Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 34


__ADS_3

Meka masih setia berada dalam dekapan Mamanya. Hingga mereka sampai di Bandara. Zain memarkirkan mobilnya. Lalu Meka dan yang lainnya turun dari mobil dan mengantar Mamanya untuk check-in.


"Kenapa ya perasaanku semakin aneh. Aku melihat Mama seperti orang yang tanpa beban. Pandangan matanya juga redup tak bergairah ataupun bersemangat, apa yang terjadi denganku yanx?" Meka menatap Zain sambil menggenggam tangannya Zain.


"Kamu jangan khawatir, Mama kamu pasti baik-baik saja. Kita tunggu aja disini ya," hibur Zain.


"Mek, Lo kenapa? Apa ada yang mengganjal di hati Lo?" tanya Asih yang heran melihat sikap Meka.


"Asih, gw khawatir sama Mama. Kayaknya gw gak rela Mama berangkat sekarang!" jawab Meka yang menatap kearah Asih.


"Do'ain aja Mek, Mama Lo baik-baik aja. Jangan mikirin yang gak baik. Itu cuma perasaan Lo aja kali Mek!" ungkap Asih. Asih menganggap ucapan dan perasaan Meka yang berlebihan. Terkadang dia juga merasa aneh melihat sikap Meka yang seperti orang gak tenang gitu.


"Iya perasaan seperti ini sangat mengganggu gw Sih! Gw juga tidak mau seperti ini!" seru Meka dengan sedikit kuat. Hingga Meka melihat Mamanya datang menghampirinya untuk yang terkahir kalinya.


Mamanya memeluk Meka dengan sangat erat. Dan meneteskan air matanya.


"Sayang, jaga diri kamu baik-baik ya. Dan jadilah anak yang bisa Mama banggakan. Pulanglah karena pasti adikmu merindukanmu. Mama pasti juga merindukanmu sayang!" ucap Mamanya yang terus memeluk Meka. Seakan-akan tak ingin melepasnya.


"Mama jangan nangis gini dong! Meka jadi ikutan sedih nih! Kayak Mama mau ninggalin kami aja. Nanti juga Meka akan pulang ke Sumatera lihat Mama dan adik," balas Meka sambil mengusap air mata Mamanya.


"Nak Zain, Tante titip Meka. Jaga dia dengan baik dan jangan pernah sakiti dia. Kalau sampai itu terjadi, Tante akan menghukum kamu nantinya," nasehat Mamanya Meka.


"Iya Tante, Zain berjanji tidak akan mengkhianati Meka dan tidak akan mengecewakan Tante," balas Zain dengan tersenyum.


"Asih, Tante juga titip Meka. Jadilah sahabat yang baik dan setia terhadap Meka. Karena Meka tak punya siapa-siapa lagi. Tante senang melihat persahabatan kalian. Jangan sakiti Meka ya nak Asih!" pesan Mamanya Meka.


"Pasti Tante," Asih akan menemani Meka, iya kan Mek!" Asih tersenyum sambil merangkul sahabatnya itu.


Setelah mengucapkan kata nasehat dan pesan, Mamanya Meka masuk kedalam ruang tunggu. Meka dan yang lainnya belom beranjak dari Bandara. Mereka menunggu sampai Pesawatmya pergi.


Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya Mamanya berangkat. Mereka pun pergi meninggalkan Bandara. Zain membawa Meka yang masih menangis kedalam mobil. Meka merasa kehilangan Mamanya.


"Mek, kita ke Pantai aja yuk biar Lo gak sedih lagi!" ajak Asih untuk menghibur sahabatnya.


"Iya sayang, gimana kalau kita ke Parangtritis, biar kamu gak bersedih terus," Zain juga mengajak Meka ke Pantai.


Meka hanya menganggukkan kepalanya. Matanya masih setia menatap pesawat yang sudah mulai menghilang diatas awan.

__ADS_1


"Ma, kenapa hatiku gak rela Mama pergi! Rasanya seperti aku akan kehilangan Mama," bathin Meka yang terus mengeluarkan air matanya tanpa bersuara.


Selama perjalanan mereka hanya diam, tidak ada yang bersuara. Meka masih berkecamuk dengan pikirannya. Hingga dia mendengarkan suara bisikan.


"Ikhlaskan lah kepergiannya," ucap seseorang yang tak pernah memperlihatkan wujudnya. Kali ini Meka tidak terkecoh dengan bisikan itu. Dia hanya diam karena sudah mulai terbiasa.


Tapi yang mengusik pendengarannya adalah kata ikhlaskan kepergiannya.


"Apa maksudnya?" bathin Meka.


"Ikhlaskan kepergiannya! Kuatkan hatimu!" bisik suara itu lagi. Seakan-akan menjawab kata hati Meka.


Meka melihat kesamping Zain. Dia menatap kearah Zain. Dan Meka langsung berkata.


"Kita pulang sekarang kekostan Pak!" ucap Meka tiba-tiba.


Mereka baru menempuh perjalanan satu jam lamanya, namun ntah kenapa Meka meminta Zain memutar haluan kembali kekostannya.


"Ada apa sayang? Kenapa harus kembali?" tanya Zain keheranan.


"Pokoknya kita kembali kekost!" seru Meka sedikit berteriak.


