
Setelah kepergian Ustadz Ahmad dan rombongannya, keadaan kembali menegang. Papanya Meka dan Omnya tidak ingin berlama-lama di rumah besannya. Mereka berinisiatif untuk kembali ke hotel. Tempat yang mereka kira nyaman ternyata menyimpan banyak rasa ketidaksukaan terhadapnya kehadiran keluarga Meka.
"Pak Besan, saya dan adik ipar saya pamit untuk kembali ke hotel. Kami tidak bisa lama-lama di Kita ini," ucap Papanya Meka.
"Loh Mas, kenapa cepat sekali. Menginaplah di sini. Kami ingin ngobrol banyak dengan Mas. Apalagi kita baru ketemu. Dan belum tau kapan kita bisa bertemu lagi," mohon Papanya Zain yang merasa tidak enak karena tingkah Ibunya.
"Iya Pak besan, kita belum kenal satu sama lain. Kami ingin mengenal banyak tentang keluarga Meka. Kalian menginaplah di sini sampai kembali ke Medan," sambung Mamanya.
Di sisi lain, Omanya Zain yang duduk di dekat meja makan, mendengus mendengar ucapan mantunya yang menjijikkan baginya.
"Dasar wanita murahan. Maunya merendahkan diri untuk orang lain," cibir Omanya Zain.
"Iya Ma, aku juga tidak suka dengan Kakak ipar. Dia sok terlihat baik di hadapan orang lain. Coba sama Mama, wajahnya begitu jutek," Mamanya Mona terus memprovokasi mertuanya agar membenci iparnya itu.
"Masa sih? Kok Mama gak begitu memperhatikannya ya," balas mertuanya gak percaya.
Mamanya Mona terus mencoba menghasut mertuanya yang gampang di provokasi. Tinggal di bumbui cabe langsung panas meledak.
"Loh emang Mama gak memperhatikannya ya. Hmmmm, aku sering melihatnya Ma. Wajah dia itu jutek dan dia juga sinis menatap Mama ketika dia berlalu saat selesai berbicara," balas Mamanya Mona dengan senyum menyeringai. "Kalau Mama gak percaya, perhatikan saja dia, saat Mama menjatuhkannya," ucapnya lagi yang semakin membuat mertuanya membenci iparnya itu.
Omanya pun berpikir, dia terus memandang ke arah menantunya itu. Omanya Zain membagi tidak begitu menyukai menantunya yang satu itu. Karena dia dari keluarga yang tidak jelas. Dan orang yang sudah membuat anaknya bertekuk lutut di hadapannya.
Kemudian Mona tiba-tiba bergelayut manja menghampiri Omanya.
"Oma...., gimana dong. Aku sangat mencintai Kakak Zain. Aku gak bisa kehilangan dia Oma," rengek Mona yang tentu saja berpura-pura.
"Oma harus bagaimana sayang?" tanya Omanya yang sangat menyayangi Mona cucunya.
"Apa Oma mau membantuku menyingkirkan wanita itu?" tanya Mona yang merasa kemenangannya sebentar lagi akan berada di tangannya.
"Tentu Oma akan membantumu sayang. Apa yang bisa Oma bantu?" tanya Omanya.
Mona pun mendekatkan bibirnya ke telinga Omanya lalu membisikkan sesuatu ke telinga Omanya.
__ADS_1
"Apa!" pekik Omanya kaget.
Seketika mereka yang berada di dekat Oma dan Mona terkejut. Mereka semua menoleh ke Omanya dengan wajah kaget.
"Ada apa Ma?" tanya Papanya Zain.
"Ah tidak apa-apa nak. Mama hanya kaget Mona ngerjain Mama," jawab Mamanya dengan berbohong.
"Lanjutkan obrolan kalian," lanjut Mamanya.
Papanya Zain dan besannya lanjut mengobrol. Membahas tentang keinginan Papanya Zain mengajak keluarga Meka untuk tinggal di rumah ini.
Sementara Omanya Zain dan Mona lanjut membahas tentang keinginan Mona untuk membuat Omanya membantu dirinya.
"Gimana Oma?" tanya Mona yang gak sabaran.
"Oma mau membantunya sayang. Tapi Oma takut ketahuan sama Zain dan istrinya itu," jawab Omanya.
"Apa seperti itu?" tanya Omanya yangemang sudah tua dan tidak bisa berpikir baik lagi.
