Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 172


__ADS_3

Setelah Zain dan Meka menyelesaikan makan malam mereka, keduanya berpamitan dengan orang tuanya dan yang lainnya.


"Zain, kenapa harus terburu-buru. Apa kamu tidak kangen sama Tante dan Om mu?" tanya adik Papanya yang berpura-pura manis.


"Saya ada kerjaan Tante, lain kali kita akan kumpul lagi, kami pamit dulu," jawab Zain.


Zain dan Meka menyalami kedua orang tuanya serta Om dan Tantenya.


Mamanya Zain memberikan pelukan hangat kepada Meka dan membelai lembut rambut menantunya itu.


Tentu saja pemandangan itu membuat Mona geram dan memandang sinis ke arah Meka.


Tiba-tiba Zain menggenggam tangan Meka dan tersenyum hangat ke istrinya.


"Ayo, nanti kemalaman," ajak Zain dengan suara lembut.


"Iya Mas."


Lalu Zain dan Meka pergi meninggalkan rumah itu. Mereka berjalan masuk ke dalam mobil. Zain melajukan mobilnya kembali ke Apartement.


"Mas, kapan kita ke Medan? Kemaren Papa kan pesan jika kita sudah kembali dari Paris, kita akan ke kampung melihat Papa," ucap Meka mengingatkan.


"Iya Mas lupa sayang. Syukur kamu ingatkan. Nanti Mas lihat dulu jadwal ngajar Mas ya," balas Zain yang masih fokus menyetir.


Tiba-tiba melaelihat sekelebet bayangan putih melintas dihadapannya.


"Astaghfirullahal'adzim," ucap Meka menyebut.


"Kenapa sayang?" tanya Zain cemas.


Zain memberhentikan mobilnya di tempat yang terang dan ramai.


"Mas tadi aku melihat bayangan putih. Tapi dia cepat sekali menghilang," jawab Meka.


Meka keluar dari dalam mobil dan memberanikan dirinya melihat ke sekeliling mobil. Tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran demit. Meka melihat kejalanan yang ramai, dia tidak ada melihat hal yang aneh.


"Yang tadi apa yang?" gumam Meka.


Zain menghampiri Meka dan melihat ke sekeliling, tapi tidak ada orang yang aneh.


"Gimana sayang, apa yang kamu lihat?" tanya Zian.


"Tidak ada Mas. Tapi tadi jelas-jelas dia melintas di depan kita. Dan dia langsung menghilang," jawab Meka.


"Ya sudah, ayo kita kembali aja. Jangan berlama-lama disini," ajak Zain.


"Iya Mas, ayo."


Meka dan Zain melanjutkan perjalanan mereka menuju Apartement. Meka masih berpikir tentang bayangan itu.

__ADS_1


"Siapa dia? Dan kenapa lewat dari hadapanku?" bathin Meka bingung.


"Mas, apa yang tadi itu Bu Arin ya?" tanya Meka menebak.


"Masa dia gentayangan di sini sayang? Kamu ada-ada aja," jawab Zain yang merasa tak masuk akal.


"Aku hanya menebak aja Mas. Karena saat ini hanya dia yang belum selesai," ucap Meka.


Meka masih setia memandang ke depan. Dia teringat akan pertemuannya dengan Mona. Mona memiliki aura gelap. Dan pandang matanya menunjukkan kesinisan terhadap diri Meka.


"Apa dia juga melakukannya?" tanya Meka terhadap dirinya sendiri.


"Siapa sayang?" tanya Zain tiba-tiba.


"Hahhh, sepupu kamu itu Mas. Apa dia juga melakukannya?"


"Masa sih sayang, dia juga melakukannya? Buat apa?" tanya Zain balik.


"Dia juga menyukaimu Mas. Dan itu sangat terlihat dari pandangan matanya Mas. Dia sangat menginginkanmu. Aku takut Mas," Meka merasakan detak jantungnya seakan berhenti saat dia membayangkan jauh dari Zain.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang. Kamu jangan khawatir ya. Kita sama-sama berdo'a, supaya kita selalu di lindungi Allah SWT," pinta Zain.


"Iya Mas."


Perjalanan menuju Apartement mereka tak memakan waktu yang lama. Apalagi jalanan yang tidak macet. Mereka akhirnya sampai ke Apartement. Zain dan Meka berjalan memasuki Apartementnya.


"Iya sayang, Mas mau mengecek laporan Perusahaan yang di berikan Papa waktu itu.


***


Ketika itu, Papanya Zain menemuinya di Kampus. Saat itu Meka sedang ada jam kuliah, sehingga dia tidak mengetahui kedatangan mertuanya.


