Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 214


__ADS_3

Mona menyadari kalau dukun itu sedang melihat intens ke arahnya. Mona pun sontak melotot ke arah dukun itu. Dia ketakutan dan tiba-tiba menjadi jijik dan mual.


"Kurang ajar nih dukun, bisa-bisanya dia ingin menikmati tubuhku!" geram Mona dalam hati sambil menatapnya jijik.


Mama nya Mona pun terkejut, namun dia tidak memperdulikan keperawanan anaknya. Yang terpenting baginya adalah Mona segera menikah dengan Zain sehingga Mona bisa menguasai harta Zain.


Mamanya Mona menyenggol lengan Mona dan berbisik.


"Sayang, biarkan saja dia menikmati tubuh kamu. Anggap aja kamu melakukannya dengan Zain. Ini semua demi mendapatkan Zain. Apa kamu tidak ingin hidup mewah sayang?" tanya Mamanya yang berbisik di telinga Mona.


Mona masih tak bergeming. Dia masih menatap tajam ke arah dukun mesum itu dengan tatapan mengerikan.


"Kalau anakmu tidak mau melakukannya, silahkan bawa dia keluar dari sini. Karena sebentar lagi akan ada tamu saya yang datang dari jauh," ucap dukun itu yang tak melepaskan pandangan mesumnya dari tubuh Mona.


"Ayolah sayang, kamu setuju aja ya. Lagian enak kok berhubungan badan itu. Kamu tinggal bayangkan aja yang melakukan sama kamu itu adalah Zain, laki-laki yang kamu cintai. Pikirkan Mona, ini kesempatan kita untuk hidup senang," bujuk Mamanya.


Mona memejamkan matanya dan menarik nafasnya dengan berat. Hingga akhirnya dia pun mengambil keputusan yang dia sendiri tidak mengetahui apa akibat dari perbuatannya nanti.


"Baiklah, saya bersedia melakukannya," jawab Mona tegas.


Dukun itu menyeringai puas. Akhirnya dia bisa menikmati tubuh mulus Mona yang seksi. Hasratnya seketika bergejolak. Namun dia akan menahannya saat ini. Dia akan terpuaskan nanti malam.


"Hahaha, saya sudah duga. Kamu pasti mau melakukannya. Tenang saja, saya akan memberikan kepuasan denganmu. Umur boleh tua tapi tenaga saya sangat kuat. Bahkan satu hari bisa sampai lima kali ronde," ucap dukun itu tanpa malu.


Mamanya Mona terbelalak mendengar pengakuan dukun itu.


"Ini Aki-aki udah tua, ternyata kuat juga berhubungan. Hahaha si Mona pasti kelimpungan melayani nih Aku," bathin Mamanya Mona.


Keduanya tidak ada yang menanggapi ucapan dukun itu. Terutama Mona yang semakin merasa jijik mendengarnya. Tapi dia tidak bisa berhenti sampai disini. Mona yakin pengorbanannya ini akan berhasil mendapatkan Zain.


"Kapan saya melakukannya?" tanya Mona yang blak-blakan.


"Wah ternyata kamu sudah tidak sabar ya untuk melayani saya. Nanti malam kamu bisa mulaisaaaZ(^^):O melayani saya dan tinggal di rumah ini bersama saya selama tiga hari," jawab dukun sundul.

__ADS_1


"Baik, saya akan mengikuti semua kemauan dukun. Asal keinginan saya terpenuhi," ucap Mona.


"Tentu cantik, keinginan kamu akan saya penuhi, asal saya kamu puaskan di ranjang," balas dukun sundul dengan senyuman mesumnya.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu Aki, nanti sore, saya akan mengantar Mona ke sini lagi. Kami harus mempersiapkan baju-baju Mona untuk tinggal di rumah ini," ucap Mamanya Mona.


"Oh silahkan, kalian bisa pergi. Saya akan menunggu di sini. Cepatlah datang," balas dukun itu yang terus memandang tubuh Mona yang berpakaian sexy.


Mona dan Mamanya pun pergi meninggalkan rumah dukun s


mobil dan meninggalkan tempat yang angker itu.


"Ayo Mona kita pergi dari sini. Mama kok merinding ya saat berada di rumah dukun itu," ucap Mamanya yang bergidik ngeri.


"Iya Ma, Mona juga takut Ma. Terus gimana dong Ma. Nanti Mama anter Mona lagi kan ke sini?" tanya Mona yang sedang memperhatikan daerah rumah dukun itu.


"Nanti kamu akan di antar sama supir aja ya. Mama takut kalau Papa di rumah dan bisa-bisa dia curiga sama kita berdua. Kalau sudah begitu, nanti berantakan rencana kita," jawab Mamanya.


