
Meka menyudahi percakapannya bersama Deon. Kemudian dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Apa kata Deon, sayang? Mereka sudah dimana?" tanya Zain.
"Mereka sudah mau sampai Mas. Kita makan siang aja dulu ya Mas disana. Aku lapar," jawab Cha yang sedikit manja.
"Iya sayang, kita makan dulu. Habis itu baru kita bergerak lagi."
Zain melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Dia tidak mau terburu-buru. Walaupun Deon dan Isna sudah hampir sampai. Zain lebih mementingkan keselamatan Meka. Jalanan di kearah Phuket tidak terlalu macet, sehingga mempercepat mobil sampai ditujuan.
Akhirnya mobil mereka sampai di Phuket. Meka melihat mobil yang kemaren digunakan Mamanya Deon.
"Mereka sudah sampai Mas. Ayo kita ke dalam," ajak Meka.
"Iya sayang."
Zain menutup pintu mobilnya dan berjalan bersama Meka menuju Phuket.
"Selamat siang Mbak, Mas, silahkan masuk..!" ucap pelayan yang berdiri menyambut kedatangan tamu.
"Makasih Mbak," jawab Meka.
Meka dan Zain memasuki cafe itu dan mengedarkan pandangan mereka mencari keberadaan Deon dan Isna.
"Itu mereka Mas," Meka menunjuk kearah Deon dan Isna.
"Ayo kesana."
Zain dan Meka melangkah menghampiri keduanya.
"Udah lama nunggu Na, De?" tanya Meka saat berdiri dihadapan mereka.
"Baru aja kok Mek," jawab Isna.
"Gimana khabar Mama Lo Deon?" tanya Meka saat sudah duduk dihadapan mereka.
"Alhamdulillah Mek, Mama benar-benar sudah bertaubat. Dia tidak mau hidup dengan harta yang tak jelas. Mama juga mau gw hidup bahagia bersama Isna," ucap Deon sambil menoleh kearah Isna.
Isna tersipu malu mendengar ucapan Ghani yang terbuka. Tapi dalam hatinya, Isna merasa bahagia karena Deon akan menjadi pasangan hidupnya.
"Gimana, apa kalian sudah pesan makanan? Mana menunya?" Meka melihat tidak ada buku menu diatas meja.
"Belum Mek, nih mau panggil pelayannya," jawab Isna.
"Mbak...!" panggil Deon ke pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka.
Pelayan itu menoleh kearah Deon yang memanggilnya. Lalu pelayan itu datang menghampiri mereka.
"Ada yang bisa saya bantu Mas, Mbak?" tanya pelayan itu.
"Iya Mbak, kami mau pesan makanan, bisa minta menunya?" ucap Deon.
__ADS_1
"Oh iya Mas, ini silahkan di lihat dulu menunya. Mau pesan sekarang Mas?" tanya pelayan itu yang berusaha ramah.
"Iya bentar ya Mbak," jawab Deon.
Lalu mereka memilih makanan yang akan dipesan. Setelah memesan makanan mereka ngobrol kembali.
"Mek, Lo udah absenin kita kan tadi?" tanya Deon yang membuka obrolan.
"Iya De, gw udah absenin kalian kok. Tadi kelasnya Pak Zain dan Dosen lain. Pokoknya amanlah," jawab Meka.
"Oh ya alamat yang nanti kita datangin, Lo tau kan?" Isna ikut bertanya.
"Gw cuma punya gambaran aja Na, kalau gak salah lokasinya berada di daerah Klaten arah ke Solo," jawab Meka.
"Oh...ya semoga aja kita tidak kesulitan mencari rumahnya. Biar semuanya cepat selesai," balas Isna.
Tak berapa lama, pesanan makanan mereka datang. Pelayan menghidangkan makanan diatas meja mereka.
"Silahkan Mbak, Mas. Kalau ada yang mau di pesan lagi, silahkan panggil saya ya Mas, Mbak," ucap pelayan itu, namun matanya terus menatap kearah Zain.
Meka menyadari bahwa pelayan itu terus menatap Zain sambil berbicara.
"Makasih ya Mbak, kami tidak ada pesanan lagi," ucap Meka yang sedikit kesal.
"Baik Mbak," ucap pelayan itu.
Lalu dia pergi meninggalkan meja mereka berempat.
"Iya sayang," balas Zain.
"Benar sekali, kita harus isi perut dulu biar kenyang," sahut Isna.
"Setuju....!" sambung Deon dengan semangat.
