
Mahluk yang menyerupai sahabat Meka itu masih mencoba memprovokasi Ustadz Ahmad untuk menariknya keluar dari rumah. Mahluk itu menunggu di depan rumah Ustadz Ahmad.
"Tok tok tok tok," terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
"Ustadz...bukaaaaaa pintunya....!" teriak suara yang mirip dengan Isna.
"Ustaaaadz tolong kamiiiii..." terdengar teriakan dari luar yang mirip dengan suara Deon.
"Ustadz, siapa itu yang manggil? Kenapa pintunya gak di buka Ustadz?" tanya salah satu muridnya yang heran melihat Ustadz Ahmad dan lainnya yang tak bergeming.
"Biarkan saja nak, ayo lanjutkan mengajinya," perintah Ustadz Ahmad.
Salah satu murid itu sepertinya sudah masuk dalam hasutan iblis itu. Sehingga keinginannya sangat kuat untuk pergi membukakan pintu dan menolong mereka yang di luar sana.
Tiba-tiba pemuda itu berdiri dari tempatnya duduk. Tanpa membuang waktu, dia langsung melangkah berjalan ke arah pintu depan.
Sontak saja Ustadz Ahmad terkejut dan berteriak.
"Berhenti.....!" teriak Ustadz Ahmad dengan intonasi membentak.
Pemuda itu menoleh ke belakang melihat Ustadz Ahmad yang juga berdiri dari tempatnya duduk.
"Kenapa Ustadz? Saya ingin membukakan pintunya. Masa kita membiarkan orang itu di luar sana. Apa Ustadz tidak khawatir dengan keadaannya di luar sana?" tanya pemuda itu dengan berani dan sangat lantang menyuarakan protesnya.
"Jangan kamu buka pintu itu! Kalau kamu melangkah membukanya, kita akan dalam bahaya!" bentak Ustadz Ahmad yang tak menyangka muridnya itu bertindak di luar keinginannya.
"Tapi mereka membutuhkan kita Ustadz!" muridnya melawan dengan tatapan garang.
Ustadz Ahmad dan yang lainnya bingung melihat perubahan sikap murid itu.
"Sepertinya ada yang berbeda dengannya Ustadz," celetuk Rudy yang melihat ada kejanggalan di dalam diri temannya itu.
"Maksud nak Rudy?" tanya Ustadz Ridwan.
"Iya Ustadz, lihat tatapan matanya. Sepertinya dia sudah kena sihir dari iblis itu Ustadz," jawab Rudy.
Saat mereka asyik ngobrol dan tak menghiraukan murid itu yang ternyata sudah membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu. Kemudian pintu itu di buka lebar. Dan iblis itu tersenyum menyeringai memandang siapa yang datang.
"Ayoooo keemaaariiilaahhh, tolooooooong kaamiii....," panggil iblis yang menyerupai Isna.
"Aku akan menolong kalian, sebentar," balas pemuda itu.
__ADS_1
Lalu pemuda itu keluar dari pintu itu dan melewati batas pagar ghaib. Dalam hitungan detik tubuhnya langsung di sergap dan di tarik sama mahluk itu itu. Mahluk-mahluk ghaib yang kelaparan saling berebutan dan tarik menarik tubuh pemuda itu, hingga terdengar teriakan kesakitan.
"Tolooooooong.....!" teriak pemuda itu yang sudah menjadi mangsa mahluk-mahluk itu.
Dan saat itu semua yang berada di dalam terkejut dan tersentak kaget melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka. Lalu Ummi dan Nenek berteriak ketakutan melihat pemandangan di depan sana.
"Aaaaaaaaaaa!" teriak Ummu ketakutan sambil memeluk tubuh Nenek yang kurus. Begitu juga dengan Nenek yang ikut berteriak melihat tubuh pemuda itu yang langsung di tarik sana sini hingga tubuh itu terputus-putus dan darah bercucuran.
Pemuda itu tak tertolong kan, tubuhnya dicabik-cabik sama mahluk-mahluk menyeramkan itu. Tangan dan anggota tubuh yang lainnya sudah lepas dari tubuhnya. Namun bagian kepalanya masih utuh hingga matanya masih melotot karena menahan sakit yang luar biasa akibat ulah mahluk itu.
Khodamnya Meka langsung muncul di depan pintu dan membuat pagar ghaib terbaru dengan kecepatan yang luar biasa cepat. Karena pemuda yang keluar dari pintu dan melewati batas pagar ghaib sosok pemuda perjaka. Hingga membuat pagar ghaib itu hilang sekejap.
"Kenapa Ustadz tidak menghentikannya!" bentak Khodamnya Meka.
Ustadz Ahmad dan yang lainnya masih terbengong dengan mata terbelalak mengerikan seolah-olah mata mereka hampir keluar dari tempatnya karena terkejut melihat tubuh pemuda itu yang di tarik dan di makan begitu saja oleh mahluk-mahluk itu.
"Ustadz......!" bentak Khodamnya Meka yang geram melihat kelalaian Ustadz Ahmad.
