
"Ma, sebentar lagi kita akan menjadi orang kaya...! Aku akan menjadi istrinya Zain! Hahahaha," Mona tertawa terbahak-bahak karena merasa hatinya bahagia.
"Iya sayang, tapi kamu jangan lupa. Kalau Mama ikut andil dalam keberhasilan kamu. Jadi kamu jangan pelit-pelit sama Mama kalau nanti dimintai uang," sindir Mamanya.
"Mama tenang aja. Aku gak akan melupakan jasa Mama ini. Mama emang yang terbaik. Aku akan memberikan apapun yang Mama minta," ucap Meka dengan bangga.
"Kamu emang anak Mama yang paling cantik. Mama bangga punya anak seperti kamu. Selain cantik, kamu juga cerdas," puji Mamanya. "Dan juga sangat bermanfaat," bathinnya dengan menyunggingkan senyumnya.
Setelah menempuh beberapa menit ke rumah dukun itu, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang menyeramkan. Mona dan Mamanya keluar dari dalam mobil. Saat mereka berjalan ke arah rumah itu, tiba-tiba ada burung gagak yang bertengger di jendela rumah itu.
"Ma, kenapa ada burung seram itu ya?" tanya Mona yang ketakutan.
"Ah mungkin saja itu peliharaannya si dukun. Namanya juga dukun hitam, apatis temannya si gagak," jawab Mamanya dengan santai.
"Mungkin juga ya Ma, tapi burung itu ngelihatin kita terus Ma, lihat deh," Mona menyuruh mamanya untuk menatap ke arah burung itu.
"Anggap aja, burung itu juga tertarik dengan kecantikanmu sayang," ucap Mamanya yang ngasal.
"Ihhhh Mama nih," kesal Mona.
__ADS_1
"Udah yuk, lebih baik kita masuk ke dalam dan bertemu dengan dukun bernama Sundul cabul itu," ajak Mamanya.
"Iya Ma, tapi aku kok merinding ya Ma. Apa jangan-jangan di sini banyak mahluk ghaib yang ya Ma," Mona terus nyerocos tak berhenti.
"Kamu bisa diam gak sih Mona, berisik banget. Udah ayo kita masuk menemui dukun itu," kesal Mamanya.
Mona pun terdiam dibungkam Mamanya dengan kata-kata. Lalu mereka berdua memanggil-manggil dukun itu, namun tak ada jawaban.
"Tuh kan Ma, apa Mona bilang. Firasat Mona kok gak enak nih Ma," Mona semakin merinding berada di rumah itu.
"Kemana tuh dukun ya?" tanya Mamanya.
"Apa sebaiknya kita pulang aja Ma?"
"Ta--tapi Ma, aku takut," protes Mona.
"Kamu tuh penakut banget sih. Lagian ini untuk kepentingan kamu Mona," kesal Mamanya.
"Ya sudah kalau gitu Mama aja yang berada di depan Mona. Biar aku berjalan di belakang Mama, gimana?" tanya Mona bernegosiasi.
__ADS_1
"Ya sudah, tapi kamu harus kasih Mama imbalan," jawab Mamanya.
"Iya, iya. Udah Mama duluan masuk ke dalamnya," suruh Mona.
Lalu Mamanya perlahan-lahan membuka pintu rumah itu. Dan tercium aroma yang sangat busuk.
"Pak Sundul, anda ada di dalamkah?" tanya Mamanya Mona saat sudah berada di dalam rumah itu.
Namun lagi-lagi tak ada jawaban. Mamanya menoleh ke belakang menatap Mona.
"Coba kamu yang panggil sayang, sapa tau dia merespon," suruh Mamanya.
"Iya Ma," balas Mona. Kemudian Mona memanggil dukun itu beberapa kali. Namun tak ada sahutan dari dalam.
"Ma, kok bau busuk banget ya. Kayak bau bangkai mayat di sini," celetuk Mona.
"Hust jangan ngomong sembarangan. Sapa tau tuh dukun sedang indehoi di dalam sana dan tidak ingin diganggu," balas Mamanya.
Mereka masih berdiri di depan pintu menunggu kehadiran dukun itu. Hingga setengah jam berlalu, dari belakang rumah itu muncul dukun yang bernama Sundul.
__ADS_1
Sosok yang berjalan ke arah dalam rumah sebenarnya bukan lagi dukun itu. Akan tetapi itu adalah sosok iblis yang meminjam tubuh dukun mesum itu.
"Akhirnya kalian datang juga," ucap iblis yang menggunakan jasad dukun itu.