
Mamanya Zain pergi ke arah dapur menemui Bibi yang bertugas untuk memasak.
Sementara Zain pamit membawa Meka ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
"Pa, Zain ke kamar dulu ya. Biar Meka beristirahat dulu," pamit Zain.
"Oh iya, silahkan Zain. Biarkan Mekanya beristirahat," balas Papanya.
Lalu Zain dan Meka meninggalkan Papanya yang sedang asyik menonton TV. Kemudian Mamanya Zain datang menghampiri suaminya dan melihat Zain dan Meka sudah tidak berada di ruangan itu.
"Meka sama Zain sudah ke kamar Pa?" tanya istrinya.
"Iya Ma, Zain membawa Meka beristirahat dulu," jawab suaminya.
"Gak nyangka anak kita bisa bucin dan perhatian banget sama istrinya ya Pa. Mama bangga dengan Zain yang sangat menyayangi Meka," ucap Mamanya terharu dengan perhatian dan rasa sayang yang di berikan Zain buat Meka.
"Iya persis seperti Papa kan Ma," bangga suaminya.
Istrinya senyum-senyum mendengar balasan dari suaminya yang membanggakan dirinya sendiri.
"Kok malah senyum-senyum Ma. Papa benarkan?" tanya suaminya yang menginginkan jawaban istrinya.
"Iya Papa, itu benar sekali," jawab istrinya.
Keduanya pun tertawa karena merasa lucu dengan obrolan receh mereka di sore hari.
Sedangkan Meka dan Zain sudah berada di dalam kamar. Zain meletakkan barang-barang bawaan mereka di lantai.
"Mas, aku istirahat dulu ya. Kayaknya badanku sedikit letih," ucap Meka yang sedang membuka jendela kamar Zain.
Namun seketika, dia terkejut karena melihat sosok yang mengerikan sedang memandang ke arah rumah orang tua Zain. Meka gemetaran ketika mahluk ghaib itu melemparkan tatapan mengerikan ke arahnya. Dia langsung menutup jendela kamar itu dan berdiri di balik jendela sambil memegang dadanya dengan kedua tangannya. Wajah Meka saat itu juga menjadi pucat, karena baru kali ini dia melihat sosok yang sangat mengerikan dengan tatapan yang dapat menembus bola matanya. Mata itu seperti percikan api yang akan membakarnya hidup-hidup.
"Ya Allah apa itu tadi?" gumam Meka yang mencoba menetralkan degup jantungnya. Meka masih syok dan gak tenang dengan penampakan barusan.
Zain yang sedang merapikan pakaian mereka, menoleh ke arah Meka. Dia mengernyitkan keningnya lalu menghampiri Meka. Zain memegang lengan Meka.
Meka justru terlonjak kaget dan mundur hingga menabrak jendela di belakangnya. Wajah Meka pucat dan sedikit gemetaran.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Zain sambil memegang kedua bahu Meka.l
Meka langsung memeluk Zain dan menyembunyikan kepalanya dalam dekapan Zain.
"M--mas a--aku takut," ucap Meka dengan suara yang tercekat.
__ADS_1
"Takut kenapa Meka?" tanya Zain. Zain melepaskan pelukannya dan menatap Meka dengan menaikkan dagu Meka.
"A--aku me--melihantnya M--mas," jawab Meka.
"Sayang kamu kenapa? Dan apa yang kamu lihat?" tanya Zain bingung. "Ayo kita duduk dulu," ajaknya.
Zain membawa Meka duduk di pinggir tempat tidur. Dia melihat wajah Meka yang pucat dan ketakutan.
"A--aku melihat m--mahluk mengerikan di sana Mas," jawab Meka sambil menunjuk ke arah jendela.
Zain menoleh ke samping melihat ke arah jendela yang tertutup rapat.
"Tidak ada apa-apa di sana sayang," balas Zain.
"Dia di sana Mas. Di depan pagar rumah kamu," ucap Meka menjelaskan.
Zain berdiri dan hendak mengecek ke arah jendela. Tapi Meka mencekal lengan Zain untuk tidak melangakah ke jendela.
"Tidak apa-apa sayang. Mas hanya ingin mengecek apa yang ada di luar sana."
"Jangan Mas, aku takut. Kamu di sini aja ya. Mas, mahluk itu mengerikan."
"Maaf, Mas tidak bisa melihatnya sayang, sehingga tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan," sesal Zain.
