Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 116


__ADS_3

Mereka semua antusias ingin mendengarkan cerita tentang Desa ini yang terkenal angker.


"Baiklah, saya akan menceritakan tentang Desa ini. Dulu Desa ini hidup sangat makmur. Masyarakat di sini hidup dengan bertani dan membuat kerajinan, baik itu membatik ataupun kerajinan yang lainnya. Hingga suatu ketika datanglah seorang Dukun yang bernama Ki Baron. Awalnya dia sangat baik terhadap penduduk sini. Dia menolong mereka yang sakit dan membantu penduduk yang kena pelet, guna-guna dan lainnya. Saat itu di Desa ini ada seorang gadis yang menjadi kembang Desa ini. Lalu gadis itu menikah dengan seorang pemuda tampan yang datang dari kota, dia anak salah satu perangkat Desa ini. Ternyata disamping itu, Ki Baron juga menyukai gadis itu," cerita Kakek itu terhenti karena istrinya datang membawa minuman dan cemilan.


"Ini silahkan di minum dulu, ceritanya itu masih panjang. Kalian bisa minum sejenak," ucap istrinya Kakek itu sambil meletakkan minuman dan cemilan dihadapan mereka.


"Terima kasih Nek, gak usah repot-repot menghidangkan semua ini," balas Meka merasa sungkan.


"Ndak apa-apa nak, hanya sekedar minuman saja kok," Nenek itu tersenyum ramah.


"Mek, bukannya ceritanya sama dengan wanita yang kita temui di Hotel tadi?" tanya Isna yang serius mendengarnya.


"Iya, tapi kita dengerin aja cerita berikutnya, apakah sama atau tidak," balas Meka.


"Maaf, kalian sudah mendengar cerita ini dari siapa," Kakek itu menyela obrolan Meka.


"Eh anu Kek, tadi saat kami di Hotel, ada seorang wanita yang bercerita seperti ini juga. Katanya dia anak dari gadis kembang Desa itu bersama suaminya," jelas Meka.


"Tapi anak dari kembang Desa itu sudah meninggal saat dia sudah remaja. Dan dia menjadi tumbal pertama untuk jasad Ibunya yang disimpan Ki Baron di Hutan angker itu," ucap Kakek itu.


Mendengar pengakuan Kakek itu, mereka semua terkejut kecuali Meka. Dia sudah mengetahuinya terlebih dahulu dari Khodamnya.


"Lantas itu siapa Mek! Dia mengaku anak dari gadis kembang Desa ini," ucap Isna spontan.


"Siapa yang kalian maksud?" tanya Kakek itu yang mengkerut kan keningnya.


"Wanita yang bertemu sama kami di Hotel. Dia mengaku anak dari gadis kembang Desa ini Kek!" jawab Meka yang mengulangi kata-katanya lagi.


"Gak mungkin, anaknya sudah meninggal dan jasadnya sampai sekarang kami tidak ketahui dimana. Hanya Ki Baron saja yang tau keberadaan jasad anak dari gadis kembang Desa ini serta jasad suaminya," jelas Kakek itu tak percaya.


"Terus bagaimana kelanjutan cerita dari Desa ini lagi Kek?" tanya Zain yang mengamati wajah Kakek itu.


"Hingga malam pun tiba, salah satu penduduk Desa ini yang rumahnya bersebelahan dengan rumah yang kalian tempati itu, dia mendengar keributan dari dalam. Karena penasaran, dia mendatangi rumah itu yang kebetulan pintunya terbuka lebar. Disaat itulah, dia melihat Ki Baron menarik paksa jantung suami gadis kembang Desa itu dan istrinya bunuh diri dengan menusuk jantungnya menggunakan keris yang berada di pinggang Ki Baron. Melihat kejadian itu, warga tersebut ketakutan dan lari terbirit-birit kearah pos kamling. Dia menceritakan kepada penduduk sini tentang kejadian di rumah itu. Semua warga berkumpul dan bergegas ke rumah itu untuk melihat keadaannya. Di saat itulah Ki Baron muncul dan menyuruh seluruh warga berkumpul," Kakek itu menjeda ceritanya sebentar untuk minum.


"Buat apa dia mengumpulkan warga Kek?" tanya Deon yang gak sabaran.

__ADS_1


"Bentar Deon....Lo gak lihat tuh Kakek lagi minum. Sabar kenapa," ketus Isna dengan mencubit lengan Deon.


"Iya-iya gw semangat banget mendengar ceritanya. Kan penasaran gimana lanjutannya," balas Deon dengan sengit.


"Lo duduk manis aja dan menjadi pendengar yang budiman disini, Ok!" Isna pun tak mau kalah.


"Kalian bisa diam, biar Kakek itu melanjutkan ceritanya," tegur Dosga mereka.


Isna langsung menyikut lengan Deon, dan memajukan bibirnya mengejek Deon. Mereka kembali dalam mode diam dan tenang untuk mendengar cerita lanjutannya.


"Lo sih..ribut banget, jadi ditegur kan," bisik Isna ke telinga Deon.


"Husstttt," Deon menyuruh Isna diam dengan menempelkan telunjuknya di bibirnya sendiri.


Lalu Kakek itu melanjutkan ceritanya dan si Nenek duduk disamping suaminya.


"Ki Baron menyuruh seluruh penduduk berkumpul di halaman rumah gadis kembang Desa. Dan menyuruh kami menguburkan jasad gadis kembang Desa itu dihutan sana. Ki Baron mengancam penduduk sini untuk tidak memberitahukan kejadian ini ke polisi, jika kami mencoba membongkar kebusukannya, maka kami akan mati di sini.


