Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 77


__ADS_3

Hai pembaca setia novelku, terima kasih karena terus mendukung karya ini. Semoga apa yang saya tulis dalam karya ini menjadi hiburan buat kalian yang membacanya.


Tapi jangan lupa ya...kasih dong vitamin buat penulis agar semakin cemerlang menciptakan karyanya. Karena penulis masih kategori pemula, jadi belom banyak kosa kata yang bisa dituangkan dalam karya saya. Tapi penulis akan berusaha menciptakan karya yang baik. Semua karya yang penulis buat, menceritakan hal yang berbeda. Tidak bisa ditebak ujungnya tapi masih sesuai dengan sinopsis yang disampaikan.


Jangan lupa juga dukung karya say yang lainnya ya


SUAMIKU TERNYATA KAKAK TIRIKU



Dan karya saya yang lainnya juga ada


KASIH SAYANG YANG TERTUNDA



Silahkan jika berkeinginan untuk membacanya. Cerita yang berbeda dengan tokoh yang berbeda juga.


Jangan lupa VOTE, LIKE DAN KOMENNYA YA


______________________________________________


Deon sangat syok mendengar cerita Meka. Dan dia tak menyangka akan berakibat buruk seperti itu.


"Mek, sejak kapan Lo punya kelebihan itu?" tanya Isna.


"Sebelum gw pulang ke Medan, Na. Gw udah merasakan hal-hal yang diluar nalar. Tapi itu semua masih samar-samar. Dan sebelum Mama gw kembali ke Medan, gw juga punya firasat untuk kehilangannya. Dan gw gak nyangka ternyata apa yang gw rasakan itu terjadi."


"Terus, Lo sama Pak Zain menikah di Medan?" tanya Isna lagi.


"Ya, kami menikah di Medan dengan restu Papa gw. Tapi tidak dengan orang tua Pak Zain. Karena Pak Zain belom memberitahukannya," Meka menoleh kearah suaminya.


"Kisah Lo benar-benar menyeramkan ya Mek! Gw salut sama Lo bisa ngelewatin itu semua. Dan Lo bisa bertahan dengan kelebihan yang Lo punya.


"Mek, bisakah gw kembali kerumah nenek gw?" tanya Deon tiba-tiba disela percakapan Meka dan Isna.


"Jangan Deon! Gw gak mau Lo kenapa-napa. Please...gw sayang sama Lo, jangan membahayakan diri Lo lagi. Kita udah janji untuk memulai hidup baru kan?" Isna protes dengan keinginan Deon.


"Iya Deon, lebih baik jangan. Lo harus bisa lepas dari keluarga. Besok lebih baik kita temui Mama Lo. Tapi buat janji aja ketemu di cafe yang dekat dengan rumah Ustadz," saran Meka.

__ADS_1


"Iya, gw akan coba Mek untuk menghubungi Mama agar mau bertemu dengan gw."


"Oh ya satu lagi gw ingin cerita ke kalian."


"Apa itu Mek?" tanya Isna dan Deon.


"Ini tentang Shinta sahabat kita. Dia sudah berubah sekarang."


"Ya gw tau Mek! Gw lihat dia sedikit aneh dan berubah menjadi orang yang cuek dengan kita berdua. Dan setiap gw cerita tentang Lo, raut wajahnya terlihat menyeramkan. Sepertinya dia tidak menyukai Lo Mek!" Isna memberitahukan apa yang dialaminya dengan Shinta.


"Berarti kamu memperhatikannya ya sayang?" tanya Deon.


"Iya Deon, dia keliatan banget tidak menyukai Meka. Makanya gw bilang dia berubah," jawab Isna.


"Lo benar Na, dia berubah. Dan saat ini dia juga terjerat dengan lingkaran iblis. Dia menginginkan Pak Zain. Karena ternyata dari dulu dia menyukai Pak Zain," ungkap Meka dengan serius.


"Beneran Lo Mek...!" Deon benar-benar mendapatkan surprise dari kehidupannya. Dia geleng-geleng kepala tak percaya.


"Lo serius Mek dengan ucapan Lo?!" tanya Isna yang juga tak percaya dengan ucapan Meka.


"Serius Na, Deon. Dan kemaren waktu kita dicafe, gw bertemu dengan dia. Saat gw ketoilet, gw mendengar suara orang yang lagi mengunyah di dalam bilik kamar mandi. Selain itu dibawah kaki gw ada genangan darah yang mengalir. Gw sempat terkejut dan ketakutan. Lalu gw keluar dari bilik tempat gw buang air kecil. Saat gw bercermin di depan kaca, Shinta keluar dari bilik itu," Meka menceritakan kejadian kemaren.


"Dia sudah menyatu dengan iblis itu dan saat dia di dalam bilik itu ternyata dia sedang memakan dan mengunyah janin bayi yang menjadi tumbal iblis itu."


Deon dan Isna langsung mual-mual mendengar kata mengunyah janin hidup-hidup.


