Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 130


__ADS_3

Meka penasaran dengan apa yang akan di ceritakan orang tua Shinta. Saat Meka melamun dia melihat sekelebet bayangan putih melintas dari depan. Meka terkejut tapi dia bisa mengendalikannya.


"Siapa dia? Kenapa mencoba menggangguku?" bathin Meka yang terus menatap sosok itu berhenti di pinggiran jalan dengan wajah menunduk.


Meka tak bisa jelas melihat wajahnya. Tapi Meka seperti merasakan dia mengenalnya.


"Sayang, kamu lihatin apa?" tanya Zain sambil fokus menyetir.


"Aku lihat bayangan putih disebelah sana Mas. Aku seperti mengenalnya Mas," jawab Meka.


"Kenapa Mek?" tanya Isna dari belakang.


"Aku melihat sepertinya itu Shinta," jawab Meka.


"Serius Lo Mek..!" sambung Deon.


"Ntahlah, tapi aku merasakan mengenal sosok itu. Tapi, masa sih itu Shinta?" tanya Meka.


"Hah, masih misteri ya Mek. Tapi kita akan menemukan jawabannya setelah bertemu dengan orang tua Shinta," ungkap Isna.


"Ya, Lo benar Na. Kita tunggu aja sampai nanti bertemu dengan mereka," sambung Meka.


"Oh ya Mas, apa Mas tadi bertemu dengan Bu Arin?" tanya Meka sambil menoleh ke Zain.


"Tadi waktu Mas ke ruangan Pak Ahmad, tidak melihat sama sekali. Mungkin dia sedang masuk ke ruangan lain," jawab Zain.


"Emang ada apa dengan Bu Arin Mek?" Isna tiba-tiba nyambung dari belakang.


"Oh gak ada apa-apa Na. Hanya ingin mengetahui keberadaannya saja," bohong Meka.


Meka tak mungkin menceritakan tentang Bu Arin yang membuat teman-teman mereka hilang. Dan tentunya Isna sama Deon tidak mengingatnya.


Tak terasa waktu yang mereka tempuh tak begitu lama. Dan perjalanan juga tidak macet, sehingga mereka bisa segera sampai ke rumahnya eyang Shinta.


Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang bergaya kuno, dengan gapura berukiran serta pohon yang sangat rindang menambah suasana rumah itu sedikit mistis.


Zain dan Meka keluar dari mobil dan di ikuti sama Isna dan Deon.


"Mek, nih rumah eyangnya Shinta ya? Sejuk banget ya tempatnya," tanya Isna yang kagum melihat bangunan adat jawanya.


"Iya, ini sudah sesuai lokasi yang di kirimkan Mamanya Shinta," jawab Meka.


"Ya udah yuk kita masuk aja," ajak Deon yang nyambung.

__ADS_1


"Lebih baik kita masuk sekarang sayang, gak baik berlama-lama berdiri di depan rumah orang," Zain angkat bicara.


"Iya Mas, ayo."


Mereka berempat segera masuk ke dalam halaman rumah itu. Ternyata di teras rumah sudah menunggu seorang wanita paruh baya bersama laki-laki yang juga sudah paruh bayah.


"Eh Mek, itu orang tuanya Shinta ya?" tanya Isna yang melihat keduanya dari kejauhan.


"Gw gak tau Na. Gw juga belom pernah ketemu sama orang tuanya Shinta," jawab Meka.


Saat mereka sampai di teras rumah. Keduanya tersenyum menyambut kedatangan Meka.


"Assalamu'alaikum Pak, Bu," ucap Zain sopan.


"Wa'alaikumussalam," jawab Ibu itu.


"Apa kalian temannya Almarhum anak kami Shinta?" tanya Bapaknya ketika memandang Meka dan yang lainnya.


"Benar Pak, Bu. Kami teman-temannya Shinta. dan ini salah satu Dosga dari Kampus kami Bu," ucap Meka memperkenalkan diri.


"Ayo, ayo silahkan Pak, nak Meka sama teman yang lainnya masuk dulu. Lebih enak kita ngobrol di dalam toh," ucap Bapaknya Shinta.


Pak Zain dan Meka serta kedua sahabatnya masuk ke dalam mengikuti Tuan rumah.


Meka melihat sekeliling ruangan itu. Dimana banyak sekali di pajang foto Shinta bersama eyangnya.


Zain dan Meka duduk bersebelahan, sedangkan Isna dan Deon duduk di seberang Meka yang berhadapan dengan orang tua Shinta.


"Maaf Bu, kami telat untuk datang ke sini. Dan kami juga baru dengar tentang Khabar duka ini," Meka membuka suara ketika mereka sudah kumpul.


"Kami, turut berduka cita ya Bu atas kepergian Shinta. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan di tempatkan yang terbaik," sambung Zain.


"Iya Bu, kami juga sangat kehilangan Shinta, dia teman yang baik. Dan kami benar-benar tidak menyangka akan terjadi seperti ini," Deon pun ikut bersuara.


Sedangkan Isna, dia hanya mengangguk membenarkan semua ucapan mereka.


