
Suasana diruangan itu terasa haru dan membuat yang lainnya ikut terbawa hanyut dalam kesedihan. Deon dan Isna saling berpegangan tangan. Mereka ikut merasakan kesedihan yang mendalam yang dirasakan seorang Ibu. Kerinduan untuk anaknya yang tidak pernah pulang, dan saat ini hanya arwahnya yang bisa menemui Ibunya.
Ibunya melepas pelukannya dan memegang kedua bahu anaknya.
"Inem, apakah benar ini kamu nak?! Apa yang terjadi?! Kenapa kamu berada ditubuhnya?! Siapa yang melakukannya nak...? Jawab Ibu?!" teriak Ibunya yang tak percaya.
Lalu Ibunya menoleh ke arah Zain dan bergantian melihat ke Isna serta Deon, mencari tau dari tatapan tajamnya tentang keadaan anaknya.
"Kami tidak bisa menjelaskannya Bu, lebih baik biar anak Ibu yang menceritakannya," ucap Zain yang mengerti arti tatapan wanita itu, sehingga dia langsung menjawabnya.
"Apa maksud kamu, Inem yang harus menjelaskannya? Saya tidak percaya kalau itu anak saya Inem."
Inem yang mendengar kalau Ibunya tidak mempercayainya, dia langsung membalikkan badannya dan berkata,
"Saat Inem pergi ke Kota untuk bekerja, Ibu menyuruh Inem jangan memakai kalung yang di dalamnya ada gambar Ibu dan Inem. Kalung itu adalah hadiah ulang tahun Inem tepat berusia 17 tahun," ucap Inem yang memberitahukan hal yang spesial tentang dirinya.
Wanita tua itu terkejut, saat mendengar ucapan Meka yang menjadi anaknya. Dia langsung berbalik dan menangis histeris kembali.
"Ine.......m....apa yang terjadi na.....k?! Kenapa tega ninggalin Ibu....!" Ibunya memeluk tubuh Meka dengan erat.
"Setiap hari ibu menantikanmu, berbulan bahkan bertahun Ibu terus menunggu kepulanganmu. Sampai orang sekitar kita mencibir Ibu, mengatakan hal yang buruk tentangmu. Namun Ibu tidak mempercayainya. Ibu yakin kamu baik-baik saja disana," ucap wanita tua itu dengan terisak.
Lalu di terduduk lemas tak bertenaga karena harus menelan pahit semua kerinduannya. Anak yang ditunggunya hadir ditubuh orang lain.
Meka juga ikut duduk disamping wanita itu dengan wajah pucatnya.
"Bu, mereka yang membawa inem ke kota bukan orang baik. Mereka jahat Bu! Mereka sudah membunuh Inem, Bu!" Meka menangis mengingat kejadian beberapa tahun kemaren.
Ibunya terkejut dan mendongakkan wajahnya menatap wajah Meka.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan Inem?" tanya Ibunya mengkerut.
"Bu, mereka sengaja mempekerjakan Inem karena ternyata mereka sedang mencari tumbal Bu," jelas Inem dengan suara lemahnya.
"Tumbal..! Maksud kamu apa Inem?" tanya Ibunya lagi yang semakin penasaran.
"Iya Bu, suami istri yang membawa Inem ke rumahnya ternyata memuja iblis demi mendapatkan kekayaannya Bu. Dan sebagai penggantinya mereka harus menumbalkan darah perawan setiap bulan purnama Bu. Dan aku dijadikan mereka sebagai tumbal pesugihannya Bu," Meka semakin menangis terisak.
Meka terduduk menghempaskan tubuhnya di kursi tepat disamping Ibunya.
"Ya Allah Ine......m, tega sekali mereka melakukan itu terhadapmu! Kenapa, kenapa baru sekarang kamu menemui Ibu nak dan memberitahukan semua ini!" Ibunya kembali teriak dihadapan Inem.
Wanita tua itu marah terhadap dirinya sendiri, yang sudah menyerahkan anaknya sendiri ke tangan orang yang menumbalkan anaknya. Dia memukul-mukul tangannya karena membiarkan Inem lepas dari genggamannya.
"Maafkan Ibu na...k, Ibu salah. Gak seharusnya Ibu menyerahkanmu kepada mereka. Dan mempercayai manis mulut mereka berdua Ine....mmmmm!" Ibunya merangkul anaknya ke dalam pelukannya.
"Ini sudah takdir Inem, Bu. Relakan dan ikhlaskan kepergian Inem ya Bu. Inem baru bisa menemui Ibu sekarang karena tidak ada manusia yang bisa membantu Inem. Tapi saat Inem bertemu dengan pemilik tubuh ini, Inem melihat bahwa dia ditakdirkan untuk membantu Inem."
Lalu Inem melepaskan diri dari rangkulan Ibunya. Dia membenarkan posisi duduknya dan mulai bercerita.
