
Meka dan Zain masuk ke dalam kamar mereka. Lalu Isna pun masuk ke dalam kamarnya juga.
Di dalam kamar, Meka mulai bersiap-siap untuk berangkat ke Kampus.
"Mas, kamu udah siap?" tanya Meka melihat suaminya sedang duduk di sofa.
"Sudah, ayo berangkat. Mas mau ada urusan sedikit di Kampus," jawab Zain.
Setelah selesai, Meka keluar kamar dan diikuti oleh Zain.
Ternyata Isna dan Deon sudah menunggu di ruang santai.
"Ayo berangkat, nanti kita terlambat ke Kampusnya," ajak Meka.
"Yuk, gw kok ngerasa kalau kita udah lama gak masuk Kampus ya Mek! Apa itu perasaan gw aja kali ya," ucap Isna memberitahu.
"Sama Na, gw juga ngerasakan hal yang sama. Kok lagi-lagi kita sama ya Na," sambung Deon.
"Ah mungkin itu hanya perasaan kalian saja. Kita kemaren masuk kok ke Kampus, ya kan Mas?" ucap Meka yang meminta dukungan.
"Iya," jawab Zain yang terpaksa mendukung Meka.
"Aneh ya Mek, tapi ya sudahlah," pasrah Isna yang tidak mau terlalu memikirkannya.
Kemudian mereka berempat masuk ke dalam mobil dan melaju ke Kampus.
Jalanan mulai macet karena bersamaan dengan para pekerja. Belum lagi lampu merah yang menghalangi perjalanan, menambah waktu lama untuk mereka tiba di Kampus. Selama perjalanan ke Kampus, Isna terus-terusan bertanya tentang mimpi dan kejanggalan yang dialaminya.
Namun Meka terus menepisnya agar Isna tidak curiga dan lebih banyak bertanya. Hingga akhirnya mereka pun sampai di Kampus.
Meka, dan Zain berjalan seperti biasanya, berdampingan memasuki Kampus. Sedangkan Deon dan Isna mereka melakukan hal yang sama. Saat mereka masuk ke area Kampus, Meka dan yang lainnya mendengar obrolan grasak grusuk tentang keberadaan sahabat mereka Shinta.
"Eh Lo tau gak say, kemaren gak sengaja gw dengar para Dosen membicarakan Mahasiswi Komunikasi bernama Shinta. Katanya nih, dia meninggal tidak wajar loh," gosip Mahasiswi A.
"Maksud Lo tidak wajar gimana? Lo jangan tebar info gak jelas dong!" seru yang lainnya.
"Ya ampuuuun, gw serius. Nih bukan berita hoaks ataupun sensasi buat tebar berita supaya tenar. Gw benaran denger langsung dari beberapa Dosen di ruang Kaprodi kita," sahut Mahasiswi A.
"Iya maksud Lo gak wajar itu gimana?" tanya temannya.
"Itu loh, dia minta maaf terus sebelum pergi. Dan beberapa Minggu sebelum pergi wajahnya udah terlihat pucat. Dan saat mau pergi dia terus-terusan bilang minta maaf dan jangan bawa aku..., jangan bawa aku..., begitu yang gw dengar," jelas Mahasiswi A.
"Kok aneh ya, terus orang tuanya gimana?"
"Orang tuanya memanggil Ustadz untuk membantunya pergi dengan tenang. Tapi gw gak tau cerita selanjutnya, karena keburu gw dipelototi Dosen mendengar obrolan mereka, hehehe," balas Mahasiswi A itu cengengesan.
Meka berhenti seketika mendengar gosip seperti itu. Dia membalikkan badannya menatap Deon dan Isna. Sedangkan Deon dan Isna juga sama terkejutnya mendengar berita itu. Mereka saling pandang dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Isna menghampiri Meka dan melihatnya gelisah.
"Mek, kita gak coba menghubungi orang tuanya?" saran Isna.
"Iya Na, tapi gw ngerasa gak enak jika bertanya tentang Shinta terhadap orang tuanya," balas Meka.
"Kenapa Mek? Kita kan sahabat Shinta. Apalagi kita belom mengucapkan belasungkawa atas Shinta," ucap Isna.
"Iya Mek, ayo coba hubungi orang tuanya," saran Deon lagi.
"Sayang, Mas duluan ke ruangan Mas dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu langsung aja nyusul ke ruangan Mas," ucap Zain yang tidak ingin ikut campur urusan mereka.
"Iya Mas, nanti aku nyusul ke ruangan kalau udah selesai jam kuliah," balas Meka.
"Heum."
Zain pergi meninggalkan mereka bertiga. Dia berjalan menuju ruangannya.
Sedangkan Meka dan kedua sahabatnya duduk di depan ruangan kelas mereka. Sebelum Dosen masuk mengajar, Meka mencoba menghubungi orang tua Shinta ke no tlp Shinta.
Deringan pertama dan kedua, tidak ada sahutan, hingga deringan berikutnya diangkat sama seseorang yang suara perempuan.
"Assalamu'alaikum," sapa Meka.
"Wa'alaikumussalam," sahut orang di seberang.
"Ini siapa ya? Dan mau cari siapa?" tanya Ibu itu.
