
Saat Meka nyantai sedang makan bersama Dosganya, tiba-tiba ponselnya berdering. Meka buru-buru mengambil ponselnya dan melihat nama Papanya yang tertera dilayar nya.
"Kenapa Papa menghubungiku ya?" pikir Meka.
Dia langsung mengangkat tlp nya dan langsung menjawabnya.
"Hallo Pa, Assalamu'alaikum!" sapa Meka.
"Wa'alaikumussalam sayang," balas Papanya dengan suara tercekat.
Lalu Papanya diam sejenak mengatur nafas untuk mengucapkan sesuatu.
"Sayang, kamu dimana sekarang?" Papanya berusaha menenangkan suaranya.
"Meka lagi makan Pa diluar. Oh ya Pa, Mama sudah sampai ya dirumah? Meka mau ngomong dong sama Mama. Tadi Meka hubungi gak diangkat-angkat," Meka merasa lega karena dia mengira Mamanya sudah sampai dirumah.
"Meka sayang, kamu sekarang juga pulang ke Sumatera ya nak!" seru Papanya yang tak tega dengan putrinya.
"Loh ada apa Pa? Kalian baik-baik saja kan?" Meka bertanya dengan curiga.
"Pulanglah nak sekarang. Papa sudah pesankan tiket pesawat kamu dan sekarang kamu bisa berangkat. Papa tunggu dirumah ya nak," Papanya Meka berusaha menahan tangisnya karena dia tidak mau Meka menjadi histeris.
"Papa ada apa ini! Ini pasti ada yang gak beres ya Pa!" Meka berteriak dengan Papanya. Dia Tidka memperdulikan sekelilingnya.
Tetapi tlp dari Papanya sudah putus. Meka terus bertanya-tanya ada apa ini?
"Kenapa sayang?" Kok kamu teriak gitu?" Dosganya juga ikut panik dengan sikap Meka.
"Zain antar aku ke bandara sekarang. Papa sudah mesani tiket pesawat untukku kembali ke Sumatera," ucap Meka tanpa ekspresi.
"Kenapa mendadak sayang? Kalau gitu aku ikut ke Sumatera. Aku gak akan biarin kamu sendirian," Zain langsung memesan tiket yang sama dengan Meka.
Lalu Zain membayar makanan mereka dan bergegas pergi dari cafe itu. Lalu mereka menuju Apartement sebentar untuk mengambil pakaian Zain. Setelah dari Apartement mereka ke bandara. Sepanjang perjalanan Meka terus kepikiran dengan Mamanya.
Cerita tentang Mamanya.
Setelah sampai di bandara Sumatera, Mamanya Meka menghubungi adiknya yang akan menjemput.
"Hallo San, udah dimana? Kakak udah sampai nih. Sekarang lagi mau ambil barang," ucap Mamanya Meka.
"Aku udah masuk bandara kak sama Abiyu nih. Bentar ya kak, aku parkirkan dulu nih mobil," jawab adiknya yang bernama Sandy.
"Ya udah kakak tunggu di depan ya," balas Mamanya Meka.
Setelah itu Mamanya mengambil barang dan ikut mengantri. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya barangnya sudah didapat. Lalu Mamanya Meka berjalan keluar mencari keberadaan adik dan anaknya sibungsu.
Mamanya Meka melihat sekeliling, dan melihat kedatangan adik dan anaknya. Dia pun melambaikan tangannya memberi tanda.
"Itu Mama, Biyu...! tunjuk Omnya kearah Mamanya Meka.
__ADS_1
"Mamaaaa...!" teriak Biyu yang merasa senang dengan penampakan Mamanya.
"Sayaaaang," panggil Mamanya sambil membuka lebar kedua tangannya untuk menangkap sibungsunya.
Hup, si Binyu langsung memeluk Mamanya karena merasa kangen banget. Karena Mamanya Meka meninggalkannya hampir satu bulan lamanya.
"Mama kangen banget sama Biyuku unyuk-unyuk...," Mamanya Meka mencium anaknya sambil menggendongnya.
"Gimana khabarnya kak?" tanya adiknya yang dicuekin keberadaannya.
"Eh Sandy, hampir lupa kakak dengan keberadaanmu," ledek kakaknya.
"Iya semenjak ke Jogja, jadi lupain kami disini!" celetuk adiknya.
"Ahhh kamu ini. Kakak kan ngurus si Meka disana. Oh ya disana, kakak kenalan sama kekasihnya Meka. Bisa juga tuh anak macarin Dosennya sendiri, hahaha," bangga Mamanya dengan kehebatan anaknya yang menaklukkan sang dosen kampus yang terkenal.
"Maksud kakak, Meka pacaran sama Dosen dikampusnya?" Sandy geleng-geleng kepala dan merasa heran dengan keponakannya yang mampu menaklukkan seorang Dosen kampus.
"Iya loh dek, anakku mantep banget. Malah kakak udah kenalan sama kekasihnya. Orangnya sopan dan sangat perhatian sama Meka," jelas kakaknya.
"Wah kakak sudah kenalan, berarti tinggal kami yang belom. Kapan Meka mau bawa dia ke keluarga besar?" tanya adiknya.
"Ya, Kakak bilang setelah Meka selesai kuliah. Mbak juga lega meninggalkan Meka diJogja karena dia memiliki sahabat yang baik dan kekasih yang penyayang dan perhatian," balas Mamanya Meka.
