
Mereka tertawa bersama di dalam mobil. Suasana yang hangat dan tenang membawa perasaan Meka juga ikut tenang dan nyaman. Meka menatap ke depan dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Bagaimana khabar Mama dan Papa kamu Zain?" tanya Papanya Meka yang teringat akan besannya.
"Ah mereka baik-baik aja kok Pa. Mereka menunggu kedatangan Papa dan keluarga di rumah," jawab Zain yang melirik ke kaca spionnya.
"Syukurlah. Jadi saat ini Papa kamu mau pensiun dari Perusahaannya?" tanya Papanya Meka lagi.
"Iya Pa, karena sudah tua dan ingin menikmati glhati tuanya, beliau meminta saya yang meneruskannya," jawab Zain tersenyum.
"Papa berharap kamu bisa menyelesaikan semuanya. Supaya ketika ke Medan tidak ada kendala. Dan Papa juga tidak bisa lama-lama di Jogja. Karena usaha Papa disana harus terus di kontrol," jelas Papa mertuanya.
"Siap Pa, Zain akan menyelesaikannya setelah selesai acara besok," balas Zain.
"Papa percaya sama kamu Zain," ucap Papa mertuanya.
Zain pun mengangguk. Lalu dia menoleh ke samping melihat ekspresi Meka yang juga menatapnya dengan tatapan lembut.
Hingga akhirnya Zain membawa mertua dan keluarga Meka ke hotel yang sudah di pesan. Mobil memasuki area hotel dan masuk ke bagian parkir mobil.
"Kita sudah sampai Pada, Om, Tante," ucap Zain memberitahu.
"Alhamdulillah sampai juga. Tante mau beristirahat dulu sehabis Maghrib," ucap Tantenya Meka yang duduk di belakang.
"Iya kita Maghrib dulu dan istirahat sebentar. Setelah itu kita cari makan di luar," sambung Papanya Meka.
Mereka semua keluar dari mobil dan berjalan masuk ke hotel. Zain melakukan ceking dan meminta beberapa kunci kamar yang sudah di pesan.
Sementara Meka dan Papanya serta Om, Tante menunggu di sofa lobby.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Papanya menyelidik.
"I--iya Pa, Meka baik-baik aja kok. Papa jangan khawatir ya dengan keadaan Meka," jawab anaknya.
Omnya Meka bisa melihat hilangnya keceriaan di wajah meja. Berbeda dengan dulu sebelum dia menikah dengan laki-laki yang bernama Zain.
"Kamu benar Mek tidak ada masalah? Om tidak suka jika kamu tidak jujur sama kami," ucap Omnya yang menginginkan Meka untuk terbuka dengan keluarganya.
__ADS_1
"Iya Om, Meka gak ada masalah kok," balas Meka dengan mengalihkan pandangannya ke arah Zain.
"Papa berharap kamu mau jujur sama kami. Jangan sampai terjadi hal fatal, sehingga semuanya tidak ada artinya lagi," pesan Papanya.
"Nanti Meka akan ceritakan semua ke Papa dan Om. Biarlah saat ini Meka menikmati kebahagiaan bertemu dengan kalian. Meka sudah kangen banget sama Papa," mohonnya sambil bergelayut manja dengan Papanya.
"Meka benar Bang, biar dia merasakan kebahagiaannya terlebih dahulu. Masih ada waktu buat kita saling bicara," dukung Omnya tentang ucapan Meka.
"Iya Abang akan menunggu Meka sampai siap bercerita tentang kehidupannya," balas Papanya Meka.
Kemudian Zain datang menghampiri mereka yang sedang menunggunya.
"Gimana Mas, sudah beres?" tanya Meka saat Zain datang.
"Sudah, ini Pa kuncinya. Papa dan Om, Tante bisa beristirahat," ucap Zain sambil memberikan kunci kartunya.
"Kalau gitu Papa istirahat dulu ya sayang. Kamu mau nunggu di mana nak?" tanya Papanya.
"Saya juga sudah memesan satu kamar buat kami Pa, menginap di sini," Zain menyela percakapan mertuanya.
"Berarti kalian juga akan menginap di sini malam ini?" tanya Papanya Meka.
Meka menatap Zain tak percaya karena begitu memperhatikan perasaannya. Dia pun tersenyum dan merangkul kan tangannya ke lengan Zain. Om dan Tantenya yang melihat sikap Meka yang tiba-tiba, merasa senang karena dihadapan keduanya Meka terlihat bahagia.
"Ayo kita beristirahat dulu," ajak Papanya Meka.
