
"Ustadz, Kek, Meka menghilang," ucap Papanya Meka memberitahu.
"Apa..!" pekik Ustadz Ahmad.
Ustadz dan Kakek tua segera masuk ke dalam kamar dan melihat sekeliling bahwa Meka benar-benar tidak ada.
Tiba-tiba muncul Khodamnya Meka dan menghampiri Papa Meka dan yang lainnya.
Papanya Meka dan Ustadz serta Kakek tua langsung menoleh ke arah Khodam itu yang muncul secara tiba-tiba.
"Kamu," ucap Papanya Meka.
"Apa kamu yang membawa Meka pergi?" tanya Ustadz Ahmad.
Sedangkan Kakek tua yang memiliki kemampuan luar lebih dari yang lainnya, mengetahui siapa yang membawa Meka sehingga dia memilih diam.
"Saya tidak membawa Meka, tetapi pemuda yang bernama Rudy membawanya," jawab Khodam itu.
"Apa! Kemana dia membawa anakku?" tanya Papanya Meka yang kaget mendengarnya.
"Tenanglah, dia aman bersama orang yang pas. Saat ini Meka memang membutuhkan bantuannya. Biarkan dia bersamanya," jawab Khodam Meka.
"Kenapa harus bersamanya? Dia lebih baik di sini bersama kami. Kau mencoba memanipulasi kasi, hah!" Papanya Meka terus meracau tak jelas.
"Bang, sabar. Jangan ribut seperti ini. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau memang Meka lebih aman bersama nya, serahkan saja," sambung Adik iparnya.
"Gimana Abang bisa tenang. Saat ini Meka sedang tidak bersama kita," ucap Abang iparnya.
"Aku tau Bang, tapi biarkan Meka bersamanya. Ini demi kebaikan Meka, tegur iparnya.
Papanya Meka terdiam, dia pun lemas dan memegang tangannya Sandy.
"Kenapa Meka jadi seperti ini kehidupannya. Ini semua salahku," sesal Papanya Meka.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan diri Abang sendiri. Ini semua sudah jalannya Meka, Bang. Dia pasti baik-baik saja," hibur iparnya.
"Seharusnya aku berkorban, bukan malah membuatnya menerima semua ini. Aku saja tidak ingin menerimanya, tapi aku justru menghadirkan Meka ke dunia menerima Khodam itu," sesal Papanya Meka.
"Maksud Abang gimana?" Sandy tak percaya mendengar pengakuan Abang iparnya.
"San, jika aku memutuskan rantai menerima Khodam itu, aku harus mengorbankan diri Abang, agar tidak ada yang meneruskan kepemilikan Khodam. Tapi Kakak mu tidak mau, dia tidak mau menjadi janda dan menghidupkan Biyu seorang diri. Sedangkan Biyu bukan anak terpilih yang menerima kehadiran Khodam itu. Hingga Khodam itu memberi Abang pilihan. Abang harus menikahi bangsa mereka dan memiliki keturunan dari mereka. Karena keturunan mereka sudah pasti akan terpilih memiliki Khodam itu," jelas Abang iparnya dengan menunduk lemas.
"Apa!" pekik Sandy dan istrinya bersamaan. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sebuah cerita yang sangat rahasia atas kehadiran Meka di dunia.
Ustadz Ahmad pun ikut terkejut mendengar pengakuan Papanya Meka dan begitu juga dengan Zain yang sangat terkejut dan terpukul mendengar pengakuan Papanya Meka. Dia yang menikahi bangsa jin dan manusia, membuatnya syok.
"Tidak mungkin, ini tidak benar kan Pa?!" tanya Zain yang terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa Papa tidak memberitahuku?!" teriak Zain. "Apa yang akan saya katakan kepada kedua orang tuaku, tidak mungkin saya bilang kalau saya menikahi setengah bangsa jin!" ucap Zain dengan suara meninggi.
"Maksud kamu gimana Zain? Apa kamu menyesal menikahi Meka? Apa kamu berubah pikiran setelah mengetahui jati diri Meka sesungguhnya?" tanya Papanya Meka yang terlihat pucat.
Zain tak bisa menjawabnya, dia bingung antara kecewa, sedih dan bingung. Zain tidak tau harus berbuat apa. Tidak mungkin dia menikahi bangsa jin. Bagaimana dengan keturunannya nanti. Zain terus berpikir.
"Kamu mau meninggalkan Meka? Apa kamu berpikir seperti itu Zain!" bentak Papanya yang sudah tersulut emosi.