"Saya mencari Shinta, Bu. Dan saya ini teman kuliahnya Shinta. Maaf saya turut berduka cita atas kepergian Shinta. Kami tidak tau bahwa Shinta sudah pergi meninggalkan kita semua," ucap Meka yang turut berduka.
Sesaat kemudian, Meka mendengar Isak tangis dari Ibu itu.
"Maaf Bu, saya tidak bermaksud untuk membuat Ibu bersedih. Saya hanya ingin tau tentang Shinta Bu," ucap Meka lagi.
"Kamu ini siapanya Shinta?" tanya Ibu itu.
"Saya sahabat Shinta, Meka Bu," jawab Meka.
"Nak Meka!" balas Ibu itu gak percaya.
"Iya Bu benar, saya Meka. Ada apa ya Bu?" Meka penasaran kenapa Ibu itu malah mengucapkan namanya seperti itu.
"Nak Meka, maafin Shinta, maafin dia biar tenang disana. Derulang kali dia mengucapkan maaf terhadap nak Meka. Ibu tidak tau ada apa sampai dia seperti itu meminta maafnya," terang Ibu itu dengan tangisannya.
"Ceritanya panjang Bu. Gimana kalau kami datang ke rumah Ibu untuk kita ngobrol," saran Meka.
"Kalau nak Meka gak keberatan. Ibu sangat berterima kasih dan senang. Karena Ustadz yang membantu Shinta pergi, mengatakan untuk mencari nak Meka. Alhamdulillah justru nak Meka yang menghubungi Ibu," ucap Ibu itu yang bersyukur.
__ADS_1
"Baik Bu, habis pulang kuliah, kami akan datang ke rumah Ibu. Apakah Ibu bisa mengirimkan lokasinya ke no saya ini?" tanya Meka.
"Iya nak, Ibu akan mengirimkan lokasinya sekarang. Ibu dan Bapaknya Shinta saat ini berada di rumah eyangnya Shinta. Terima kasih banyak ya nak Meka sudah mau menemui kami orang tua Almarhum Shinta," ucap Ibu itu.
"Iya Bu, nanti saya khabari kalau mau berangkat kesana. Tapi saya tidak sendirian Bu, saya bersama beberapa sahabat Almarhum Shinta yang dekat dengan Shinta juga," jelas Meka.
"Oh iya nak Meka, gak apa-apa. Ibu senang kalian masih perduli dengan Almarhum Shinta," balas Ibu itu.
"Baik Bu, saya tutup dulu ya Bu, Assalamu'alaikum," ucap Meka.
"Wa'alaikumussalam nak," sahut Ibu itu.
Setelah obrolan berakhir, Meka menatap kedua sahabatnya itu. Isna dan Deon mengernyitkan keningnya menunggu cerita dari Meka.
"Gimana Mek! Apa kata orang tua Shinta?" tanya Isna gak sabaran.
"Orang tuanya meminta kita untuk datang kesana, karena ada hal yang ingin di tanya mereka. Jadi gw mengiyakan keinginan mereka, gimana dengan kalian?" tanya Meka sambil menatap satu persatu sahabatnya.
Deon menoleh ke arah Isna. Lalu dia kembali menatap ke Meka.
"Baiklah gw ikut sama Lo," jawab Deon.
"Gw juga Mek, ikut dengan Lo. Sekalian kita jiarah ke makamnya," sambung Isna.
"Iya Mek, gw juga penasaran dengan cerita Almarhum Shinta. Kasihan dia, semoga dia di terima di sisi Allah SWT, Aamiin," ucap Deon bersedih.
"Ah gw masih gak percaya dia pergi. Rasanya baru kemaren kita kumpul bareng dia. Tapi karena ambisinya terhadap Dosga kita, dia berbuat seperti itu," ucap Isna mengingat yang lalu.
Seketika Meka merasakan keberadaan mahluk ghaib. Udara dingin sekelebet melintas diantara mereka. Meka menangkap sosok mahluk ghaib dari sudut ekor matanya. Lalu dia dengan cepat menoleh, namun Meka terlambat. Sosok itu menghilang sekejap.
"Siapa dia? Kenapa dia menghilang?" bathin Meka bertanya.
"Eh Mek, Lo kenapa? Kok kayak orang bingung gitu," celetuk Isna yang ternyata memperhatikan Meka.
"Ah nggak Na, gw cuma kepikiran Shinta aja. Gw ngerasa Shinta membutuhkan pertolongan," ucap Meka.
"Dari mana Lo tau Mek?" tanya Deon mengernyitkan keningnya.
"Gw merasakan kehadirannya disini. Tapi dia tidak mau memperlihatkannya De," jawab Meka.
"Jangan bilang kalau dia gentayangan. Lo jangan nakutin gw dong Mek!" seru Deon yang mulai merinding.
"Isssssh, Deon, kamu ini penakut banget sih!" bentak Isna.
"Yeeee, kalau takut itu kan gak bisa di atur-atur Na. Kalau aku penakut, Lo tetap cinta kan sama aku!" goda Deon sambil menoel dagu Isna.
"Isshh malu tau sama Meka," balas Isna yang malu-malu.
__ADS_1