
Setelah berbasa-basi minuman, Ustadz Anwar mulai membuka percakapan.
"Nak Meka, bagaimana kondisinya saat ini?" tanya Ustadz itu.
"Alhamdulillah saya sehat Ustadz."
"Syukurlah. Pak Bram bagaimana, apa ada sesuatu yang ingin ditanyakan?" tanya Ustadz itu terhadap Papanya Meka.
"Iya Ustadz, kedatangan kami kemari memang untuk mempertanyakan sesuatu Ustadz. Kiranya Ustadz mengetahuinya," ungkap Papanya Meka.
"Pak Bram, Alhamdulillah apa yang dilakukan Kakek Kuncen itu sudah berjalan dengan benar. Akhirnya tali pocong itu kembali ke tempatnya. Dan kejadian tadi malam, itu akibat murkanya sang Iblis yang disembah si dukun itu," jelas Ustadz Anwar.
"Maksud Ustadz, jasad anak saya didalam kubur baik-baik aja ya Ustadz?" tanya Papanya Meka.
"Benar Pak Bram. Sekarang dukun itu sudah mengetahui siapa yang memiliki khodam leluhur itu. Dan saya sarankan nak Meka segeralah kembali ke Jogja," saran Ustadz itu.
"Iya Ustadz, kami hari ini rencananya akan kembali ke Jogja," balas Zain.
"Oh ya anak ini siapanya Meka ya Pak Bram?" tanya Ustadz itu menatap tanda tanya.
"Dia calon suaminya Meka, Ustadz. Insya Allah tahun depan mereka akan menikah Ustadz," jelas Papanya Meka.
"Lebih baik segerakan menikah Pak Bram, biar tidak menimbulkan fitnah," pinta Ustadz Anwar.
"Bagaimana kalau mereka saya nikahkan sekarang Ustadz. Saya juga tidak mau anak saya kenapa-napa Ustadz di Jogja sana," saran Papanya.
Meka terbengong mendengar ucapan Papanya yang memintanya menikah saat ini juga. Lalu dia menatap ke arah Dosganya.
"Saya setuju Ustadz," sambung Zain dengan mantab dan tegas.
Meka semakin terpojok. Dia belom siap menyandang status sebagai istri Dosganya. Dia masih ingin memiliki kebebasan terutama berteman.
"Bagaimana nak Meka?" tanya Ustadz Anwar.
__ADS_1
"Iya sayang, Papa juga biar tenang jika berjauhan denganmu. Dan Papa juga khawatir jika di Jogja, kamu sendirian," ucap Papanya dengan penuh harap.
"Bagaimana dengan orang tua Pak Zain, Pa?" tanya Meka yang menatap kearah Papanya.
Papanya Meka pun menatap kearah Dosganya Meka.
"Masalah orang tua saya, nanti setelah kami kembali ke Jogja, saya akan memberitahukannya kepada mereka Om," jelas Zain yang mengerti arti tatapan Papanya Meka.
Zain tidak ragu untuk memutuskan semuanya saat itu juga. Dia sudah memikirkan akibat dari sikapnya. Bagaimana nantinya dengan orang tuanya, dia yang akan menghadapinya. Dia ingin memenuhi janjinya terhadap Almarhum Mamanya Meka. Dan Zain juga ingin menjaga Meka dari keburukan yang terjadi nantinya.
Setelah proses pembicaraan yang agak lama, akhirnya Meka dan Zain akan dinikahkan saat itu juga secara agama. Semua persiapan dilakukan secara mendadak.
Pernikahan dilakukan di rumahnya Meka. Hanya kerabat tertentu yang diundang. Setelah pertemuan mereka dengan Ustadz Anwar. Papanya Meka langsung menghubungi iparnya Sandy. Dia meminta bantuan untuk mempersiapkan keperluan pernikahan Meka.
Awalnya adik dari Mamanya Meka kaget dan sedikit terkejut mendengar Meka akan menikah secara agama. Namun karena Papanya Meka menjelaskan, akhirnya Omnya Meka mau membantu dan hadir dalam pernikahan itu.
Tepat jam 13.00 setelah Dzuhur dilaksanakan, mereka semua kumpul diruang tengah. Dimana yang hadir dalam pernikahan itu adalah Omnya Meka yaitu Shandy dan istrinya beserta beberapa keluarga dari Shandy. Serta beberapa wakil dari Ustadz Anwar. Sedangkan dari pihak Papanya Meka, tidak satupun diberitahu.
Acara proses pernikahan pun berjalan dengan sempurna. Zain mengucapkan Ijab Qabul dengan suara yang tegas dan tidak gugup. Hatinya sudah memantapkan untuk pilihannya.
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, aamiin," ucap Ustadz Anwar yang memberi selamat.
"Terima kasih Ustadz, Insya Allah saya akan menjadi suami yang terbaik untuk Meka, aamiin," jawab Zain. Mereka pun menyalami tangan Ustadz Anwar.
