
Ustadz Ahmad terus menceritakan tentang Meka yang sering menghadapi masalah yang berbau ghaib. Tentu saja semua cerita Ustadz itu membuat Papanya Meka berang sekaligus sedih.
"Ya Allah Meka..., kenapa jadi seperti itu?" sesal Papanya. "Ustadz, saya tidak menyangka akan seperti itu yang di jalani Meka. Kalau saya tau akan seperti itu, lebih baik, saya tidak melakukannya," sesal Papanya Meka.
"Maaf Pak, kalau boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ustadz Ahmad.
Sementara Kakek tua itu hanya diam mendengarkan obrolan mereka. Sesungguhnya Kakek tua mengetahui tentang Meka. Dia bisa melihat Meka yang sebenarnya. Berbeda dengan Ustadz Ahmad yang tidak bisa mengetahui siapa sebenarnya Meka itu.
"Maaf Ustadz, saya tidak bisa menjelaskannya. Tapi saya sangat berterima kasih karena Ustadz dan Kakek sudah mau membantu Meka selama ini. Saya tidak tau bagaimana cara membalas kebaikan Ustadz dan Kakek," ucap Papanya Meka.
"Tidak perlu sungkan Pak, saya dan Kakek sudah menganggap Meka bagian dari keluarga kami. Berkat Meka, Kakek juga bisa keluar dari Desa tua dan menghancurkan iblis yang menguasai Desa itu. Hanya saja, saya mengkhawatirkan keadaan Meka yang saat ini sedang mengandung. Karena akan mengundang mahluk ghaib menginginkannya," ungkap Ustadz Ahmad.
"Ustadz, kalau untuk itu tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena ada Khodam yang berada di dekatnya. Selain itu juga ada sosok yang akan terus melindunginya dari jarak jauh," Kakek tua menyela obrolan mereka.
"Maksud Kakek apa? Siapa yang melindungi Meka dari jarak jauh?" tanya Papanya Meka bingung.
"Saya juga tidak tau kenapa dia melindunginya dari jarak jauh. Karena penglihatan saya tidak bisa menembus dinding ghaib sehingga jati dirinya tidak saya ketahui," jawab Kakek tua.
"Siapa dia kek?" Ustadz Ahmad pun bertanya. Dia pun tak mengetahuinya. Padahal Ustadz Ahmad memiliki mata bathin. Namun dia tak mampu melihatnya.
"Kamu tau salah satu pemuda yang ikut mengaji saat kita menghancurkan iblis dari perempuan yang bernama Bu Arin?" tanya Kakek tua.
"Pemuda?" tanya Ustadz Ahmad.
"Ya salah satu pemuda. Dan dialah yang bisa menghancurkan iblis itu dengan mudahnya," jawab Kakek tua.
Ustadz Ahmad pun mencoba mengingatnya, dia menggali kembali memory waktu kejadian yang terjadi saat itu. Dia pun mengingat satu persatu orang-orang yang ikut serta dalam kejadian itu hingga ingatannya tertuju kepada sosok laki-laki tampan yang mendampingi Meka saat menghadapi iblis itu. Dan yang meminta laki-laki itu ikut bersama Meka dan Kakek tua adalah Khodamnya Meka.
"Ya kek, saya mengingatnya. Dia laki-laki yang ikut bersama Meka dan Kakek. Kalau tidak salah dia bernama Rudy?" ucap Ustadz Ahmad mengingatnya.
"Ya, dialah yang melindungi Meka dari jarak jauh. Tapi saya tidak mengetahui sesungguhnya siapa dia," balas Kakek tua.
__ADS_1
"Maksud anda, anak saya ada yang melindunginya selain Khodam yang senantiasa mengikutinya?" tanya Papanya Meka meminta kepastian.
"Ya, ada sosok lain yang mengikuti Meka. Tetapi dia tidak berbahaya. Dia justru melindungi Meka. Bahkan sampai saat ini," ucap Kakek tua.
"Sampai saat ini?" Ustadz Ahmad bertanya.
"Ya Ustadz, tadi saat kita berada di dalam ruangan, ada sosok iblis yang sedang mengikuti Meka. Dia berada di halaman itu. Tapi tiba-tiba laki-laki tampan itu muncul dan menyuruh iblis itu pergi dan mengancamnya," jawab Kakek tua.
"Apa kek! Dia mengusir iblis itu? Kenapa saya tidak bisa melihat keberadaan iblis dan laki-laki itu?" tanya Ustadz Ahmad.
"Karena iblis itu sangat kuat dan hanya orang tertentu yang bisa melihatnya," jawab Kakek tua.
