Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 154


__ADS_3

Awalnya Meka mengira itu film romantis biasa. Ternyata itu film yang memperlihatkan adegan pasangan yang sedang bercinta. Meka melirik ke arah Zain. Wajahnya merah merona melihat adegan seperti itu.


Sementara Zain, gairahnya langsung bergejolak. Dia menoleh ke arah Meka. Lalu tanpa aba-aba, Zain yang sudah terpancing hasratnya dengan adegan bercinta, langsung menerkam istrinya. Zain melum*** bibir manis Meka yang menjadi candunya. Dia terus memberikan rangsangan yang membuat Meka tak pernah menolak.


Zain membuka seluruh pakaian Meka dan dirinya hingga mereka berdua polos. Lalu Zain kembali menyerang Meka dengan ciuman bertubi-tubi. Tangannya pun tak tinggal diam. Tangan Zain terus menjalar ke tubuh Meka hingga ke bagian sensitifnya. Meka yang tak tahan dengan sentuhan suaminya, akhirnya mengeluarkan suara-suara erangan merdu.


Zain tersenyum melihat istrinya yang sudah tak berdaya. Lalu Zain pun segera menerkam istrinya yang sudah sangat bergairah. Mereka melakukan pertempuran yang mengguncangkan ruangan itu. Zain terus menghentakkan miliknya ke milik Meka. Mereka bercinta sambil menonton film adegan berhubungan.


Meka terus mengeluarkan suara merdunya, hingga menggema dalam ruangan itu. Zain merubah posisi mereka dengan berbagai gaya. Mereka tak pernah puas untuk terus melakukannya. Hingga beberapa jam, Zain akhirnya memuntahkan cairan bening ke dalam milik Meka. Hingga mereka sama-sama mencapai kenikmatan dunia.


Meka terkulai lemas dibawah tubuh Zain. Begitu juga dengan Zain, dia terkulai lemas di samping Meka. Zain menoleh ke arah Meka dan mencium pukul kening istrinya. Lalu dia memeluk Meka dan mereka tertidur dengan lelap.


Hingga malam pun tiba, Meka membuka matanya dan menoleh ke samping. Dia mendapatkan suaminya yang masih terlelap sambil memeluknya. Meka segera membangunkan Zain.


"Mas, ayo bangun! Ini sudah malam," Meka mengusap-usap rambut Zain sambil senyum-senyum.


Dia membayangkan pertempuran yang mereka lakukan tadi sore. Meka merasakan sensasi berbeda dengan menonton film romantis yang ada adegan hotnya, membuat Meka dan Zain bergairah. Hingga terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat.


"Sayang, apa ini sudah malam?" tanya Zain yang masih setengah sadar.


"Iya Mas, ini sudah malam. Ayo kita mandi," ajak Meka.


Zain pun bangkit dan duduk diatas tempat tidur. Dia melihat Meka yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Zain pun turun dari tempat tidur menyusul istrinya ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, mereka mengulangi pertempurannya. Zain yang tak pernah puas dengan tubuh istrinya, terus menerkam Meka hingga Meka tak bisa lagi berdiri dengan sempurna. Setelah selesai, Zain membantu Meka membersihkan tubuh istrinya dengan lembut.


Akhirnya mereka menyelesaikan ritual mandinya. Zain menggendong Meka kelaut dari kamar mandi. Lalu dia merebahkan Meka diatas tempat tidur. Kemudian Zain memakaikan pakaian Meka dengan rapi.


"Sayang, Mas mau pesan makan malam dulu untuk kita ya."


"Iya Mas, aku laper banget. Kamu membuatku sangat laper."


Zain tersenyum melihat istrinya yang cemberut akibat perbuatannya yang berlebihan.


"Tapi kamu suka kan sayang," goda Zain dengan mencolek hidung Meka.


"Suka sih, tapi kebanyakan Mas," protes Meka.


"Hahahaha, kita kan saat ini bulan madu. Jadi emang harus sering-sering bertempur," ucap Zain puas.


"Bertempur sih bertempur Mas, tapi harus ngisi tenaga biar semangat," Meka tersenyum genit melihat Zain.


"Istriku sekarang sudah pinter menggoda ya," balas Zain.


Zain pun menghampiri Meka yang duduk di atas tempat tidur, lalu Zain menggelitik perut Meka hingga Meka kegelian.


"Mas hentikan....!" teriak Meka kegelian.