Papanya Zain memberikan laporan Perusahaan kepada Zain untuk segera di periksa. Papanya Zain menginginkannya untuk mempelajari tentang Perusahaan yang dirintis Papanya sejak muda dulu.


"Zain, kamu pelajari beberapa data Perusahaan Papa. Papa ingin kamu menggantikan Papa secepatnya. Karena Papa ingin beristirahat dan menemani Mama kamu di rumah saja," pinta Papanya Zain.


"Tapi Pa, aku belum mau mengurus Perusahaan. Aku masih ingin menjadi seorang Dosen. Aku menyukai pekerjaanku sekarang," ucap Zain protes.


"Tapi kamu satu-satunya keturunanku Zain. Siapa lagi yang akan meneruskan Perusahaan Papamu ini!" teriak Papanya.


"Serahkan saja sama adik Papa atau yang lainnya. Aku tidak berminat," balas Zain.


"Zain, kau tak menghargai kerja kerasku selama ini. Aku membangun Perusahaan ini untukmu dan istri serta cucu-cucuku. Aku tidak mau mereka hidup kesulitan. Jadi Papa minta tolong, urus Perusahaan Papa," mohon Papanya.


"Aku akan pikirkan Pa," balas Zain.


"Baiklah kalau gitu. Papa akan menunggumu di Perusahaan ketika kau siap. Dan jangan terlalu lama membuat Papa menunggu," ucap Papanya.


"Iya Pa," balas Zain singkat.

__ADS_1


Lalu Papanya Zain pergi dari ruangannya dan meninggalkan Kampus.


***


Setelah Meka menyelesaikan mandinya, dia keluar dari kamar mandi. Dia melihat Zain yang sibuk mengecek sesuatu di leptop. Meka tak memperdulikan apa yang sedang di kerjakan Zain.


Meka memakai pakaiannya, lalu dia berjalan menghampiri Zain.


"Mas, kamu tidak mandi?" tanya Meka saat melihat suaminya sedang fokus.


"Iya sayang, kamu udah wangi banget. Sini duduk di pangkuan Mas," suruh Zain.


Meka tak menolak permintaan suaminya. Dia pun duduk di atas pangkuan Zain.


"Kamu lagi baca apa Mas?" tanya Meka ketika melihat tulisan di leptop Zain.


"Ini data Perusahaan Papa. Dia minta Mas untuk mempelajarinya. Papa ingin Mas mengambil alih Perusahaannya secepatnya," jawab Zain.


"Kenapa kamu tidak berminat Mas menjalankannya?" Meka bertanya lagi.


"Menurut kamu, Mas harus bagaimana sayang? Apa Mas harus mengambil alih secepatnya?" tanya Zain yang minta pendapatnya Meka.


"Kalau kamu memang bisa, kenapa nggak Mas," jawab Meka.


"Kalau kamu sudah mengizinkannya, maka Mas akan mulai mempelajari Perusahaan Papa."


"Ya udah sekarang Mas mandi dulu biar segar," suruh Meka.


Lalu Zain menurunkan Meka dari atas pangkuannya dan menggendongnya ke atas tempat tidur.


"Mas mandi dulu, tunggu sebentar ya sayang. Mas mau minta jatah," bisik Zain dengan kecupan di daun telinga Meka.


Meka merasa wajahnya memanas, Mera merona karena ucapan suaminya yang mampu membangkitkan gairahnya juga.


Zain pun bergegas melangkah ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan badannya dengan cepat.


Sementara Meka menunggu dengan patuh di atas tempat tidur. Jantungnya berdegup kencang, seakan-akan ini hal pertama yang akan di lakukannya.


Tiba-tiba Meka mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Zain keluar dari dalam hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Meka menatap intens dan wajahnya mulai merona.


Zain berjalan mendekati Meka dan naik ke atas tempat tidur. Lalu Zain melepaskan handuknya dan membuangnya ke sembarang arah. Zain yang sudah tidak sabar, merangkak di atas tubuh Meka. Dia tersenyum memandang wajah istrinya yang sudah merona.


"Kamu siap kan sayang?" ucap Zain dengan suara seraknya.


Meka hanya mampu menganggukkan kepalanya. Dia merasa gugup dengan perlakuan Zain yang saat ini.


Zain kembali tersenyum menatap intens wajah istrinya. Lalu Zain melepaskan lingeria yang digunakan Meka. Zain menarik tali satu yang menjadi pengikat lingeria sehingga terlepas dan lolos ke bawah. Zain menatap lapar ke arah Meka. Dia memandang tubuh istrinya dari atas sampai ke bagian bawah yang berada di antara kedua paha Meka.


Meka tersipu malu ketika mata Zain menelanjanginya. Dia tak berani menatap mata Zain yang sudah mulai berkabut gairah.

__ADS_1


__ADS_2