"Termasuk anda kek?" tanya Ustadz Ahmad.
"Ya, saya bisa melihatnya. Karena saya memiliki kemampuan itu," jawab Kakek tua.
"Apakah dia ikut bersama Ustadz saat kemaren berkunjung ke rumah besan saya?" tanya Papanya Meka yang mengingat sesuatu saat kemaren di acara Meka.
"Ya Pak, dia ikut bersama kami. Tapi saya memang tidak bisa mendeteksi jati dirinya," jawab Ustadz Ahmad.
"Sepertinya dia berbeda dari yang lainnya. Saya tidak bisa menerawang sosoknya. Apakah dia manusia yang memiliki kelebihan atau dia sosok mahluk tak kasat mata. Tapi yang saya lihat dia memiliki kemampuan luar biasa," jelas Kakek tua.
"Baiklah Ustadz, kek, saya merasa legah karena sudah mengetahui keadaan anak saya selama ini. Saya akan membawanya kembali ke Medan sementara waktu sampai Meka melahirkan," ucap Papanya Meka.
"Apakah Zain ikut bersama Meka?" tanya Ustadz Ahmad.
"Ya Ustadz, menantu saya ikut ke Medan," jawabnya.
"Itu lebih baik, karena kalau menantu anda tetap tinggal di sini, itu akan membuat mereka berjauhan dan masalah akan datang lebih banyak," sambung Kakek tua.
"Iya kek. Saya juga memiliki firasat yang tidak baik terhadap menantu saya. Apalagi setelah kejadian di rumah besan saya. Itu membuat saya mengambil keputusan bulat membawa keduanya ikut serta ke Medan," ucap Papanya Meka.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita ke dalam. Karena semua cerita Meka sudah saya sampaikan. Ini sudah siang, lebih baik kita makan siang dulu di sini," ajak Ustadz Ahmad.
"Baiklah Ustadz," balas Papanya Meka.
Ustadz Ahmad dan yang lainnya beranjak dari pendopo. Mereka berjalan ke arah rumah. Ketiganya masuk ke dalam rumah dan menghampiri Meka dan yang lainnya.
"Apa yang Papa bahas sehingga selesai sampai sekarang?" tanya Meka saat Papanya sudah duduk disampingnya.
"Papa hanya berbicara santai sesama orang tua saja sayang. Kamu gak perlu memikirkannya ya. Gimana, apa kamu sudah lapar sayang?" tanya Papanya Meka yang memberikan perhatiannya.
"Iya Pa, tadi istrinya Ustadz meminta Meka untuk makan duluan. Tapi Meka ingin kita makan bersama," jawab Meka.
Saat mereka ngobrol, Ummi dan Nenek datang menghampiri mereka.
"Ayo kita makan siang dulu. Ummi sudah menyiapkan semuanya," ajak Ummi yang sudah berdiri dihadapan mereka.
"Ummi kenapa gak bilang? Biar Meka dan Tante bantu loh Ummi," ucap Meka sambil berdiri menghampiri Ummi.
"Ah Meka ini selalu begitu. Ummi senang kalian datang dan menjamu keluarga Meka. Jadi jangan sungkan ya nak Meka," balas Ummi.
"Baiklah Ummi. Kalau begitu ayo kita makan," Meka bersikap manja terhadap Ummi. Dia merasa dekat dengan istrinya Ustadz Ahmad.
"Iya ayo," balas Ummi. Ayo Pak, ajak tamu kita makan," ucap Istrinya.
Mereka semua beranjak dari ruangan tengah dan berjalan ke arah ruang makan. Di ruang makan sudah tersedia makanan yang banyak di hidangkan di atas meja makan.
Mereka mengambil tempat duduk masing-masing. Meka dan Zain duduk bersebelahan disamping Papanya.
"Ayo Pak, jangan sungkan-sungkan diambil saja mana yang disukai," ucap Ustadz Ahmad.
Papanya Meka hanya mengangguk dengan senyuman. Dia pun mengambil lauk pauk dan mulai menyantap makanannya.
__ADS_1
Saat mereka sedang menikmati makan siang, Rudy muncul di halaman itu. Dia bisa melihat aktifitas di dalam rumah Ustadz Ahmad. Dia pun tersenyum saat melihat Meka yang begitu lahapnya menikmati makanannya.
"Aku akan selalu mengawasimu dan melindungimu Meka. Kapanpun aku akan tetap menunggumu. Karena sejatinya kau adalah takdirku," gumam Rudy yang berdiri di halaman itu. Kemudian dia pun menghilang meninggalkan Meka dan keluarganya di rumah Ustadz Ahmad.