Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 161


__ADS_3

Setelah Deon dan Isna selesai dengan acara mengeluarkan isi perutnya, mereka kembali ke meja makan. Wajah mereka terlihat pucat.


"Ini di minum dulu nak Isna dan Deon," Ustadz itu menyodorkan air putih untuk mereka berdua.


"Terima kasih Ustadz," Deon dan Isna mengambil gelas itu dari tangan Ustadz.


"Minumlah biar kalian lebih enakan," balas Ustadz itu.


"Baik Ustadz," Deon dan Isna mengucapkannya secara bersamaan.


Setelah apa yang di sampaikan Ustadz itu, Deon dan Isna masih membelalakkan mata mereka.


Deon dan Isna memutar otaknya memikirkan peristiwa yang tadi terjadi di mall. Begitu banyak pengunjung cafe yang makan dengan lahap di tempat itu. Bulu kuduk yang merinding ketika melewati kasir tadi, semuanya berputar menari-nari dalam pikiran mereka berdua. Hingga Deon dan Isna saling menatap.


Deon dan Isna seolah mengerti dengan pikiran satu sama lain.


"Pantes aja tadi aku makannya lahap banget ya De," ucap Isna tak menyangka.


"Iya Na, aku juga makan dengan semangat. Kita kayak orang gak pernah makan beberapa hari ya Na," balas Deon geleng-geleng kepala.


"Hah, ternyata seperti itu, demi mendapatkan banyak pengunjung dan keuntungan banyak, mereka rela melakukan pesugihan dengan imbalan yang berbeda-beda," ungkap Isna yang tak mengerti pemikiran orang-orang sesat itu.


Lalu Ustadz itu mengajak Deon dan Isna makan, walaupun tadi sempat ada kekacauan sedikit mengenai makanan, tapi tetap saja mereka harus melanjutkan makan malamnya.


Umi langsung merapikan makanan yang lainnya. Karena harus terjeda dengan makanan yang tak diinginkan.


"Jangan di pikirkan yang tadi, sekarang kita nikmati makan malam ini bersama," ucap Kakek tua itu.


Mereka pun menikmati makan malamnya. Namun tidak dengan Deon dan Isna. Bagaimanapun mereka masih merasa jijik karena telah menikmati makanan yang menjijikkan.


Setelah beberapa menit berlalu mereka makan malam, Ustadz itu mengajak mereka berkumpul di ruang tengah.


"Ustadz, saya masih bingung dengan kejadian yang menimpa saya. Apakah ada seseorang yang memang melakukan hal sesat seperti itu?" tanya Deon saat mereka sudah duduk.


"Nak Deon, dimana pun kita berada, yang namanya hal begitu pasti ada. Mereka yang merasa hidupnya ingin berlebih dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, mereka akan menggunakan cara seperti itu. Baik itu karena harta, cinta ataupun sakit hati. Semua bisa saja terjadi jika hati sudah buta," jelas Ustadz itu panjang lebar.


"Tapi siapa yang melakukan hal begitu di kost-kostan ya Ustadz?" tanya Deon penasaran.


"Saya tidak mau menuduh, tapi pasti ada diantara penghuni kost itu melakukan hal ghaib untuk kepentingannya," jawab Ustadz itu.


"Hahh, ternyata dimana pun kita berada, pasti ada hal berhubungan seperti itu di sekitar kita," ucap Deon.


Kemudian Umi datang membawakan teh anget ke mereka.

__ADS_1


"Ini minumannya, ngobrol jangan lupa minum nanti tenggorokan nya kering," ucap Umi mengingatkan.


"Terima kasih Umi," balas Isna dan Deon.


"Besok kalau kalian bertemu dengan nak Meka, tolong sampaikan, bahwa saya ingin bertemu. Karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan," pesan Ustadz itu.


"Baik Ustadz, kami akan sampaikan kepada Meka tentang pesan Ustadz," balas Deon.


"Siapa yang melayat ke pemakaman Dosen perempuan kalian itu?" tanya Kakek tua itu.


Deon dan Isna mengernyit dan saling menatap satu sama lain penuh arti.


"Kakek tau tentang kematian Bu Arin?" tanya Deon tak percaya.


"Saya tau kalau perempuan itu sudah gak ada. Mereka pengikut setia Ki Baron. Mungkin nak Deon dan Isna tidak mengingatnya. Tapi yang jelas saya mengetahuinya," jawab Kakak tua itu.


"Apakah anak kepala desa itu yang meninggal kek?" tanya Ustadz itu.


"Iya, anak pertama mereka. Sepenglihatan saya mereka sangat dendam terhadap nak Meka. Mereka menganggap, perginya anak mereka karena perbuatan nak Meka. Dan mungkin Meka akan mengalami banyak hal yang tak menyenangkan nantinya. Hahhh, semoga dia bisa melewatinya," khawatir Kakek itu.


"Apa yang terjadi? Dan apa hubungannya dengan nak Meka?" tanya Ustadz itu


"Bu Arin mencintai Pak Zain, Ustadz. Karena ambisinya ingin memiliki Pak Zain, dia rela meminta bantuan terhadap iblis untuk menarik jiwa Pak Zain dan dirinya agar bisa hidup di dunia lain. Tapi itu tidak terjadi. Karena Meka mengetahuinya dan segera membawa jiwa Pak Zain kembali ke raganya. Sedangkan Bu Arin tidak bisa kembali lagi ke tubuhnya. Dia terperangkap selamanya bersama iblis itu," jelas Deon menceritakan apa yang di sampaikan Meka.


