
Meka dan Zain sudah berada di dalam warung tersebut. Mereka tidak menemukan tempat yang kosong untuk duduk. Lalu si Mbah datang menghampiri Meka.
"Ayo sini nak, ada meja yang kosong. Mbah udah nungguin kamu dari tadi," ucap si Mbah yang mengajak ke duanya.
Meka menoleh ke arah Zain, dia bingung kenapa si Mbah pemilik warung ini menghampirinya dan mengajaknya ke meja yang katanya ada yang kosong.
Zain pun mengangguk mengiyakan Meka, untuk mengikuti si Mbah. Tapi Meka tak bisa mempercayai orang lain begitu saja, apalagi mengajaknya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh nak. Saya bukan orang jahat," celetuk si Mbah yang tau pikiran Meka.
"Loh kenapa si Mbah tau kalau gw enggan menerima ajakannya ya," bathin Meka yang terus fokus menatap si Mbah.
Meka dan Zain terus mengikuti langkah si Mbah yang berada di depan mereka.
Sesaat kemudian mereka sampai di pendopo di bagian belakang warung itu. Pelayan yang melihat Meka dan Zain berjalan ke arah pendopo itu terdiam. Mereka bingung kenapa Meka dan Zain berjalan ke arah pendopo itu.
Pendopo itu tempat Mbah pemilik warung sering duduk santai memantau warung makannya. Dan ternyata si Mbah yang pemilik warung baru beberapa hari meninggal. Dia sudah lama menunggu Meka datang.
Si pelayan yang melihat Meka berjalan ke pendopo itu, segera melapor ke anak pemilik warung.
"Bu, saya melihat ada perempuan dan laki-laki berjalan ke arah pendopo. Gimana ini Bu?" tanya pelayan itu ketakutan.
"Biarkan saja, kamu kasih aja buku menunya dan layani mereka dengan baik. Itu kemauan si Mbah," jawab Ibu itu.
Anak pemilik warung itu mengerti kalau Meka jalan ke pendopo itu karena kehendak si Mbah sendiri. Mereka tak bisa melihat kehadiran si Mbah, namun anaknya memiliki kelebihan yang di turunkan oleh si Mbah, bisa melihatnya.
"Baik Bu, kalau gitu saya permisi dulu," pamit pelayannya.
Sementara Meka dan Zain masuk ke pendopo mengikuti si Mbah.
Lalu pelayan tadi pun tiba di pendopo menyapa Meka dan Pak Zain.
"Mbak, Mas mau pesan apa? Atau mau lihat menunya dulu?" tanya pelayan itu sambil memberikan buku menunya.
Si pelayan merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia merinding berada di pendopo itu. Matanya melirik ke sana-sini, mencari tau apakah ada sosok mahluk ghaibnya.
"Mas, kenapa?" tanya Zain tiba-tiba karena aneh melihat tingkah pelayannya.
"Ah nggak apa-apa Mas. Mau pesan apa?" tanya pelayan itu sedikit gugup.
Meka pun memesan soto yang memang sudah diinginkannya. Dia memesan dua dan minuman serta makanan pelengkap lainnya.
__ADS_1
Setelah memesan, pelayan itu pamit dari pendopo itu. Sekali lagi dia merinding hingga bulu kuduknya berdiri lagi. Dia pun buru-buru kabur dari sana.
Meka dan Zain yang melihat tingkahnya, merasa aneh dan heran.
"Ada apa dengannya? Kok seperti orang ketakutan gitu," ucap Zain bingung.
Meka langsung menoleh ke si Mbah yang sedang tersenyum.
"Maaf Mbah kenapa ya bawa kami kesini?" tanya Meka bingung.
"Untuk menyelamatkanmu dari Dukun berilmu hitam disana. Dia sedang mencari sesuatu yang memiliki Khodam leluhur. Disini kamu aman," jawab Mbah itu.
"Dari mana Mbah tau kalau istri saya memiliki Khodam leluhur?" tanya Zain yang penasaran.
"Saya bisa merasakan kehadirannya dari pancaran liontin berbentuk sabit yang di gunakan istri kamu," jawab Mbah itu.
Meka terkejut dan sontak melotot ke arah Mbah itu.
"Hanya mereka yang memiliki ilmu tinggi yang mampu merasakan kehadiran Khodam kamu. Termasuk Dukun sakti itu," lanjut Mbah itu.
"Buat apa dukun itu mencari orang seperti istri saya Mbah?" tanya Zain lagi.
"Dia ingin mendapatkan liontin sabit itu agar bisa memiliki Khodam leluhur yang sangat sakti dan tiada tandingannya. Semua mahluk ghaib akan takut dan tunduk terhadapnya. Dia adalah anak dari kerjaan jin di masa lalu. Dan saat ini istri kamu yang memilikinya," jelas Mbah itu.