Setelah itu Meka beralih ke Papanya. Dia menatap sendu dan haru ke arah Papanya.
Papanya Meka langsung memeluk anaknya. Dia mencium kening Meka dengan lembut.
"Sayang, Papa selalu berdo'a yang terbaik untukmu. Jadilah istri yang patuh dan sayang sama suami. Pasti Mamamu bahagia melihat semua ini nak," ucap Papanya yang meneteskan air matanya.
"Iya Pa, Meka akan ingat amanah Papa. Semoga ini pilihan yang terbaik untuk kehidupan Meka ya Pa!" balas Meka dengan meneteskan air matanya juga dan mencium tangan Papanya.
Zain juga mengikuti seperti apa yang Meka lakukan, dia sungkeman kepada Papanya Meka. Meminta do'anya agar kehidupan mereka bisa berakhir sampai maut memisahkan.
__ADS_1
Lalu Meka beralih kearah Omnya Shandy. Meka berjalan kearah Om dan Tantenya. Meka langsung memeluk Omnya dengan manja dan menangis terharu.
"Sayang Om..., kamu udah besar sekarang. Dan sudah menjadi seorang istri. Om tidak percaya ponakan Om yang dulunya masih kecil dan lucu, sekarang memakai baju pengantin dihadapan Om. Om do'akan semoga rumah tangga kalian rukun selalu dan saling percaya satu sama lain. Jangan biarkan orang ketiga mengganggu rumah tangga kalian. Dan Om minta, dewasalah dalam bersikap. Selamat ya sayang atas pernikahan kalian," ucap Omnya yang memberi selamat serta nasehat untuk Meka.
"Iya Om, Meka akan ingat nasehat Om," Meka mencium tangan Omnya dan memeluk Omnya lagi. Lalu dia beralih ke istri Omnya.
Meka pun memeluk istri Omnya dengan menangis tersedu-sedu. Dia menganggap istri Omnya sekarang pengganti sosok Mamanya yang sama-sama seorang Ibu.
Setelah acara sungkaman selesai. Meka dan Zain bergegas masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian. Mereka harus segera berangkat ke Bandara.
"Sayang, nanti kalau sudah sampai di Jogja, kita melaksanakan malam pengantin ya di Apartemenku. Karena kamu sudah menjadi istriku, maka kamu harus tinggal di Apartemen bersamaku," ucap Zain yang memeluk Meka dari belakang.
"Iya Zain, nanti kalau sudah di Jogja, aku akan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri," Meka membalas memegang erat pelukan tangan Zain dipinggangnya.
"Ya sudah sekarang kita siap-siap ya sayang. Kalau lama-lama seperti ini, aku bisa gak tahan," goda Zain.
Cha hanya senyum-senyum malu, dia pun sebenarnya merasa grogi dengan status barunya. Walaupun mereka pernah melakuaknnya, namun saat ini statusnya sudah resmi menjadi istri Dosganya.
Setelah selesai dengan barang-barang bawaan mereka, Zain mengajak Meka keluar dari dalam kamarnya untuk menghampiri semuanya diruang tengah. Setelah sampai di hadapan semua yang hadir, Zain meminta izin untuk membawa Meka tinggal bersamanya di Apartementnya.
"Pa, setelah kami sampai di Jogja, Zain akan langsung membawa Meka tinggal bersama Zain di Apartemen. Karena Zain gak mau meka tinggal dikost lagi."
"Iya mantuku, Meka sekarang sudah menjadi tanggung jawab kamu. Jadi jagalah dia dengan baik. Papa menginginkan kalian hidup bahagia," balas Papanya.
Sebelum Zain dan Meka pergi ke Bandara, Ustadz Anwar izin kembali kerumahnya bersama beberapa kerabat yang lain yang dibawanya.
Sebelum Ustadz Anwar pergi, dia berpesan kepada Zian dan Meka.
"Nak Zain dan Meka, jika kalian dalam kesulitan atau ada hal yang mengganggu dan membutuhkan bantuan, temuilah Kyai Ridwan di Pondok Pesantren di daerah Kulon Progo. Beliau adalah guru saya saat saya belajar di sana," ucap Ustadz Anwar.
"Baik Ustadz terima kasih atas bantuan Ustadz saat ini," balas Zain dengan sopan.
Akhirnya Zain dan Meka berpamitan kepada semua keluarga. Zain dan Meka keluar dari rumah menuju mobil pesanan online. Mereka pun masuk kedalam mobil grab online. Meka tak henti-hentinya meneteskan air matanya melihat Papanya yang dirangkul sama Omnya Shandy.
__ADS_1
Mobil pun pergi meninggalkan rumah itu. Lambaian tangan dari mereka semua mengantarkan kepergian Meka dan Zain. Sepanjang jalan, Meka terus menangis karena harus meninggalkan Papanya sendirian di Kota itu. Sebelum mobil melaju ke Bandara, Meka meminta Pak supir untuk mengantarkan mereka dulu ke Pemakaman. Meka ingin berpamitan dengan Mama dan adiknya.