
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan Meka dan Isna, akhirnya mereka meninggalkan Butik tersebut.
"Gw udah selesai belanjanya. Kalian mau kemana lagi nih?" tanya Meka.
"Kayaknya gw belom puas deh Mek. Ayo kita masuk lagi ke beberapa Butik. Gw pengen beli pakaian untuk gw sendiri," ajak Isna yang belom mau pergi dari Mall.
"Na, Deon, sorry. Sepertinya gw dan Pak Zain harus balik ke Apartement," ucap Meka.
"Ya....jadi kita pisah dong Mek," sesal Isna.
"Tenang, kapan-kapan kita akan jalan bareng lagi, ok!" bujuk Meka.
"Iya nih Mek, kita kan jarang-jarang pergi sama Mek!" sambung Deon.
"Sorry banget ya..., lain kali kita akan pergi bersama. Kita liburan bareng deh, gimana?" bujuk Meka.
"Janji loh Mek...!" ucap Isna.
"Mantep Mek, kita liburan bareng, seru juga tuh," sambung Deon.
"Iya gw janji kita akan liburan bareng, ok!" balas Meka.
"Siip deh Mek," ucap Deon dan Isna berbarengan.
"Kalau gitu gw duluan ya sama Pak Zain balik ke Apartement."
"Ok Mek..!" balas Isna.
Lalu Meka dan Zain meninggalakn Isna dan Deon. Mereka berjalan berlawanan arah. Deon dan Isna melanjutkan jalan-jalannya di dalam Mall, sedangkan Meka dan Zain menuju parkiran basment.
"Mas, kamu gak coba menghubungi Mama? Tanya keadaan Mama, apakah baik-baik aja disana?" Meka memberikan usulnya kepada Zain.
"Mas juga kepikiran dari tadi tentang Mama. Apakah Mama baik-baik aja setelah kita meninggalkan pertemuan itu."
"Iya ya Mas, ayo coba hubungi Mama Mas. Biar kita tau keadaan Mama."
"Iya sayang."
Zain mencoba menghubungi no Mamanya. Beberapa detik kemudian, tlp pun diangkat.
"Assalamu'alaikum Ma!" sapa Zain.
"Wa'alaikumussalam Zain," sahut Mamanya.
"Mama gak kenapa-napa kan?" tanya Zain khawatir.
"Nggak nak, Mama baik-baik aja kok sayang," jawab Mamanya yang mencoba menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
"Tapi Zain dengar suara Mama berbeda. Ada apa Ma?" tanya Zain cemas.
"Iya sayang, beneran Mama gak kenapa-napa," jawab Mamanya.
"Ma, jangan bohongin Zain, katakan apa yang terjadi?" tanya Zain memaksa.
"Maafin Mama Zain. Mama gak bisa membelamu di depan Oma tadi. Mama merasa sedih karena menjadi tak berguna untukmu nak," Isak Mamanya.
"Emang Oma ngomong apa lagi Ma?" tanya Zain.
"Oma mu bilang, Mama gak bisa mendidikmu dengan baik, sehingga melawan sama Oma mu dan menjadi pembangkang. Oma mu sangat tak menyukai istrimu Zain," ucap Mamanya merasa bersalah.
"Maaf Ma, karena Zain, Mama jadi dimarahin Oma. Tapi itu sudah keputusan yang Zain ambil Ma. Zain sangat mencintai Meka. Hanya Meka yang Zain inginkan," balas Zain sambil menoleh kearah Meka.
Meka mendengar obrolan antara Mertuanya dan Zain. Dia ikut merasakan tak keberdayaan Mamanya terhadap situasi tadi. Meka dapat melihat bagaimana Mamanya Zain tak bisa mendukung anaknya.
Meka masih terus mendengar percakapan antara mertuanya dengan suaminya. Hingga beberapa menit kemudian, obrolan itu berakhir.
Zain menghela nafasnya dengan berat, lalu Zain menoleh ke Meka dan menatapnya dengan tatapan sedih.
"Ada apa Mas dengan Mama? Apa Mama baik-baik aja disana?" tanya Meka yang gak sabar menunggu Zain bercerita.
"Mama merasa bersalah karena tidak bisa mendukung Mas tadi. Dan Oma menyudutkan Mama yang tak bisa mendidik Mas hingga menjadi pembangkang," jelas Zain.
