Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 129


__ADS_3

"Isssssh Lo Na, kayak anak ABG aja yang baru pertama jatuh cinta. Malu-malu tapi syukaaa," ledek Meka dengan cekikikan.


"Emang gw baru pertama jatuh cintrong Mek. Si Deon lah orang pertamanya," balas Isna malu-malu.


"Waowww....aku tersanjung sayang mendengarnya. Kalau gitu kita emang kekasih sejati yang baru pertama jatuh cintrong," ucap Deon sambil merangkul Isna.


"Serius Lo De?" tanya Meka tak percaya.


"Iya nih, kamu benaran De, baru pertama juga?" tanya Isna tak percaya juga.


"Iya Na......!" jawab Deon dengan mencoel hidung Isna.


"Isssh makin cintrong aku sama kamu Deon!" seru Isna dengan membalas rangkulan Deon.


"Duh.....kenapa jadi bahas cinta pertama nih. Udah yuk masuk ke kelas. Bentar lagi Dosen kita masuk," ajak Meka.


"Hehehe, maklum ya Mek. Lagi kemaruak pacaran," balas Deon.


"Yuk bebebku," ajak Deon sambil memegang tangan Isna.


"Ayolah beb," balas Isna.


Mereka bertiga berjalan ke arah ruangan kelas. Dimana banyak teman-teman mereka melihat dengan kebingungan.


"Eh kok mereka ngelihatin kita begitu ya. Kayak lihat setan aja," celetuk Isna.


Deon dan Meka juga merasakan hal yang sama. Beberapa Mahasiswa memperhatikan mereka. Tatapan mereka berbeda-beda. Ada yang menatap sinis, bingung dan ada juga yang mencibir.


"Ada apa dengan wajah mereka?" gumam Deon.


"Sudah gak usah perdulikan, anggap aja kita artis sedang naik daun, diperhatikan gitu bukannya bagus, berarti mereka perduli sama kita," ucap Meka menyenangkan hati kedua sahabatnya.


"Ah elo Mek, bisa aja jawabnya. Mereka tuh ngelihat kita kayak gimana gitu. Apa ada yang salah dengan kita ya?" tanya Isna kebingungan.


Saat mereka sibuk membahasnya, Dosen masuk ke dalam ruangan itu.


"Pagi semuanya..!" sapa Dosen itu.


"Pagi Pak," balas mereka serentak.


Lalu si Dosen memberikan pembelajarannya. Pembelajaran yang membuat mereka mencatat. Kemudian baru di jelaskan. Hingga beberapa menit berlalu, si Dosen menyelesaikan materi yang dibahasnya. Si Dosen akhirnya menyudahi pembelajarannya dan keluar dari ruangan itu.


"Na, De, gw keruangan Pak Zain dulu ya. Mau nanya, apa dia mau ikut atau nggak sama kita," pamit Meka.


"Oh ya udah bareng aja Mek. Gw gak nyaman disini, dilihatin seperti itu," balas Isna.


"Ayo kalau gitu," ajak Meka.


Mereka bertiga keluar dari ruangan itu menuju ruangan kerja Pak Zain.


Sepanjang jalan, mereka masih mendengar cerita tentang Shinta. Berita kematian Shinta sudah tersebar luas di Kampus itu. Isna dan Deon menunggu Meka di bangku dekat ruangan Dosga mereka.


"Kami nunggu disini aja Mek. Lo ke dalam aja, biar kita cepat berangkat ke rumah eyang Shinta," ucap Deon.


"Baiklah, tunggu sebentar ya," balas Meka.

__ADS_1


Lalu Meka berjalan memasuki ruangan itu tanpa mengetuk pintunya. Saat Meka masuk, Meka dikejutkan dengan kehadiran sepupu Zain yaitu Mona. Meka melihat Mona sedang duduk di atas meja kerja Zain dan menghadap ke arah Zain.


Zain tidak memperdulikan kehadiran Mona, dia sibuk membuat materi dan tugas untuk pembelajarannya.


Saat Meka masuk, keduanya menoleh ke arah Meka. Lalu Zain berdiri dari kursinya dan menghampiri Meka dan mencium pipinya.


"Sayang, kamu udah selesai?" tanya Zain yang tak memperdulikan kehadiran Mona.


"Udah Mas. Ngapain dia kesini?" tanya Meka curiga.


"Mas juga gak tau. Dia mau mengunjungi Mas katanya. Mas biarin aja dia disitu. Mas lagi sibuk dengan pekerjaan Mas," jelas Zain.


Zain melihat api cemburu di mata istrinya. Dia tidak ingin Meka salah paham terhadapnya.


"Mas, hari ini aku dan teman-temanku mau ke rumah eyangnya Shinta, kamu ikut gak?" tanya Meka yang sengaja mengajak Zain.


Zain membawa Meka duduk di sofanya. Dan saling berhadapan.


"Mas udah dengar cerita tentang Shinta. Kenapa kamu mau kesana sayang? Emang kamu tau alamatnya?" tanya Zain.


"Tau Mas. Tadi aku mencoba menghubungi nomernya agar bisa berbicara dengan Ibunya. Dan ternyata yang mengangkat tadi memang Ibunya. Aku disuruh kesana Mas sama mereka," jawab Meka.


"Ya udah, Mas akan anter kamu kesana. Mas gak mau kamu kenapa-napa. Kamu tunggu bentar ya. Mas mau nemui Pak Ahmad dulu untuk menggantikan Mas masuk ke kelas, sekalian ngasih materinya," ucap Zain.


