
Meka melihat kedalam kamar Papanya, ternyata tidak ada orang didalam kamar. Lalu Meka berjalan keruang tamu, disitu dia melihat Papanya bergabung dengan Abang dan adiknya serta keluarga yang lainnya.
"Oh..Papa disini! Tadi Meka cari didalam kamar gak ada, rupanya kumpul sama keluarga," ucap Meka sambil duduk disamping Papanya.
"Iya, Papa nungguin tamu yang mau datang buat tahlilan nak," sahut Papanya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tetangga berdatangan ke rumah Meka. Satu persatu mulai memenuhi ruangan tamu.
"Mana Zain Meka?" tanya Papanya saat tidak melihat kehadiran Zain di antara tamu.
Rupanya Zain sudah duduk disamping salah satu tamu yang sudah pada ngumpul. Zain sengaja tidak kumpul dengan keluarga Meka. Dia tidak ingin terlihat mencolok Dimata masyarakat terutama tetangga Meka yang datang untuk tahlilan.
Meka tidak mengetahui keberadaan Zain. Karena dia pun gabung dengan sepupu dan Tantenya.
Lalu Meka berjalan kearah kamar Zain dan membuka pintu kamarnya. Meka melihat tidak ada Zain didalam kamar.
"Loh Zain kemana ya?" gumam Meka sambil celingak-celinguk didalam kamarnya Zain.
Kemudian Meka keluar dari dalam kamarnya Zain dan berjalan mencari keberadaan Zain. Saat Meka berjalan kearah Papanya, Zain menyapa Meka.
"Meka mau kemana?" tanya Zain.
"Loh disini rupanya kamu Zain. Dicariin Papa, diajak tahlilan. Kirain masih didalam kamar. Kamu udah dari tadi disini?" tanya Meka.
"Iya, pas tamu berdatangan, aku sudah duduk disini," balas Zain.
"Ya udah, aku mau kasih tau Papa dulu, kalau kamu sudah gabung sama tamu yang lainnya," ucap Meka.
Meka pun kembali berjalan kearah Papanya dan memberitahukan keberadaan Zain yang kumpul bersama tamu.
Acara pengajian pun dimulai. Para tamu mulai mengaji mengirimkan do'a untuk kedua almarhum. Hingga beberapa jam, akhirnya pengajian selesai. Para tamu berpulangan dari rumah Meka. Hingga saat ini yang tinggal adalah Om dan Tantenya serta beberapa sepupunya. Karena sebagian sepupunya sudah pada kembali kerumahnya.
Meka mengantarkan Papanya untuk kembali ke kamar Papanya.
"Ayo Pa, Meka antar ke kamar. Ini sudah selesai tahlilannya. Papa istirahatlah dikamar. Biar Meka dan Pak Zain yang merapikan semua ini," ucap Meka.
"Minta tolong nanti sama Tantemu si Irma biar cepat selesai membereskan semua ini," balas Papanya.
"Iya Pa, nanti Meka minta bantuan Tante ya," Meka berjalan bersama Papanya kearah kamar.
Setelah itu dia kembali keruang tamu untuk membantu membereskan ruang tamu itu.
"Tante, sini Meka bantu," ucap Meka menawarkan dirinya.
__ADS_1
"Oh iya sayang, nih kamu lipat ya tikarnya. Biar Tante lipat yang sebelah sana," tunjuk Tantenya.
Meka pun menggilung tikar yang kecilnya dulu. Sedangkan Zain menggulung ambal yang besarnya. Karena Meka tak sanggup menggulungnya karena terlalu berat.
Akhirnya mereka menyelesaikan bersih-bersih ruangan tamunya. Tantenya Meka mengajak Meka dan Zain duduk nyantai diruang tamu itu.
"Sayang, yuk kita duduk disini dulu. Tante sudah lama tidak ngobrol sama Meka. Dan sekarang Tante pengen ngobrol-ngobrol sama Meka," ucap Tantenya penuh harap.
"Ayo Tante, tapi Meka buatin teh manis anget dulu ya Tan, biar enak ngobrolnya," Meka pun bergegas ke meja makan untuk membuat teh manis anget.
Lalu dia membawa 3 cangkir teh ke tempat Tantenya duduk. Zain malah tidak ingin gabung bersama Meka dan Tantenya, dia memilih untuk beristirahat dikamar.
"Sayang, aku kekamar ya. Gak enak kalau gabung sama Tante kamu," ucap Dosganya.
"Yaaaa, gak seru dong Pak...!"
"Maaf aku gak mau mengganggu obrolan antara Tante dan Ponakannya. Mengertilah ya Meka!" seru Zain.
Meka pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Zain pun kembali kekamarnya untuk beristirahat.
Lalu Meka duduk berdua sama Tantenya, adik dari Papanya.
"Tante sedih banget, saat tau Mama dan adik kamu Biyu kecelakaan kemaren. Tante marah banget sama Om kamu Sandy," Tantenya Meka mengingat peristiwa kemaren.
"Tante jangan seperti itu, Om Sandy juga merasa terpukul dan dia juga merasa kehilangan dan terus menyalahkan dirinya atas kejadian itu. Kita semua tau ceritanya bagaimana. Itu semua bukan kesalahan Om Sandy," tegas Meka sambil menatap tak suka dengan Tantenya.
"Lusa Tante, kami kembali. Karena Meka masih ingin bersama Papa disini," jawab Meka.
