Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 94


__ADS_3

Meka menatap Deon dan mengerti arti dari kedipan mata yang diberikan Deon terhadapnya.


"Baiklah De, besok gw tunggu ya di Apartement. Khabari kalau Lo mau berangkat dari Semarang ke Jogja biar gw bisa bersiap-siap," pinta Meka.


"Siap...," balas Deon.


"Ayo sayang, mobil onlinenya sudah mau sampai di depan," ajak Zain.


"Pak Ustadz, Umi, kami pamit pulang dulu, sekali lagi terima kasih atas bantuannya, Assalamu'alaikum," ucap Zain berpamitan.


"Pak Ustadz, Umi, De, Na, Bu, kami permisi dulu, Assalamu'alaikum," ucap Meka yang juga berpamitan.


"Wa'alaikumussalam, jawab mereka serentak.


"Ma, Deon antar mereka dulu ya kedepan."


"Iya sayang," balas Mamanya.


"Gw ikut ya Deon," Isna mengekor Deon dan Meka yang berjalan ke luar rumah.


"Oh ya De, Lo bawa mobil Mama Lo kan, gw ingatkan untuk berhati-hati ya. Dan sampaikan ke Mama Lo, jangan pernah terpengaruh lagi dengan bisikan dari keluarga besarnya. Karena hanya keluarga Lo yang memutus rantai itu. Jadi Lo harus siap menghadapi situasi apapun nantinya," terang Meka yang memberikan peringatan agar Deon tetap teguh dalam pendiriannya.


"Iya Mek, gw tidak akan goyah atas apa yang sudah gw perjuangkan saat ini, makasih ya Mek, Pak Zain, melalui kalian, gw bisa melakukan ini semuanya," balas Deon dengan rasa syukurnya.


"Kalian hati-hati juga ya Mek," Isna pun ikut berbicara.


"Iya Na."


"Sayang, itu mobilnya di depan, ayo kita berangkat," Zain mengajak Meka menuju mobil.


"Gw pulang dulu ya De, Na! Sampai ketemu besok ya...!" Meka cipika cipiki sama Isna, tapi sama Deon hanya tersenyum.


Isna pun tertawa melihatnya, karena kebiasaan yang dulu harus hilang karena perubahan yang dilakukan Deon.


Meka dan Zain pergi meninggalkan rumah Ustadz Imron. Mereka kembali ke Apartement. Sesampainya di Apartement, Zain mengajak Meka duduk di sofa. Zain ingin menghabiskan waktunya berdua bersama Meka di Apartment.


"Sayang kemari lah, Mas mau bicara."

__ADS_1


"Iya Mas, ada apa?" tanya Meka yang melihat suaminya sudah duduk di sofa.


Meka duduk di sofa disamping suaminya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Zain.


"Sayang, kemaren Mama tlp, katanya dia mau Mas datang kerumah. Mas bilang, kalau Mas tidak akan kerumah tanpa kamu. Jadi menurut kamu gimana sayang?" tanya Zain hati-hati.


"Aku gak bisa menahan Mas untuk tidak menemui orang tua Mas. Tapi kalau Mas mau mengajak aku kesana, ya udah kita kerumah orang tua Mas. Emang kapan Mama nyuruh Mas datang?" tanya Meka.


"Kemaren sayang, kalau gak salah saat kita di rumah sakit, apa di Hotel ya? Ah Mas lupa. Tapi yang pasti Mama nyuruh datang kerumah."


"Maaf ya Mas, karena menyelesaikan masalah Deon, Mas jadi melupakan keinginan Mama untuk datang kerumah mereka," Meka merasa bersalah.


"Kamu gak salah kok sayang, manusia itu wajar ada lupanya. Lagian Mas juga gak janji kok, mau kapan datangnya," ucap Zain yang mencoba membela istrinya.


Meka tersenyum menatap wajah suaminya. Namun dihati Meka, dia tetap merasa bersalah karena mengabaikan masalah suaminya. Meka semakin menenggelamkan kepalanya di dalam dekapan suaminya.


"Sayang, lusa kalau tidak salah, akan diadakan tournya. Kalian jadi ikut gak?" tanya Zain.


"Oh iya Mas, aku lupa. Aku sih pengen ikut Mas kalau kamu ngizinin."


"Kalau gitu aku harus menghubungi Asih sahabat di kontrakan ku itu. Karena kemaren aku ngajak dia juga buat ikut tour itu," ucap Meka dengan semangat.


"Kalau gitu, besok kita kerumah Mama setelah urusan dengan wanita ghaib itu selesai, gimana?" tanya Zain yang minta pendapat Meka.


"Iya Mas, aku setuju," jawab Meka.


"Malam ini kita makan disini aja ya sayang. Mas lagi gak pengen keluar. Pengennya berduaan sama kamu disini, kita menghabiskan waktu hanya berdua," Zain tersenyum menggoda melihat Meka.


"Hehehe, iya Mas, kita pesan delivery aja ya."


"Heum."


Zain dan Meka asyik ngobrol diruangan itu sambil menonton TV. Mereka bersenda gurau tanpa mengetahui apa yang ada di luar sana. Genduruwo itu berada di luar ruangan itu tepatnya diarah balkon. Dia menggertakkan giginya yang runcing dan tajam itu melihat pemandangan yang membuatnya marah. Dia tidak suka jika miliknya dekat dengan yang lain apalagi suaminya sendiri. Matanya merah menyala siap membakar siapa saja yang menatapnya.