"Hiks hiks hiks, Ibu senang Pak Dosen dan teman-temannya Shinta datang kemari untuk berbelasungkawa. Tapi kami meminta nak Meka kemari karena ada hal yang ingin Ibu sampaikan," terang Ibunya Shinta.


"Maksud Ibu gimana ya?" tanya Meka bingung.


"Pak, sepertinya Bapak saja yang menceritakannya. Ibu gak sanggup Pak," pinta Ibunya Shinta kepada suaminya.


Bapaknya Shinta menatap satu persatu ke arah mereka, kemudian dia menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya sama Pak Dosen dan yang lainnya. Bapak ingin bertanya sesuatu," ucap Bapaknya Shinta.


"Tentang apa ya Pak?" tanya Deon yang langsung menjawab.


"Ini tentang sesuatu yang berbau mistis. Belakangan ini Shinta sering sekali ngomong sendirian. Dia sering bilang, maafkan aku, maafkan aku, jangan bawa aku...!" begitu dia berbicara hampir setiap hari.


Ibunya Shinta tak tahan mendengar suaminya berbicara seperti itu. Hatinya terasa tersayat di kala Shinta mau pergi dengan keadaan tak wajar berada dihadapannya.


"Bapak sempat bertanya, kamu minta maaf sama siapa nduk? Kenapa minta maaf? Bapak nanya seperti itu ke Shinta karena kami bingung dengan tingkahnya yang aneh," terang Bapaknya.


"Shinta bilang apa Pak sama Bapak? Sama siapa dia minta maaf?" tanya Isna.


Bapak dan Ibunya Shinta menoleh ke arah Meka. Mereka diam sejenak.


"Shinta berkata dengan memandang Bapak, tatapannya kosong tapi dia masih bisa ngomong jelas. Dia meminta maaf sama nak Meka dan Pak Zain," ucap Bapak itu.


Meka dan Zain saling melihat, mereka menyadari bahwa Shinta sangat menyesal.


Meka sudah menduga ini akan terjadi. Dia tidak terkejut dengan hal seperti ini. Karena Meka sudah pernah memperingati Shinta untuk menyudahinya. Namun Shinta bersikeras untuk mendapatkan Dosga mereka.


"Kalau boleh kami tau, kenapa Shinta harus minta maaf sama nak Meka? Dan apakah Pak Dosen ini yang bernama Zain?" tanya Ibunya Shinta.


"Ceritanya juga panjang Bu. Tapi saya akan menceritakan singkat saja," ucap Meka.


"Gak apa-apa nak. Kami ingin mendengarnya. Dengan begitu, rasa penasaran di diri kami akan terjawab," balas Bapaknya Shinta.


"Dulu Shinta itu sahabat kami bertiga. Kemana-mana kami sering bareng. Dan Pak Zain ini adalah salah satu Dosen terpopuler di Kampus. Awalnya saya tidak tau kalau Pak Zain menyukai saya. Dan saya juga menyukainya. Namun kami ketiga sahabatnya Shinta tidak mengetahui kalau dia ternyata juga mencintai Dosga kami ini. Hingga dia memutuskan menjauh dari kami dan menggunakan ilmu pelet untuk mendapatkan Pak zain," jelas Meka.


Saat Meka ingin melanjutkan ceritanya dia lagi-lagi melihat sekelebet bayangan putih melintas dan pergi masuk ke dalam salah satu kamar disitu.


"Apa! Pelet kamu bilang? Gak mungkin anak saya Shinta melakukan itu! Kamu pasti berbohong kan!" Raung Ibunya tiba-tiba.


"Bu sabar, dengarkan dulu cerita nak Meka. Dia belum selesai menceritakannya," ucap suaminya yang menenangkan istrinya.


"Shinta mencoba menjauhkan saya dari Pak Zain dengan cara mengirim genduruwo ke tempat tinggal saya. Maaf sebelumnya saya belum mengatakan kalau Pak Zain ini adalah suami saya," sambung Meka ceritanya.


Bapak dan Ibunya Shinta terkejut, mereka terbengong melihat Zain dan Meka.


"Maksud nak Meka, kalian ini sudah menikah?" tanya Bapaknya tak percaya.


"Iya Pak. Ini istri saya. Kami sudah menikah lama. Shinta mengirimkan sosok mahluk halus untuk menyerupai wajah saya dan menggantikan posisi saya. Sedangkan saya akan dekat dengan Shinta. Dan dengan bantuan pelet yang dimilikinya. Istri saya sudah memperingatinya, namun Shinta tak mau mendengar. Dan karena usahanya tak berjalan sesuai harapannya, maka sosok itu kembali kepadanya," terang Zain yang menyambung cerita Meka.


"Astaghfirullahal'adzim nak....! Shinta....kenapa kamu berbuat seperti itu! Hiks hiks hiks," raung Ibunya sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Disaat keadaan menyedihkan itu berlangsung, Shinta berdiri di hadapan Meka. Dia tersenyum tulus melihat Meka dan Pak Zain.


"Meeekaaa, aaakkuuuu miiintaaa maaaff. Aaaku meenyeeesaaal Meeek!" Shinta mengeluarkan air matanya. Tapi bukan air mata seperti manusia, melainkan air mata darah.


__ADS_2