
Zain menoleh kearah Meka. Dia mengerti kalau istrinya tidak suka dan nyaman dengan obrolan itu. Lalu dia menggenggam tangan Meka untuk membuatnya nyaman.
"Tante, saya tidak akan tertarik dengan siapapun di dunia ini kecuali dengan istri saya yang tercinta ini," ucap Zain tulus sambil menoleh ke Meka dan mengusap lembut pipi Meka dihadapan keluarganya.
Sontak saja perlakuan Zain membuat mereka kesal serta hati yang mendidih. Ada yang menatap dengan mencibir dan ada juga yang menatap sinis.
Mona merasa terhina dengan pemandangan yang menusuk hatinya. Ingin rasanya dia mencekik Meka sampai tak bernafas karena merebut orang yang sangat dicintainya.
"Ah Zain....sepertinya kamu sangat mencintai istrimu ya. Tante jadi takjub melihatmu," puji Mamanya Tania yang berpura-pura.
"Iya nih Zain buat iri Tante aja melihat kemesraan kamu sama istrimu," balas Mamanya Mona.
"Nak Meka saat ini kuliah dimana?" tanya salah satu Om nya Zain.
"Meka kuliah di tempat saya Om. Dia Mahasiswi saya yang terbaik," jawab Zain langsung.
"Wah....ternyata kuliah di tempat kamu toh Zain. Cinlok ternyata," celetuk Mamanya Mona yang memang sangat tidak menyukai Meka.
"Iya Tante, bukankah itu sangat menyenangkan jatuh cinta sama Mahasiswi sendiri?" tanya Zain menyeringai.
Mamanya Mona melihat kesetiaan Zain dari matanya terhadap Meka.
"Beruntung sekali wanita ini bisa mendapatkan Zain. Enak saja, aku akan membuat Zain membencimu dan mencampakkan mu selamanya dari hidupnya," bathin Mamanya Mona.
Mona pun ikut menatap sinis kearah Meka. Dia memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap diri Meka. Namun dihadapan Zain dia berpura-pura manis. Seperti serigala berbulu domba.
"Ah, Mas Zain sangat mencintai Mbak Meka ya. Saya jadi kepengen nyari yang seperti Mas Zain, ya kan Ma," ucap Mona sambil melirik Meka.
Meka sudah tak tahan lagi dengan situasi ini, ingin rasanya dia pergi dari sana. Tapi dia tidak mau membuat Zain kecewa.
"Mona, kamu gak akan mendapatkan laki-laki seperti Zain lagi, kecuali terjadi sesuatu," sambung Mamanya Tania yang blak-blakan.
Meka berusaha tenang, dia tahu bahwa keluarga Zain tidak menyukainya. Terutama yang saat ini berada dihadapannya. Dia harus bisa membaca situasi dalam menghadapi keluarga ini. Lalu Meka tersenyum terus melihat topeng keluarga dari Zain.
"Baiklah, karena tidak ada percakapan yang bermanfaat, saya dan istri akan mau menemui Mama dan Papa dulu," ucap Zain yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
Meka pun mengikuti suaminya yang sudah beranjak berdiri.
__ADS_1
"Loh Zain, kamu sudah lama tidak kumpul sama keluarga, saat ini semua keluarga berkumpul ingin mengenal istrimu. Kenapa kamu malah meninggalkan kamu begitu saja," balas Omnya yang tak suka dengan sikap Zain.
"Kami harus segera kembali karena saya masih ada kerjaan buat besok, terima kasih Om dan Tante yang sudah meluangkan waktu kalian kesini," Zain menatap dingin kearah mereka satu persatu.
Mona yang melihat pujaan hatinya pergi begitu saja, dia tak terima karena Zain lebih memilih Meka. Lalu Mona menghampiri Zain dan mendekatkan dirinya sambil bermanja-manja.
"Mas Zain, jangan seperti itu. Apa kamu gak merindukanku? Padahal aku sengaja pulang ke Indonesia demi bertemu denganmu," ucap Mona yang memeluk lengan Zain.
Mona tak perduli dengan keberadaan Meka disamping Zain. Dia sengaja memanasi Meka. Mona melirik kearah Meka dengan senyum menyeringai.
"Lepaskan!" bentak Zain.
"Kamu seharusnya tau posisi kamu Mona. Jangan menyentuh saya, karena saya tidak suka disentuh sama perempuan lain kecuali istri saya," Zain menghempaskan tangan Mona dari lengannya.
"Ayo sayang kita temui Mama dan Papa," Zain mengajak Meka dengan menggenggam tangannya berlalu dari hadapan semuanya.
Mona dia terpaku dengan wajah yang ditekuk karena menahan malu luar biasa. Lalu Mona berlari kearah Mamanya dan menangis tersedu-sedu.
