Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 39


__ADS_3

Meka terdiam berdiri di depan halamannya. Dan Abang dari Papanya melihat kedatangan Meka. Lalu dibelakang Meka, Dosganya berdiri mematung juga, antara bingung dan tidak mengerti dengan situasi yang ada dihadapannya.


Omnya datang menghampiri Meka dan memeluk Meka sambil menangis.


"Ikhlaskan ya nak, Mama dan adik kamu!" ucap Omnya yang menatap Meka dengan sendu.


Bak disambar petir, Meka tak percaya mendengar apa yang dikatakan Omnya. Lalu diapun berteriak.


"Mama......!!!" Meka berlari masuk kedalam rumahnya melewati orang-orang yang melayat. Air matanya jatuh tak tertahankan. Meka histeris saat melihat tubuh kaku Mama dan adiknya yang tersayang.


"Mama...!! Kenapa ninggalin Meka..!! Kenapa Meka harus ke Sumatera melihat keadaan ini!! Hiks hiks hiks," Meka memeluk tubuh Mamanya sambil menangis. Lalu dia beralih ke adiknya.


"Biyuuuu!! Kakak sayang sama Biyu..!! Ayo bangun dek!! Jangan tinggalin kakak, siapa jagoan kami!! Hiks hiks hiks hiks," Meka gak bisa menahan kesedihannya, dia terus menangis.


Lalu Papanya datang kehadapan Meka dan memeluk anaknya dengan kesedihan yang mendalam.


"Papa..!!" Meka membalas pelukan Papanya menumpahkan semua kesedihannya.


"Kenapa Mama ninggalin kita Pa..!" Meka menganiaya pilu.


"Ikhlaskan ya sayang. Jangan menangis seperti ini. Nanti Mama dan Biyu sedih meninggalkan kita dan mereka akan berat melangkah," ucap Papanya sambil menangis.


"Maafin Meka, Pa. Ini semua karena Meka. Seharusnya Meka tidak membiarkan Mama berangkat hari ini. Meka sudah merasakan hal yang aneh terhadap Mama. Maafin Meka, Ma...!" Meka terisak-isak dipelukan Papanya.


"Kamu tidak salah sayang, semua sudah takdir dari Allah SWT. Jangan tangisi kepergian mereka ya nak, ikhlaskan lah Mama dan adikmu. Papa juga sebenarnya berat, tapi mereka sudah pergi," Papanya Meka juga sangat terpukul dengan kepergian istri dan anaknya.


"Meka, ikhlaskan nak kepergian Mama kamu dan juga adikmu. Kita semua juga sangat terpukul atas kepergian mereka berdua. Tapi kamu harus mendo'akan Mama dan adikmu agar tenang disisi Allah SWT," ucap Omnya yang datang dari luar.


Sedangkan Dosganya ikut bergabung dengan para tetangga yang datang melayat. Dia duduk di teras depan rumahnya Meka.


"Anak ini dari mana ya? Dan siapanya Meka?" tanya salah satu tetangga yang gabung bersamanya.


"Saya Dosen dikampusnya Meka. Tadi kebetulan saya satu Pesawat dan punya tujuan yang sama," jawab Zain yang terpaksa berbohong. Zain takut akan ada timbul fitnah terhadap Meka jika dia mengatakan, dia ikut Meka pulang kerumahnya. Makanya dia sedikit berbohong.


"Oh...," jawab tetangga yang bertanya itu.


Lalu Zain masuk kedalam dan melihat Meka berada dipelukan Papanya dengan berderai air mata. Dia pun mendekati Papa dan Mekanya. Zain menyalami Papanya dan memperkenalkan dirinya.


"Om, saya turut bersuka cita atas Mama dan adik Meka. Om yang tabah ya, semoga amal ibadah Mamanya Meka diterima Allah SWT. Saya Zain temannya Meka, Om," Zain mencium punggung tangan Papanya Meka.

__ADS_1


Meka mengangguk kearah Papanya dan menyuruh Zain untuk gabung sama Papa dan Omnya. Sedangkan Meka duduk ditengah-tengah antara jenazah Mamanya dan adiknya. Dia sangat terpukul dan tak percaya secepat ini kehilangan kedua orang yang disayanginya.


Meka jadi teringat dengan bisikkan yang disampaikan ketelinga Meka.


"Apa ini ya yang dimaksud ikhlaskan dan harus kuat! Tapi kenapa bisa aku yang mengalaminya?" bathin Meka yang masih terisak-isak menangis.


Meka terus menatap wajah Mamanya yang tersenyum. Dia masih seperti merasakan belaian tangan Mamanya dan teringat akan senyuman Mamanya sebelum pergi meninggalkan Jogja.


"Ma, Meka sendirian Ma! Meka mau curhat sama siapa Ma! Siapa yang nanti marahin Meka jika berbuat kesalahan Ma! Hiks hiks hiks," Meka berbicara dihadapan jenazah Mamanya.


Lalu Zain menghampiri Meka dan mengusap-usap punggung Meka.


"Sayang sabar ya. Kamu harus tabah dan tegar


Ini semua sudah kehendak Allah SWT. Do'akan Mama kamu, kirimkan bacaan-bacaan do'a buat Mama kamu agar Mama kamu senang disana," Zain berusaha menghibur Meka agar mengikhlaskan semua yang terjadi.


Meka belom bisa menerima kepergian Mama dan adiknya. Karena baginya ini sangat mendadak. Seakan-akan ini hanya mimpi yang dirasakan Meka.


"Meka....!" Tantenya Meka datang menghampiri Meka dan memeluk Meka sambil menangis pilu.