"Sepertinya begitu Pa. Zain tidak bisa berpikir saat ini Pa, maaf," Zain pun berlalu dari hadapan keluarga Meka. Dia keluar dari kamar itu meninggalkan Papa mertuanya dan yang lainnya di dalam kamar itu.
"Zain......, jangan tinggalkan Meka, Zain.....!" teriak Papanya Meka dari dalam ruangan itu.
Omnya Meka mengejar Zain untuk menghentikan sikapnya yang akan meninggalkan Meka begitu saja. Tetapi Kakek tua menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu di kejar lagi. Takdir mereka hanya sampai di tentukan dari sikap Zain. Kalau dia memang sangat mencintai nak Meka, dia pasti akan kembali. Biarkan dia mengambil keputusan sesuai hatinya. Kita akan menunggunya," ucap Kakek tua itu memberitahukan semuanya.
Papanya Meka hanya bisa menangis dan menunggu hal apa yang akan terjadi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Ustadz?" tanya Papanya Meka bingung.
__ADS_1
"Saya juga tidak bisa mengatakan apapun. Karena semua diluar kendali saya Pak," jawab Ustadz Ahmad.
"Untuk mengecoh iblis itu, sebaiknya kalian tetap berada di sini sampai tenaga yang dikeluarkan iblis itu berkurang. Aura panas yang dikeluarkannya tidak akan berpengaruh terhadap kalian semua. Karena itu hanya ditujukan untuk Meka saja. Jadi biarkan dia terus melakukannya, dan jangan biarkan dia mengetahui kalau Meka tidak ada di ruangan ini," jelas Khodamnya.
"Sampai kapan kamu harus berada di dalam ruangan ini?" tanya Kakek tua.
"Sampai aku memastikan bahwa Meka sudah aman di tempat yang di rahasiakan," jawab Khodamnya. "Dan satu hal lagi, lebih baik dia dan istrinya kembali sekarang juga bersama Ustadz untuk menghindari iblis itu menginginkan tumbal. Karena bisa saja iblis itu menarik keluar laki-laki itu dan istrinya untuk menyerahkan diri mereka karena terpengaruh iblis itu," jelas Khodamnya.
Sandy dan istrinya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Dan mereka tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan Khodam itu.
Lalu Ustadz Ahmad menjelaskan kepada Om dan Tantenya Meka tentang apa yang disampaikan Khodam itu.
"Bagaimana, kita bisa berangkat sekarang?" tanya Ustadz Ahmad.
Sandy dan istrinya yang takut saat mendengar apa yang disampaikan Ustadz itu, langsung menyetujui ajakan Ustadz Ahmad.
"Baik Ustadz, kami akan ikut bersama Ustadz saat ini juga. Lebih cepat lebih baik Ustadz," jawab Omnya Meka.
"Baiklah kalau gitu," balas Ustadz Ahmad.
"Kek, Pak, saya dan yang lainnya akan kembali ke rumah. Kalian berhati-hatilah di sini," pamit Ustadz Ahmad.
"Iya Pak Ustadz. Terima kasih karen sudah mau membantu saya dan yang lainnya. Saya dan Kakek akan menunggu Meka di ruangan ini," balas Papanya Meka.
"Berhati-hatilah Ustadz. Semoga semua berjalan dengan baik dan selalu dilindungi Allah SWT, aamiin," ucap Kakek tua.
"Terima kasih Kek," balas Ustadz Ahmad.
"Ayo kita pergi," ajak Ustadz Ahmad kepada Omnya Meka dan istrinya.
Setelah mereka berpamitan, ketiganya keluar dari ruangan itu di kawal oleh Khodamnya Meka dengan menggunakan pagar ghaib. Sehingga makhluk-makhluk itu tidak bisa mengetahui keberadaan ketiganya.
Sedangkan Papa dan Kakek tua sedang duduk bermeditasi di ruangan itu, guna menghalau serangan yang akan terjadi tiba-tiba. Waktu pun terus berlalu hingga menjelang Maghrib. Banyak mahluk-mahluk yang mulai bermunculan di depan ruangan kamar Meka. Iblis itu masih mengira bahwa Meka berada di dalam ruangan itu. Karena aroma Meka masih melekat di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Sedangkan Meka yang saat ini sedang berada di alam ghaib, beristirahat disebuah ruangan yang benar-benar sudah di selimuti pagar ghaib dengan kekuatan dahsyat.