Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 92


__ADS_3

Meka dan Zain sampai di teras rumah Ustadz itu.


"Sayang, coba kamu ketuk pintunya," ucap Zain saat mereka sudah sampai di depan pintunya.


"Iya Mas."


Meka mendekatkan dirinya ke arah pintu dan mengetuk pintu itu.


"Tok tok tok, Assalamu'alaikum Ustadz," Meka memanggil Ustadz itu dari luar.


"Wa'alaikumussalam," terdengar suara sahutan perempuan dari dalam rumahnya.


Lalu pintu rumah itu dibuka dengan lebar dan memperlihatkan sosok wanita berumur menggunakan hijab dengan senyum ramahnya menyambut kedatangan Meka dan yang lainnya.


"Maaf Bu, bener ini rumahnya Ustadz Imron?" Meka bertanya dengan sopan.


"Iya benar, Ini nak Meka ya? Bapak udah nunggu di dalam. Silahkan masuk," Wanita itu mempersilahkan mereka masuk ke dalam.


Iya benar Bu," jawab Meka dengan senyum ramahnya.


Lalu dari belakang Isna menghampiri Meka dan bertanya.


"Eh Mek, bener kan ini rumah Ustadz nya?" Isna ingin memastikan kebenaran rumah tersebut.


"Iya Na, ayo kita masuk. Ustadz nya udah menunggu di dalam."


Meka dan Zain masuk duluan ke dalam rumah itu dan diikuti oleh Isna serta Deon bersama Mamanya.


Di dalam ruangan itu ternyata sudah menunggu Ustadz Imron. Ustadz itu tersenyum ramah melihat kedatangan mereka.


"Selamat datang dirumah sederhana saya ini nak Meka. Tidak sulit kan menemukan rumah saya?" tanya Ustadz itu saat menyambut kedatangan mereka.


"Tidak Ustadz, ternyata rumahnya tidak jauh dari tempat kejadian," jawab Meka.


"Ayo silahkan duduk dulu," Ustadz itu menyuruh mereka semua untuk duduk di sofa.


Meka dan Zain duduk bersebelahan, sedangkan Isna dan Deon dekat dengan Mamanya Deon.


"Oh ya Ustadz, perkenalkan Ustadz ini dia suami saya," Meka memperkenalkan Zain sebagai suaminya.


Lalu Zain mengulurkan tangannya ke Ustadz itu untuk memperkenalkan dirinya.


"Saya Zain suami dari Meka, Ustadz," ucap Zain dengan sopan.


"Oh...., saya sudah tau. Yang kemaren kecelakaan di dekat sini dan pingsan saat dibawa ke rumah sakit bersama teman nak Meka kan?" ucap Ustadz itu.

__ADS_1


"Iya Ustadz," jawab Zain.


Ketika Ustadz itu berkata kecelakaan, Mamanya Deon menoleh kearah Deon dengan kening mengkerut. Dia penasaran dengan kecelakaan yang diceritakan Ustadz itu.


"Siapa yang kecelakaan nak?" tanya Mamanya sama Deon di depan mereka semua.


Deon menoleh kesamping melihat kearah Mamanya. Kemudian dia menjelaskan sama Mamanya tentang kejadian kemaren.


"Iya Ma, maaf Deon gak cerita sama Mama, takut nanti Mama jadi kepikiran. Kemaren saat Deon menghubungi Mama, kami sedang berada di cafe untuk makan malam. Setelah selesai makan malamnya, kami kembali pulang. Tapi ditengah jalan tiba-tiba Meka melihat ada yang lewat sehingga Pak Zain mengerem mendadak dan membanting stir kesamping sehingga mobilnya menabrak dinding supermarket," Deon menceritakan secara rinci tentang kejadiannya.


"Maaf, ini Ibunya nak Deon ya?" Ustadz Imron tiba-tiba menyela obrolan mereka.


"Ah iya Ustadz, ini Mama saya," ucap Deon yang memperkenalkan Mamanya.


"Oh...Apakah Mama nak Deon yang akan saya bantu untuk keluar dari masalah yang sedang dihadapinya?" tanya Ustadz itu.


"Iya Ustadz, saya Mamanya Deon. Apakah Deon sudah bercerita sama Ustadz tentang apa yang terjadi dengan saya?" Mamanya Deon balik bertanya.


"Tidak Bu. Deon belom menceritakan apapun tentang masalah Ibu," jawab Ustadz itu dengan ramah.


Mamanya Deon merasa heran. "Bagaimana mungkin Ustadz itu bisa tau tentang apa yang sedang aku alami? Apakah dia paranormal?" bathin Mamanya Deon dengan mengerutkan keningnya


"Ibu pasti bertanya-tanya kenapa saya bisa tau tentang keadaan Ibu, benar kan?"


"Ma, Ustadz ini bisa mengetahui keadaan yang menimpa Deon saat beliau menggenggam tangan Deon saat kejadian kecelakaan kemaren. Meka yang cerita sama Deon tadi pagi," tiba-tiba Deon menjelaskan sama Mamanya.


"Tidak Bu, saya hanya seorang Ustadz biasa. Tapi saya memiliki mata bathin yang tidak semua orang memiliki kelebihan itu," ucap Ustadz itu sambil melirik kearah Meka.


