan," manja Papanya Zain.


"Maaf Pa, Mama kelupaan. Habis masih kangen sama anak dan mantu," balas Mamanya Zain.


"Ayo saya bantu Tante untuk nyiapkan makan malamnya," Mona sengaja ingin mengambil perhatian Mamanya Zain.


Bagaimana pun dia harus merebut perhatian dari Mamanya Zain. Mona tidak ingin Meka mengalahkannya. Berbagai cara dilakukannya agar Mamanya Zain mau mengalihkan perhatiannya dari Meka.


"Mona mau bantu Tante?" tanya Mamanya Zain.


"Mau dong Tante, sekalian Mona belajar jadi nanti yang baik," jawab Mona sambil melirik Meka.


Mona pun menyunggingkan senyumnya ketika Meka melihatnya.


"Ayo kalau gitu. Tante senang kalau Mona sekarang jadi lebih dewasa, mau terjun buat bantu Tante," puji Mamanya Zain.


"Ah Tante, Mona jadi malu," Mona berpura-pura memperlihatkan sikap polosnya.


"Dari kemaren Mona tuh pengen banget belajar masak sama kamu Kak. Katanya kamu jago masak," Mamanya Mona ikut memprovokasi keadaan.


"Bukannya kamu juga jago masak dek, kenapa harus denganku?" tanya Mamanya Zain.

__ADS_1


"Aku gak begitu bisa masak kak. Papanya Mona juga jarang di rumah. Jadi aku jarang masak, lebih sering delivery," jawab Mamanya Mona.


"Ya sudah ayo, bantu Kakak buat siapkan makan malamnya," ajak Mamanya Zain.


"Ayo Tante," Mona menggandeng tangan Mamanya Zain dan berpura-pura bersikap manja di hadapan Meka.


Meka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Mona yang berlebihan. Mungkin Mamanya Zain mudah di tipu, namun tidak dengan dirinya. Meka mengerti perempuan seperti Mona yang banyak tipu muslihatnya.


Sementara Meka hanya mengikuti mereka di belakang. Dia berjalan santai dan tidak ambil pusing dengan tingkah Mona.


Sedangkan di ruang tengah, Zain masih ngobrol dengan Papa dan Om nya. Mereka membahas soal kerjaan dan mengenai Zain yang seharusnya menjalankan Perusahaan Papanya.


"Mas, kapan Zain menjalankan Perusahaan kamu? Kamu tuh udah tua loh. Jangan lama-lama," ucap Omnya sambil melirik Zain.


"Aku terserah Zain aja, dia masih senang menjadi Dosen ketimbang seorang Presdir," balas Papanya Zain.


"Zain, ini bukan karena istri kamu kan? Kamu Ndak kasihan lihat Papa kamu wes tua ngono, hah," ketus Omnya.


Zain tak suka jika ada yang memojokkannya apalagi istrinya. Masalah keluarganya, tidak perlu ikut campur. Zain menatap dingin ke arah Omnya.


"Maaf Om, ini tidak ada sangkut pautnya dengan istri saya. Dia tidak tau menahu tentang posisi saya yang akan menjadi penerus Perusahaan Papa. Saya harap Om tidak mencampuri masalah Perusahaan dengan istri saya," tegas Zain menatap dingin.


"Oalah Mas, aku tuh menasehati Zain loh. Dia anak laki-laki kamu semata wayang. Ojo di manjain dengan menentukan jalannya sendiri," tegur adik Papanya.


"Pa, aku ke dalam dulu. Mau istirahat," pamit Zain yang sudah sangat membosankan berada di antara Papanya dan Omnya.


Lalu Zain pun beranjak dari tempat duduknya di sofa. Dia berjalan menuju kamarnya. Dia tidak ingin mendengar pembahasan Perusahaan. Jadi Zain memilih menghindar dan mengajak Meka ke kamar berduaan.


Saat Zain hendak ke kamar, dia berhenti dan memanggil Meka yang tak jauh darinya.


"Sayang, temani Mas ke kamar," ajak Zain tanpa perduli dengan ekspresi yang lainnya.


"Baik Mas," Meka tak menolak ajakan suaminya.