"Biarin, kamu udah berani menggoda Mas," Zain masih menggelitik tubuh Meka.


"Ampun Maaaas, gak lagi deh....!" teriak Meka lagi.


Zain pun berhenti dan dia tersenyum lalu mengecup kening Meka.


"Mas suka kalau kamu menggoda Mas," bisik Zain.


Zain pun beranjak dari empat tidur, dan menghubungi pihak Restaurant untuk mengantar makan malam ke kamar mereka.


Selama menunggu makanan datang, Zain dan Meka duduk santai di balkon sambil melihat pemandangan di luar.


Kemudian beberapa menit, makanan datang. Pelayan mengantar makanan mereka ke dalam kamar Zain.


Setelah pelayan itu pergi meninggalkan kamar mereka. Zain dan Meka mulai menikmati makan malamnya.

__ADS_1


Zain mengajak Meka duduk di balkon sambil menikmati makanan mereka.


"Mas, ini enak banget ya makanannya. Kamu pasti banget mesannya," puji Meka dengan mulut penuhnya.


"Makan yang banyak ya sayang, biar tenaga kamu pulih kembali," ucap Zain dengan tatapan penuh arti.


"Iya Mas, aku akan makan yang banyak ya."


Mereka berdua benar-benar menikmati waktu bersama. Setelah menghabiskan makan malamnya, Zain dan Meka masih duduk di balkon menikmati udara malam dengan pemandangan yang indah.


Meka mengambil ponselnya. Dia ingin mengabadikan momentnya di balkon Hotel. Saat Meka mengambil fotonya berdua dengan Zain, dia melihat ada pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Mas, sepertinya ada pesan masuk deh," ucap Meka setelah mengambil foto berdua.


"Coba lihat sayang, sapa tau dari mereka."


"Iya Mas."


Lalu Meka membuka pesan masuk ke ponselnya. Dia melihat pesan itu dari Isna.


"Meka, maaf ya, tadi gw gak ngangkat tlp Lo. Gw lagi nemani Deon yang sedang sakit di kamarnya. Jadi gw gak bawa ponsel," jelas Isna melalui pesannya.


"Ada apa sayang?" tanya Zain yang menunggu Meka.


"Ini Mas, Isna bilang kalau Deon sedang sakit di kamarnya. Dan Isna menunggunya di kamar. Lalu ponselnya dia tinggal, katanya gitu Mas," jawab Meka.


"Loh emang sakit apa Deon nya?" tanya Zain lagi.


"Belom tau Mas. Nih aku mau nanya ke Isna."


Lalu Meka menjawab pesan dari Isna yang baru di bacanya.


"Emang Deon sakit apa Na?" Meka membalas pesannya.


Meka menunggu balasan lanjutan dari Isna. Tapi tidak langsung di balas Isna.


"Mungkin lagi sibuk ngurus Deon," jawab Zain.


"Aku teringat dengan mahluk genduruwo itu Mas yang kemaren aku lihat di ruang tamu kost mereka. Dan aura yang tak baik di kamar dekat kamar Isna," ungkap Meka yang mengingatkan Zain.


"Kita do'akan aja yang sayang yang terbaik untuk mereka. Semoga tidak terjadi hal yang di luar nalar kita sebagai manusia," ucap Zain berharap.


"Aku takutnya itu terjadi Mas. Karena mahluk itu tentu mengganggu mereka pendatang baru," balas Meka.


"Kita tidak bisa berbuat banyak sayang. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Mereka yang memilih tempat itu. Jadi biarkan itu menjadi urusan mereka," jelas Zain yang tak ingin Meka mengurus urusan mereka.


"Iya sih Mas."


Tak berapa lama, Isna membalas pesan Meka saat dia sedang asyik ngobrol sama Zain.


"Mas bentar, Isna membalas pesanku," ucap Meka menghentikan obrolan mereka.


"Sorry Mek, gw lagi ngasih makan Deon. Dia udah beberapa hari nih sakti. Tepatnya saat Lo dan Pak Zain pergi. Saat itu tidak jatuh sakit. Gw juga gak tau Mek, Deon sakit apa," balas Isna.


"Loh, kenapa bisa gak tau Deon tuh sakit apa? Emang dokter gak ngasih tau, kalau Deon sakit apa?" tanya Meka melalui pesannya.


"Dokter hanya bilang, Deon kecapean dan dia memberikan obat dan vitamin," balas Isna.


