Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 60


__ADS_3

Meka masih menundukkan wajahnya di dada Zain. Sesekali dia melirik kesamping dan kedepan. Dia benar-benar syok melihat seluruh penampakan yang ada.


"Biasakanlah dirimu Meka. Ini baru permulaan, nanti kamu akan banyak melihat hal yang tak kasat mata. Persiapkan mentalmu untuk melihat semuanya," ucap khodamnya yang berdiri disampingnya dalam wujud manusia.


Makhluk-makhluk yang tak kasat mata tidak berani mendekati Meka dan Zain. Mereka takut dengan apa yang ada disamping Meka yaitu sosok Harimau putih yang berwujud manusia. Para mahluk yang tak kasat mata hanya bisa melihat sekilas dan tak berani memandang kearah Meka.


"Sayang, sudah jangan seperti ini. Kamu harus berani. Ayo dong Meka...harus kuat!" dukung Zain selaku suaminya.


"I...iya Mas, aku akan membiasakan diri untuk hal semua itu," balas Meka yang kemudian membuka matanya lebar dan menatap ke sekeliling mereka.


Saat dia melihat bentuk-bentuk para mahluk tak kasat mata, Mek sempat mual-mual karena jijik. Karena apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang menjijikkan. Mulai dari sosok mahluk tanpa kepala, mahluk yang matanya bolong serta mulutnya menganga lebar hingga memperlihatkan dalaman yang sudah menghitam serta berbelatung, ada juga yang kaki dan tangannya puntung sebelah dengan darah mengucur deras, dan ada juga sosok yang lidahnya menjulur keluar dengan bernanah-nanah membusuk. Penampakan itu semua membuat Meka mual dan akhirnya muntah-muntah. Syukurnya Zain membawa plastik kresek yang akhirnya digunakan Meka.


Zain menyodorkan air putih kepada Meka. Dia kasihan melihat istrinya yang belom terbiasa.


"Ini sayang, kamu minum dulu ya. Baca do'a dulu biar enakan," ucap Zain.


Lalu Meka meminum air putih yang diberikan Zain. Setelah meminum air putih itu, Meka masih belom bisa menetralkan rasa mualnya. Namun dia berusaha kuat untuk menahan gejolak diperutnya. Meka menyadari ternyata manusia berdampingan dengan mahluk yang tak kasat mata.


Meka mencoba merebahkan kepalanya dibahu Zain.


"Zain, mereka banyak sekali. Aku sampai merinding melihatnya," ucap Meka.


"Itu sudah pasti sayang, kalau mereka ada dimana-mana. Aku harap kamu jangan takut untuk melihat semua itu," pinta Zain yang menguap lembut wajah Meka.


Meka pun memejamkan matanya hingga dia terlelap. Dalam tidurnya Meka bermimpi yang sangat aneh. Dia melihat wanita tua yang dulu pernah dia jumpai saat dicafe waktu di Jogja. Wanita tua itu hanya bisa melihat Meka dari jauh dengan seringai jahatnya. Lalu Meka melihat ada sosok wanita cantik menghampiri wanita tua itu. Hingga wanita tua itu mengatakan.


"Dia sudah kembali, keinginanmu akan dipenuhi," ucap wanita tua itu kepada si wanita cantik.


Saat Meka mendekatinya, mereka hilang tak kelihatan. Meka bingung kemana perginya kedua wanita itu. Meka tidak bisa jelas melihat wajah wanita cantik itu.


"Siapa mereka, dan kenapa wanita tua itu menatapku dengan tajam seperti hendak menerkam," bathin Meka saat dalam mimpi.


Lalu Meka merasakan sentuhan lembut di wajahnya. Dia pun terbangun dan menatap sosok Zain suaminya yang berada disampingnya.


"Meka, berhati-hatilah saat tiba di Jogja. Akan banyak yang kamu hadapi nantinya," pesan khodam Meka.


Meka menatap kearah sosok Harimau putih itu, dia mengerutkan keningnya yang menandakan bahwa dirinya tak mengerti arti dari mimpinya tadi.


