Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 56


__ADS_3

"Om mau soto ayam aja nak Zain," jawab Papanya.


"Kamu Mek, mau apa?" tanya Zain kepada kekasihnya itu.


"Sama Pak, saya soto ayam saja," jawab Meka sambil menatap Dosganya itu.


Lalu Zain berjalan kearah kasir dan memberikan kertas pesanan mereka.


"Ini Bu pesanannya ya," Zain menyerahkan kertas pesanannya.


"Baik Pak, ditunggu beberapa menit ya. Nanti diantar ke mejanya. Mejanya yang mana Pak?" tanya kasir itu.


Lalu Zain pun menunjukkan meja mereka. Setelah selesai dengan urusan pesanan, Zain kembali bergabung bersama Meka dan Papanya.


"Tunggu sebentar ya Om, nanti diantar mereka pesanannya," jelas Zain saat dia sudah kembali ke meja mereka berada.


"Nak Zain, apa ada yang disembunyikan dari saya tentang tadi malam?" tanya Papanya Meka menatap Zain curiga.


"Gimana ya Om, saya juga bingung mau jelaskan ya gimana. Karena yang ngerti hal seperti itu hanya Meka dan Ustadz Anwar," terang Zain yang tidak mau sembarangan menjelaskan.


"Meka coba jelaskan ke Papa apa yang terjadi," pinta Papanya kepada anaknya.


"Tadi malam Pa, rumah kita dikirim sesuatu hantaman dari atas atap oleh seseorang. Dan Meka juga gak tau pasti apa itu. Karena Meka hanya mendapatkan bisikkan, untuk terus berdzikir dan jangan takut karena Harimau itu dan Ustadz Anwar akan mencoba menghalau kiriman itu. Makanya Meka ngajak Papa ketemu sama Ustadz Anwar," jelas Meka.

__ADS_1


"Apa ini ada hubungannya dengan Biyu seperti yang dijelaskan kuncen itu ya?" pikir Papanya Meka.


Lalu dari jauh, pelayan sedang berjalan kearah meja mereka mengantarkan pesanan makanan mereka.


"Ini Pak, Mbak soto ayamnya. Sialhkan dinikmati, kalau ada tambahan, langsung saja ke kasir ya Pak," ucap pelayan itu.


"Baik Bu, terima kasih," balas Meka.


"Sekarang kita sarapan dulu, setelah itu kita lanjutkan perjalanan ke Ustadz Anwar. Papa yakin, beliau juga sudah menunggu kita," ucap Papanya.


Mereka pun menyantap sarapan paginya dengan nikmat. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka selesai sarapan paginya. Saat mereka sarapan, tidak ada obrolan yang terjadi antara mereka. Meka, Zain dan Papanya fokus menyantap soto ayamnya.


Setelah selesai sarapan, mereka bergegas meninggalkan warung makan tersebut dan masuk kedalam mobil.


"Nak Zain, jam berapa kalian bernagaktnya ke Bandara?" tanya Papanya Meka yang mencairkan suasana didalam mobil.


"Pesawat berangkat jam 16.00 sore Om ke Jakarta. Dari Jakarta Meka menginginkan naik kereta api Om. Katanya kurang nyaman naik pesawat ke Jogja, capek nunggunya di Bandara karena transit Om. Jadi kami putuskan naik kereta api dari Jakarta ke Jogja," jelas Zain.


"Tapi kalau kereta api, baru besok kalian sampainya Meka. Kenapa Tidka lanjut aja naik pesawat biar cepat sampai dan istirahat di Jogja."


"Lihat nanti Pa, apa mau naik pesawat lagi ke Jogja atau kereta api. Tapi dari sini tiket pesawat sudah diambil untuk keberangkatan ke Jakarta," sahut Meka dari belakang.


"Ya sudah kalau kalian memutuskan seperti itu. Tapi hati-hati dijalan nantinya. Dan Papa juga kemungkinan berangkatnya hari ini sama teman Papa yang juga satu kampung. Nanti kamu bantu Papa buat bereskan pakaian Papa ya Meka," ucap Papanya yang meminta Meka mengurus barang-barang bawaan Papanya nanti.

__ADS_1


"Iya Pa, nanti Meka yang menyiapkannya bersama Pak Zain."


Akhirnya mobil sampai di perumahan Ustadz Anwar. Mereka mencari rumah Ustadz tersebut. Dan mereka menemukan rumah Ustadz itu tepat mobil Zain berhenti di depan rumah bercat hijau muda.


Mereka bertiga turun dari mobil dan masuk kedalam halaman rumah Ustadz itu. Lalu mereka berjalan kearah depan pintu rumahnya.


Meka mencoba mengetuk pintu rumah itu.


"Tok tok tok tok, Assalamu'alaikum Ustadz..!" panggil Meka.


Dari dalam rumah terdengar suara seseorang menyahut panggilan Meka.


Mereka bertiga masuk kedalam rumah Ustadz itu dan duduk di kursi tamu.


"Pak Bram, nak Zain mau minum apa?" tanya Ustadz itu.


"Tidak usah repot Ustadz, kami tadi sudah minum sebelum kemari," tolak Zain secara halus.


"Kalau nak Meka mau minum apa?" tanya Ustadz itu terhadap Meka.


"Saya air putih saja Ustadz," jawab Meka yang merasa gak enak jika menolaknya.


Ustadz tersebut tersenyum melihat kearah Meka. Dia mengerti bahwa Meka enggan menolak tawarannya.

__ADS_1


__ADS_2