"Saat itu, istrinya beralasan sedang pergi keluar kota karena pekerjaan. Dan yang berada di rumah itu hanya Inem dan suaminya. Kejadiannya tepat di malam bulan purnama. Inem sedang tiduran di dalam kamar. Diluar rumah hujan turun dengan deras. Tepat pukul 11.00 malam, majikan laki-laki tiba-tiba masuk ke dalam kamar Inem. Inem lupa mengunci pintu kamar sehingga dia bisa masuk. Inem tidak berpikiran negatif terhadapnya. Tapi...," Inem menghentikan ceritanya dan menunduk sambil menangis terisak.
"Teruskan nak, Ibu akan kuat mendengarkannya," ucap Ibunya yang mengerti keadaan anaknya.
"Lalu terjadilah hal yang tak Inem duga. Inem diperkosa Bu, dan saat itulah kematian Inem terjadi. Setelah dia memperkosa Inem, Iblis yang menyeramkan hadir memperlihatkan wujudnya dihadapan Inem Bu. Inem terkejut dan ketakutan. Bahkan Inem meminta tolong sama majikan Inem, tapi dia tidak perduli. Dia justru berdiri diam menyaksikan kematian Inem. Iblis itu menghisap darah yang menetes di seprei dan dia membuat Inem tidak bisa bergerak, sehingga dia leluasa menghisap energi Inem dari bawah sampai Inem meninggal Bu," cerita Inem.
"Ya Allah...apa salah anakku hingga harus mengalami kejadian seperti itu," tangis Ibunya.
"Bu, Inem meminta tolong sama pemilik tubuh ini agar menemui Ibu dan memberitahukan bahwa jasad Inem masih belum dikubur Bu," ucap Inem.
__ADS_1
"Belum dikubur nak? Bagaimana mungkin Nem! Kenapa bisa jasadmu belom dikubur mereka? Lalu dimana jasad itu disembunyikan mereka nak?! Apa mereka itu sakit jiwa hingga membiarkan jasadmu begitu saja?" tanya Ibunya dengan emosi.
"Iya Bu, jasad Inem di kubur di dinding kamar Inem, dan dinding itu ditutupi dengan wallpaper agar tidak diketahui orang lain jika berada di sana. Inem minta sama Ibu, tolong lapor ke polisi agar menemukan jasad Inem. Dan jika mereka bertanya Ibu tau dari mana, bilang saja bahwa Inem menemui Ibu berulangkali dalam mimpi," jelas Inema yang memberi saran kepada Ibunya.
"Inem anakku..., tragis sekali hidupmu nak. Ibu ingin menyusul mu. Untuk apa Ibu berada di dunia ini lagi nak! Ibu sudah gak punya siapa-siapa lagi. Hanya kamu yang membuat Ibu bertahan, karena Ibu yakin kamu akan kembali. Tapi ternyata kamu tidak akan pernah pulang kembali ke rumah ini lagi Nem," Ibunya prustasi karena tidak sanggup kehilangan anaknya.
"Bu, Inem sayang sama Ibu. Ibu juga sayangkan sama Inem? Kalau Ibu sayang, maka ikhlaskan Inem Bu. Biar Inem tenang saat pergi. Dan berdo'alah Bu untuk Inem sebagai hadiah terbaik bagi Inem," pinta Inem dengan memegang kedua tangan Ibunya.
"Inem anak Ibu. Ibu akan mencoba mengikhlaskanmu. Ibu akan menemukan jasadmu nak, dan menguburnya dengan layak dan baik," balas Ibunya dengan derai air mata yang tak hentinya.
"Baiklah Bu, Inem tidak bisa lama-lama menggunakan tubuhnya. Dia sudah terlalu baik membantu Inem, Bu. Inem harus keluar dari tubuhnya Bu. Hiks hiks hiks. Inem sayang sama Ibu. Sayaaaang sekali Bu," Inem memeluk Ibunya dengan erat, dan seketika dia keluar dari tubuh Meka.
Meka menggelinjang dalam pelukan wanita tua itu. Kemudian dia lemas dan merosot ke samping wanita tua itu.
Zain yang melihat istrinya seperti itu, langsung menghampirinya dan duduk disebelah Meka.
"Sayang, sayang kamu udah kembali?" tanya Zain yang langsung menggenggam tangan Meka.
"Mas, kepalaku pusing sekali. Aku haus Mas," ucap Meka dengan kondisi lemah.
Lalu wanita tua itu berdiri dan segera mengambil air putih untuk Meka. Dan dia langsung memberikannya ke Meka.
"Nak Meka, minum dulu air putih ini," serah wanita tua itu.
Meka mendongakkan kepalanya menatap kearah wanita tua itu. Lalu dia mengambil air minum itu dan kemudian meminumnya.
"Terima kasih Bu," ucap Meka yang masih lemah.
Wanita tua itu duduk di sebelah Meka. Dia mengambil tangan Meka dan mengusapnya dengan lembut.
__ADS_1
"Terima kasih nak, kamu sudah membantu Inem untuk menemui Ibu. Dan menyelesaikan semua masalah Inem. Ibu merasa senang tadi saat bertemu Inem walaupun dia berada di tubuh kamu nak. Tapi Ibu akhirnya bisa meluapkan kerinduan Ibu yang selama ini Ibu pendam," ucap wanita tua itu dengan terisak.
"Saya hanya sebagai perantara Bu. Semua atas kehendak Yang Maha Kuasa Bu," balas Meka.