Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 120


__ADS_3

"Gak apa-apa sayang," balas Zain yang fokus menyetir.


"Meka, gw istirahat dulu ya. Ngantuk nih," celetuk Isna dari belakang.


"Kalian istirahatlah jika lelah. Nanti gw akan bangunin kalau sudah sampai," ucap Meka.


Meka tak mendengar sahutan lagi dari belakang. Ternyata keduanya sudah memejamkan matanya dengan lelap. Meka masih memikirkan bagaimana reaksi Bu Arin saat bertemu dengannya. Dia merasa khawatir dengan keberadaan Bu Arin.


"Sayang, kamu mikirin apa?" tanya Zain yang menoleh sekilas.


"Itu Mas, aku masih memikirkan Bu Arin. Bagaimana nanti saat kita bertemu dengannya di Kampus. Karena hanya dia yang sadar dan tau tentang kejadian sesungguhnya," jawab Meka bingung.


Saat Meka terdiam, dia mendengar suara bisikan dari Khodamnya.


"Meka, semua yang berhubungan dengan kejadian kemaren sudah aku kembalikan mereka ke keadaan semula, termasuk wanita itu dan saudara laki-lakinya. Serta menghilangkan semua memorinya tentang kegiatan dan kejadian itu," jelas Khodamnya.


Meka mengangguk mengerti apa kata Khodamnya. Sehingga dia tidak perlu bingung ataupun merasa canggung apabila nanti bertemu dengan Dosennya itu.


"Sayang, kamu kenapa mengangguk begitu? Apa ada dia bicara?" tanya Zain yang mengatakan Khodam Meka.


"Iya Mas, dia bilang, kalau semua orang yang berhubungan dengan kegiatan dan kejadian itu akan kembali normal dan mereka tidak akan mengingat peristiwa itu," jawab Meka.


"Syukurlah, Mas merasa tenang. Kalau gitu, kita akan ke rumah orang tua Mas. Mungkin besok kita bisa berkunjung kesana," ajak Zain.


"Iya ya Mas, kita hampir melupakan janji Mas dengan Mama untuk menemuinya," ucap Meka.


"Nanti Mas akan menghubungi Mama dulu. Kalau besok bisa dikunjungi, maka kita akan ke sana."


Tak terasa dengan mereka asyik ngobrol, ternyata mereka sudah sampai di Apartement Zain. Lalu Meka membangunkan Deon dan Isna.

__ADS_1


"Isna, Deon...kita udah sampai! Ayo bangun...!" teriak Meka.


Isna dan Deon terkejut karena mendengar teriakan Meka.


"Meka.....!! Jangan kencang-kencang banguninnya. Pelan dikit kek," kesal Deon yang masih mengantuk.


"Biarin," balas Meka cuek.


Deon menoleh kearah Isna yang setengah sadar. Dia masih mencoba kembali normal.


"Na, ayo turun. Kita udah sampai. Kita lanjut tidurnya diatas aja yuk," ajak Deon yang ngomong seperti orang mabuk.


Isna menatap ke Deon. Dia melihat Deon yang masih mengantuk tapi berusaha membuka lebar matanya.


"Ayo De, aku pegangin kamu. Sepertinya kamu ngantuk berat ya?" tanya Isna simpatik.


"Iya sayang," jawab Deon.


Sesampainya di dalam, Zain dan Meka langsung masuk ke dalam kamar. Begitu juga dengan Isna. Kecuali Deon, dia memilih berbaring di sofa empuk depan TV.


Di dalam kamar, Meka dan Zain membersihkan dirinya masing-masing. Setelah itu mereka merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang nyaman.


"Akhirnya, kita bisa tidur seperti ini ya Mas. Aku ingin menghabiskan waktu hanya untuk tidur," ucap Meka senang.


"Iya sayang, tidurlah. Mas juga mau istirahat, rasanya capek banget," keluh Zain.


"Ayo Mas kita istirahat," ajak Meka.


"Iya sayang," balas Zain.

__ADS_1


Mereka pun tidur dengan lelapnya. Hingga waktu sudah sampai sore menjelang malam. Meka mendengar suara dering tlp ponsel Zain. Lalu dia membangunkan Zain.


"Mas, itu ponsel kamu berdering. Coba lihat Mas, sapa tau penting," ucap Meka memberitahukan.


Zain pun duduk dan mengambil ponselnya di meja. Dia melihat nama yang tertera adalah orang tuanya. Lalu Zain menjawab panggilannya.


"Assalamu'alaikum Ma...!" sapa Zain.


"Wa'alaikumussalam nak! Kapan kamu datang ke rumah Mama. Dari kemaren Mama tunggu gak ada khabar darimu Zain," ucap Mamanya.


"Iya Ma, besok Insyaallah kami akan ke rumah ya Ma," jawab Zain yang berusaha menyenangkan hati Mamanya.


"Kamu benaran kan Zain mau bertemu Mama besok?" tanya Mamanya tak percaya.


"Iya Ma, besok Zain akan khabari kalau mau datang ke rumah Mama."


"Baiklah sayang, Mama akan mempersiapkan semuanya untuk kalian berdua," ucap Mamanya semangat.


Setelah ada hasil yang di dapat dari percakapan, akhirnya obrolan berakhir. Zain menoleh kearah Meka dan tersenyum.


"Mama bilang apa Mas?" tanya Cha penasaran.


"Mama nyuruh kita besok kesana," jawab Zain.


"Oh...apa


"Iya mudah-mudahan yang Mas besok tidak ada hal yang buruk terjadi," harap Meka.


"Aamiin sayang. Udah mau Maghrib, Mas mandi dulu ya. Atau kita mandi bareng yuk. Udah lama Mas gak minta," ucap Zain blak-blakan.

__ADS_1


"Iya Mas, ayo," Meka menerima keinginan suaminya.


Lalu mereka menuju kamar mandi dan melakukan penyatuan yang sudah lama tak tersalurkan. Zain menghujam Meka terus menerus sampai dia benar-benar puas. Suara-suara merdu terdengar indah di dalam kamar mandi. Mereka terus melakukannya dengan berbagai macam gaya. Hingga akhirnya mereka kelelahan dan menghentikan permainannya.


__ADS_2