"Dan laki-laki itu? Sepertinya kalian sangat dekat Tante lihat. Apa dia kekasih kamu?" tanya Tantenya yang kepingin tau.
"Dia Dosenku Tante. Kemaren dia ada keperluan di Kota ini. Jadi di ikut bersama Meka, Tante," jelas Meka yang memang sedikit berbohong.
"Oh berarti dia bukan kekasih kamu ya? Tuh sepupu kamu sejak kemaren terus menyuruh Tante untuk bertanya tentang teman kamu itu. Apa boleh Tante minta no nya?" tanya Tantenya to the point.
Meka diam sesaat dan menatap Tantenya dengan rasa tak suka.
"Ternyata ujung-ujungnya ada maunya, kirain ngajak ngobrol supaya saling menghibur, ternyata ada udang dibalik batu besar, hihihi," bathin Meka sambil cekikikan.
Tantenya ternyata memperhatikan Meka dari samping yang cekikikan sambil menatapnya, dia sempat bingung.
"Kenapa nih Ponakanku, apa dia kemasukan ya, kok malah cekikikan gitu," bathin Tantenya yang bergidik melihat tatapan Meka yang agak serem.
"Meka-meka, kamu kenapa nak? Sadar loh...!" Tantenya mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Meka.
__ADS_1
"Ah, eh iya Tante. Kenapa ya?" tanya Meka saat tersadar dari pikirannya.
"Kamu kenapa cekikikan gitu sih, buat Tante ketakutan aja," celetuk Tantenya tak suka.
"Oh itu, Meka lucu aja ingat teman Meka yang ngajak Meka jalan-jalan ternyata ada udang dibalik rempeyek," kilah Meka sambil tersenyum devil menatap Tantenya.
"Oh...kirain kenapa."
"Ya udah Tante, Meka mau balik kekamar dulu ya. Mau istirahat. Pengen cepat tidur nih Tan!" seru Meka.
"Loh kok cepat banget sih Meka! Tante kan belom selesai ngobrolnya, masa ditinggal gitu aja. Lagian kamu belom jawab ucapan Tante tadi," protes Tantenya.
"Besok-besok aja ya Tan, Meka dah ngantuk nih!" sahut Meka. Lalu dia meninggalkan Tantenya tanpa perduli dengan kemauan Tantenya itu.
Sedangkan Tantenya sedikit kesal karena rencananya tidak berhasil meminta no nya Zain. Dia senang jika anak perempuannya bisa menjadi kekasihnya Dosganya Meka. Kemudian si Tante kembali kekamarnya dan menemui anak perempuannya.
"Gimana mam, dapet no nya cowok itu?" tanya anaknya antusias.
"Gak dapet sayang, si Meka kurang ajar itu gak mau ngasih tau no Dosennya itu," jawab Mamanya.
"Issa si Meka itu sok kecakapan banget sih. Siapa emangnya Dosennya itu? Awas aja kalau gw ketemu tuh sama Dosennya, gw bakal buat dia klepek-klepek sama gw," gumam sepupunya Meka yang sangat marah sama Meka.
"Sabar sayang, Mama pasti bantu kamu. Kalau Mama gak salah, lusa mereka kembali keJogja. Kalau bisa secepatnya kamu mendapatkan no nya Dosen si Meka itu sayang," balas Mamanya.
"Iya, aku akan berusaha," ucap anaknya menyunggingkan senyum.
Sedangkan didalam karena Meka. Dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Meka mengingat percakapan Tantenya tadi.
"Hahh, apa sepupu gw naksir ya sama Dosga gw? Kayak gak ada laki-laki lain aja di dunia ini, sampai harus ngelirik punya orang lain, huhh menyebalkan," gumam Meka.
Tiba-tiba jendela Meka terbuka lebar dan angin berhembus kencang. Meka terkejut dan langsung berdiri. Dia terbengong menatap jendela kamarnya yang terbuka.
"Perasaan sudah gw kunci. Lagian masa bisa sih, angin membuka jendela yang berat gitu ya! Apa ada maling ya?" gumam Meka.
Lalu Meka beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kearah jendela. Saat Meka hendak menutup pintu kamarnya, dia melihat sosok anak kecil berdiri didepan pagar rumahnya menghadap kamarnya. Meka mengucek-ngucek matanya tak percaya.
"Siapa itu? Ngapain anak kecil itu berdiri disitu?" pikir Meka yang masih melihat anak kecil itu.
Lalu Meka keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumahnya. Seketika angin berhembus kencang menerpa wajah Meka. Meka mendengar suara tangisan anak kecil itu. Dia diam sesaat dan menatap kearah anak kecil yang sedikit jauh dari pandangannya.
Meka berjalan menghampiri anak kecil itu. Dia tidak tau bahwa sosok yang akan dia lihat itu bukanlah manusia melainkan mahluk tak kasat mata. Dengan santainya Meka berjalan mendekatinya. Meka merasakan hal yang janggal.
"Kenapa ada anak kecil disini? Ini sudah larut malam. Ngapain dia disini?" bathin Meka.
__ADS_1
Meka terus berjalan mendekati pagar rumahnya. Hingga dia diam sesaat menatap tak percaya kearah anak Itu. Lalu tanpa diduga Meka berteriak kencang.
"Aaaaaaaaaa......! Haan..han..hantu....!" teriak Meka dengan kencangnya.