Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 188


__ADS_3

Isna masih memandang dengan mata menyipit mencari apa yang terlihat aneh. Namun hasilnya nihil. Isna tak bisa melihat Khodamnya Meka yang memang sedang berada di belakang Deon.


"Aku tidak ada melihat apapun di belakang kamu Deon," bisik Isna lagi.


"Tapi kenapa bulu kuduk belakang tengkukku merinding Na. Kayaknya ada demit deh Na. Mungkin kamu gak bisa lihat, tapi Meka pasti bisa lihat, makanya dia tersenyum tadi," jelas Deon yang masih belum puas dengan penglihatan Isna.


"Emang tadi kamu lihat Meka tersenyum ke arah belakang kamu De?" tanya Isna menaikkan alisnya.


"Iya loh Na...aku lihat jelas kalau tadi Meka itu sedang tersenyum tapi tidak denganku. Melainkan dengan sesuatu yang ada di belakang ku," balas Deon lagi.


Saat mereka beradu kata, tiba-tiba mereka yang ada di ruangan itu di kejutkan dengan suara meledak kuat di atas atap rumah Ustadz itu.


"BUM," suara ledakan dahsyat hingga membuat pendengaran mereka sakit.


"PRANG," lanjut suara barang pecahan yang dilemparkan di depan pintu.


Sontak semua terkejut hingga ketika suara itu saling sambung.


"Astaghfirullahal'adzim, suara apa itu Mek....!" teriak Deon.


Deon langsung maju ke dekat Meka dan Dosga mereka. Begitu juga dengan Isna yang ikut lari mendekat ke Meka.


"Nak Deon, sebaiknya kalian tenang. Biarkan bunyi itu terdengar di telinga kalian. Toh nanti juga menghilang," jawab Ustadz Ahmad.


"Kakek, Ustadz, lebih baik kita beristirahat malam ini. Karena besok malam kita akan menghadapi sesuatu yang lebih mengerikan," jelas Meka.


"Kakek setuju Meka. Apa Khodammu memberitahumu?" tanya Kakek itu yang langsung menebaknya.


Meka pun mengangguk membenarkan pertanyaan si Kakek.


"Kalau gitu kita istirahat malam ini. Biarkan mahluk-mahluk itu berbuat ulah. Tidak akan ada yang bisa menembus pagar ghaib itu," ucap Kakek tua itu.

__ADS_1


Kakek tua itu tau kalau Khodamnya Meka telah membuat pagar ghaib untuk mereka. Sebagai penghalau serangan dari mahluk ghaib yang ada di luar rumah.


"Baik kek," balas Meka.


"Ayo nak Deon dan Isna kita istirahat," ajak Ustadz Ahmad.


"Tapi Ustadz, saya tidak berani kalau tidur sendirian di kamar. Gimana dong Ustadz?" tanya Isna bingung.


"Kalau gitu kamu tidur sama Ummi di kamar. Biar saya sama nak Deon di kamar yang satunya lagi," jawab Ustadz Ahmad.


"Tidak usah Ustadz biar saya aja yang nemani Isna, dan Deon bersama Pak Zain," ucap Meka menyela ucapan Ustadz Ahmad.


"Iya Ustadz, biar saya yang tidur di kamar dengan Deon," sambung Pak Zain.


"Baiklah kalau gitu. Ayo lebih baik istirahat sekarang, karena besok nak Meka dan Pak Zain akan berangkat ke Desa tua," balas Ustadz Ahmad.


"Baik Ustadz," ucap Meka dan yang lainnya.


Mahluk ghaib yang dikirim iblis itu membuat keributan, ada yang melempar-lempar kotoran mereka di atas atap rumah Ustadz Ahmad. Ada juga yang menggedor-gedor pintu rumah itu dan ada juga yang mengamuk hingga memukul dan mencakar-cakar dinding rumah Ustadz itu.


Meka dan yang lainnya tidak mendengar sama sekali keributan yang dilakukan mahluk itu. Khodamnya Meka sudah memberikan pagar ghaib yang membentengi rumah itu dari segala gangguan yang terjadi di luar rumah.