"Mas mau keluar?" tanya Meka.


"Iya sayang, Mas mau keruangan Pak Ahmad dulu. Baru kita berangkat ya," jawab Zain.


"Iya Mas, aku tunggu disini aja ya," jawab Meka.


Zain pun kembali ke mejanya mengambil materi yang akan di serahkannya.


Zain tak menjawabnya, dia hanya diam dan mempercepat geraknya. Lalu Zain keluar dari ruangan itu, meninggalkan Meka dan Mona berdua.


Mona menghampiri Meka yang sedang santai duduk di sofa.


"Hebat kamu ya, bisa membuat Mas Zain berpaling dariku. Pelet apa yang kamu gunakan hingga Mas Zain nurut sama kamu?" tuduh Mona.


Meka tak menggubris ucapan Mona. Dia sibuk mengirim pesan sama Isna yang berada di luar ruangan Dosga mereka.


"Hei, gw ngomong sama Lo! Gak usah merasa sok kecakapan ya. Mas Zain itu mungkin sekarang nurut sama Lo. Tapi lihat aja nanti, gw yang akan buat dia bertekuk lutut sama gw," ancam Mona dengan menyeringai.


Meka beranjak dari sofanya dan berjalan menuju meja kerja suaminya. Dia membuka leptop suaminya dan mencari game kartu.


"Dari pada gw dengerin nenek sihir ngomel, mending gw main kartu aja," bathinnya.


Meka terus tak menggubris ucapan Mona. Dia justru asyik kartu di leptop.


Tingkah Meka yang seperti itu membuat Mona murka, dia pun mencaci dan menghina Meka dengan mulut pedasnya.


"Dasar Lo cewek udik, murahan. Kok mau ya Mas Zain nikah sama Lo. Atau jangan-jangan Lo menjebaknya ya? Mana mungkin Mas Zain tertarik sama cewek yang jauh di bawah gw kecantikannya, gw yakin Lo pake pelet," ucap Mona sinis.


Meka berdiri dan menghampiri Mona, lalu tanpa di duga, tangan Meka terbang dan mendarat tepat di pipi empuknya Mona.


PLAK!

__ADS_1


Mona terkejut dengan tamparan yang tiba-tiba, matanya memerah menyala, amarahnya memuncak dan sekejap pipinya menjadi panas.


"Sialan Lo Meka......., perempuan murahan...!" teriak Mona, lalu dia membalas tamparan Meka, namun tangannya di tahan oleh Zain yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Mona menoleh ke belakang, dan melihat kemarahan di mata Zain.


Zain menghempaskan tangan Mona, dan menatapnya tajam.


",Keluar!" bentak Zain.


"Mas dia yang mulai duluan. Dia menamparku, lihat ini," tunjuk Mona ke arah pipinya bekas tamparan.


"Jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi dihadapan ku. Enyahlah!" bentak Zain lagi.


Mona merasa malu, wajahnya merah menahan amarah. Dia menoleh ke arah Meka, memberikan tatapan mengancam dari matanya. Mona menghampiri Meka.


"Ingat, gw akan membalas perbuatan Lo ini. Jangan coba-coba bermain dengan gw," ancam Mona.


Meka diam saja, dia menatap Mona dengan tatapan iba dan kasihan.


"Akankah dia berakhir seperti Shinta sahabatnya?" bathinnya.


Mona pergi meninggalkan ruangan itu, tapi sebelum melangkah jauh ke depan, dia berhenti di hadapan Zain.


"Mas tunggu aku. Kamu akan menjadi milikku. Dan tubuhmu ini, aku ingin mencicipinya," ucap Mona dengan berani dan tanpa tau malu.


Lalu Mona meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.


"Sayang, kamu gak kenapa-napa kan? Mas salah sudah ninggalin kamu sama dia," ucap Zain bersalah.


"Aku baik-baik aja Mas. Gimana udah selesai urusannya dengan Pak Ahmad" tanya Meka berusaha tersenyum.


"Sudah, ayo kita berangkat," ajak Zain.


"Oh iya, Isna dan Deon sudah terlalu lama menunggu di depan. Mereka juga ingin ikut Mas," ucap Meka memberitahu.


"Ya udah gak apa-apa sayang. Ayo kita pergi," ajak Zain lagi.


"Iya Mas."


Lalu Meka dan Zain keluar dari ruangannya dan menghampiri Isna dan Deon.


"Na, De, ayo berangkat!"


"Akhirnya datang juga nih si Meka. Udah hampir berkarat nih nungguin," celetuk Isna.


"Oh ya Mek, siapa tadi yang keluar dari ruangan Dosga kita? Seperti bukan Mahasiswa sini deh," ucap Deon serius.


"Dia sepupunya Pak Zain. Biasalah pengganggu," balas Meka.


"Dosga kita ini emang terkenal banget ya, Lo harus kudu sabar menjalaninya ya Mek," sambung Isna.


"Betul betul betul," Deon pun menimpali.


"Udah ayo berangkat, kasihan orang tua Shinta nungguin," ajak Meka.

__ADS_1


"Ok!


Mereka berempat pergi dari Kampus. Zain membawa mobilnya menuju rumah eyangnya Shinta sesuai dengan arahan lokasi yang sudah diberikan.


__ADS_2