
Hallo pembaca setia karya ku..., senang rasanya kalian masih mengikuti cerita Meka sampai bab ini. Cerita yang pasang surut, bergelombang dan mendebarkan.
Terkadang penulis tertawa sendiri saat menggerakkan jari-jari ini untuk menuangkan kata-kata dalam karya ini. Rasa tak percaya bahwa karya ini bisa sampai di bab ratusan.
Dengan dukungan dan peminat pembaca atas karya ini, penulis semakin semangat. Bahkan penulis mencoba membuat karya psikopat berbau horor dengan judul "RUMAH TUMBAL PSIKOPAT"
Cerita yang penuh dengan adegan *** yang tak normal hingga membuat seseorang menjadi Psikopat. Ayo kalau penasaran, silahkan di baca ceritanya. Semoga menghibur.
Tetap dukung Author terus dengan memberikan LIKE, VOTE, HADIAH BANYAK DAN KOMENNYA.
Salam hangat Author
😍💐💞
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕
Setelah Sandy mengucapkan kata-katanya, mereka semua yang berada di ruangan itu terdiam. Terutama Papanya Meka. Dia membayangkan bagaimana keadaan di sana jika mereka tidak segera pergi meninggalkan kamar itu.
"Maaf, Meka saat ini berada di mana?" tanya Omnya heran karena dia yang tidak bisa melihat hal ghaib, penasaran dimana Meka.
"Insyaallah Meka aman saat ini. Laki-laki itu sudah membuat pagar ghaib besar sehingga iblis itu tidak bisa mengendus keberadaan Meka di sana," jawab Kakek tua yang mengetahuinya.
Tiba-tiba muncullah Khodamnya Meka. Mahluk itu berdiri tepat di samping Kakek tua.
Semua yang berada di ruang tengah menatap tajam ke arah Khodam itu.
"Bagaimana keadaannya di sana?" tanya Papanya Meka saat melihat Khodam itu.
"Dia aman di sana," jawabnya.
"Sampai kapan? Bagaimana dengan bayi yang dalam kandungannya?" tanya Papanya lagi.
"Sampai iblis itu musnah," jawab Khodam itu dengan santai.
"Apa musnah!" pekik Papanya kaget. Bagaimana cara memusnahkannya?" tanya Papanya Meka yang mulai berang melihat Khodam itu.
"Saya belum bisa memastikannya. Karena iblis itu menginginkan sesuatu," jawabnya. "Lebih baik kita tetap hidup seperti biasa. Masalah Meka, dia sudah mengurusnya," ucap Khodam itu.
"Abang ngomong sama siapa?" tanya Sandy bingung. Sandy yang tidak memiliki mata bathin, menjadi sangat penasaran dengan apa yang bisa dilihat Abangnya.
__ADS_1
"Ah iya, Abang lagi ngomong sama Khodam nya Meka," jawab Abang iparnya. "Oh ya San, Abang sudah memutuskan untuk kita kembali ke Medan besok. Kita lihat dulu situasi di sini," ucap iparnya memberitahu.
"Bagiamana dengan menantu Abang?" tanya Sandy.
"Sepertinya Zain sangat terpukul mendengar identitas Meka. Apa tidak sebaiknya Bapak menghubunginya," saran Ustadz Ahmad.
"Tidak usah, biarkan dia merenungkan diri sementara. Jangan kita memaksa dia untuk mengambil keputusan mendadak. Karena itu akan menentukan hubungan mereka ke depan hari," Kakek tua tiba-tiba menyela ucapan ustadz Ahmad.
"Tapi kalau kita tidak bertanya sama Zain, bagaimana dengan nasib Meka?" Sandy tidak bisa menerima jawaban Kakek tua. Dia merasa kasihan dengan keadaan keponakannya itu. Walaupun Meka bukan keponakan kandungnya, tapi Sandy sudah sangat menyayangi Meka sejak kecil.
"San, kamu tenang dulu. Apa yang di katakan Kakek itu ada benarnya," balas Iparnya. "Tapi saya juga mengkhawatirkan perubahan Zain jika kita menjauhinya," ucapnya lagi.
"Iya kek, gimana kalau Zain justru meninggalkan Meka? Bukankah Meka akan sangat terluka?" Ustadz Ahmad pun mendukung ucapan Papanya Meka.
"Hah....," Kakek tua pun menghela nafasnya dengan berat. "Saya tau kegelisahan kalian. Tapi kita hanya bisa menunggu. Jika Zain lebih memilih meninggalkan Meka, itu artinya cinta Zain tidak tulus terhadap Meka," ucap Kakek tua dengan tenang.
Kakek tua melirik ke arah Khodamnya Meka yang dari tadi hanya diam saja. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Saya akan melindungi Meka bersama laki-laki itu dari iblis yang saat ini sedang mengincar Meka. Sepertinya kita harus segera mencari jalan untuk menghancurkan iblis itu. Saya khawatir jika dia bisa mengendus keberadaan Meka," ucap Khodamnya Meka.