Mereka berempat makan dengan sangat lahap. Mungkin karena sudah kelaparan dan sudah jam makan siang. Sehingga hewan kecil-kecil di dalam perut sudah memberontak minta makan.
"Oh ya Mek, besok kan kita berangkat tournya? Jam berapa emangnya berangkat?" tanya Deon sambil mengunyah makanannya.
"Jam delapan pagi kita sudah kumpul di Kampus. Mungkin sekitar jam 09.00 pagi berangkatnya," jawab Meka.
"Oh..., Pak Zain ikut kan Mek?" tanya Deon lagi.
"Iya saya ikut. Gak mungkin saya biarkan istri saya sendirian berangkat," giliran Zain yang menjawabnya.
Deon tersedak saat mendengar kata istri dari bibir Pak Zain. Dia sampai batuk-batuk karena tersedak.
"Lo kenapa De? Nih minum dulu!" tanya Isna khawatir sambil memberikan air putih kepada Deon.
"Gak apa-apa Na, mungkin ada yang omongin gw, hehehe," ngeles Deon.
"Duh makannya pelan-pelan dong Deon!" balas Isna.
__ADS_1
"Iya sayang....."
Meka menoleh kearah suaminya, dia senyum-senyum melihat sikap suaminya yang protek terhadap dirinya. Sehingga ucapannya membuat Deon tersedak.
Mereka lanjut makannya diselingi dengan obrolan ringan dan canda tawa.
Setelah beberapa menit menyelesaikan makanan mereka, Zain memanggil pelayan untuk meminta bill nya. Supaya mereka bisa segera melanjutkan perjalanannya.
"Ini Mas, billnya," ucap pelayan itu yang menyerahkan kertas bill.
Zain pun memberikan beberapa lembar uang merah kepada pelayan.
"Kembaliannya ambil aja Mas," ucap Zain dengan tulus.
"Makasih Mas," balas pelayan itu dengan ramahnya.
Setelah selesai dengan urusan pembayaran, mereka berempat beranjak dari meja itu. Zain dan Meka berjalan duluan di depan, sedangkan Deon bersama Isna dibelakang mereka.
"Oh ya, kami bawa mobil. Kita jalan beriringan aja ya. Kami yang akan berada di depan nantinya," ucap Meka yang berhenti sejenak.
"Apa gak sebaiknya kita satu mobil aja ya Mek? Karena gak nyaman Mek, jika kita pisah saat mendatangi rumah orang yang tidak kita kenal, gimana?" tanya Deon.
"Ya udah, mobil Deon bawa aja, kita ke Apartement dulu ngedrop mobilnya. Setelah itu kita naik mobil saya bareng-bareng, ya," Zain memberikan saran kepada mereka.
"Ya Mas, aku setuju," jawab Meka.
"Iya Pak, kami juga setuju kalau seperti itu," jawab Deon juga.
Lalu mereka berjalan menuju parkiran, dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Zain dan Meka berjalan di depan sedangkan Deon membawa mobilnya mengikuti mobil Dosganya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, karena jalanan juga tidak macet, mereka akhirnya sampai di Apartement Zain. Deon memarkirkan mobilnya di Apartemen, setelah itu gabung bersama Meka di mobil Dosga mereka.
"Kita jalan sekarang?" tanya Zain.
"Iya Mas, kita berangkat sekarang," jawab Meka yang duduk disamping suaminya.
Iya Pak, kita berangkat, bismillahirrahmanirrahim," ucap Isna dan Deon bersamaan.
Lalu mereka meninggalkan Apartement dan mobil melaju dijalanan. Sepanjang jalan, Deon tak henti-hentinya mengajak Isna dan Meka ngobrol. Dan Zain hanya bisa senyum-senyum mendengar Deon yang antusias membahas kegiatan tour mereka besok.
"Oh ya, gw besok jadi bawa teman, namanya Asih. Dan gw udah kasih khabar ke dia kalau besok kita jadi berangkat tournya," ucap Meka.
"Wah makin seru tuh Mek, gak apa, biar kita makin rame," balas Isna.
"Iya Mek, istilahnya pengganti Shinta ya, hehehe," canda Deon.
"Iya sih, padahal kalau ada Shinta, makin rame ya," sambung Meka yang terlihat sedih.
"Iya Mek, sedih juga gak ada Shinta. Karena kita sudah terbiasa dari dulu selalu bersama jika kemana-mana," Deon ikut menimpali ucapan Meka.
"Ya mau gimana lagi, dia yang memilih jalan seperti itu," balas Meka.
__ADS_1
"Semoga Shinta mau berubah lagi ya. Gw pengen dia sama-sama lagi dengan kita," ucap Isna.