"Hah," Mona menghela nafasnya. "Baiklah Ma, tapi aku takut Ma ketemu sama dukun itu lagi. Wajahnya menjijikkan," balas Mona.


Mona diam saja dan tidak menjawabnya. Dia merenungkan tentang apa yang sedang dilakukannya. Ada kebimbangan di dalam diri Mona. Di satu sisi dia menginginkan Zain, tapi di sisi lain, dia harus mengorbankan keperawanannya. Mona terus-terusan menghela nafasnya dengan berat.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumahnya. Mona mempersiapkan pakaian yang akan di bawanya ke tempat dukun itu. Si supir yang mengantar mereka, sudah di tutup mulutnya dengan uang. Jadi rencana mereka hanya di ketahui sama supirnya saja.


Di tempat lain, di dalam kamar. Meka masih tertidur dengan nyenyak. Meka bermimpi. Di dalam mimpi itu Meka melihat, baju kesukaan suaminya berada dalam genggaman tangan Mona. Meka mengernyit bingung melihatnya.


"Hei, kenapa baju Zain ada sama kamu Mona?' Meka bertanya dengan berteriak.


Namun Mona tak mendengar dan melihatnya. Mona sibuk memeluk baju Zain dan mencium baju itu.


"Kenapa dia tidak mendengarku? Apa dia pura-pura tidak mendengar suaraku ya?" pikir Meka yang berjalan mendekatinya.


Meka berjalan menghampiri Mona dan mencoba menepuk pundaknya. Saat tangan Meka menepuk pundaknya, tangan itu hanya menepuk udara.

__ADS_1


"Loh kenapa aku ini? Kok gak bisa memegang bahu dia?" bathin Meka yang masih mencoba menepuk-nepuk pundaknya Mona.


Meka bingung, dan berteriak memanggil Mona. "Hei.......! Kamu dengar aku kan? Itu baju suamiku! Jangan sentuh bajunya!" teriak Meka yang berusaha memukul pundak Meka.


Namun si Mona tidak menggubris sama sekali. Karena memang dia tidak merasakan apa-apa.


"Dimana aku ini? Apa aku sedang bermimpi?" pikir Meka yang melihat sekeliling.


Lalu Khodamnya Meka muncul di hadapannya. Dan melihat Meka yang kebingungan.


"Meka, kembalilah. Kamu sedang berada di dalam alam mimpi," ucap Khodamnya.


"Oh aku berada di dalam mimpi. Tapi, aku melihat dia sedang mencium baju suamiku," ucap Meka sambil menunjuk ke arah Mona.


"Itu pertanda buat kamu Meka. Jadi berhati-hatilah terhadapnya. Dia akan membuat suatu masalah terhadap rumah tangga kalian," Khodamnya Meka memberitahunya.


"Masalah apa? Apa yang akan terjadi? Bisakah kamu memberitahukan kepadaku?" tanya Meka.


"Tidak Meka, semua tergantung pada dirimu. Kamu harus bisa melindungi suamimu. Karena dia akan dalam masalah. Jika kamu lengah sedikit saja, maka kamu akan kehilangannya," jawab Khodamnya yang mengingatkan Meka.


Meka tercengang mendengar ucapan Khodamnya. Dia tidak menyangka akan ada masalah besar di hadapannya yang datang dari keluarga suaminya sendiri.


"Kembalilah Meka, dan perhatikan sikap dan tingkah suamimu. Karena perempuan itu sudah menemui dukun sakti dengan menyerahkan kehormatannya," jelas Khodamnya Meka yang langsung membuat Meka menganga.


"Apa!" pekik Meka. "Mengorbankan kehormatannya? Maksudnya perasannya gitu?" tanya Meka sambil geleng-gekeng kepalanya.


"Ya itu benar. Sekarang kamu bisa kembali ke duniamu," suruh Khodamnya.


Meka pun memejamkan matanya dan dia langsung tersentak dan duduk di atas tempat tidurnya. Meka melihat sekeliling dan mendapatkan Zain berada di sebelahnya sedang tertidur pulas. Meka menghela nafasnya dengan berat.


"Aku tadi bermimpi? Kenapa mimpinya seperti nyata ya," gumam Meka sambil menoleh ke arah suaminya.


"Semoga rumah tanggaku di jauhi dari hal yang membahayakan," bathin Meka merasa sedih.

__ADS_1


Meka segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Setelah beberapa menit, Meka keluar dari dalam kamar mandi. Meka ingin menyiapkan makan siangnya bersama Zain. Mereka akan berencana berkunjung ke rumah Mamanya Zain sore nanti.


__ADS_2