"Jadi, bagaimana Ustadz, apa yang harus saya lakukan dengan masalah saya ini?" Mamanya Deon semakin semangat untuk keluar dari jeratan iblis itu.


"Iya Ustadz, apakah Mama saya bisa terbebas dari jeratan itu?" Deon ikut menimpali ucapan Mamanya.


"Itu semua bisa dilakukan Bu, asal ada kemauan dari orang yang terbelenggu jeratan itu."


"Iya Ustadz, saya ingin sekali bebas. Saya hanya ingin hidup bahagia bersama anak saya Ustadz. Saya tidak menginginkan harta lagi. Harta saya hanya anak saya ini Ustadz," ucap Mamanya Deon dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah kalau gitu. Nak Meka saya meminta bantuan kamu agar menyalurkan energi positif ke Mamanya Deon dan saya akan mulai merukiyahnya," jelas Ustadz itu yang meminta Meka agar membantunya.


"Tapi Ustadz, apakah saya bisa melakukannya?" tanya Meka bingung.


"Kamu bisa melakukannya. Gunakan liontin kamu itu dan duduklah bersila di samping saya. Kamu hanya mengikuti apa yang saya sampaikan," ucap Ustadz itu.


"Baik Ustadz," balas Meka.


Meka diam, namun di dalam hatinya dia bertanya, "Dari mana Ustadz ini mengetahui jika aku memiliki liontin bulan sabit? Tidak ada yang tau kecuali suamiku sendiri," bathin Meka yang masih menatap Ustadz itu.

__ADS_1


"Gimana nak Deon apa kita bisa melakukannya sekarang?" tanya Ustadz itu, yang menunggu keputusan Deon.


"Ma, kita lakukan sekarang ya," pinta Deon ke Mamanya.


Mamanya Deon mengangguk, dia bersungguh-sungguh ingin bertaubat dan keluar dari jerat iblis itu.


"Iya Ustadz, kita lakukan sekarang," jawab Deon dengan tegas.


Lalu Ustadz itu menyuruh Mamanya Deon duduk di tempat yang sudah disiapkan.


"Gimana Bu, sudah siap melakukannya," tanya Ustadz itu lagi.


"Siap Ustadz," jawab Mamanya Deon dengan kesiapan.


Setelah mendengar kesiapan dari Mamanya Deon, lalu Ustadz itu mulai membaca ayat ruqyah yang terdiri dari ayat Alquran dan hadist shahih yang dibaca untuk memohon kesembuhan kepada Allah SWT.


Di dalam ruangan itu hanya ada Ustadz, Meka dan Deon. Sedangkan Isna dan Dosga mereka berada diluar ruangan ditemani istri Ustadz.


Akan tetapi Dosga mereka lebih memilih untuk menunggu Meka di teras rumah.


Waktu berjalan terus hingga hampir satu jam lamanya Isna menunggu diruang tamu ditemani istri Ustadz itu dan mereka belum juga keluar dari ruangan itu.


Sedangkan di dalam ruangan itu, mereka masih melakukan do'a meminta bantuan kepada Allah SWT untuk menghilangkan pengaruh iblis yang ada ditubuh Mamanya Deon.


Zain yang berada di teras rumah merasa khawatir dengan keadaan Meka. Dia tidak bisa tenang duduk di kursi. Zain mondar-mandir di teras itu dan sesekali melihat ke dalam rumah untuk mengetahui apakah rukiyahnya sudah selesai atau belom. Kepanikan muncul di wajah Zain karena Meka tak kunjung keluar dari ruangan itu.


"Maaf Bu, apakah melakukan rukiyah selama ini ya?" tanya Zain yang gak sabaran.


"Saya tidak bisa menjawabnya Pak, karena itu semua tergantung dari orang yang dirukiyah," jawab istri Ustadz itu.


Zain merasa tak puas mendengar jawaban wanita berumur itu. Lalu dia menghampiri ruangan itu dan berdiri tepat di depan pintunya dengan mondar-mandir seperti satpam.


Ketika Zain mondar-mandir, pintu ruangan itu pun terbuka. Yang pertama keluar dari ruangan itu adalah Meka dengan memperlihatkan wajahnya yang sedikit pucat tapi tetap menampilkan senyumnya.


"Sayang, kamu gak kenapa-napa kan?" Zain panik saat melihat Meka keluar dari ruangan itu dengan wajah pucatnya.


Lalu Zain membantu Meka berjalan kearah tempat Isna duduk.


Isna yang melihat Meka berjalan kearahnya, langsung membantu Meka untuk duduk.


"Mek, gimana? Kenapa Lo doang yang keluar? Deon dan Mamanya mana?" Isna pun ikut panik karena hanya Meka saja yang keluar dari ruangan itu.


"Mereka masih di dalam. Sebentar lagi juga selesai," jawab Meka dengan nada lemas.


Lalu dari arah dapur, istri Ustadz itu membawakan air putih kepada Meka untuk diminumkan.

__ADS_1


"Nak Meka, ini minum dulu air putih ini," serah istrinya Ustadz itu.


"Terima kasih Umi," ucap Meka sambil menerima gelas yang berisi air putih.


__ADS_2