
Meka dan Asih keluar dari kost-kostan mereka. Saat mereka keluar dari gerbang, ternyata Dosganya sudah menunggu Meka di depan gerbang. Dia menghadang kepergian Meka.
Zain menghentikan motor yang dikendarai Meka. Dan memintanya untuk turun dan ikut bersamanya.
"Sayang, aku mau bicara sama kamu!" ucap Dosganya datar.
"Aku sudah tidak punya urusan lagi sama bapak. Jadi silahkan pergi dari hadapan saya!" balas Meka dengan intonasi tegas.
"Kasih aku kesempatan. Aku gak mau hubungan kita berakhir karena salah sikapku, tolong kasih waktu untukku sayang," pinta Dosganya.
"Saya bilang lepaskan saya!" bentak Meka dengan wajah beringasnya.
Meka sudah tidak mau lagi berurusan dengan kekasihnya ini. Apalagi dengan para sahabatnya yang mengatakannya aneh. Saat ini Meka ingin menenangkan pikirannya dan tidak mau berinteraksi dengan mereka semua.
"Sayang..!! Jangan seperti ini! Aku tau, aku salah. Tapi kasih aku kesempatan. Bukan hal mudah untuk menerima sesuatu yang diluar dari pemikiran normal kita. Aku juga bersikap seperti itu karena aku tidak seperti yang kamu rasakan. Jadi tolong kasih aku kesempatan. Kita buka lembaran baru lagi dengan cerita kita yang saat ini dimulai. Dengan kelebihan kamu dan kekurangan kamu," ucap Zain dengan tulus.
Setelah malam kemaren Zain tidak menemukan keberadaan Meka dijalanan. Dia memutuskan pulang, namun dia mengantar Isna terlebih dahulu. Setelah itu dia kembali ke apartemennya. Semalaman Zain memikirkan tentang Meka. Sampai dia berkonsultasi dengan sahabatnya yang memang memahami hal seperti dialami Meka. Zain merasa bersalah karena tidak bisa mempercayai Meka. Dia berniat paginya akan menemui Meka dan meminta maaf.
Saat ini Zain sedang memohon kepada Meka untuk memberinya kesempatan kedua. Dia tidak mau kehilangan Meka. Zain sangat mencintai Meka. Meka sudah merubah dirinya yang dingin dan cuek menjadi bucin dan perduli dengan yang lainnya.
"Kasih saya waktu Pak, untuk memikirkan semuanya. Jadi tolong Bapak pergi dari sini. Kalau kita memang berjodoh, kita akan bersama lagi," ucap Meka dengan wajah sendunya.
Zain memegang tangan Meka dan memeluknya.
"Aku sangat mencintaimu Meka. Jangan pernah tinggalin aku. Apapun yang akan terjadi, kita hadapi bersama. Kasih aku kesempatan," Zain melepaskan pelukannya dan menatap Meka.
"Aku butuh waktu Pak," jawab Meka.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Aku balik dulu, kamu jangan telat makannya ya!" ucap Zain sambil membalikkan badannya.
"Bapak sudah sarapan?" tanya Cha tiba-tiba.
Zain menghentikan langkahnya dan berdiam lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa blom sarapan?" tanya Meka yang perhatian.
"Aku tidak selera sayang. Bagaimana aku bisa makan, kalau kamu ninggalin aku. Lebih baik aku kelaparan dan berhenti bernafas," jawab Zain dengan posisi yang masih membelakangi Meka dan Asih.
Meka berjalan kearah Zain dan memeluk Zain dari belakang.
"Maaf !" ucap Meka sambil memeluk Zain erat.
__ADS_1
Zain membalikkan badannya dan membalas pelukan Meka. Dia mencium seluruh wajah Meka dengan penuh haru. Lalu memandang Meka dengan penuh kasih sayang.
"Bener kamu udah maafin aku yanx?" tanya Zain tak percaya.
Meka menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Zain.
Zain langsung menggendong Meka dan memeluknya dengan erat.
"Aku sayang kamu..!! Aku sangat mencintaimu Meka ku..!!" seru Zain dengan suara teriakan.
Meka merasa malu dengan tingkah Zain yang seperti anak ABG. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus, apalagi ada Asih dibelakang mereka. Sungguh Meka merasa salah tingkah.
Asih mendatangi mereka dan berkata, " Mek, gw masih ada disini. Emang enak nonton adegan live," celetuk Asih dengan wajah cemberut.
Meka menjadi salah tingkah dan malu dilihat sama Asih.
"Jadi gimana nih, mau lanjut perginya atau gimana?" tanya Asih sebel.
"Kita pergi bertiga aja yuk. Kita jalan-jalan ke Solo, ya jalan-jalan tanpa arah tujuan," ucap Meka dengan memberikan sarannya.
"Trus nih motor gw gimana Mek?" tanya Asih.
"Iya-ita. Tungguin ya, awas kalau ninggalin gw!" ancam Asih sambil tersenyum.