"Itu adalah peringatan buatmu Meka, bahwa akan ada seseorang yang akan menghancurkan kehidupanmu bersama pasanganmu," ucap Khodam Meka yang mengerti arti kerutan keningnya.


"Tapi siapa mereka," tanya Meka melalui bathin.


"Nanti kamu juga akan mengetahuinya. Jangan perlihatkan kelebihanmu dihadapan mereka, karena itu akan membahayakanmu nantinya," jawab Khodamnya.


"Ternyata banyak sekali hal yang aku hadapi. Semoga Allah SWT selalu melindunginya," gumam Meka dengan posisi masih bersandar di bahu Zain.


"Aamiin sayang," Zain mendengar gumaman Meka dan dia menatap kearah Meka dengan senyuman hangatnya.

__ADS_1


Tak terasa waktu terus berjalan. Hingga akhirnya waktu yang ditempuh ke Jogja sampai tepat waktu. Mereka tiba di Jogja pukul 03.00 pagi dini hari.


"Sayang kita sudah sampai di Jogja," Zain membangunkan istrinya.


"Sudah sampai ya Mas. Kenapa masih gelap banget Zain?" tanya Meka bingung.


"Iya sayang, ini masih jam 03.00 pagi. Sebentar lagi juga sudah mau subuh. Gimana, apa kita lanjut ke Apartement atau nunggu di Stasiun sampai pagi?" tanya Zain.


"Langsung aja Mas ke Apartementnya. Aku mau lanjut tidur lagi," jawab Meka.


Lalu Zain berdiri dan mengambil barang-barang bawaan mereka. Kemudian dia menggenggam tangan Meka dan mengajaknya keluar dari Kereta Api ini.


"Ayo Meka kita keluar, semua orang sudah pada keluar," ajak Zain.


"Iya mas."


Mereka keluar dari Kereta Api menuju pintu keluar Stasiun. Lalu Zain memanggil taxi yang berada disekitar Stasiun.


"Pak bisa antarkan kami ke Apartement jalan Klodokan ya," ucap Zain dengan sopan.


"Bisa Mas, ayo naik," suruh Pak supir taxi.


Lalu Zain dan Meka naik kedalam taxi. Dan taxi itu pun pergi dari Stasiun menuju Apartement Zain.


"Maaf Mas dan Mbake dari mana ya?" tanya sang sopir.


"Oh...asli sini toh Masnya?" tanya sopir taxi itu lagi.


"Iya Pak, kami asli sini. Nih mau pulang ke rumah," jawab Zain.


"Maaf Mas dan Mbaknya suami istri atau tidak ya. Maaf kalau pertanyaan saya gak berkenan di hati sampeyan," ucap si sopir taxi yang merasa gak enakan.


"Dia istri saya Pak. Kami baru dari rumah orang tua karena ada kemalangan," balas Zain yang berusaha sopan.


"Sekali lagi maaf ya Mas saya banyak nanya," ucap Pak supir taxi.


"Iya Pak, ndak apa-apa kok."


Lalu Zain kembali diam dan merebahkan kepalanya kebelakang. Suasana didalam taxi pun hening tak ada obrolan. Hingga beberapa menit mereka akhirnya sampai di Apartement Zain. Lalu Zain membayar harga ongkos ke Apartementnya.


"Sayang, ayo bangun. Kita sudah sampai. Nanti kamu bisa lanjut lagi tidurnya ya," ucap Zain yang membangunkan Meka.


"Udah sampai ya Mas. Ayo kita masuk. Aku masih ngantuk nih," balas Meka yang masih ogah-ogahan bangun.


"Makasih banyak ya Pak," ucap Zain kepada Pak sopir taxi saat mereka sudah keluar dari dalam taxinya.


"Iya Mas sama-sama ya," balas Pak sopir.

__ADS_1


Lalu Zain mengajak Meka masuk kedalam Apartementnya. Dan meminta pelayan Apartement membawakan barang-barang mereka ke kamarnya diatas.


Sesampainya didalam kamar, Meka langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Zain. Dia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Dia hanya ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terputus.