"Terus bagaimana dengan Papa, Mas?" tanya Meka lagi.
"Kenapa ya Mas, sepertinya Oma tidak menyukai Mama," tebak Meka.
"Kamu benar sayang, Mas juga melihat seperti itu tadi. Tapi Mas gak tau, apa yang membuat Oma tidak menyukai Mama."
"Ya sudah Mas, ayo kita pergi dari sini. Besok kita harus ke Kampus kan."
"Iya sayang."
Zain membawa mobilnya keluar dari area Mall. Mereka kembali ke Apartement.
Tak membutuhkan waktu lama hingga mereka sampai di Apartemennya. Zain dan Meka masuk ke dalam dan mulai membersihkan diri di dalam kamar mandi.
"Kamu udah selesai sayang mandinya?" tanya Zain saat melihat Meka keluar dari dalam kamar mandi.
"Udah Mas, kamu lagi ngerjakan tugas ya Mas?" tanya Meka yang melihat Zain di depan leptopnya.
"Iya, nih Mas lagi buat tugas untuk dikerjakan sama Mahasiswa Mas. Kamu besok tidak ada tugas kan?" tanya Zain balik.
"Gak adalah Mas. Kan kita kemaren lagi tour ke Desa itu. Lagian aku penasaran. Gak sabar untuk melihat besok di Kampus."
"Maksud kamu apa sayang? Lebih baik jangan mendekati masalah ya. Mas gak mau kamu kenapa-napa sayang," pinta Zain yang memohon kepada Meka.
__ADS_1
"Iya Mas, aku gak akan membuat masalah kok. Aku hanya ingin melihat keadaan besok gimana gitu," jelas Meka.
"Ayo sini duduk disamping Mas. Temani Mas ngerjakan tugas ini," panggil Zain.
Meka pun berjalan menghampiri Zain dan duduk disebelahnya.
"Banyak juga ya Mas yang mau dikerjakan," ucap Meka saat melihat kearah leptop Zain.
"Iya sayang, nih semua besok akan diserahkan ke masing-masing kelas saat jam mata kuliah Mas," jelas Zain.
Meka mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia malas menanggapi penjelasan suaminya. Sehingga dia memilih dia dan menatap serius ke leptop Zain.
"Mas, aku masih khawatir besok ketemu Bu Arin."
"Kenapa kamu khawatir sayang?" tanya Zain sambil mengerjakan tugas nya.
"Iya Mas, secara dia kan ternyata bersekutu dengan Iblis. Berarti Bu Arin memiliki kemampuan untuk hal ghaib?" tanya Meka penasaran.
"Sayang jangan mencoba menebak-nebak. Kita lihat aja besok ya."
"Iya Mas, aku hanya penasaran aja." :-)
Saat mereka ngobrol asyik, tiba-tiba ponsel Zain berdering. Zain langsung melihat ponselnya. Zain menatap ponsel itu berulang kali, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Meka bingung melihat ekspresi Zain yang tak biasa.
"Ada apa Mas? Kenapa tlp nya gak diangkat Mas?" tanya Meka sambil menoleh ke ponsel yang digenggam Zain.
"Kamu lihat ini nama siapa yang sedang memanggil," Zain menunjukkan ponselnya ke Meka.
Meka mengambil ponsel itu dan menatap Zain penasaran. Lalu dia mengarahkan ponsel itu ke wajahnya. Meka pun tak jauh beda dengan Zain. Dia terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
No yang memanggil Zain tak lain adalah Bu Arin. Dosen yang membuat mereka berakhir mengerikan.
"Gimana Mas? Angkat gak?" tanya Meka bingung.
"Gak usah sayang, abaikan aja. Sini biar Mas simpan. Berisik kalau gak di simpan," pinta Zain.
Meka menyerahkan ponselnya ke Zain. Dia masih penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kenapa tumben Bu Arin menghubungi Pak Zain ya?" tanyanya dalam bathin.
"Apa dia perlu sesuatu ya Mas?" tanya Meka yang masih penasaran.
"Gak usah dipikirkan sayang. Besok juga kita ketemu sama dia. Kamu jangan terlalu memikirkannya ya," pinta Zain yang tak mau istrinya memikirkannya.
"Iya Mas," balas Meka.
__ADS_1
Akhirnya Meka tertidur di samping Zain. Dia tak sanggup menunggu Zain yang belom menyelesaikan pekerjaannya.