"Coba kita VC, aku ingin melihat Deon," pinta Meka.


Lalu Isna memulai panggilan videonya dengan Meka.


Meka dan Zain bisa melihat Isna yang sedang menemani Deon.

__ADS_1


"Na, coba arahkan layarnya ke Deon. Gw pengen lihat," pinta Meka.


Lalu Isna langsung mengarahkan layar ponselnya ke arah wajah Deon.


"Astaghfirullahal'adzim," Meka terkejut saat melihat wajah Deon yang ternyata pucat.


Tapi Meka tak memperlihatkan keterkejutannya di hadapan Isna.


"Na, lebih baik Lo coba panggil Ustadz untuk melihat Deon. Sapa tau bisa di sembuhkan. Tuh Deon pucat banget loh," ucap Meka yang tidak terlalu memberitahukan keadaan Deon.


"Emang ada apa dengan Deon Mek?" tanya Isna penasaran.


"Gak sih, dia terlihat pucat aja. Coba aja panggil Ustadz, biar di lihat sama Ustadz," suruh Meka.


"Baiklah Mek, besok gw akan ngajak Ustadz kemari," balas Isna.


"Ya udah Na, besok khabari gw ya kalau sudah datang Ustadznya ya," pinta Meka.


"Iya Mek, besok pasti gw khabari Lo. Kalau gitu gw matikan ya Mek tlp nya."


"Iya Na, Assalamu'alaikum," ucap Meka.


"Wa'alaikumussalam Mek," balas Isna.


Lalu tlp di matikan. Obrolan mereka pun selesai. Meka menoleh ke arah Zain dan menatap suaminya dengan serius.


"Ada apa sayang? Kamu melihat sesuatu?" tanya Zain yang mengerti arti tatapan istrinya.


"Iya Mas, aku melihatnya."


"Apa yang kamu lihat sayang?"


"Deon sedang di ganggu mahluk ghaib Mas. Dia penghuni kamar yang dekat dengan kamar Isna. Yang kemaren aku bilang punya aura gelap di kamar itu," jawab Meka memberitahu.


"Terus gimana keadaannya seperti itu? Wah, kita jauh di sini. Apa ini yang mencemaskan mu?" tanya Zain.


"Mungkin Mas. Mereka kan sahabat baikku. Bagaimanapun aku tidak ingin mereka kenapa-napa Mas."


"Terus apa yang bisa kita lakukan sayang. Kita jauh."


"Tadi aku udah minta Isna untuk membawa Ustadz besok menemui Deon. Agar Ustadz itu bisa melihat keadaan Deon."


"Semoga saja besok, Deon bisa kembali pulih ya sayang."


"Iya Mas, aku pun berharap seperti itu. Kasihan kalau sampai kenapa-napa. Isna bisa sedih banget," balas Meka.


"Ayo kita masuk. Ini sudah malam banget. Besok kita akan lanjut jalan-jalannya," ajak Zain.


"Iya Mas, ayo. Aku juga udah ngantuk nih Mas. Kamu banyak banget minta jatahnya," ledke Meka tapi sambil tersenyum.


Lalu Zain dan Meka masuk ke dalam kamar. Mereka naik ke atas tempat tidur. Zain memeluk Meka dari samping. Dan mereka berdua mulai memejamkan mata hingga terlelap.


Malam kian semakin larut. Keduanya tidur dengan sangat nyenyak karena pertempuran yang sangat menguras tenaga.


Pagi harinya, cuaca yang sangat cerah, Zain membuka matanya dan melihat cahaya terang masuk menembus tirai jendela.


"Pagi sayang," ucap Zain sambil mengecup bibir Meka.


"Pagi Mas," balas Meka.


"Gimana tidurnya? Nyenyak kan? Terus badannya gimana, masih pegal-pegal?" tanya Zain lagi.


"Tidak lagi Mas. Aku siap hari ini menghabiskan waktu seharian di luar sana," jawab Meka.

__ADS_1


Lalu keduanya membersihkan tubuh mereka berdua tanpa ada aktifitas pertempuran di pagi hari yang cerah. Seperti biasa, Zain selalu membantu Meka membersihkan tubuhnya hingga bersih. Begitu juga dengan Meka. Dia membersihkan tubuh suaminya hingga bersih.


Akhirnya ritual mandi bersama selesai. Zain dan Meka keluar dari dalam kamar mandi dan menggunakan pakaian yang rapi.


__ADS_2