Meka dan Isna masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar Deon dan Pak Zain.


"Mek, kayaknya besok gw dan Deon mau ke Semarang deh. Karena Deon ngajak gw tadi buat jenguk Mamanya," ucap Isna ketika mereka sudah berada di kamar.


"Oh iya, jam berapa kalian pergi?" tanya Meka.


"Mungkin barengan aja sama Lo. Besok Lo kan keluar pagi, nah kami juga akan berangkat pagi biar bisa tiba disana tidak sorean," jawab Isna.


Meka yang tidak pernah curiga ataupun polos, selalu menganggap apa yang di katakan sahabatnya sesuatu yang benar. Namun kali ini Meka salah, karena ternyata sahabatnya tidak ingin terlibat dalam urusan ataupun masalah yang dihadapi Meka.

__ADS_1


Isna berbohong dengan mengatakan bahwa mereka akan pergi ke Semarang besok pagi. Dia melakukan itu karena menghindari kejadian yang menakutkan nantinya. Isna dan Deon sudah merasa jenuh dengan semua peristiwa yang di alami mereka. Sehingga dia memutuskan tidak mau ikut campur urusan Meka.


"Kalian hati-hati di jalan besok kalau berangkat. Maaf, gw gak bisa nemani kalian ke sana. Salam buat Mamanya Deon kalau kalian sudah sampai disana," ucap Meka tulus.


"Pasti Mek, gw akan sampaikan salam Lo buat Mamanya Deon. Sekarang lebih baik Lo tidur. Bukankah besok Lo harus berangkat pagi juga," balas Isna.


"Iya, ayo tidur," ajak Meka.


Lalu kedua sahabat itu naik ke tempat tidur. Dan Meka memejamkan matanya.


Sementara Isna tidak bisa memejamkan matanya. Dia mengirim pesan dengan Deon. Isna menceritakan kepada Deon tentang kebohongannya terhadap Meka.


"De, tadi aku bilang ke Meka kalau besok kita akan berangkat ke Semarang menemui Mama kamu. Aku tidak mau kita ikut terseret dalam masalah yang dihadapi Meka. Kamu paham kan maksudku?" pesan Isna terkirim.


Sedangkan Deon yang berada di kamar sebelah dengan Pak Zain, mendengar notifikasi berbunyi. Lalu Deon mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk dari Isna. Deon sempat mengernyitkan keningnya melihat bingung dengan Isna yang mengirim pesan.


Kemudian Deon membuka pesan dari Isna dan dia membacanya. Deon diam sejenak dan sekilas menoleh ke arah Pak Zain.


Lalu Deon pun membalas pesan dari Isna yang sudah dibacanya.


"Kenapa kamu berbohong sama Meka? Kalau Meka tau kamu bohong, bisa-bisa dia membenci kita Na," balas Deon dan mengirimnya segera.


Di kamar Isna menerima balasan pesan dari Deon. Dia membuka isi pesan itu. Isna merasa kesal karena Deon memikirkan Meka.


"Sudah biarkan aja. Itu urusan belakangan. Yang penting kita tidak terseret dalam masalah Meka. Kalaupun ketahuan, kita minta maaf. Kamu tau kan Meka tidak akan marah sama kita. Dia pasti memaafkan kita dan mengerti keadaan kita," balas Isna panjang.


Deon pun yang berada di seberang kamar, menerima balasan pesan dari Isna kembali. Dia membuka pesan tersebut dan membacanya. Deon menarik nafas beratnya. Dia tidak ingin melakukannya, karena Meka sudah sangat membantu dirinya. Namun dia juga tidak bisa mengabaikan Isna yang menjadi kekasihnya.


Deon pun bingung untuk menentukan keputusan apa yang akan di ambilnya. Karena Meka sahabat mereka. Deon bingung harus memilih yang mana. Mendengarkan keinginan Isna kekasihnya atau tetap berada disini bersama Meka dan yang lainnya.


Deon tidak bisa mengambil keputusan, lalu dia memilih membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya hingga dia pun tertidur dengan pulasnya.

__ADS_1


__ADS_2