"Ma...Mas Zain kok berubah ya. Dia tidak lagi menyayangi Mona," ucapnya terisak.
"Sudah sayang, nanti Mama akan bilang ke Mamanya Zain. Wanita itu telah menghasutnya," balas Mamanya dengan nada kesal.
Sedangkan Zain dan Meka menghampiri Mama dan Papanya di ruang depan yang sedang berkumpul sama Omanya Zain.
"Ma, Pa," sapa Zain menghampiri keduanya.
"Nah ini dia yang diceritakan datang juga," ucap Papanya.
"Zain kemari lah?" pinta Omanya.
"Iya Oma," Zain mengajak Meka duduk disamping Omanya.
"Kamu tidak mengenalkan istrimu kepada Oma?" tanya Omanya.
"Maaf Oma, ini istri Zain namanya Meka," Zain memperkenalkan Meka kehadapan Omanya.
Meka pun menyalami Omanya Zain dengan sopan.
__ADS_1
"Wah Zain, ternyata istri kamu cantik sekali. Pantes kamu menolak dijodohkan," balas Oma ya blak-blakan.
"Maaf Oma, Zain tidak suka perjodohan. Zain ingin memilih pasangan hidup Zain karena dasar cinta," ucap Zain sambil menoleh ke Meka.
Lagi-lagi Meka merasakan hawa tak senang dari keluarga Zain. Meka menatap Omanya Zain dengan tatapan tak biasa. Lalu Meka menundukkan pandangannya dan memejamkan matanya sesaat. Dan pada saat itulah Khodamnya Meka membisikkan sesuatu.
"Meka, berhati-hatilah terhadap keluarganya. Kisahmu dengannya baru dimulai saat ini. Banyak yang menginginkan Zain dan mereka akan menggunakan cara keji untuk menjauhkanmu dari Zain," Khodamnya Meka memperingatinya.
Lalu Meka membuka matanya dan menatap satu persatu keluarga Zain, mulai dari Mama, Papa, Omanya dan beberapa Om dan Tantenya Zain. Meka bisa merasakan ketidaksenangan mereka terhadap Meka yang mampu mengendalikan Zain.
"Cucu Oma sudah besar sekarang, sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Yang penting keputusannya tidak salah ya Zain," sindir Omanya menoleh kearah Meka sambil tersenyum palsu.
Omanya Zain tidak menyukai kehadiran Meka. Dialah yang menyuruh Papanya Zain untuk menjodohkan Zain dengan cucu dari sahabat Omanya. Namun semua ditolak Zain hanya karena Meka. Dan itu membuat Omanya menjadi penasaran dan memiliki kebencian yang mendalam.
"Sudah Ma, Zain memang sudah besar. Biarkan dia mengambil keputusannya sendiri. Kita do'akan yang terbaik buat mereka berdua dan segera memberikan cucu buat Mama," ucap Mamanya Zain dengan tulus.
"Gak usah kau mengajariku, aku tau mana yang baik dan buruk. Jadi kau tutup saja mulutmu. Jangan ikut menyela ucapanku," sarkas Omanya Zain yang memang kurang menyukai Mamanya Zain.
Mamanya Zain tertunduk menahan kesedihan, dia tak menyangka mertuanya masih tidak menyukainya.
"Ma, apa yang dikatakan istriku benar. Zain udah besar, kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan mereka," ulang Papanya Zain yang mendukung istrinya.
"Tau apa kalian soal kebaikan. Tapi ya sudah, semua sudah terlanjur. Kita lihat nanti bagaimana mereka bertahan," balas Omanya.
Semua yang berada disitu tidak ada yang berbicara lagi. Meka hanya bisa menggenggam tangan Zain. Dia ingin segera pergi dari hadapan mereka semua.
"Ma,Pa, sepertinya Zain harus kembali. Karena masih ada tugas yang harus Zain selesaikan," ucap Zain berpamitan.
Mamanya Zain yang mengerti perasaan anaknya, mendukungnya.
"Iya sayang, nanti kalau kalian tidak sibuk seringlah kemari lihat Mama ya," pinta Mamanya sambil menghampiri Zain dan menantunya.
"Pasti Ma, Zain dan Meka akan sering kemari mengunjungi Mama," balas Zain
"Oma,Pa, kami pamit dulu, Assalamu'alaikum," ucap Zain.
Meka pun ikut mengucapkan salam dan menyalami mereka. Saat Zain dan Meka melangkah sedikit menjauh dari mereka terdengar gumaman dari Omanya.
__ADS_1
"Dasar tak punya sopan santun. Didikan yang tak baik begini hasilnya," sarkas Omanya sambil meminum tehnya.