"Saya sudah mendengar dari leluhur saya, cerita tentang perempuan keturunan dari seorang yang memiliki mata bathin berteman baik sama anak jin dari raja yang sangat berkuasa. Karena orang itu yang menolong anak keturunan raja jin itu, akhirnya semua kekuatan raja jin dimilikinya dan akan menjadi milik keturunan orang itu. Dan itu adalah keturunan pilihan," jelas Mbah itu.
"Jadi maksudnya saya--," Meka menggantung ucapannya.
"Ya benar, kamulah yang memilikinya. Dan menjadi orang pilihannya." jawab Mbah itu.
Lalu pelayan tadi datang mengantar pesanan makanan Meka. Sehingga obrolan pun terhenti. Pelayan itu meletakkan makanan di atas meja dan menghidangkannya.
"Silahkan Mas, Mbak, semua pesanannya sudah lengkap. Kalau mau pesan lagi bisa panggil saya ya Mas," ucap pelayan itu dengan ramah.
Lalu si pelayan pergi meninggalkan pendopo itu masih dengan keadaan merinding dan bulu kuduknya berdiri.
"Kenapa setiap ke tempat itu bulu kudukku berdiri ya? Jangan-jangan ada demitnya di situ. Atau--, ah ngapain aku mikirin demit, nih otak gara-gara merinding langsung konek ke demit," gumam pelayan itu sambil berjalan.
"Mbah, maaf kami harus sarapan dulu. Mbah gak apa-apa kan disini?" tanya Meka tersenyum penuh arti.
"Oh ya Mbah gak ikut makan? Duh jadi gak enak nih. Sayang gak di pesan makanan buat si Mbah?" tanya Zain saat menyadari si Mbah tidak makan.
__ADS_1
Zain tidak tau kalau si Mbah itu adalah mahluk tak kasat mata. Karena si Mbah memang hanya memperlihatkan dirinya kepada orang tertentu seperti Meka dan Zain.
"Tidak, Mbah sudah makan," balas Mbah itu.
Zain merasa tak enak dan sungkan melihat si Mbah yang hanya melihat mereka makan.
"Mbah, terima kasih karena sudah melindungi saya dari Dukun itu. Apa saat ini dia masih di sana?" tanya Meka penasaran.
"Ya, dia masih berada disana. Dia menunggu orang yang memiliki Khodam leluhur keluar. Karena aroma dari tubuhmu berbeda," jawab Mbah itu.
Lalu Meka berbicara melalui bathinnya kepada Khodamnya. Dia tidak mungkin berlama-lama di pendopo ini. Karena dia harus mengobati kakinya.
"Khodamku apa yang harus aku lakukan? Ada seorang Dukun yang sedang menantikan kehadiran diriku di sana," ucap Meka kepada Khodamnya.
"Setelah kamu makan, keluarlah. Aku akan memagari kamu dan suamimu ketika kalian beranjak dari pendopo ini," balas Khodamnya.
"Baiklah, terima kasih," ucap Meka.
Akhirnya Meka bisa tenang untuk melanjutkan perjalanannya.
Si Mbah memperhatikan perubahan wajah Meka yang menjadi tenang. Walaupun tak bisa membaca pikiran Meka tapi dia bisa merasakan kehadiran Khodam Meka. Dan tentunya itu yang membuat Meka tenang.
Setelah Zain dan Meka selesai menyantap makanannya, Meka kembali berbicara dengan Khodamnya.
"Aku sudah selesai makan. Bisakah kamu membuat pagar ghaib untukku sekarang?" tanya Meka melalui bathinnya.
"Baik, aku akan membuat pagar ghaib. Begitu pagar ghaib aku buat, Mbah yang ada di hadapanmu juga tidak akan bisa melihatmu. Kau mengerti bukan?" tanya Khodamnya.
"Baik tunggu, aku akan berbicara sama Mbah itu dulu," jawab Meka.
Lalu Meka menoleh ke arah Mbah itu dan tersenyum melihatnya.
"Mbah, terima kasih atas bantuannya. Saya dan suaminya saya pamit dulu. Sampai bertemu lagi ya Mbah," ucap Meka dengan sopan dan tersenyum melihat si Mbah.
"Iya, Mbah mengerti. Pergilah, semoga kamu selalu di lindungi yang maha kuasa. Dan dia bisa melindungimu dari mahluk tak kasat mata," balas si Mbah.
"Iya Mbah."
"Mas, kita pergi sekarang ya. Titipkan aja langsung uangnya di atas meja ini. Nanti pelayannya akan mengambil uang ini," ucap Meka yang menyuruh suaminya menaruh uangnya diatas meja.
"Iya sayang, Mas ambil dulu uangnya," balas Zain.
__ADS_1
Setelah Zain meletakkan uangnya diatas meja, Meka pun meminta Khodamnya melakukannya.
Kemudian si Khodam mulai membacakan sesuatu untuk membuat pagar ghaib yang akan melindungi Meka dari pandangan si Dukun yang berilmu hitam.