Kami ketakutan karena khabar yang kami dengar dari seorang warga yang melihat kejadian itu langsung bahwa Ki Baron mengambil jantung suaminya perempuan itu dan memakannya langsung. Sejak saat itu tidak ada yang berani bertemu Ki Baron. Waktu terus berlalu, hingga satu persatu kami kehilangan anak gadis dan pemuda disini. Serta anak gadis dari perempuan itu menghilang ntah kemana. Singkat ceritanya, seorang pemuda menemui Ki Baron dan membuat perjanjian dengannya." Kakek itu menarik nafas beratnya.


Si Kakek kelelahan menceritakan sejarah Desa itu, lalu istrinya melanjutkan cerita yang terputus.


"Perjanjiannya, dia meminta kepada Ki Baron untuk melepaskan gadis dan pemuda di Desa ini dan menggantikannya dengan mereka yang akan mencari tumbal untuk Ki Baron. Karena orang itu tidak mau anaknya mati mengenaskan menjadi tumbal Ki Baron," ucap Nenek itu.


"Siapa orang itu Nek?" tanya Pak Zain.


"Dialah Kepala Desa di sini," jawab Nenek itu.


"Lalu apakah Ki Baron menyetujuinya?" tanya Pak Zain lagi.


"Ki Baron tidak menyetujuinya, dan dia berkata. " jika kami bisa membawakan tumbal untuk dia, maka kami akan diberi harta yang berlimpah untuk menghidupi keluarga. Jika kami melanggar perjanjian itu, maka seluruh keluarga akan mati."


"Oh..., saya lihat di Desa ini rumah disini ada yang bagus dan ada yang sudah reyot tak layak pakai," ucap Meka menyelidik.


"Ya, itu karena tidak semua warga Desa ini mengikuti perjanjian itu. Dan bagi mereka yang tidak melakukan perjanjian itu, maka keturunannya akan habis tak bersisa dan kami akan hidup susah di sini sampai tua.

__ADS_1


"Apakah Nenek dan Kakek slash satu warga yang tak mengikuti perjanjian itu? Dan kenapa kalian tidak keluar dari Desa ini?" tanya Meka heran.


"Kami tidak bisa keluar dari Desa ini, kalau kami melangkah keluar, kami pun akan mati disini. Kami seperti sudah terikat dengan Desa ini nak Meka. Jadi saya dan suami memilih untuk tinggal menetap disini sampai tua," jawab Nenek itu.


"Terus dari mana Kepala Desa itu tau kalau gadis dan pemuda disini menjadi tumbal Ki Baron?" tanya Isna.


"Karena Ki Baron sudah terang-terangan memperlihatkan ritualnya di hutan itu. Ada beberapa warga sini termasuk Kepala Desa itu melihat Ki Baron sedang melakukan ritual di hutan sana. Warga itu melihat jasad perempuan itu dibaringkan di atas batu nisannya dan di mandikan dengan air yang berwarna merah darah. Setelah ritual itu, perempuan itu hidup kembali dan tinggal bersama Ki Baron di rumahnya yang berada di sebelah hutan itu. Mereka hidup layaknya suami istri hingga memiliki anak perempuan."


"Lalu anaknya itu kemana Nek?" tanya Meka.


"Dia membesarkan anaknya sampai berumur 10 tahun. Setelah itu dia mengirim anaknya tinggal di kota. Ki Baron tidak mau anaknya menjadi korban. Makanya dia membawa anaknya tinggal bersama adik Ki Baron," jelas Nenek itu.


"Dasar jahat sekali dia, giliran anak sendiri diselamatkan. Tapi anak orang dikorbankan, benar-benar licik," ketus Deon.


"Bagaimana dengan tumbal yang akan diberikan warga sini yang menerima perjanjian itu Nek?" tanya Meka.


"Mereka di perbolehkan bebas keluar masuk Desa ini untuk membawa tumbal kemari. Ya bertahun-tahun itu terus berlanjut. Namun setahun belakangan ini, tidak ada lagi orang yang datang kesini. Sehingga jasad itu kembali mati dan terbujur kaku diatas nisannya," jawab si Nenek.


"Lalu siapa anak Kepala Desa itu Nek?" tanya Isna yang penasaran karena dia fokus mendengarkan cerita Nenek itu.


"Anaknya sepasang, perempuan dan laki-laki. Saat ini mereka tinggal di kota. Hanya orang tua mereka yang tinggal disini, sebagai jaminan buat Ki Baron," jawab Kakek itu.


"Oh ya, kalian kenapa ada disini?" tanya Kakek itu.


"Kami dibawa sama Dosen kami kesini untuk tour kegiatan penyuluhan Kek," jawab Meka.


"Kalian di bawa? Itu artinya kalian akan ditumbalkan oleh orang itu kepada Ki Baron," ucap Kakek itu.


"Iya Kek, dan teman-teman kami tidak tau bagaimana keadaannya sekarang, karena kemaren malam kami tidur di Kota," ucap Meka.


"Kamu bersyukur karena mahluk itu," tunjuk Kakek itu kearah Khodamnya Meka yang memperlihatkan wujudnya di hadapan Kakek itu.


"Kakek bisa melihatnya?" tanya Meka tak percaya.


"Ya, saya bisa melihat yang tak kasat mata. Dan hanya istri saya yang tau," balas Kakek itu.

__ADS_1


__ADS_2