Lalu dia berpamitan sama Mama mertuanya dan berjalan ke arah suaminya. Zain dan Meka meninggalkan ruangan makan itu, mereka berdua masuk ke dalam kamar Zain.


"Mas, kenapa kamu mengajakku ke kamar? Apa ada yang mau di bicarakan?" tanya Meka yang heran melihat sikap suaminya.


"Tidak ada apa-apa sayang. Mas hanya ingin istirahat," jawab Zain.


"Mas, jujur sama aku, kamu ada hal yang mengganjal di hati? Atau merasa tak nyaman? Ceritakan Mas sama aku?" pinta Meka sambil menggenggam tangan Zain.

__ADS_1


Zain pun menghela nafasnya, lalu dia menyapa manik mata Meka yang sangat nyaman baginya di pandang.


"Sayang, kalau aku melanjutkan Perusahaan Papa, apa kamu setuju?" tanya Zain hati-hati.


"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu Mas? Apa ada yang membahasnya?" Meka malah bertanya balik.


"Ya, Om ku membahas masalah Perusahaan Papaku, tapi aku tidak suka dengan dia yang terlalu ikut campur," jawab Zain.


"Sabar Mas, jangan kebawa emosi. Biarkan mereka mencoba mengganggu tapi jangan biarkan kita terganggu," pesan Meka dengan bijak.


"Kamu benar sayang, tadi Mas agak emosi karena tidak suka dengan sikap Om yang mencoba mempengaruhi Papa."


"Mas, sepertinya kita harus jauh-jauh dari keluarga Mona. Ntah kenapa, aku merasakan kehadiran iblis di diri Mona. Makanya tadi aku mengatakan ada hawa panas yang kurasakan saat berada di depan rumah tadi," ungkap Meka.


Zain mengarahkan tubuhnya ke arah Meka sehingga posisi mereka saling berhadapan. Zain memegang tangan Meka dengan erat.


"Maaf kalau tadi Mas sempat merasa gak senang dengan ucapan kamu sayang. Maafin Mas ya," pinta Zain dengan tulus.


"Iya Mas, aku udah maafin kok. Aku paham kamu tidak akan mengerti dan berpikir yang macem-macem dengan ucapanku," balas Meka.


"Apa sebaiknya kita pulang sekarang aja?" tanya Zain meminta pendapat Meka.


"Jangan Mas, kita makan dulu, habis tuh baru kita langsung pulang. Bilang aja tadi mendadak kamunya di tlp sama Dosen di Kampus," saran Meka yang membuat sebuah kebohongan.


"Baiklah sayang, ayo kita keluar. Mereka pasti sudah menunggu," ajak Zain.


Lalu Zain dan Meka segera keluar dari dalam kamarnya dan berjalan ke arah ruang makan. Disana sudah pada kumpul Mama dan Papa serta keluarga Mona.


Mona menatap tak suka ke arah Meka. Wajahnya menunjukkan pandangan sinis dan mencemoh.


Sedangkan Mamanya Zain langsung menghampiri Meka dan Zain.


"Sayang, ayo makan, jangan sampai telat. Kalian harus segera memberi Mama cucu. Makanya di jaga kesehatannya," nasehat Mamanya Zain.


"Iya Ma, Zain akan selalu menjaga kondisi Meka dan Zain juga. Zain tadi minta Meka mikirin sebentar, kepala Zain agak pusing Ma. Oh ya habis nih kami langsung pulang ya Ma, karena tadi ada Dosen yang minta bantuan Zain buat ngajar besok," ucap Zain yang ujungnya berbohong.


"Yah...., Mama padahal pengen ngobrol sama Meka loh. Tapi ya sudah, besok kalian harus janji kalau libur, akan nginap disini," balas Mamanya yang pasrah akan keinginan anaknya.


"Iya Ma, Zain dan Meka janji akan menginap disini,"


Lalu mereka duduk di meja makan. Zain sengaja menyuruh Meka duduk di dekat Mamanya. Sementara dia duduk di samping Meka. Mereka makan sambil sambil ngobrol kecuali Zain yang tidak ingin banyak bicara.

__ADS_1


__ADS_2