"Kalau seperti itu Sandy dan istrimu lebih baik kembali ke Medan dan bantu Abang mengurus usaha di sana. Abang menunggu Meka di sini," ucap Papanya Meka.
"Kamu tinggal bilang sama keluarga di Medan bahwa Abang sedang menemani Meka di sini sementara," jawab iparnya.
"Kamu dan istrimu tidak mungkin berada di sini Sandy. Karena saat ini istrimu sedang mengandung. Jadi kalian harus segera kembali besok pagi, tiba-tiba Kakek tua mengucapkan kata yang membuat Sandy dan Papanya Meka terkejut.
"Apa kek....!" seru Sandy terkejut dengan mulut menganga.
"Kakek bilang apa? Apa saya tidak salah mendengarnya?" tanya Papanya Meka.
"Kalian tidak salah mendengar. Apa yang saya katakan itu kebenarannya. Jangan sampai iblis itu mengendus aroma janin di dalam tubuh istri kamu," ucap Kakek tua itu.
"Ya Allah.., dari mana Kakek tua?" tanya Sandy tak percaya.
"Saya bisa melihatnya, ada calon bayi sedang tumbuh di rahim istrimu. Maka segeralah kalian kembali ke Medan," jawab Kakek itu.
Tanpa menunggu kata-kata dari yang lainnya, Sandy langsung pergi meninggalkan semuanya. Dia berlari mencari keberadaan istrinya.
Sedangkan yang lainnya terpelongo melihat aksi Sandy yang lari secepatnya. Terutama Ustadz Ahmad, dia geleng-geleng kepala melihat tingkah Sandy.
__ADS_1
"Besok, mereka harus diantar ke bandara secepatnya. Saya khawatir jika iblis itu datang kemari dan memaksa istrinya Sandy keluar dari rumah ini," ucap Kakek tua.
"Kakek benar, dia harus kita selamatkan. Jangan buat iblis itu menambah kekuatannya," balas Papanya Meka.
Kemudian dari arah dapur datanglah istrinya Ustadz Ahmad mengantarkan cemilan sore hari untuk mereka nikmati.
"Ini gorengannya, dimakan dulu. Jangan biarkan perut kita kosong," ucap istri Ustadz itu.
"Terima kasih Bu, kami memang sedang laper," balas suaminya. "Bagaimana dengan istrinya Sandy?" tanya Ustadz Ahmad.
"Dia ada di dapur bersama si Nenek sedang membantu memasak buat makan malam nanti," jawab istrinya.
"Saya minta, anda bisa menjaganya. Karena kondisinya saat ini sedang mengandung," ucap Kakek itu.
"Ya Allah, dia sedang mengandung? Alhamdulillah ya. Kalau begitu saya kembali ke belakang dulu membantu mereka," balas suaminya Ustadz.
Setelah itu Ummu pergi kembali ke dapur untuk mengucapkan selamat.
"Kalau begitu saya akan kembali ke tempat Meka. Saya ingin melihat perkembangan dia di sana," ucap Khodam itu.
"Semoga anakku baik-baik saja di sana. Jaga dia dan jangan sampai Meka kenapa-napa di sana. Kalau tidak kamu akan menanggung akibatnya," ucap Papanya Meka dengan mengancam.
"Tentu saya akan menjaganya dengan jiwa dan raga saya. Kalau begitu saya permisi," Khodam itu menghilang dari hadapan semuanya. Dia kembali ke Istananya Rudy untuk bertemu dengan Meka.
"Tunggu, bagaimana kalau Meka tidak ingin bertemu dengan ku?" gumam Khodamnya yang baru menyadari sesuatu.
Sesaat kemudian, dia tiba di Istananya Rudy. Khodam itu melihat banyaknya pengawal dan pagar ghaib yang sangat kuat menutupi Istana ini. Sehingga iblis tidak bisa masuk dan mengendus keberadaan Meka.
Khodam itu mencari keberadaan Rudy, hingga mereka bertemu di depan pintu masuk ke dalam sebuah ruangan yang menghubungkan dengan kamar Meka. Ruangan yang diselimuti pagar ghaib kedua.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap Rudy saat melihat kedatangan Khodam itu.
"Ya aku ingin mengetahui keberadaan Meka. Bagaimana kondisinya?" tanya Khodam itu.
"Dia baik-baik saja. Tapi dia mengkhawatirkan keluarga dan suaminya," jawab Rudy tenang.
"Aku baru saja menemui mereka di rumah Ustadz Ahamd. Mereka sudah keluar dari rumah sakit," jelas Khodam Meka.
"Syukurlah mereka segera menyadarinya. Kalau terlambat, mereka bisa saja menjadi sasaran iblis itu," balas Rudy.
__ADS_1