"Menurut kakak, orangnya gimana? Bagus tidak?" Sandy takut kalau Meka salah pilih pasangan.
"Hahahaha, si Meka buat anak orang bucin! Mantep...banget emang ponakan ku itu kak!" seru adiknya sambil tertawa bangga.
"Biyu, gimana sayang sekolahnya? Kamu tidak nakal kan disekolah nak?" tanya Mamanya yang masih menggendong anaknya.
"Nggak Ma, Biyu anak yang baik kok disekolah. Bu guru selalu memperhatikan Biyu, Ma!" jawab Biyu.
"Pinter anak Mama. Itu baru jagoan Mama!" bangga Mamanya terhadap sibungsu.
"Ayo kak kita kemobil," ajak Sandy.
"Sekarang Biyu turun ya sayang, kamu udah berat banget sekarang. Mama gak kuat lama-lama gendong Biyu," Mamanya langsung menurunkan Biyu.
"Biyu sama Om aja ya sayang, kasihan Mama. Nanti kalau udah sampai dirumah baru digendong Mama lagi ya, Ok jagoan Om!" ucap Omnya yang memberi semangat terhadap Biyu.
"Ok!"
Lalu mereka berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobil.
"Kak nanti kita mampir dulu ya ke Bolu Napo****, tadi adikmu mesan dibelikan bolu itu. Biasa dia lagi ngidam," ucap adiknya.
"Udah berapa bulan San, kandungan istrimu?" tanya Mamanya Meka.
"Sudah masuk tiga bulan kak, makanya dia mesan bolu itu karena yang didalam lagi pengen makan bolu," ucap Sandy sambil menyalakan mesinnya.
__ADS_1
"Kakak udah kangen sama semuanya. Apalagi sama Papanya anak-anak. Oh ya, abangmu sudah sampaikan San dirumah?" tanya Mamanya Meka.
"Sudah kak tadi sudah ada tiga jam and sebelum kami kemari," jawab Sandy.
"Kakak belom ngabarin Papanya anak-anak. Kakak coba dulu tlp," gumam kakaknya.
Lalu Mamanya Meka mencoba menghububgi suaminya. Beberapa kali panggilan tak dijawab hingga panggilan terakhir baru suaminya mengangkat tlpnya.
"Assalamu'alaikum Pa!" sapa Mamanya Meka.
"Wa'alaikumussalam Ma, mama sudah sama Biyu kah?" tanya suaminya yang senang karena istrinya sudah sampai di Sumatera.
"Iya Pa, nih Biyu manja banget sama Mama," jawab istrinya.
"Maklumlah Ma, udah hampir sebulan dia jauh dari Mama. Papa juga rindu sama Mama loh..!" goda suaminya.
"Ih...Papa sudah tua loh. Masih juga rindu-rindu segala," celetuk istrinya.
Sandy yang lagi menyetir mendengar obrolan sepasang suami istri yang lagi menahan rindunya.
"Ekhemm, ingat umur bang...!" ledek Sandy tanpa menoleh ke kakaknya.
"Hussssst nyela aja nih si Sandy. Udah fokus aja nyetirnya San!" tegur Mamanya Meka.
"Iya-iya," balas Sandy.
Lalu obrolan antara suami istri selesai juga. Mamanya Meka melihat Biyu yang tertidur di jok belakang sendirian. Karena tadi Biyu yang memilih untuk duduk dibelakang biar tidak sempit kalau didepan duduk sama Mamanya.
"San, kakak nitip Meka ya sama kamu, kalau kamu nanti ketemu sama dia. Kakak sangat menyayangi Meka. Oh ya Shan, kakak mau cerita sama kamu tentang keluarga suami kakak," ucap Mamanya Meka.
"Maksud kakak tentang Abang? Emang ada apa dengan Abang?" tanya Sandy.
Mamanya Meka menceritakan tentang keturunan yang terpilih untuk menjadi tuannya. Dan ini sudah turun temurun. Awalnya Sandy hanya biasa saja mendengarnya, namun setelah kedepannya, dia justru tak percaya dengan hal yang begituan. Tapi itu lah kenyataannya.
"Jadi, tiba giliran silsilah Papanya Mek, dia memilih Meka. Karena Meka memiliki hati yang baik dan bijak. Tapi Meka tidak mengetahuinya. Namun belakangan ini, kakak melihat Meka seperti aneh. Apa dia mulia menyadarinya ya," cerita Kakaknya.
"Ya ampuuun kak, berarti Meka itu punya mata bathin dan memiliki khodam ? Maksud kakak begitu?!" tanya adiknya memastikan.
Mamanya Meka hanya mengangguk dengan pertanyaan adiknya.
"Aku masih tidak percaya kak, ini ada diketurunan kakak. Trus apa tidak mengganggu sama dia nantinya?" tanya Sandy lagi.
"Itu juga kakak tidak tau dek. Kalau kata abangmu, selagi dia tidak merasa terbebani ya tidak terganggu. Tapi dia akan mulai terbiasa dengan kelebihannya itu," jawab Mamanya Meka.
"Kenapa baru sekarang kakak cerita sama aku?" tanya adiknya lagi.
"Karena abangmu melarangnya. Dia takut kenapa-napa sama Meka. Kamu harus berjanji menyimpan kelebihan Meka ini dari siapapun baik dari istrimu sendiri," pinta kakaknya.
"Iya kak, aku janji," balas Sandy.
__ADS_1