"Iya gw tungguin kok."
Meka dan Zain masuk kedalam mobil menunggu kedatangan Asih. Di dalam mobil Zain gak henti-hentinya mencium tangan Meka. Dia merasa senang karena Meka mau memberinya kesempatan.
"Sayang, aku mau mendengar cerita tentang yang kamu alami semuanya. Aku harap kamu mau berbagi denganku mulai saat ini," ucap Zain sambil menatap kearah Meka.
"Kamu janji tidak akan mengatakan aku aneh lagi?" takut Meka.
"Aku janji sayang, akan menerima kelebihan kamu dan kekuranganmu. Apapun itu yang ada di dirimu," Zain mengatakan kesungguhannya.
Meka menatap kearah mata Zain dan dia melihat ketulusan dari ucapan kekasihnya itu.
Lalu Meka pun mulia menceritakan awal mulanya dia merasakan hal yang aneh sampai dia bermimpi dikejar harimau putih dan kuda putih. Sedangkan Zain hanya mendengarkan cerita Meka tanpa memotong ucapan Meka sampai Meka selesai bercerita.
"Sayang, aku boleh kasih kamu masukkan?" tanya Zain.
Meka pun mengangguk tanda setuju dengan ucapan Zain.
__ADS_1
"Kalau menurut aku, kamu itu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki banyak orang. Selagi itu tidak menggangu kamu, alangkah baiknya kamu membiasakan diri dengan hal-hal yang diluar nalar kamu. Dan satu hal yang ingin aku katakan. Jika kamu tidak memiliki bukti yang real. Karena orang akan menilai kamu aneh. Jadi kamu harus berhati-hati dalam bertindak. Cukup aku saja yang tau kamu memiliki kelebihan itu. Aku harap kamu mengerti ya sayang?" Zain memberikan nasehat kepada Meka dan meminta Meka untuk berhati-hati dalam berucap.
"Iya aku mengerti yanx. Maaf, aku udah buat kamu jadi kepikiran. Aku salah karena sudah bertindak bodoh. Sekarang kamu maem dulu ya yanx!" ucap Meka penuh penyesalan.
"Sayangku ini ternyata dewasa juga ya. Aku masakin sayang sama kamu!" Zain mencubit lembut kedua pipi Meka dengan gemas.
"Awwww sakit Pak, pelan-pelan cibirnya," rengek Meka.
"Kan udah gak sakit lagi yanx kalau yang keduanya, bukannya aku pelan-pelan menggoyangnya?" goda Zain dengan tersenyum jahil.
"Ihhhh apaan sih yanx," balas Meka dengan malu-malu.
Tiba-tiba Asih menggedor pintu kaca mobil mereka. Lalu Zain membuka pintunya otomatis.
Asih pun masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang.
"Gimana, tadi ketemu Mamaku gak Sih?" tanya Meka setelah melihat Asih duduk.
"Kayaknya Mama kamu didalam kamar. Sekarang kita kemana nih?" tanya Asih.
"Kita beli maem dulu. Nih Pak Dosga belom makan, kasihan nanti pingsan lagi," celetuk Meka sambil melirik kearah Zain.
Zain hanya tersenyum sambil menyetir. Dia sungguh bahagia hari ini. Dan dia tidak ingin membuat kesalahan lagi untuk selanjutnya.
Mobil pun pergi meninggalkan area kost-kostan Meka menuju arah Kota Solo. Tapi sebelum sampai kesana mereka berhenti sejenak untuk menemani Dosganya sarapan. Setelah selesai sarapan, mereka melanjutkan perjalannya.
Namun sebelum itu mereka menyempatkan untuk berhenti disupermarket membeli cemilan buat stock makanan selama perjalan ke Solo.
Di sepanjang jalan, Meka memejamkan matanya sejenak. Begitupun dengan Asih. Dia memilih untuk diam dan tidak bersuara. Mereka menikmati alunan musik disepanjang perjalanan. Hingga sampailah mereka di Kota Solo. Zain mencari sebuah cafe untuk istirahat sejenak. Akhirnya mereka singgah di Grandis Barn Colomadu Resto, Karanganyar.
Grandis Barn ini terletak di Desa Blulukan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Solo dan Bandara Internasional Bandara Adi Soemarmo. Tempatnya sangat unik.
Grandis Barn seolah menyerupai gudang di tengah hutan jati. Nama Grandis diambil dari nama latin jati, Tectona Grandis dan barn yang merupakan bahasa Inggris dari lumbung atau gudang.
Mereka pun masuk ke dalam cafe tersebut dan memilih tempat duduk yang nyaman.
Meka merasa takjub dengan nuansa didalamnya. Dia pun menyempatkan untuk berfoto-foto di Resto tersebut. Tak beda halnya dengan Asih, dia juga Tidka mau ketinggalan untuk mengabadikan foto-foto dirinya disana.
Hingga akhirnya pelayan datang dan menawarkan menu makanan yang terkenal di Resto itu.
__ADS_1