"Iya-iya sayang kita kembali kekost," ucap Zain lalu membalikkan mobilnya kearah jalan pulang kekostan.


"Meka Lo tenang, ada apa?" tanya Asih yang memajukan tubuhnya kedepan kearah Meka.


"Wi, gw punya firasat gak enak terhadap Mama gw Wi!" ucap Meka khawatir.


"Meka, Lo jangan seperti itu! Sekarang ayo kita balik kekost dari pada Lo tidak tenang, mending kita kekost biar Lo tidak berbicara aneh," ketus Asih yang merasa jengah melihat tingkah Meka.


Meka sebenarnya mau marah mendengar ucapan Asih yang mengatakan dia aneh. Tapi saat ini pikirannya terus mengarah ke Mamanya.


Akhirnya mereka sampai juga kekostan. Meka langsung masuk kekamarnya tanpa memperdulikan Dosganya dan sahabatnya.


"Pak, mendingan anda pulang aja sekarang. Sepertinya Meka lagi butuh sendiri," ucap Asih yang mengusir Zain secara halus.


"Tidak, saya akan masuk kekamar Meka dan menemaninya didalam," tegas Zain. Lalu dia pun masuk kedalam kamarnya Meka. Zain melihat Meka sedang memandang foto Mamanya yang memang dipajang di meja belajar Meka.

__ADS_1


"Sayang, kamu yang sabar ya, kita tunggu khabar dari Mama kamu!" seru Zain sambil memeluk Meka dari samping.


"Zain, kamu percaya kan sama aku? Kamu gak akan mengatakan aku aneh kan?" tanya Meka penuh harap.


"Tidak sayang. Aku percaya sama kamu, kamu tidak sendirian kok. Ada aku disini," Zain berusaha menghibur Cha.


Lalu Meka menyalakan televisi, dia mencoba mengecek berita hari ini. Meka tidak ada melihat satupun berita mengenai pesawat. Lalu dia melihat jam dindingnya. Dia menghitung jam keberangkatan Mamanya sampai saat ini. Ternyata sudah hampir tiga jam berlalu dari Mamanya berangkat. Meka ingat, kalau Mamanya transit dulu keJakarta sebelum lanjut ke Sumatera.


Meka mencoba menghubungi Mamanya. Namun tidak diangkat tapi nomernya aktif. Lalu Meka mencoba kembali menghubunginya. Dan akhirnya diangkat oleh Mamanya.


"Assalamu'alaikum Ma!" sapa Meka dengan senang.


"Wa'alaikumussalam sayang!" sahut Mamanya.


"Sayang, Mama nih sudah dalam Pesawat mau berangkat ke Sumatera. Nanti kita tlp nan lagi ya, kalau memang nyampai," ucap Mamanya.


"Iya Ma, Meka tunggu khabarnya ya Ma!" balas Meka.


Zain yang setia menemani Meka, merasa senang karena Mamanya Meka gak kenapa-napa.


"Gimana sayang? Apa kata Mama?" tanya Zain penasaran.


"Mama sekarang lagi dalam Pesawat mau berangkat ke Sumatera yanx. Mudah-mudahan Mama selamat sampai tujuan," harap Meka.


"Aamiin sayang," jawab Zain. Zain memeluk Meka dengan sangat erat. Mereka memilih menonton film CD untuk menunggu khabar dari Mamanya.


"Sayang kita nonton yang romantis ya filmnya," pinta Zain sambil melihat kumpulan film dileptop Meka. Hingga Zain menemukan film romantis yang ada adegan ranjangnya.


"Nah ini saja, ada hot-hotnya bisik Zain dengan suara seraknya.


Film pun dimulai. Zain dan Meka duduk di sofa sambil menonton. Zain yang awalnya duduk biasa, kini mulai mendekat dan merangkul pinggang Meka dari samping. Lalu film itu memperlihatkan adegan yang mulai hot. Meka dan Zain mulai merasakan gelisah dalam diri mereka masing-masing. Terutama Zain, gairahnya mulai terpancing, lalu dia menarik Meka duduk diatas pangkuannya.


"Sayang, aku pengen!" ucap Zain dengan wajah yang bergairah. Tanpa menunggu persetujuan Meka, Zain langsung melu*** bibir Meka dengan sangat bergairah. Dia sudah tidak bisa menahan gairahnya karena tontonan film adegan ranjang itu.Tangannya mulai bergerilya ketubuh Meka hingga membuat Meka mendes**. Dosganya itu terus memberikan kenikmatan yang penuh sensasi. Hingga mereka sama-sama polos tanpa busana. Zain mulai menyatukan miliknya dengan sarangnya. Hingga penyatuan terjadi, mereka menikmati permainannya sambil menonton adegan ranjang itu. Permainan terus berlanjut sampai akhirnya mereka sama-sama mencapai puncaknya.


"Ahhhh," erang mereka secara bersamaan. Zain memeluk Meka dengan erat tanpa melepaskan penyatuan mereka. Dan Zain masih dalam posisi duduk sedangkan Meka masih berada dipangkuan Zain.


"Sayang, nikmat banget...! Nanti malam kamu nginep di Apartemen aku ya!" pinta Zain.

__ADS_1


__ADS_2