"Meka, cerita Lo serem banget...! Rasanya perut gw gak nyaman ini," protes Ghani.


"Iya Mek, udah ah ceritanya. Gak sanggup gw mendengarnya," sambung Isna yang juga merasakan gak nyaman di perutnya.


"Hahhh katanya mau dengar cerita gw. Syukur kemaren gw gak cerita pas kita lagi makan ya. Bisa-bisa kalian lari ketoilet muntah-muntah," Meka merasa lucu melihat kedua sahabatnya. Pengen taunya besar, tapi ciut saat mendengarnya.


"Udah sayang, kasihan mereka mendengar cerita serem itu. Tapi yang pasti Deon dan Isna sudah mengetahui kebenarannya," Dosga mereka ikut angkat bicara.


"Iya Mas."


"Apa kalian masih pengen tau tentang Shinta?" tanya Meka terhadap kedua sahabatnya.


"Terus Shinta sekarang gimana Mek?" tanya Deon yang rasa penasarannya tinggi.

__ADS_1


"Iblis yang berada dalam tubuhnya sudah musnah kemaren saat kalian keluar duluan dari cafe itu. Dan gw gak tau bagaimana nasib Shinta sekarang. Karena gw dan Pak Zain langsung meninggalkan cafe itu," jelas Meka.


"Banyak banget ya Mek, peristiwa yang Lo alami. Terus gimana dengan Dukun yang datang ke kostan?" tanya Deon.


"Dia akan terus mencari Lo Deon, karena dia butuh darah perjaka Lo untuk menjadi tumbalnya dengan iblis lain. Karena iblis yang bersekutu dengan keluarga Lo sudah musnah. Jadi dendamnya masih ada."


"Terus gimana dong Mek?" Isna mulai ketakutan.


"Ya lebih baik kalian segera pindah dari sana. Tapi kalian boleh sementara tinggal disini sampai kalian mendapatkan kost-kostan lain. Kita akan mencarinya bersama, gimana?" tanya Meka.


Deon melirik kearah Dosganya. Dia merasa sungkan dan tidak enak karena merepotkan Meka terus menerus.


"Pak Zain, apakah mereka boleh tinggal disini sementara waktu, sampai mereka mendapatkan tempat tinggal baru?" Meka bertanya dengan suaminya. Karena dia mengerti arti lirikan Deon.


"Mas ngikut kamu aja sayang. Demi kebaikan mereka, mas akan dukung," jawab Zain sambil tersenyum.


"Gimana Deon, Na, kalian mau kan? Dan besok kita akan menemui Mama Lo De. Hari ini Lo bisa menghubunginya, tapi ingat jangan kasih tau tentang apa yang Lo ketahui," Meka memperingati Deon.


"Baiklah Mek. Terima kasih atas bantu Lo dan Pak Zain. Gw gak akan menyia-nyiakan bantuan kalian ini," Deon merasa bersyukur bisa mengenal Meka dan Dosganya lebih dekat.


"Oh ya nanti sore, gw sama Pak Zain mau kerumah orang tua Pak Zain. Kalian disini aja gak masalah kan?"


"Oh iya Mek, malah kami yang merasa gak enak berada disini," balas Isna.


"Ah gak masalah Na, kalian bisa istirahat. Dan kalau laper, kalian bisa memasak. Di kulkas sudah tersedia bahan makanan," jelas Meka.


"Baiklah Mek, gw akan memasak buat Deon nanti. Oh ya , gw do'akan semoga semua berjalan dengan keinginan kalian," Isna memberi dukungannya terhadap Meka.


"Makasih ya Na, kalian emang sahabat terbaik gw."


"Mek, gw jadi penasaran nih, gimana ya nasib Shinta? Akankah dia mau berubah? Gw gak nyangka ya dia berkhianat dari kita. Padahal gw berharap kita menjadi sahabat selamanya," Isna merasa sedih dengan perbuatan Shinta.


"Semua itu bisa berubah Na, kalau dihati kita sebagai manusia memiliki iri hati, dengki dan cemburuan atas apa yang dimiliki orang lain. Dan itu semua tergantung dari pribadi masing-masing orangnya," jelas Meka.


"Lo benar Mek. Gw berharap bisa menjalani hidup baik bersama Deon. Kapan Lo Ghan ketemu ortu gw?" tanya Isna yang menantang Deon.


"Kapan aja boleh. Asal kamu siap buat gw lamar. Tapi gw gak bisa menjanjikan akan memberikan pernikahan mewah buat Lo Na. Apakah Lo masih mau sama g" tanya Deon dengan penuh harapan.


"Tentu gw mau. Cinta kan gak memandang harta. Walaupun memang uang itu hal utama dalam menjalani kehidupan rumah tangga, asal kita mau berusaha giat, kenapa nggak!" ucap Isna dengan bijak.

__ADS_1


"Makasih ya Na, Lo emang pilihan gw yang terbaik."


__ADS_2