Ustadz Ahmad dan yang lainnya tersadar dan mereka langsung lemas menyaksikan pemandangan yang mengerikan.
Murid-murid Ustadz Ahmad ketakutan dan saling duduk merapat satu sama lain.
"Ap--apa yang terjadi itu Ustadz. D--dia...mati," gumam salah satu murid ngajinya dengan ketakutan.
Ustadz Ahmad yang masih berdiri di dekat pintu itu, menatap ke arah Khodamnya Meka.
"Maaf, kalau saya lalai. Ini sungguh diluar dugaan saya. Saya tidak menyangka iblis itu bisa menembus salah satu pikiran murid disini untuk dijadikan santapan makanan mahluk itu," jelas Ustadz Ahmad yang masih syok dan merasa bersalah atas kejadian tadi.
"Kamu anak muda," tunjuk Khodamnya.
Rudy bangkit dan berjalan ke arah Ustadz Ahmad. Lalu dia menatap ke arah Khodamnya Meka.
Ustadz Ahmad bingung melihat Khodamnya Meka menunjuk ke arah Rudy. Dan dia lebih bingung melihat Rudy menghampirinya.
"Loh kenapa nak Rudy kemari?" tanya Ustadz Ahmad.
"Dia akan membantu Ustadz untuk menghadapi mahluk-mahluk itu," jawab Khodamnya Meka.
Ustadz Ahmad lagi-lagi terkejut mendapatkan kenyataan bahwa muridnya ada yang memiliki mata bathin.
"Nak Rudy bisa melihat sosok di hadapan kita?" tanya Ustadz Ahmad yang masih tak percaya.
__ADS_1
"Bisa Ustadz, dari tadi saya bisa melihat semuanya termasuk sosok laki-laki di hadapan Ustadz," jawab Rudy dengan tenang.
"Ya Allah, saya benar-benar tidak menyadarinya," balas Ustadz Ahmad.
"Kalau gitu, pemuda ini akan membantu Ustadz untuk mengontrol murid-murid disini. Karena iblis itu akan semakin gencar membuat yang ada disini mengalihkan perhatiannya dari mengaji," terang Khodamnya Meka.
"Baik, saya akan berusaha membantu Ustadz untuk memantau mereka yang mengaji," balas Rudy.
Setelah itu Khodamnya Meka menghilang dari hadapan mereka berdua.
"Ayo nak Rudy, kita kembali mengaji, kita meminta sama Allah SWT untuk perlindungan kita semua disini," ajak Ustadz Ahmad.
"Baik Ustadz," balas Rudy.
Kemudian mereka kembali bergabung dengan yang lainnya untuk mengaji.
Sedangkan Ummi dan Nenek masih syok melihat kejadian barusan. Mereka berdua berusaha tenang dan tetap mengikuti pengajian. Tak ada yang berani beranjak dari ruangan itu sebelum semuanya selesai.
Pengajian pun terus berlanjut. Mahluk-mahluk diluar sana merasa kepanasan mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang berasal dari dalam rumah.
Sementara di dalam kamar, Meka dan Kakek tua sudah menyelesaikan meditasi mereka. Meka sudah siap menghadapi iblis itu saat ini. Jam pun sudah semakin mendekati pukul 24.00, dimana akan terjadi malam bulan purnama. Tepat saat itu dukun dan Iblis itu melakukan ritualnya karena sudah mendapatkan tumbal yang kesekiannya.
"Nak Meka, bagaimana keadaannya?" tanya Kakek tua saat melihat Meka membuka matanya.
"Saya sudah segar kembali kek," jawab Meka. "Kakek gimana? Apa keadaan Kakek sudah pulih?" tanya Meka yang juga melihat Kakek tua itu sudah membuka matanya.
"Saya sudah pulih, badan saya sudah segar kembali. Kita akan menghadapi iblis itu bersama," jawab Kakek tua.
"Sepertinya di luar sedang ada kekacauan," ucap Zain membuat Meka dan Kakek tua mengalihkan perhatian mereka ke arah Zain.
"Maksud Pak Zain?" tanya Kakek tua.
"Saya sempat mendengar kericuhan di luar sana kek. Tapi saya tidak berani keluar dari dalam kamar ini. Karena pesan Khodamnya Meka, saya harus tetap berada disini," jawab Zain.
"Maksud Mas, kericuhan?" tanya Meka ulang.
"Iya, tadi Mas sempat mendengar Ummi dan Nenek berteriak. Tapi Mas tidak tau apa yang menyebabkan mereka berteriak," jawab Zain.
Meka dan Kakek tua saling berpandangan penuh dengan tanda tanya. Meka berpikir pasti ada kejadian diluar sana di ruangan tengah.
"Semoga Ustadz Ahmad bisa mengatasinya. Sepertinya iblis itu mulai bergerak," ucap Meka menebak.
__ADS_1
"Kakek pun berpikir seperti itu nak Meka. Sepertinya iblis itu mencoba membuat kekacauan di luar sana," sambung Kakek tua.
Mereka berdua menghela napasnya dengan berat. Meka tak menyangka keadaan ini akan semakin rumit.