"Kita tidak mungkin kembali ke Apartement sayang. Tapi besok pagi sampai sore, kita bisa berada di sana. Dan malamnya kita di sini. Gimana menurut kamu sayang?" tanya Zain yang meminta persetujuan Meka.
"Tapi aku tidak nyaman Mas berada di sini," ucap Meka.
"Kita berdo'a aja ya sayang. Semoga mahluk itu sudah pergi," harap Zain.
Saat mereka berdua asyik membahas mahluk itu, Khodamnya Meka muncul di hadapannya.
"Meka, berhati-hatilah di sini. Karena dia sedang memantau kalian berdua. Sebaiknya Zain ikut bersama kamu ke kampung," ucap Khodamnya.
"Ingat Meka, jangan sampai kamu lalai dalam memantau Zain," ucap Khodamnya memberi peringatan.
"Ada apa lagi ini? Siapa yang mau berbuat jahat kepada kami?" tanya Meka terhadap Khodamnya.
"Ini sudah takdir kamu Meka. Dan kamu harus mampu menjalani dan melewatinya. Ini hanya sementara, setelah itu kamu akan mendapatkan kebahagian kamu bersamanya," ucap Khodamnya Meka yang membingungkan.
"Apa maksud kamu?" tanya Meka penasaran.
"Tenangkan diri kamu Meka. Aku sudah memberikan pagar ghaib untuk dirimu hingga mahluk ghaib tidak bisa mengendus keberadaanmu," jelas Khodamnya.
__ADS_1
"Heum, aku sedikit legah," balas Meka.
Zain yang sudah paham tentang Meka yang berbicara sendiri hanya bisa menunggu sampai Meka selesai berkomunikasi dengan Khodamnya.
Setelah Meka selesai bicara dengan Khodamnya, dia kembali memeluk Zain.
"Mas, sepertinya kita dalam keadaan yang kurang baik. Ada yang ingin merusak hubungan kita," jelas Meka.
"Siapa yang ingin merusaknya?" tanya Zain lagi.
"Aku tidak tau Mas. Tapi yang pasti dengan munculnya mahluk ghaib itu, menandakan ada yang akan terjadi," jawab Meka.
"Hah, biarkanlah sayang. Mas sudah pasrah aja. Sekarang gimana dengan kondisi kamu?" tanya Zain.
Zain melihat wajah Meka yang sudah kembali normal. Tidak ada lagi wajah pucat dan suara yang sedikit gemetaran.
"Aku sudah baik-baik aja Mas. Dia sudah memberikan pagar ghaib untuk kita," balas Meka.
Zain dan Meka tak menyadari kalau ada yang sedang menguping pembicaraan mereka di dalam kamar. Seseorang yang tidak sengaja lewat dari depan kamar Zain dan mendengar semua obrolan mereka.
Dia kembali menemui orang yang memintanya mematai Zain dan Meka.
"Gimana, apa yang terjadi dengan mereka?" tanya orang yang membayarnya.
"Saya dengar, istrinya sedang ketakutan dan mereka mengatakan tentang mahluk ghaib di depan rumah," jawab orang suruhan itu.
"Hahaha, sudah mulai bekerja rupanya," tawanya dengan kepuasan.
"Apa saya bisa menerima bayarannya Sekaran" tanya suruhan itu.
"Tunggu, kamu belum menjelaskan bagaimana reaksi suaminya."
"Suaminya kebingungan dan berusaha menghibur dia. Kenapa anda ingin mengetahui apa yang terjadi dengan mereka?" tanyanya.
"Itu bukan urusanmu. Yang penting tugasmu hanya mematai mereka selama di sini, mengerti! ucap orang itu dengan sedikit tekanan.
"B--baik saya mengerti," balasnya.
"Ambil ini, dan tutup mulutmu kalau masih ingin nyawa keluargamu selamat, paham!" tekannya lagi.
Orang yang di suruh itu ketakutan mendengar ancaman darinya. Dia hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan orang yang menyuruhnya.
Kemudian dia kembali menjalankan pekerjaannya.
__ADS_1
Sementara Khodamnya Meka melihat semua kejadian yang sedang di alami tuannya. Bahkan tentang keberadaan mahluk ghaib yang mencoba meneror Zain dan Meka sehingga dia membuat pagar ghaib untuk tuannya.