Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 137


__ADS_3

Pagi itu Meka tidak ingin masuk ke kelasnya sendirian. Dia lebih memilih menunggu kedua sahabatnya di ruangan suaminya.


"Sayang, Mas mau mengadakan pesta pernikahan kita secara terbuka dan besar-besaran. Gimana menurut kamu?" tanya Zain meminta pendapat Meka.


"Emang Mas udah ngobrol sama Mama dan Papa untuk membahasnya?" Meka malah bertanya balik.


"Rencananya sih, hari ini Mas mau ajak kamu ke rumah Mama membicarakan tentang pestanya. Mas mau secepatnya kita mengadakan resepsi pernikahan kita, agar semua yang mengenal kita tau kalau kita suami istri," jelas Zain.


"Aku ngikut Mas aja. Kalau Mas menginginkannya, aku pun tak mempermasalahkannya," balas Meka tersenyum.


"Ya sudah, nanti kalau kamu sudah selesai kuliah dan tidak ada jam kelas lagi, kamu ke ruangan Mas ya," pinta Zain.


"Iya Mas," balas Meka.


Meka sedang balas-membalas pesan sama Isna. Mereka akan segera tiba di Kampus. Saat Meka dan Zain sibuk dengan aktivitas masing-masing, ruangan Zain terbuka perlahan.


Meka dan Zain mendongak secara bersamaan. Mereka melihat sosok Bu Arin yang terlihat pucat dan tak bersemangat.


Bu Arin melangkah masuk ke dalam ruangan Pak Zain, dia menoleh ke arah Meka yang ternyata ada di dalam ruangan itu.


"Meka, kamu disini?" tanya Bu Arin mengerutkan keningnya.


"Iya Bu, kenapa ya?" tanya Meka berusaha tenang.


Bu Arin menoleh kembali ke arah Pak Zain. Lalu dia menghampirinya dan duduk di hadapan Pak Zain.


Zain menatap Bu Arin dengan acuh tak acuh. Dia tak mengharapkan pertemuannya dengan Bu Arin lagi.


"Ada apa Bu Arin?" tanya Zain memanggil namanya.


"Pak Zain, bisakah kita ngobrol hanya berdua saja. Saya tidak ingin orang lain mendengar percakapan kita," pinta Bu Arin sambil melirik Meka yang duduk di sofa belakang.


"Tidak ada orang lain disini," balas Pak Zain datar.


"Tentu ada Pak Zain. Bukankah dia orang lain yang tidak perlu ada di ruangan ini?" tanya Bu Arin.


Zain lantas berdiri dari kursinya dan menghampiri Meka yang sedang duduk di sofa sambil mendengarkan percakapan mereka.


"Dia bukan orang lain. Tapi dia istri saya," balas Zain dengan tegas.


Bagai disambar petir, Bu Arin tak menyangka bahwa Meka dan laki-laki yang di cintainya sepasang suami istri. Bu Arin berusaha menahan rasa sakit dan sesak di dadanya. Dia telah menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk mengejar suami orang. Pesona Pak Zain tidak bisa diragukan lagi, walaupun dia sudah beristri, namun Bu Arin tetap menginginkannya.

__ADS_1


"Sejak kapan Pak?" tanya Bu Arin tanpa melihat ke arah mereka berdua.


"Saya tidak perlu menjelaskannya karena itu bukan urusan anda," jawab Pak Zain.


"Itu menjadi urusan saya, saya sudah lama mencintai kamu Zain! Hingga sampai saat ini saya juga menginginkanmu! Kenapa kamu tidak pernah melihat kearah saya. Dari dulu, saat pertama kamu mengajar disini, saya sudah jatuh cinta. Kenapa harus dengan Mahasiswi yang baru saja muncul, kamu bisa mencintainya, kenapa bukan aku Zain.....!" teriak Bu Arin yang mengungkapkan perasaannya.


Bu Arin terisak dan menjatuhkan dirinya di lantai, dia kalah dengan Mahasiswinya yang tidak ada apa-apanya dibanding kecantikan dia. Lalu Bu Arin kembali bangkit dan berjalan ke Meja dan Zain. Dia menatap kebencian ke arah Meka.


"Karena kamu, Pak Zain tidak menoleh ke arahku. Apa yang kamu lakukan hingga dia begitu mencintaimu?" tanya Bu Arin dengan ekspresi menakutkan.


"Maaf Bu, saya tidak pernah melakukan apapun dengan Pak Zain. Kenapa Ibu tidak mencoba mengikhlaskannya," ucap Meka yang membuat hati Bu Arin semakin membencinya dan terluka.


"Hahahaha, Meka..Meka. Kamu tidak mengenal saya. Kalaupun saya tidak mendapatkannya, itu berarti kamu juga tidak bisa memiliki kebahagiaan bersamanya.


"Saya terlalu berbaik hati melepaskanmu waktu itu. Tapi tidak kali ini. Saya akan menghancurkanmu Meka," ucap Bu Arin terang-terangan.


"Maksud Ibu, melepaskan saya waktu itu?" tanya Meka pura-pura tak tau.