"Dari nak Meka," Kakek tua itu yang menjawab.


"Jadi kalian tidak pergi melayat?" tanya Ustadz itu lagi.


"Tidak Ustadz, bahkan Meka dan Pak Zain tidak pergi. Pak Zain melarang Meka ke sana. Dia khawatir akan terjadi hal yang tak diinginkan jika mereka melihatnya," jawab Deon.


"Pasti itu, berhubung mereka tidak kesana, orang tuanya tidak bisa melampiaskan amarah mereka saat itu. Tapi bukan berarti mereka akan selesai begitu saja. Mereka tidak ikhlas atas kepergian anaknya yang sia-sia," ungkap Kakek tua itu.


"Maksud Kakek apa?" tanya Isna yang tiba-tiba datang bergabung dengan mereka.


"Setelah kejadian itu, orang tuanya akan tetap meminta bantuan dengan iblis untuk menghancurkan nak Meka. Saat ini Ki Baron sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Dia sudah menjadi budak iblis itu. Namun kepala desa itu masih bisa menjadi berkuasa di Desa itu jika dia bisa melanjutkan memberi tumbal untuk iblis itu dan imbalannya, dia akan membantu menghancurkan Meka," ungkap Kakek tua itu.


"Dari mana Kakek tau itu semua?" tanya Deon.


"Ki Baron menemui saya dalam mimpi dan mengatakan semuanya karena dia mendengar percakapan iblis itu dengan orang tua perempuan itu," jawab Kakek tua itu.


"Masya Allah....! Segitunya mereka ingin menghancurkan nak Meka. Padahal mereka memang bersalah sudah berada di jalur sesat," ucap Ustadz itu tak percaya.


"Bu Arin memang terlalu berambisi Ustadz. Meka sudah berusaha mengingatkannya. Sama halnya dengan sahabat kami dulu yang juga tersesat karena ambisi," balas Deon.

__ADS_1


Deon mengingat bagaimana Shinta yang memperlihatkan rasa sukanya terhadap Dosga mereka. Sampai harus berjauhan dan tak menjadi sahabat lagi bagi mereka. Dan itu juga terjadi dengan Bu Arin yang sangat ingin memiliki Dosga mereka.


"Hahhhhh, ntah siapa lagi yang akan menginginkan Pak Zain. Begitu besar pesonanya," ucap Deon kagum.


"Ini sudah malam, sebaiknya kalian beristirahat. Besok kalian akan pergi ke Kampus bukan?" tanya Ustadz itu.


"Iya Ustadz," jawab Deon.


"Kalau gitu saya pamit ke kamar Ustadz," Isna beranjak dari tempat duduknya.


Begitu juga dengan Deon. Dia pun ikut menyusul Isna. Mereka kembali ke kamar masing-masing.


Tinggallah Ustadz itu dan Kakek tua. Mereka ngobrol membahas hal yang tadi masih belum selesai. Ustadz itu menduganya, jika Pak Zain banyak yang menginginkannya. Dan hal itu akan membahayakan kehidupan Meka dan Pak Zain.


"Semoga Meka dan Pak Zain bisa melewati semuanya. Saya hanya khawatir dengan Pak Zain yang sama sekali tidak memiliki mata bathin, akan mudah di kelabui dengan seseorang," ucap Ustadz itu khawatir.


"Itu sudah Pasti Ustadz. Saya melihat dimana akan ada saatnya mereka di uji dengan kehadiran seseorang yang menginginkan Pak Zain dengan menggunakan bantuan iblis."


"Apa Kakek bisa melihatnya?" tanya Ustadz itu.


"Ya saya bisa melihatnya Ustadz. Sama halnya dengan kedatangan Meka ke Desa tua itu. Saya sudah melihatnya terlebih dahulu sebelum dia datang untuk merubah keadaan disana."


"Ternyata Kakek menyembunyikan kelebihan itu," ucap Ustadz itu kagum.


"Saya tidak ingin banyak orang yang mengetahuinya. Karena itu sangat berbahaya bagi istri dan diri saya Ustadz," balas Kakek itu.


"Apakah Meka bisa melihat hal yang akan terjadi dengannya?" tanya Ustadz itu penasaran.


"Tidak, dia hanya bisa melihat sesuatu yang terjadi dengan seseorang jika dia menggenggam tubuh orang tersebut. Nak Meka hanya bisa menerawang yang terjadi saat itu juga. Dan dia bisa merasakan hal buruk yang terjadi dengan seseorang," itu kelebihannya," ucap Kakek itu memberitahu.


"Dari mana Kakek tau?" tanya Ustadz itu lagi.


"Saya bisa melihatnya Ustadz," jawab Kakek itu.


"Kalau begitu, besok kita harus bertemu dengan nak Meka. Karena dia harus tau keadaan saat dia pergi," ucap Ustadz itu.


"Ya Ustadz benar, kita harus memberitahunya dan mengingatkannya."


"Baiklah kek, karena malam sudah semakin larut, lebih baik kita segera beristirahat."


"Baiklah." balas Kakek itu.


Mereka pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Malam memang semakin larut, suara-suara hewan sahut bersahutan membuat suasana rumah itu semakin terasa sunyi.


__ADS_2