"Iya Pa," balas Zain. "Ayo sayang," ajak Zain.
"Ayo dek," ajak Omnya ke istrinya.
Mereka pun berjalan menuju kamar masing-masing sesuai dengan kamar pesanan mereka. Papanya Meka masuk ke dalam kamarnya. Begitu juga dengan Om serta Tantenya Meka.
Lalu Zain dan Meka juga segera masuk ke dalam kamarnya.
"Mas, kamu kenapa menyewa kamar juga di sini?" tanya Meka bingung saat keduanya sudah berada di dalam kamar.
"Iya sayang. Tadi Mas sudah memikirkannya. Mas lihat di rumah tadi banyak keluarga yang berdatangan. Dan Mas juga melihat ketidaknyamanan kamu saat berada di antara mereka. Sehingga Mas memutuskan untuk menyewa kamar di hotel yang sama dengan Papa kamu. Agar kamu ada yang memperhatikan jika Mas ada keperluan nantinya," kelas Zain.
__ADS_1
"Makasih ya Mas, kamu sudah mengerti perasaan hatiku. Kalau begitu kamu hubungi Mama buat kasih tau kalau kita nginap di hotel malam ini," suruh Meka.
Meka merasa tak enak terhadap mertuanya. Dia khawatir jika Mertuanya tidak menyukainya karena sikap Zain yang terlalu care dengan dirinya.
Malam tiba dan Adzan berkumandang dengan suara yang merdu. Meka dan Zain melaksanakan kewajibannya secara bersama.
Setelah selesai, Meka merebahkan tubuhnya sebentar di atas tempat tidur dan di temani Zain disampingnya.
"Mas, ayo hubungi Mama. Sapa tau mereka khawatir dengan kita karena kelamaan berada di luar," suruh Meka.
"Iya sayang, Mas tlp Mama dulu ya," Zain pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Mamanya. Beberapa kali dering terdengar menyambung hingga terdengar suara dari seberang.
"Assalammu'alaikum Ma," sapa Zain.
"Wa'alaikumussalam Zain...," balas Mamanya. "Zain kalian dimana sekarang? Kenapa tidak kembali. Meka tidak boleh keluyuran malam-malam diluar sana. Kamu gimana sih Zain...!" Mamanya marah karena Zain dan Meka tidak memikirkan bayi dalam kandungan Meka.
"Ma, maaf kami tidak pulang malam ini. Tadi sehabis jemput Papanya Meka, kami memutuskan menginap di hotel Ma," jelas Zain yang tidak ingin Mamanya khawatir.
"Loh kenapa mereka tidak tinggal di sini saja Zain?" tanya Mamanya.
"Tadi sih maunya seperti itu Ma, tapi Zain pikir lebih baik keluarga Meka berada di hotel. Biar di rumah tidak terlalu ramai," Zain menjelaskan kembali.
"Jadi kapan Papanya Meka bertemu dengan kami Zain?" tanya Mamanya lagi.
"Besok pagi kami akan ke sana Ma. Biar malam ini mereka beristirahat dulu di sini. Tolong sampaikan ke Papa ya Ma," pinta Zain.
Mamanya terlihat kesal karena besannya tidak datang ke rumah mereka saat ini. Padahal Mamanya Zain sudah sangat senang bisa bertemu dengan keluarga Meka. Tapi ternyata Zain tidak mendukung kegembiraan yang diinginkan Mamanya.
"Baiklah Zain, Mama mengikuti kamu saja, mana baiknya," balas Mamanya. "Ya sudah kalau gitu nak, hati-hati di sana. Jaga Meka dan cucu Mama," ucap Mamanya yang menyudahi obrolan mereka.
Sebelum Zain menjawab, tlp sudah dimatikan sepihak oleh Mamanya. Zain pun terdiam dan menghela nafasnya yang terasa berat. Lalu dia menoleh ke Meka dan menatap Meka dengan wajah sendunya.
"Ada apa Mas?" tanya Meka heran.
"Sepertinya Mama agak kecewa karena keluarga kamu tidak menginap di rumah," ucap Zain memberitahu.
"Lah terus gimana dong Mas?" tanya Meka yang ikut merasakan tidak enak.
__ADS_1
'Ya sudahlah. Semua sudah terjadi sayang. Besok pagi kita akan langsung ke sana bertemu dengan keluarga Mas," jawab Zain.
"Iya Mas, nanti kita sampaikan ke Papa, Om dan Tante ya. Biar besok pagi mereka sudah siap-siap," ucap Meka.