"Tante...!" Meka membalas pelukan tantenya dan menangis lagi.


"Sayang, kamu yang tabah ya, dan juga harus mengikhlaskan semua ini. Tante juga awalnya gak percaya, tapi inilah kenyataannya."


"Sayaaaang, ini nyata. Mama dan adik kamu benar-benar sudah tiada," Tantenya Meka memeluk Meka dengan rasa pilu yang mendalam.


"Tapi, kemaren Mama masih ada Tante...! Mama masih memeluk Meka Tan!" Meka seperti orang setress karena merasa terpukul dengan kepergian Mamanya.


"Sadar sayang, sadar Meka...! Mama kamu udah tidak ada. Lihat itu...! Tantenya Meka menunjuk jenazah Mama dan adiknya.


"Tante, Meka mau duduk dekat Mama dan Biyu. Mereka pasti senang dengan kedatangan Meka. Ayo Tan, kita duduk," Meka benar-benar sudah kehilangan kendali. Dia seperti orang setress.


Lalu Tantenya pergi menemui suami dan adik iparnya.


"Bang, si Meka bang! Dia sudah setress, dia masih gak mau menerima kenyataan ini bang! hiks hiks hiks," istrinya memberitahukan keadaan Meka.


"Gimana ini bang! Aku gak sanggup bang menegur Meka. Dia sangat terpukul kehilangan Mamanya dan adiknya," ucap Papanya Meka.


Tiba-tiba datang Zain menghampiri mereka yang sedang berkumpul.

__ADS_1


"Ada apa Om, Tante?" tanya Zain saat berdiri dihadapan Meka.


"Nak Zain, sepertinya Meka terguncang jiwanya karena kehilangan Mama dan adiknya. Om tidak tega membawanya dari sana. Apa yang harus kita lakukan nak Zain?" tanya Papanya Meka yang sedikit frustasi.


"Biar saya aja Om yang bawa Meka dari sana. Biar saya yang coba menenangkan Meka. Biar malam ini Meka istirahat dulu Om. Kemana kamar tempat Meka istirahat Om?" tanya Zain.


Lalu Tantenya memberitahukan kamar Meka. Dan Zain menghampiri Meka yang sedang senyum-senyum gak jelas. Zain menggelengkan kepalanya melihat sikap Meka yang nyeleneh.


"Sayang, ayo kamu istirahat dulu. Masa bau badan, dekat-dekat sama mereka," ucap Zain sambil menggenggam tangan Meka untuk bisa berdiri.


"Ma, Biyu, Meka mandi dulu ya. Nanti Meka kemari lagi, Meka masih kangen sama kalian berdua," ucap Meka seperti anak kecil yang manja terhadap Mamanya.


Papanya yang melihat tingkah Meka seperti itu, semakin menangis pilu. Air matanya lagi dan lagi keluar bebas tanpa kompromi.


"Kasihan kamu nak, harus ditinggal Mama dan adik kamu. Pasti kamu syok banget ya sayang!" bathin Papanya yang menatap kepergian Meka kekamarnya.


Zain terus berjalan membawa Meka kekamarnya. Lalu dia memandikan Meka dan memakaikan Meka bajunya. Setelah itu Zain mencoba perlahan-lahan membuat Meka menyadari kehilangan Mama dan adiknya. Meka berteriak histeris didalam kamar. Tentunya hanya Zain yang mendengar karena kamarnya kedap suara.


"Tidak asal, Mama ku masih hidup! Kamu jangan bohongin aku Zain!" teriak Meka sambil mengacak-acak kamarnya.


"Sayang, kamu harus sadar. Mereka sudah pergi tau!" bentak Zain sambil memeluk tubuh rapuh Meka.


Meka menangis histeris dan memukul-mukul punggung Zain yang menjadi sasarannya.


"Kamu bohong Zain, Mama masih ada," Cha menangis dengan suara pelan.


"Kamu tenangkan diri kamu ya sayang, coba tarik nafas kamu dan beristighfar sayang," Zain menuntun Meka untuk beristighfar dan melantunkan ayat-ayat suci sebagai penenangnya.


Meka mulai merasa tenang dan akhirnya diapun tertidur. Zain menggendongnya dan membawanya keatas tempat tidur dibaringkan. Zain menatap wajah Meka dengan Iba dan terluka.


"Kasihan kamu sayang, harus kehilangan Mama dan adikmu. Padahal baru tadi kalian bercengkrama, dan ternyata itu perpisahan untuk mu yang. Mamamu sudah memberikan tanda akan kepergiannya," gumam Zain sambil membelai rambut yg Meka.


Lalu Zain merebahkan tubuhnya diatas sofa depan TV. Dia pun merasa lelah dengan perjalanan mereka tadi. Zain memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak. Mereka berdua tertidur pulas.


Kemudian, Tantenya Meka masuk kedalam kamar dan melihat Meka dan Zain sudah tertidur pulas. Perlahan Tantenya menutup kembali pintu kamarnya Meka.


"Gimana dengan Meka kak?" tanya Papanya Meka.


"Meka nya sudah tidur ditempat tidur. Dan temannya tidur disofa. Sepertinya mereka berdua kelelahan karena perjalanan lama dan jauh," ucap kakak iparnya.

__ADS_1


Papanya Meka membuang pintu kamarnya sebentar, memastikan melihat keadaan Meka didalam. Setelah itu dia menutup kembali pintu kamarnya Meka dan pergi kembali ke ruangan tamu dimana masih ada yang datang melayat.


Malam pun semakin larut. Semua orang sudah pada kembali kerumahnya masing-masing. Hanya tinggal pihak keluarga yang berada dirumah Meka.


__ADS_2