"Tentu Oma. Mona yakin kalau ini akan berhasil membuat Zain mencampakkan wanita sialan itu. Gara-gara dia, Zain ku berpaling dariku Oma," ucap Mona dengan menampilkan wajah sendunya. Padahal tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Baiklah Oma akan membantumu sayang. Tapi harus ada imbalannya dong sayang," ucap Omanya dengan wajah malu-malu.
"Dasar Nenek tua. Bisa-bisanya dia bernegosiasi denganku dalam hal ini. Tapi sudahlah, yang penting dia mau membantuku menyingkirkan wanita sialan itu," bathin Mona kesal.
"Kok malah diam sih Mona. Gimana, setuju gak?" tanya Omanya lagi.
"Hehehe, tentu Oma. Memangnya Oma mau apa?" tanya Mona hati-hati.
"Mmmm, gimana kalau Mona cucuku sayang memberikan Oma tas Hermes limited edition," jawab Omanya.
Dan itu membuat Mona dan Mamanya terkejut sampai mata mereka melotot hampir keluar dari sarangnya.
__ADS_1
"A--apa Oma?" Tas Hermes limited Edition?" tanya Mona tak percaya.
"Iya sayang. Walaupun Oma sudah tua begini, tapi untuk penampilan tentu Oma harus terlihat modis dan gaya. Mana mau Oma tas kresek murahan. Kalau kamu tidak bisa memberikannya, ya sudah. Biar Oma mintanya sama istrinya si Zain itu aja," jawab Omanya yang memang sengaja memaksa Mona menyetujuinya.
Omanya juga tau kalau Mona dan Mamanya terkenal pelit terhadapnya. Tidak pernah memberikan benda yang berharga. Berbeda dengan menantunya Mamanya Zain. Walaupun Omanya tidak menyukainya, tapi dia selalu memberikan barnag yang berharga.
Mona seketika menoleh ke arah Mamanya meminta pendapatnya dengan menaikkan alis matanya.
Mamanya Mona hanya bisa mengedikkan bahunya tanda pasrah. Mamanya Mona memilih diam tapi dalam hatinya mengatakan banyak sumpah serpaah buat Nenek tua yang menjadi mertuanya itu.
"B--baikalh Oma, aku akan membelikannya buat Oma segera. Tapi kapan Oma mulai melakukannya?" tanya Mona yang akhirnya menyetujui walupun harus banyak mengorbankan segalanya. Keinginannya sudah membutakan mata hatinya demi mendapatkan Zain.
"Kapan kamu memberikannya, Oma akan melakukannya. Yakinlah sama Oma, kamu akan berhasil mendapatkan Zain," balas Omanya dengan senyum yang penuh percaya diri.
Seketika senyuman terbitan di wajah Mona dan Mamanya. Senyum yang hanya mereka berdua tau apa makna di balik senyuman itu. Kesepakatan sudah terjadi antara Omanya dan Mona serta Mamanya. Mona sudah tidak sabar ingin memiliki Zain seutuhnya dan menikmati hidup bergelimang harta.
Sementara di obrolan Papanya Zain dan Meka, masih belum menemukan kesepakatan. Papanya Meka masih tidak tertarik menginap di rumah ini.
"Pa, menginaplah di sini dulu. Mama dan Papa Zain ingin mengenal keluarga Meka lebih banyak. Papa mau ya nginep di sini?" bujuk Zain menantunya.
Papanya Zain menoleh ke arah Sandy iparnya dan istrinya Sandy meminta pendapat dukungan.
"Iya Bang, kita menginap saja di sini. Biar kita juga bisa mengetahui keluarga Zain," Omnya Meka memberikan masukan kepada Abang iparnya.
"Baikalah, kami akan menginap di sini. Maaf kalau saya dan keluarga membuat kalian tidak enak," ucap Papanya Meka.
"Justru kami yang meminta maaf atas kejadian yang terjadi tadi. Saya selaku kepala keluarga benar-benar meminta maaf. Semoga kita bisa menjadi besanan yang tetap menjaga silaturrahmi dengan baik," balas Papanya Zain.
"Aamiin," sahut Meka dan Zain.
"Aamiin," balas Mamanya Zain dan yang lainnya.
Mereka pun kembali ngobrol santai dan semakin seru. Akan tetapi dalam pikiran Papanya Meka, dia masih bertanya-tanya tentang mahluk bayangan hitam yang di lihatnya di dekat jendela tertutup tadi. Dia ingin bertanya ke Meka, namun waktunya tidak tepat. Krn Meka dalam keadaan yang masih bahagia menjalankan acara pestanya.
__ADS_1