"Ya, tidak ada yang tau tentang kejadian itu dan saya tidak menyangka keberuntungan ada di pihakmu dan temanmu yang lainnya. Tapi mereka yang sudah menjadi tumbal, dan mereka yang hampir menjadi tumbal, tidak akan pernah mengingatnya mengalami kejadian itu," ungkap Bu Arin yang sudah tidak memperdulikan sikapnya lagi.


"Apa yang Ibu lakukan dengan mereka. Sehingga tidak ada yang mengetahuinya tentang kejadian itu?" tanya Meka yang masih santai menanggapi celotehan Bu Arin.


Hingga dia berhenti di depan Pak Zain dan menatapnya dengan kebencian juga. Cinta yang ada di hatinya sirna karena pernyataan Pak Zain yang mengatakan mereka suami istri. Dan perasan cinta itu digantikan dengan kebencian yang mendalam. Itu sangat terlihat jelas di mata Bu Arin.


"Ternyata anda sangat kejam. Demi ambisi, anda mengorbankan banyak nyawa yang tak bersalah. Apa anda tidak takut dengan resikonya?" tanya Pak Zain tanpa ekspresi.


"Pak Zain, anda yang membuat saya melakukan ini semuanya. Karena anda saya seperti ini. Seharusnya anda bertanggung jawab atas perbuatan saya," marah Bu Arin tapi dengan nada santai penuh emosi.


"Itu bukan tanggung jawab saya. Itu karena rasa serakah yang merajai hati anda hingga anda berubah menjadi iblis berwujud manusia," tekan Pak Zain.


Bu Arin tak bisa bertahan lebih lama di ruangan itu. Dia mengakhiri amarahnya di dalam ruangan itu.


"Kita lihat Pak Zain, apakah anda akan bahagia atau menderita. Saya tidak akan membiarkan kebahagiaan hadir dalam hidup kalian berdua. Selama saya masih bernafas, berhati-hatilah kalian, hahahaha," ancam Bu Arin sambil tertawa.


Lalu Bu Arin pergi meninggalkan ruangan itu. Dia kembali ke ruangannya.


Sedangkan Meka dan Zain saling bertatapan. Ada rasa takut yang dirasakan Meka dengan ucapan Bu Arin.


"Sayang, jangan pernah memikirkan ucapannya ya. Mas gak mau kamu tidak nyaman menjalani hidup bersama Mas," ucap Zain menenangkan Meka.


"Iya Mas, aku terganggu dengan ucapannya. Sepertinya dia sangat kehilangan akal positifnya sehingga sangat brutal dalam menginginkan sesuatu," balas Meka.

__ADS_1


"Yang penting, kamu jangan jauh-jauh dari Mas ya. Kalau ada apa-apa cerita sama Mas, ya," harap Zain.


"Iya Mas, aku gak mau buat Mas khawatir. Aku sempat terkejut Mas, saat Bu Arin mengatakan dia benar-benar melakukan kejahatan kemaren. Berarti benar kalau dia bisa membuat orang melupakan suatu kejadian. Apakah dia di bantu dengan Ki Baron ya Mas?" tanya Meka menerka-nerka.


"Mungkin sayang, karena dia pengikut dari Ki Baron. Tentu saja Ki Baron ikut andil dalam kelebihan yang dimilikinya," jawab Zain.


"Ah sudahlah Mas, aku gak mau mikirin itu lagi. Isna dan Deon mana ya Mas?"


"Mungkin masih di jalan sayang," kamu tunggu aja disini. Mas mau melanjutkan kerjaan Mas," balas Zain yang berjalan ke meja kerjanya.


Meka menunggu kedua sahabatnya yang sampai saat ini belom nongol juga. Hingga beberapa menit berlalu, Deon mengetuk pintu ruangan Dosga mereka.


"Masuk!" teriak Dosga mereka.


Pintu ruangan Pak Zain terbuka dan Deon nongol dari sela pintu.


"Maaf Pak, Mekanya ada?" tanah Deon.


"Itu Meka," tunjuk Dosga mereka ke arah Meka yang duduk di sofa.


"Eh iya, ayo Mek kita masuk. Nanti keburu Dosen masuk," ajak Deon.


"Isna kemana?" tanya Meka saat tak melihat kehadiran Isna.


"Nih disebelah gw, lagi duduk. Males berdiri katanya," jawab Deon yang menoleh ke Isna.


"Iya Mek, gw lagi males nih berdiri. Pengennya duduk terus nih bokong gw!" teriak Isna dari luar ruangan Dosga mereka.


"Mas, aku masuk duluan ya. Nanti aku kemari lagi kalau udah selesai," ucap Meka berpamitan dengan suaminya.


"Iya, ingat pesan Mas ya, harus hati-hati," Zain memperingati Meka untuk selalu hati-hati.


Setelah berpamitan dengan suaminya,, Meka keluar dari ruangan itu bersama Deon.


"Ayo Na ke kelas," ajak Meka.


"Ayo."


Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor Kampus menuju ruangan mereka. Sepanjang jalan, Meka ngobrol dengan ketiganya tentang perasaan Bu Arin.


Isna maupun Deon terkejut mendengarnya. Mereka juga tak menyangka bahwa Bu Arin mencintai Dosga mereka.

__ADS_1


__ADS_2