"Makasih ya Mas," ucap Zain kepada pelayan Apartement yang sudah membawakan barang-barang mereka. Zain juga memberikan tips kepadanya.


Lalu Zain masuk kedalam dan mengunci pintu Apartementnya. Dia melihat Meka yang sudah terkapar diatas tempat tidurnya. Kemudian Zain pun ikut merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur tanpa sehelai benang. Karena Zain terbiasa tidur dengan tubuh yang polos. Dia naik keatas tempat tidur dan langsung memeluk istrinya yang sekarang menjadi bantal gulingnya.


Mereka tidur terlelap sepanjang malam. Tanpa Meka menyadari kalau Zain tidur disampingnya dengan tubuh yang polos.


Pagi menjelang dengan cuaca yang bersinar terang. Memberikan kecerahan untuk semua orang. Meka mulai membuka matanya perlahan, dia merasakan tubuhnya seperti tertahan.Lalu dia menoleh kesampingnya dan melihat Zain sedang memeluknya dengan tubuh polosnya. Meka spontan berteriak dan hampir menendang Zain dari tempat tidurnya.


"Aaaaaaaaaa, Zaiiinn.....!!" teriak Meka dengan sekencang-kencangnya.


Zain terbangun dan nenatap Meka dengan santai.


"Sayang kenapa kamu teriak kenceng banget. Emang ada apa?" tanya Zain polos.


"Kenapa kamu tidur disini dan tidak pakai baju?!" teriak Cha lagi.


"Sayang, kamu lupa ya kalau kita ini suami istri dan sudah syah," ucap Zain yang mengingatkan Meka akan status mereka.


Meka terdiam sesaat, lalu dia tersadar dan mengingatnya bahwa mereka sudah menikah di Medan. Kemudian wajah Meka berubah seperti tomat merah. Betapa malunya dia dipeluk Zain dengan tubuh yang polos.


"Sayang, kamu membangunkan juniorku dipagi hari. Dia minta jatah harian nih," ucap Zain sensual.


"Zaiiinn!" Meka langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Dia bersembunyi didalam selimut dengan memeluk erat selimutnya.


"Sayang, ayolah! Ini sudah kewajiban kamu loh. Aku berhak memintanya," Zain langsung menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Meka.


"Zain, aku malu!" ucap Meka menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Jangan panggil Zain, tapi panggil aku, Mas," Zain mulai membuka telapak tangan yang menutupi wajah Meka. Dia menatap intens istrinya.


Perlahan-lahan Zain mendekatkan wajahnya ke wajah Meka dan langsung melu*** bibir manis Meka. Zain terus menghisap dan memberikan rangsangan nikmat didalam ciuman mereka. Zain terus bergerilya didalam dengan lidah yang saling bertautan. Tangan Zain tak tinggal diam, dia mulai meraba kearah yang diinginkannya, gundukan bulat, padat dan menggairahkan. Zain membuka baju Meka satu persatu hingga menyisakan ********** saja. Zain mulai turun ke gundukan bulat milik Meka. Dia mengh**** dan menj**** nya. Hingga Meka benar-benar merangsang.


"Ahhhh Mas.....!" de*** Meka.


Zain terus memberikan rangsangan yang membuat Meka melayang. Hingga Zain mengambil posisi untuk menyatukan milik mereka berdua. Lalu Zain mengarahkan juniornya ke posisinya dan penyatuan pun terjadi.


"Akhhhhh," mereka menge**** secara bersamaan.


Zain terus menghentak-hentakkan miliknya. Mereka melakukan berbagai macam gaya. Zain tak puas-puasnya menggempur Meka. Mereka terus melakukan hingga beberapa kali pelepasan. Hingga akhirnya Zain menyudahi permainannya dengan hentakkan yang kuat menghujam ke dalam milik Meka dan mereka mengerang bersama


"Akkkhhh Maaaasss...!"


"Ohhhhh sayang....!"

__ADS_1


Mereka terkulai lemas dipagi hari dengan peluh keringat yang membasahi tubuh mereka berdua. Zain dan Meka kembali terlelap tidur dengan berpelukan dalam hangatnya selimut.


__ADS_2