Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 85


__ADS_3

Meka bisa merasakan bahwa di depan ada yang sedang mengawasinya. Karena penasaran dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu. Tanpa ragu-ragu dia membuka pintu itu dan melihat diluar ruangan. Meka memandang ke sekeliling, namun dia tidak melihat hal yang mencurigakan. Meka hanya melihat mahluk halus yang berseliweran di rumah sakit tanpa ada rasa ancaman di dirinya.


Saat Meka hendak melangkah masuk ke dalam ruangan dia dikejutkan dengan sebuah tangan yang menggenggam pergelangan kakinya. Meka terkejut dan berteriak.


"Aaaaaaaaaa," Meka terkejut saat dia melihat kearah bawah kakinya ada mahluk menjijikkan dengan wajah hancur berlumuran darah yang sudah menghitam serta mata melotot yang menghitam yang sedang memegang kakinya.


"Lepaskan...!" bentak Meka.


Mahluk itu menyeringai dengan jijiknya karena air liurnya berjatuhan akibat mulutnya yang robek.


"Tooolooong....," ucap mahluk itu.


Meka tak menghiraukannya, dia membuka pintu ruangan dan melangkah masuk ke dalam kamar. Meka masih merasakan bau anyir dari mahluk itu.


Meka tidak ingin berurusan terlalu banyak dengan mahluk halus seperti itu. Karena akan sangat membahayakan nyawanya.


Meka duduk di sofa, dia mengingat ucapan Ustadz tadi.


"Apa benar yang dikatakan Ustadz itu? Ah, aku tidak boleh mempercayainya. Aku hanya percaya dengan apa yang sudah ditentukan yang maha kuasa," gumam Meka.


Dia sibuk dengan pikirannya sampai dia tak menyadari kehadiran mahluk lain dalam ruangan itu. Meka masih berkecimpung dalam pikirannya yang kalut.


"Meeeekaaaa, akuuu diiisiiiniiii," mahluk itu memanggil Meka. Dia tau Meka bisa melihatnya. Dia ingin mencoba berinteraksi dengan Meka.


Meka sayup-sayup mendengar suara memanggilnya. Dia tersadar dan menoleh kearah sumber suara itu. Meka sedikit menggeser bokongnya menghindari mahluk itu. Karena saat ini mahluk menjijikkan itu berada tepat dihadapannya.


Meka ingin menjerit tapi dia menyadari posisinya.


"Meeeekaaaa tooolooong aaakkuuuu," suara itu menggema diruangan itu.


"Aku tidak mau, pergi dari hadapanku, kalau tidak aku akan memusnahkanmu," bentak Meka.


Sebenarnya Meka menyadari kalau dia tidak bisa begitu saja memusnahkan mahluk halus. Yang melakukan itu adalah Khodamnya. Tapi dia bisa saja melakukannya jika dia mau bermeditasi untuk mempergunakan kekuatan yang ada di liontin miliknya.

__ADS_1


"Tooolooong Meeekaaa! Semmmpuurrnnakaan jaaasaadku!" mahluk itu menginginkan kesempurnaan jasadnya.


"Aku tidak mau membantumu. Dan aku tidak ingin berurusan dengan kalian mahluk halus. Pergilah...!" bentak Meka dengan suara pelan.


Meka menoleh kearah mahluk itu dan menatapnya dengan rasa jijik. Lalu dia berkata kembali.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Meka tiba-tiba.


"Dia memmbuuunuuuhkuu daan meeenyiiimpaaan jaaasaadkuu diii teeemboook kaaamaarnyaaa." ucap mahluk itu memberitahu.


Tiba-tiba mahluk itu menyentuh tangan Meka dan membawa Meka kembali keingatan mahluk itu beberapa bulan terakhir.


Mahluk itu adalah seorang wanita yang bernama inem pelayan seksi yang bekerja di sebuah rumah mewah dan megah.


Di rumah mewah itu tinggal sepasang suami istri yang hidup dengan bergelimang harta. Tapi siapa yang sangka dan tau bahwa harta yang mereka miliki berasal dari kegiatan beesukun dan melakukan pesugihan. Suami istri itu bekerja sama melakukan pesugihan itu. Kalau si laki-laki menyediakan tumbal darah gadis perawan dan istrinya menyediakan janin bayi untuk diserahkan ke iblis yang memberinya kekayaaan. Sehingga kekayaan mereka berlimpah ruah.


Hingga kejadian itu terjadi. Inem sang pelayan sedang berada dirumah sendirian. Istri majikannya sengaja meninggalkan inem bersama suaminya. Saat itu hujan deras, inem sedang berbaring di tempat tidurnya. Lalu majikan laki-lakinya masuk kedalam kamarnya.


"Ya saya memerlukan bantuanmu untuk memuaskan ini," Laki-laki separuh baya itu menunjuk kearah senjatanya yang sudah menegang.