Genduruwo itu tak bisa masuk kedalam ruangan itu karena adanya Khodam yang menjaga Meka. Dan itu semakin membuat genduruwo itu bertambah marah. Karena kemarahannya yang membara, dia melampiaskannya dengan pemujanya yaitu Shinta. Genduruwo itu menemui Shinta dalam mimpinya.


Saat ini Shinta sedang tertidur pulas di kost-kostannya. Dia tidur menggunakan baju tipis yang membuat genduruwo itu menelan ludahnya melihat tubuh Shinta yang terekspose. Lalu genduruwo itu masuk ke dalam mimpinya sebagai Dosga mereka yaitu Pak Zain.

__ADS_1


Shinta bermimpi, dalam mimpinya dia masuk ke dalam ruangan Dosganya. Shinta melihat Dosganya yang tersenyum melihat kedatangannya. Shinta mulai mendekati Dosganya, membelai lembut dadanya dan membisikkan sesuatu di telinga Dosganya.


"Aku ingin melakukannya denganmu sayang," bisik Shinta sambil mengecup daun telinga Dosganya.


Genduruwo yang merubah dirinya menjadi Dosganya menjadi sangat liar, dia langsung menarik Shinta duduk diatas pangkuannya. Shinta bisa merasakan milik Dosganya sudah menegang, dan Shinta menyunggingkan senyumnya. Lalu tanpa memperlama waktu, Dosganya yang sudah tak sabaran, langsung melum** bibir Shinta yang menantang. Shinta terkesima melihat agresifnya Dosganya saat ini. Dia pun membalasnya dengan sangat rakus.


Keduanya saling memburu, memberikan kenikmatan yang sudah lama diinginkan Shinta. Shinta yang sudah kepengen, melepaskan seluruh bajunya dihadapan Dosganya hingga polos tanpa busana. Pemandangan itu membuat genduruwo itu semakin liar, dia pun membuka seluruh bajunya hingga polos. Lalu genduruwo itu langsung menarik Shinta dan mendudukkannya diatas miliknya yang sudah berdiri dengan kokohnya.


Shinta bisa merasakan milik Dosganya yang besar dan menantang, mereka terus memberikan kenikmatan dari bibir. Hingga genduruwo itu memasukkan miliknya ke milik Shinta yang sudah siap menantang.


Mereka mengerang bersamaan, Shinta merasa senang akhirnya bisa merasakan milik Dosganya yang sudah lama diinginkannya.


Genduruwo itu terus menghujam miliknya kedalam milik Shinta. Suara-suara merdu terdengar menggema di dalam ruangan kerja Dosganya. Genduruwo itu tak henti-hentinya menghujam Shinta. Dia terus melakukannya walaupun sudah beberapa kali pelepasan.


Shinta yang tidak tau bahwa itu genduruwo, terus memberikan kepuasan Dosganya. Hingga pelepasan terakhir, genduruwo itu menghentikan aktivitasnya. Dia kelelahan dan tertidur di kursi itu. Shinta puas dan senang, akhirnya memiliki Dosganya. Dia berpikir ini adalah kenyataan, padahal yang dilakukannya adalah mimpi yang dibuat oleh genduruwo itu karena melampiaskan kemarahannya terhadap tumbalnya Meka.


Bunyi adzan Maghrib menyadarkan Shinta, dia merasa badannya pegal-pegal. Shinta membuka matanya perlahan, dan bangkit duduk diatas tempat tidurnya. Dia melihat sekeliling ruangan itu.


"Bukannya gw tadi berada di Kampus ya? Dan tadi gw lagi bercinta dengan Pak Zain diruangannya? Tapi ini kok gw di dalam kamar sendiri?" gumam Shinta bingung dan berpikir keras.


Shinta melihat bajunya sudah tersingkap keatas sampai ke leher. Dan yang membuat Shinta terkejut bercampur bingung, pakaian dalamnya sudah tidak ada ditubuhnya melainkan di samping tempat tidur. Shinta semakin bingung saat merasakan badannya yang remuk karena percintaan mereka tadi.


"Apa yang terjadi? Kenapa pakaian dalamku ada di sini? Bukannya gw sudah memakainya ya tadi? Kenapa aku seperti melakukan hubungan badan dengan Pak Zain? Tadi itu sangat nyata sekali. Ah ini gak mungkin mimpi!" Shinta seperti orang linglung yang kebingungan.


Shinta beranjak dari tempat tidurnya dengan sedikit terseok-seok karena kakinya terasa keram akibat pergulatan panas tadi. Shinta menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sedangkan genduruwo itu merasa puas karena birahinya sudah tersalurkan ke Shinta. Dia pun sudah menghilang sebelum terdengar adzan Maghrib.


Di Apartement, Zain dan Meka melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah. Setelah selesai Zain pun memesan makanan online.


"Sayang kamu mau makan apa malam ini?" tanya Zain saat dia memegang ponselnya.


"Aku mau makan HokBen Mas. Dah alam gak makan itu," jawab Meka.


"Baiklah kita makan HokBen malam ini disini. Mas pesan dulu ya." Zain mulai memesannya melalui aplikasi online.


"Iya Mas," sahut Meka.

__ADS_1


__ADS_2