"Ma..maksud Tu..tuan apa ya," inem ketakutan saat melihat majikannya tanpa malu membuka pakaiannya hingga polos dan menunjukkan senjatanya yang sudah mengeras. Dia memaksa inem melayani nafsunya yang sudah sangat berhasrat.


"Jangan Tuan, jangan lakukan itu!" Inem mundur kebelakang hingga membentur dinding.


Majikannya tersenyum menyeringai dan naik keatas tempat tidur Inem serta merangkak mendekatinya. Inem ketakutan dan memeluk tubuhnya. Lalu majikannya menarik kaki Inem dan membukanya lebar-lebar. Inem berusaha menendangnya, namun dicekal oleh kaki majikannya. Inem terus melawannya tapi kekuatannya gak sebanding. Hingga akhirnya pakaian Inem terlepas dari tubuhnya.


Majikannya menatap Inem seperti hewan buas yang kelaparan. Dia melihat tubuh molek Inem sambil tangannya meraba kewanitaan Inem. Inem menangis dan ketakutan.


"Jangan menangis sayang, ini enak kok. Kamu akan aku buat terbang melayang ke awang-awang. Puasin aku sebelum kau dibawanya. Lihat sayang senjataku sudah tak tahan untuk segera menikmati milikmu.


Majikannya langsung mencumbui Inem, menyesap gundukan besar yang padat. Inem menangis tak berdaya. Lalu tanpa lama-lama, akhirnya mereka menyatu dalam kenikmatan. Inem menjerit kesakitan dan terus menangis.


"Hussst, jangan menangis sayangku, ini enak banget, kamu masih sempit sekali," racau majikannya yang terus menggenjot tubuh inem tanpa perduli rasa sakit yang dirasakannya.

__ADS_1


Inem hanya bisa pasrah saat keperawanannya direnggut paksa oleh majikannya yang sudah berumur. Majikan yang separuh baya itu terus menggenjot tubuh molek inem dengan beringas. Dia tak memperdulikan keadaan inem.


Dia benar-benar tak merasa puas. Majikannya terus menikmati tubuh Inem yang sexy. Tak perduli Inem yang sudah kesakitan. Kenikmatan yang diberikan tubuh Inem membuat majikannya terus melakukannya hingga Inem pingsan dan majikannya melakukan berbagai gaya. Dia sadar saat ini Inem sedang pingsan tapi dia tak perduli, rasanya dia tak mau berhenti menikmati tubuh molek Inem yang masih baru berusia 19 tahun.


Setelah puas dengan tubuh Inem akhirnya dia mencapai puncaknya dan mengeluarkan banyak calon anak di dalam rahim Inem. Majikannya melepaskan diri dari tubuh Inem yang masih pingsan dan mengecup kewanitaan Inem yang sudah memuaskannya.


Dia berjalan kesamping dan menggunakan pakaiannya. Saat itulah darah inem dihisap habis oleh iblis yang sedang menunggu di depan mereka. Tapi inem tidak mengetahui keberadaannya. Yang mengetahui keberadaan Iblis itu hanya majikannya. Dia meninggalkan Inem yang sedang dihisap habis darahnya.


Majikannya seperti orang yang sakit jiwa tidak berperasaan, dia mengubur jasad Inem di kamar itu dan dilapisi dengan wallpaper cantik.


Kembali ke Meka, dia tersentak dan merasakan kepalanya pusing dan matanya sedikit buram. Lalu Meka menatap kearah wanita yang memegang tangannya tadi.


"Aku tidak mau membantumu," Meka menjauh dari mahluk menjijikkan itu.


"Tooolooong aaakkuuuu Meekaa, kaasiihaaan Ibuukuu, diiiaaa meenungguukuu puulaaang. Biiaaarkaaan aaakkuuuu puulaaang waaalaaauu taaanpaaa nyaaawaa, taapiii jaaasaadkuu biiisaaa diikuubuur deengaaan laaayaak," pinta mahluk itu.


Mahluk itu memberitahukan Meka agar segera melapor ke polisi dan tidak membiarkan sepasang suami istri itu melakukan kejahatan lebih lama sehingga banyak nyawa yang hilang.


Meka diam sejenak dan dia tidak mau langsung mengiyakan permintaan mahluk itu. Dia pergi ke tempat Zain yang sedang terbaring.


"Apa yang harus aku lakukan Zain?" Meka bingung mau cerita kesiapa.


Kemudian Meka mendengar bisikan dari Khodamnya.


"Jangan lakukan, biar dia yang menyelesaikan. Nanti jasad itu akan ditemukan juga. Aku akan mengusirnya agar tidak mengganggumu,"


Lalu Harimau itu muncul dihadapan mahluk itu dan mengaum.


"Grrrrrrr, pergi dari sini atau kau kumusnahkan!"


Mahluk itu ketakutan dan tak percaya saat seekor Harimau putih besar tiba-tiba muncul di dalam ruangan itu.


Tanpa banyak berbicara, mahluk itu langsung pergi dan tak berani menampakkan wajahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2